
Belum sempat Ranum berteriak, mulut nya telah dibekap oleh lelaki yang tak lebih tua dari Ayah nya itu.
Lelaki itu memiliki postur tubuh yang tinggi, rambut cepak, mata sipit, hidung mancung, mulut tipis, dengan sedikit luka bakar yang mencoreng wajah yang sebenarnya bisa dibilang tampan itu.
Luka bakar itu berada di bagian pelipis kiri di wajah lelaki itu.
Belum lama Ranum menilai penampilan tamu asing nya, Ranum dipaksa masuk ke dalam rumah. Lelaki itu mendorong pintu depan rumah nya dengan salah satu kaki nya hingga pintu pun tertutup.
Kemudian dengan mulut terbekap erat, Ranum diseret paksa lalu dilemparkan ke atas lantai.
Gabruk!
Ranum merasa pusing. Karena kepala nya terantuk ujung sofa yang berbentuk siku.
Belum pulih rasa pusing yang dideritanya, lagi-lagi lelaki asing itu menindih tubuh Ranum yang tengkurap hingga gadis itu merasa hengap oleh sebab bobot tubuh lelaki itu.
Sebuah alarm berbunyi di benak Ranum. Tiba-tiba saja rasa takut menguasai benak dan pikiran gadis itu saat ia menduga-duga perlakuan apa yang akan diterima nya kemudian dari sosok lelaki di atas nya.
"Tolong!! Hmmpphh!"
Lagi-lagi mulut Ranum tersumbat oleh kain basah yang dipegang oleh lelaki itu. Ranum berusaha untuk berontak sekuat tenaga. Namun tenaga nya hanya bernilai kecil bagi lelaki dewasa yang menyekap nya itu.
Ranum lalu mencium aroma menyengat dari kain yang membekap mulut nya. Aroma klorofom. Obat bius.
Tak sampai hitungan ke sepuluh, Ranum pun hilang kesadaran.
...
...
Setelah yakin kalau target nya telah pingsan, Jeff segera bangkit dari posisi nya.
Dalam posisi berdiri, Jeff mengamati target yang telah lama lolos dari nya itu.
Lima belas tahun telah berlalu. Saat Jeff menerima misi pertama nya sebagai agen rahasia Tuan Muda Aditya.
__ADS_1
Usianya saat itu baru saja menginjak angka 20 tahun. Ia hanya setahun lebih muda dari tuan Muda nya itu. Namun Jeff telah berikrar untuk menjadi abdi setia Tuan Aditya. Karena ia pernah diselamatkan oleh Tuan Muda nya dalam suatu peristiwa. Peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa nya dulu sekali.
Jeff menghela napas letih. Ia memutuskan untuk duduk sejenak di atas lantai dekat dengan tubuh gadis bernama Ranum yang tersungkur di depan nya.
Ingatan Jeff melayang kembali ke kejadian lima belas tahun yang lalu..
Flashback..
"Bawa kembali Rahayu dalam keadaan selamat. Dan bu nuh anak nya diam-diam!" Begitu titah Tuan Aditya kepada Jeff dan dua teman nya yang lain.
"Siap Tuan!"
Jeff pada mulanya sangat berterima kasih kepada Tuan Aditya karena ia telah menyelamatkannya dari ancaman kematian. Belakangan setelah Jeff ikut bekerja pada Tuan Muda nya itu, ia baru menyadari kalau ternyata Tuan Muda nya adalah pewaris utama dari kelompok mafia yang terkenal di kota Y ini.
Jeff merasa sangat beruntung karena ia bisa tergabung dalam keluarga mafia Tuan Aditya. Meski pun ia juga merasa gugup saat mendengar titah Tuan Muda nya untuk membu nuh bayi Nona Rahayu.
Saat itu, bayi Ranum baru saja berumur satu tahun. Jeff sangat ingat dengan rupa menggemaskan bayi Ranum dulu. Karena ketika masih bayi, Ranum adalah bayi paling cantik yang pernah Jeff temui.
Jeff sudah bisa menduga kalau bayi Ranum akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik saat ia dewasa nanti. Sayang nya, Tuan Aditya tak menyukai keberadaan bayi cantik itu.
"Kalau begitu, ini akan jadi pengalaman pertama mu, bro! Selamat!" Ucap Cliff sambil terkekeh.
"Membunuh bayi itu? Aku.. aku gak tahu bisa melakukan nya atau enggak. Kalian saja lah!" Aku setengah memohon pada dua senior ku di organisasi mafia ini.
"Dasar cemen! Anggota Tengkorak tak boleh ada yang cemen! Kalau kau menolak membunuh bayi itu, maka kau yang akan menjadi korban pem bunu han di koran berita besok pagi!" Ancam Daff, sambil menyorongkan belati kesayangan nya ke leher ku.
Gulp..
Aku menelan ludah.
"Bb.. baik lah! Aku akan membu nuh nya! Aku akan melaku kan nya!" Janji ku dihiasi oleh rasa takut pada ancaman Daff.
"Bagus! Jangan khawatir, aku akan menemani mu saat kau melakukan nya nanti. Jadi kau tak bisa mangkir dari tugas mu ini, Bro!" Imbuh Daff, sambil menyeringai ke arah ku.
Sepanjang malam itu, kami mengikuti sinyal GPS yang ditunjukkan oleh ponsel buruan kami, Nona Rahayu.
__ADS_1
Jeff sebenarnya merasa heran. Karena tiba-tiba saja Nona Rahayu memutuskan untuk kabur. Padahal ia baru saja menikah dengan Tuan Muda Aditya.
Sibuk dengan pikirannya, Jeff juga sambil mengarahkan jalan mobil mereka menuju titik yang muncul di layar laptop nya.
Sekitar lewat pertengahan malam, Jeff dan kawan-kawannya itu berhasil menemukan Nona Rahayu. Sayang nya, buruan utama yang harus dibu nuh oleh nya tak ada. Entah di mana Nona Rahayu meninggalkan putri nya yang masih bayi itu.
Dengan hati yang lega, Jeff membawa pulang Nona Rahayu. Dalam hati nya, ia bersyukur karena tak harus membu nuh bayi cantik itu.
Selesai membawa pulang kembali Nona Rahayu ke rumah Tuan Aditya, Jeff kembali mendapat perintah untuk mencari keberadaan bayi nya Nona Rahayu.
Selama berbulan-bulan Jeff mencari lokasi bayi itu berada. Hingga Cliff mati saat mengerjakan tugas yang lain, sehingga Jeff lah yang melanjutkan tugas mencari bayi itu.
Setelah tiga bulan pencarian, Jeff akhirnya berhasil menemukan nya. Dan Jeff hampir saja akan membu nuh bayi itu karena perintah dari Tuan nya. Jika saja ia tak melihat mata gelap bayi itu yang menatap nya dalam-dalam.
Menatap mata si bayi Ranum, Jeff merasa malu dan tak berdaya untuk melanjutkan misi nya. Terlebih saat bayi Ranum mengoceh kata 'Papa' ke arah nya. Jeff jadi tak bisa menebas tubuh mungil bayi yang tak berdosa itu dengan pisau yang ia bawa.
Sehingga kesempatan nya pun akhirnya raib karena kemunculan orang lain yang tiba-tiba saja datang dan membawa pergi si bayi.
Selama beberapa kali Jeff mengunjungi bayi perempuan itu lagi. Dan setiap kali itu pula ia selalu gagal menuntaskan misi nya.
Padahal Jeff telah melakukan pembu nuhan pertamanya beberapa pekan yang lalu. Korban nya adalah kepala geng yang memberontak terhadap kekuasaan Tuan Muda sebagai kepala organisasi Tengkorak yang baru.
Jeff tak merasa gugup saat merenggut nyawa orang untuk pertama kali nya. Jadi, ia sungguh heran. Kenapa hati nya begitu gentar untuk melukai bayi cantik itu?
Syukurlah perintah untuk membu nuh bayi itu diangkat oleh Tuan Aditya. Ia hanya ditugaskan untuk mengawasi bayi cantik itu saja di balik bayang.
Sepertinya keberadaan bayi Ranum telah digunakan sebagai bahan negosiasi oleh Tuan Aditya untuk mendapatkan kepatuhan Nona Rahayu.
Karena sejak istri Tuan nya itu ditangkap kembali ke rumah, Nona Rahayu selalu saja mengancam untuk bu nuh di ri.
Karena nya, keberadaan bayi Ranum pun menjadi alat untuk mengendalikan istri Tuan Muda nya itu.
Flashback selesai.
***
__ADS_1