
"Adnan!"
Sebuah suara milik seorang wanita terdengar memanggil Adnan dari jarak yang berdekatan dari posisi keempat remaja itu berada.
"Mama.." sahut Adnan yang langsung mengulurkan sebuah botol mineral kepada sang Mama.
"Ehh, ada teman-teman nya Adnan juga toh. Halo, salam kenal semuanya. Saya mama nya Adnan. Cukup panggil Tante Ayu ya," salam Mama Ayu memperkenalkan diri.
Ranum tertegun saat melihat kembali Mama nya Adnan itu. Ia tak buru- buru menyahuti sapaan Mama Ayu.
Hanya Kania dan Tari saja yang balas menyapa sapaan Mama Ayu tadi.
"Salam kenal juga, Tante. Aku Kania, ini Tari teman ku, dan ini Kak Ranum kakak ku," ucap Kania memperkenalkan dirinya balik.
"Oh! Ada Ranum juga ya. Kamu juga habis senam, Nak?" Tanya Mama Ayu dengan ramah. Sebuah senyuman terukir manis di wajah cantik wanita itu.
Anum langsung agak menundukkan pandangannya ke bawah. Entah kenapa ia merasa dag dig dugan saat bertatapan dengan Mama Ayu.
"Mm.. Anum enggak ikutan senam, Tante," jawab Ranum kemudian.
"Yah.. sayang banget. Padahal senam itu bagus lho, Nak buat kebugaran jasmani kita," ucap Mama Ayu mempromosikan kegiatan senam.
"Iya, Tante. Kakak memang gak terlalu suka joget-joget gitu. Kata nya malu kalau dilihatin orang yang lewat," ujar Kania ikutan kembali nimbrung dalam pembicaraan.
"Ooh.. begitu. Kalian berdua bersaudara?" Tanya Mama Ayu dengan ekspresi wajah tertarik.
"Iya, Tante."
"Tapi muka kalian agak beda ya? Mungkin Ranum mirip Mama nya dan kamu mirip Papa nya ya?" Terka Mama Ayu.
"Ihihi.. enggak tahu juga deh ya, Tante. Kania juga heran. Kita berdua gak ada mirip-mirip nya sama Ayah dan Bunda," seloroh Kania asal.
"Tapi kalau dilihat-lihat, justru Kak Ranum kok kelihatan mirip banget yaa sama Tante?" Ujar Kania begitu tiba-tiba.
Ranum yang sedari tadi hanya menjadi tim pendengar dalam pembicaraan antara Kania dan Mama Ayu, kemudian menepuk pelan lutut nya Kania.
Ia menegur adik nya itu secara non verbal, atas ucapan lancang nya Kania.
"Kenapa Kak? Gak percaya? Tanya aja deh Tari. Ya kan Tar, Kakak tuh mirip banget muka nya, sama Tante?" Ucap ulang Kania meminta bantuan kepada Tari.
Tari sendiri jug terlihat bingung dan juga malu. Jadi ia hanya ber- "eee... Eeee.." saja.
"Wah.. berarti muka Tante awet dong cantik nya, kalau kamu bilang mirip sama Ranum?" Ujar Mama Ayu mencoba berkelakar.
Sayang nya Tari dan Ranum masih begitu malu untuk ikut masuk dalam perbincangan itu. Sementara itu Adnan terlihat duduk santai di tempat nya berada kini.
"Ihihi.. Tante lucu deh. Tante memang cantik banget kok. Tante beneran Mama nya Adnan?" Tanya Kania dengan berani.
__ADS_1
"Iya, Nia. Kenapa? Gak mirip juga ya?" Tanya balik Mama Ayu.
"Ah.. mirip kok. Hidung nya sama-sama mancung!" Ucap Kania tanpa malu-malu.
Mama Ayu memberikan senyuman hangat kepada Kania.
"Kamu anak yang jujur sekali, Kania. Kalian sekelas semua sama Adnan?" Tanya Mama Ayu mengalihkan topik.
"Cuma Kak Ranum aja yang sekelas sama Adnan, Tante. Kalau aku satu sekolah dan beda kelas. Sementara Tari mah dari planet, eh, sekolah lain," ucap Kania diiringi kikikan kecil.
"Oo.. jadi begitu.. Adnan, kamu masih mau di sini sama teman-teman kamu, Nak?" Tanya Mama Ayu kemudian.
Adnan bergegas bangun dan menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaan sang Mama sesaat tadi.
"Kalau gitu, kita pulang sekarang?" Tanya Mama Ayu.
"Ayo, Ma."
Mama Ayu kemudian kembali menatap ke arah ketiga remaja putri itu. Dan ia pun berpamitan pada ketiga nya.
"Kalau gitu, Tante pulang duluan ya semua. Sampai jumpa lagi di lain waktu."
"Iya, Tante.." sahut Kania, Tari dan Ranum berbarengan.
Kali ini Ranum kembali berani mengangkat pandangannya untuk melihat ke arah Mama nya Adnan.
Dan, ia dibuat terkejut saat menerima sebuah senyuman teduh dari wajah cantik nya Mama Ayu.
Ranum merasa hati nya diliputi oleh perasaan yang asing. Rasa yang tak pernah dialaminya sepanjang usianya yang ke enam belas tahun ini.
"Kak.. Kakak!"
Ranum tersentak kaget saat merasakan tepukan Kania di bahu nya.
"Kenapa, Ya?" Tanya Ranum seketika.
"Kakak kenapa?" Tanya Kania dengan raut khawatir di wajah nya.
Tak hanya Kania saja. Tari pun terlihat memandang Ranum dengan wajah bingung.
"Maaf.. Anum sempat bengong tadi. Jadi, kita juga balik sekarang?" Ajak Ranum kemudian.
"Yah.. jangan dulu lah Kak. Kita nge bubur dulu yuk! Nia tahu pedagang bubur yang enak banget di dekat sini. Yuk! Kita jajan dulu mah sebentar."
Tanpa ba bi bu lagi, Kania langsung saja berjalan ke arah yang tak jelas diketahui oleh Ranum.
Di samping Ranum, Tari terlihat bersemangat untuk mengejar langkah Kania.
__ADS_1
"Bubur apa, Nia? Bubur ketan hitam bukan?" Tanya Tari berapi-api.
"Bukan!!" Sergah Kania.
"Bubur ayam lah! Mau enggak yuk!" imbuh Kania kembali.
"Ehh.. mau dong mau!!" Seru Tari dengan semangat yang juga tak kalah lebih dari semangatnya Kania.
"Hey! Kan tadi kita udah sarapan lontong di rumah. Masa iya mau makan lagi sih?" Panggil Ranum dari belakang.
"Itu sih baru cemilan doang, Kak. Bubur ayam tuh baru namanya sarapan. Lagian perut Nia kan lapar lagi sehabis senam aerobik tadi!" Tutur Kania dengan sejuta alasan nya.
Di belakang, Ranum menatap adik dan sahabat nya itu yang begitu bersemangat menuju tempat penjual bubur ayam yang menurut Kania enak sangat.
Ia tersenyum geli saat menyadari beberapa kemiripan Kania dan Tari yamg sama-sama seorang foodie.
Begitu sampai di warung bubur ayam langganan nya Kania, kedua remaja itu pun langsung memesan bubur ayam pada bapak pedagang nya.
Kedua remaja yang dimaksud adalah Kania dan Tari. Sementara Ranum tak ikut memesan bubur ayam karena merasa masih cukup kenyang usai menandaskan dua bungkus lontong tadi pagi.
"Kalau begini cara nya, apa artinya dong usaha kalian ikutan senam aerobik? Percuma capek-capek membakar lemak, tapi malah diganti sama lemak lain yang baru," ledek Ranum pada Kania dan Tari.
"Ya ada lah, Kak. Dengan senam, tubuh kita kan jadi lebih bugar. Jadi kita gak gampang jatuh sakit. Iya kan, Tar?" Tanya Kania kepada Tari.
"Iya, Num. Heran deh. Aku aja yang badannya gemuk gini, suka kok ikutan senam. Walau capek banget, tapi berasa juga manfaat nya ya, Nia?" Tanya balik Tari.
"Yap! Betul banget tuh Tar! Ayo dong bu ustadzah, lain kali lebih semangat lagi ya olahraga nya!" seloroh Kania menggoda ku.
"Hh.."
Dan Ranum hanya bisa mendesah. Mau dibujuk rayu dengan apapun juga, ia tetap saja tak terlalu menyukai kegiatan olahraga. Terlebih lagi senam aerobik.
'Malu..' monolog Ranum di dalam hati.
Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba saja sebuah suara kembali muncul dan menyapa Ranum.
"Ranum? Kania? Kalian habis olahraga juga ya?"
Serentak saja, Ranum langsung mengangkat pandangannya dari ponsel. Dan ia pun mendapati sosok Kak Titan yang kini telah berdiri di dekat meja tempat nya duduk saat ini.
Dua mangkok berisi bubur ayam berada pada masing-masing tangan nya Titan.
"Kak Titan juga olahraga? Sama siapa Kak?" Tanya Kania saat melihat lelaki itu memegang dua mangkok di tangannya.
"Itu sama Hafsah.." unjuk Titan dengan kepalanya.
Kemudian, pandangan Kania, Tari dan Ranum pun langsung mengikuti arah tunjuk kepalanya Titan. Mereka pun mendapati seorang remaja putri berusia awal belasan tahun yang berdiri malu-malu di belakang Titan.
__ADS_1
"Oh, Hafsah! Hai Hafsah!" Sapa Kania dengan riang.
***