Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Ke Pantai


__ADS_3

"Oo.. jadi gitu cerita nya.. memang nya kenapa sih Anum gak ngebolehin Kania pacaran lagi?" Tanya Tary kemudian.


Memang, kepada Tary, Ranum tak menjelaskan secara detail kegiatan yang dilakukan oleh Kania dan Reno di pojokan kelas saat itu.


Ranum hanya mengatakan kepada Tary kalau ia telah mengetahui sang adik yang kembali berpacaran lagi.


Bagaimana pun juga Ranum tak enak hati untuk membuka aib sang adik pada orang lain. Meski itu kepada Tary sekalipun.


"Karena Nia pacaran sama cowok yang gak baik, Ry. Cowok itu suka pegang-pegang gitu.." ujar Ranum dengan wajah yang mulai merah padam.


"Lho?! Kok Kania bisa pacaran sama cowok brengsek lagi sih? Dulu sama Tegar, yang notabene nya dikenal juga sebagai cowok playboy. Apa tipe dia memang.." Tary tak jadi melanjutkan kalimat nya.


Ia merasa ucapan nya mulai tak sopan. Ia pun terburu-buru meminta maaf.


"Maaf, Num. Ry kelepasan.."


"Iya gak apa-apa."


"Terus, setelah kamu ciduk, hubungan Kania sama pacar nya lanjut atau enggak, nanti, Num?" Tanya Tary.


"Hh.. gak tahu juga sih, Ry. Yang utama, Nia udah tahu pendapat Anum. Jadi urusan putus atau enggak nya sih Anum serahin ke Nia," ujar Ranum.


"Hm..."


"..."


Selama beberapa saat, suasana menjadi hening. Sampai kemudian Ranum kembali menghidupkan obrolan.


"Oh ya, Ry. Teman-teman Anum ngajakin main ke pantai Sabtu nanti. Ry mau ikut?" Ajak Ranum.


"Enggak ah! Pasti rame ya? Acara kelas kan?" Terka Tary.


"Bukan kok. Cuma ber empat aja. Cuma cewek-cewek doang kok," imbuh Ranum.


"Gak ada cowok nya?" tanya Tary lagi.


"Enggak. Mira sih bilang gitu."


"Hari Sabtu, Num?" Tanya Tary memastikan.


"Iya. Sabtu pagi-pagi banget, tapi nya.. biar pas sampai pantai enggak terlalu panas. Kan kalau lewat jam sembilan sekarang tuh udah panas banget ya, Ry."


"Iya juga sih. Pingin sih ikut. Memang nya ketemuan jam berapa di pantai, Num?"


"Jam enam pagi."


"Hmm.. boleh deh. Tapi Ry gak apa-apa nih ikut? Gak ngeganggu kan?" Tanya Tary sedikit khawatir.


"Enggak ngeganggu kok. Memang nya kita mau ujian apa ke pantai! Lagian, Anum juga nanti mau ajak Nia juga kok."

__ADS_1


Seketika, wajah Tary lebih bersemangat.


"Jadi Kania ikut juga? Kalau gitu, iya deh, Num. Tary juga mau ikutan ke pantai. Lumayan kan biar gak sumpek di rumah aja!" Seloroh Tary.


"Yaudah. Nanti kita langsung ketemuan aja di pantai ya, Ry."


"Tary mau nyamper Anum dulu aja deh, nanti."


"Eh, jangan. Memang nya Ry mau berangkat habis subuh ke rumah Anum? Kan kita janjian ketemuannya di pantai jam 6. Waktu tempuh ke sana kan lumayan ada mah setengah jam."


"Eh, iya ya. Yaudah. Nanti langsung ketemu di sana deh ya. Terus, Anum mau naik angkot pagi-pagi gitu?"


"Enggak juga sih. Insya Allah hari Sabtu pagi masih bisa pinjam motor nya Ayah."


"Anum bisa bawa motor?!" Tanya Tary terkejut.


"Enggak! Bukan Anum, Ry. Tapi Nia yang bawa motor nya. Alhamdulillah dia udah dapat ijin dari ayah juga sih untuk bawa motor."


"Oo.. kalau gitu Ry juga nanti bawa motor deh ya!"


"Iya. Boleh.."


Dan kedua mudi itu pun terus asik bercengkrama membincangkan banyak hal.


Tary bermain di rumah Anum hingga waktu zuhur tiba. Sebelum pulang, ia juga sempat makan bakso bersama Ranum dan Kania.


Kania dan Ranum telah kembali saling bicara setelah Ranum membelikan adik nya semangkok bakso. Meski pun Tary menilai kalau Kania masih terlihat diam dan tak banyak bicara.


***


Hari Sabtu nya..


Ranum dan Kania pamit pada Ayah dan Bunda nya sekitar jam setengah enam pagi. Bunda sengaja membawakan bekal nasi goreng, karena keduanya tak sempat makan karena bangun kesiangan.


Seharusnya Ranum bangun lebih awal dari biasanya. Namun karena ia keasikan membaca novel semalam tadi, ia pun jadi terbangun sekitar jam 5 lewat.


Sementara Kania memang sering nya bangun kesiangan jika tak dibangunkan oleh Ranum.


Sesampai nya di pantai, Ranum dan Kania memutuskan untuk menunggu kawan-kawan nya yang lain sambil sarapan.


Namun belum lama keduanya makan, Tary telah datang dengan motor skuter matic nya.


Tary ternyata telah sarapan di rumah. Namun ia membawa beberapa potong cake buatan sang Mama semalam tadi.


Tary pun ikut memakan cake nya selagi menunggu kawan Ranum yang lainnya berdatangan.


Sekitar jam enam lewat, satu persatu kawan Ranum akhirnya berdatangan. Mulai dari Mira, Tanti dan juga Tika.


Yang membuat Ranum cukup terkejut ternyata bersama dengan Tanti, datang juga Yanto. Sementara bersama dengan Mira, datang juga Agus. Dan tak lupa juga Adnan yang datang dengan Tika.

__ADS_1


Tary menarik bagian sikut lengan baju nya Ranum. Mempertanyakan keberadaan anak-anak cowok itu.


Ranum menjawab kebingungan Tary dengan gelengan kecil. Pertanda kalau ia pun tak tahu akan ada anak cowok di acara hari ini.


"Wahh.. pantai! Mbep, ayo kita main kejar-kejaran yuk ke sana!" Ajak Agus setiba nya ia di dekat Ranum, Kania dan juga Tary.


"Hay, Num! Hay, Nia! Dan Hay juga.."


Agus melihat ke arah Tary dengan pandangan bertanya. Dan Ranum pun sigap memperkenalkan Tary kepada kawan-kawan kelas nya itu.


"Semua nya, kenalin ini Tary. Teman Se SMP nya Anum," ujar Ranum.


"Ooh.. hay Tary! Salam kenal ya. Gua Agus. Pacar nya Mira. Aduh!"


Agus mengusap bahu kiri nya yang baru saja ditepok oleh Mira dengan tas selempang yang dibawa nya.


"Jangan asal ngomong deh, Gus! Atau pulang nanti, aku mending naik angkot aja deh!"


"Eh, jangan ngambek gitu dong, Mbep.. iya deh. Iya. Agus jaga deh omongan nya.." janji Agus kepada Mira.


Tary memandang kedua teman Ranum itu dengan takjub. Dan kemudian di dengar nya suara Tanti yang bergilir memperkenalkan diri.


"Jangan capek-capek lihatin cowok degil itu ya, Tar. Dia memang agak miring. Kenalin, nama gue Tanti!" Ucap Tanti.


"Ee..hay, Agus! Hay, Tanti!"


Dan selama beberapa waktu ke depannya, terjadilah perkenalan singkat Tary kepada kawan Ranum lainnya.


"Jadi, kita have fun ya hari ini?" Seru Agus dengan semangat berlebih.


Kalimat nya itu langsung diiyakan dengan teriakan seru kawan-kawan nya yang lain.


"Yeeahh!!"


Ke sembilan remaja itu pun asik bermain bola voli yang telah dibawa Adnan dari rumah nya. Ada juga yang memilih untuk berenang, atau pun duduk menjadi penonton.


Ranum lah satu-satu nya yang memutuskan untuk jadi penonton. Ia memang tak suka berolahraga. Jadi niat utama nya ke pantai ini sebenarnya hanya ingin bermain pasir saja.


Dan Ranum benar-benar keasikan bermain pasir. Ia berkali-kali menuliskan kata-kata yang kemudian akan hilang diseret air ombak yang datang.


Ranum senang melakukan kegiatan itu secara berulang-ulang. Karena Ranum merasa kalau air ombak cukup menarik di mata nya.


Pada ombak yang datang berkali-kali itu, Ranum bisa belajar satu hal.


Bahwasanya ia berharap bisa seperti ombak yang mampu menghapuskan setiap jejak di pasir pantai.


Maksudnya, Ranum ingin memiliki hati yang selapang pasir di pantai. Di mana ia akan dengan mudah melupakan luka. Seperti guratan pada pasir yang dengan mudah nya terhapus disapu oleh ombak.


Ranum ingin hati nya se lapang pasir-pasir ini. Yang bisa membuat nya selalu bisa menata hati nya agar kembali baru, seperti tak pernah ada apapun yang terjadi kepada nya.

__ADS_1


"Serius banget!" Ucap sebuah suara yang tiba-tiba saja memecah keasikan Ranum mengukir kata di atas pasir.


***


__ADS_2