
"Jadi, sampai di sini dulu ya. Ingat tugas hafalan hadits nya untuk minggu depan. Khusus untuk yang non muslim, cukup hafal artinya aja. Paham?"
"Paham..Pak!"
"Sekarang masih ada sisa waktu lima belas menit. Kita pilih siapa yang jadi ketua kelas ya."
Segera saja suasana kelas menjadi hening.
"Jadi, ada yang mau mengajukan diri untuk jadi ketua kelas?" Tanya Pak Amin.
"Gak ada? Malu yaa.. oke. Kalo gitu ada yang mau mengajukan temannya untuk jadi ketua kelas? Usahakan mengajukan teman yang memang sudah pernah jadi ketua kelas ya. Ada? Ya?"
"Tio, Pak!" Ucap suara anak lelaki dari belakang.
"Enggak mau, Pak. Gak bisa!" Teriak lelaki tambun bernama Tio.
"Anjas, Pak. Anaknya pinter," Ucap suara lain.
"Tomi, Pak!"
"Bebi, Pak!"
"Soraya!"
Tetiba kelas menjadi ramai oleh suara anak-anak yang mengajukan nama temannya untuk dijadikan ketua kelas. Membuat Pak Amin sempat kebingungan.
"Saya aja, Pak. Biar Saya yang jadi ketua kelasnya," Kelas tiba-tiba hening. Kini semua pandangan tertuju pada sosok pemilik suara.
"Adnan, kan? Kamu mau jadi ketua kelas?" Tanya Pak Amin.
"Iya, Pak. Daripada kelamaan milihnya."
"Yah.. kalau ada yang mau jadi ketua kelas dengan kemauan sendiri sih bagus ya. Jadi gimana anak-anak? Semua setuju kalau Adnan yang jadi ketua kelas kita? Atau ada yang mau mengajukan diri juga?"
Hening.
"Gak ada yang mau mengajukan diri lagi? Oke. Berarti semua setuju kalau Adnan yang jadi ketua kelas kita ya. "
"Setujuuu.."
"Oke. Kalau gitu sekarang kita pilih perangkat pembantu ketua kelasnya ya."
Dan waktu terus berlalu. Satu persatu nama dituliskan di papan tulis sesuai jabatannya. Ranum merasa sedikit jenuh dengan proses pemilihan ini. Karenanya ia kembali melayangkan pikirannya ke video musiknya Lazuli Nun. Sampai sebuah suara menyebut namanya.
"Ranum.. gimana? oke kah?" Tanya Pak Amin.
"Ya? Ya pak?" Jawab Ranum.
"Oke."
Dan Ranum tercengang ketika namanya ditulis oleh Pak Amin di papan tulis. Tertera di sana jabatannya adalah Bendahara II.
"Apa--?! Siapa--?! Kenapa--kenapa Ranum bisa jadi bendahara???"
Ranum setengah meringis, setengah berteriak. Di sampingnya, Tika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan tadi Ranum sendiri yang nge-iya-in pas Pak Amin nanya siap jadi bendahara atau enggak. Ranum ngelamun lagi ya?" Tanya Tika keheranan.
"I--iya kah? Enggak.. tadi tuh Ranum.."
Ranum berhenti bicara. Ia merasa percuma jika terus menerus protes tak jelas. Alhasil ia pun berganti haluan dan menanyakan hal lain pada Tika.
"Terus kenapa ya Pak Amin kepikiran tuk nulis nama Ranum?"
"Ranum beneran ngelamun ya tadi? Ish..ish..iishh.. kebiasaan jelek itu Num. Mending ditinggalin deh. Buktinya Ranum jadi kena apes melulu. Malu sendiri kan jadinya," Ujar Tika.
"Iya. Malu banget! Jadi, kenapa Pak Amin bisa nawarin jabatan ke Anum?"
"Adnan yang ngusulin. Dia ngusulin beberapa nama untuk jadi perangkat kelas. Termasuk nama Ranum. Terus..."
Ucapan Tika berikutnya tak lagi tertangkap oleh indra dengar Ranum. Dadanya langsung bergejolak oleh rasa kesal saat ia mendengar satu nama yang disebut Tika.
'Adnan!!'
Seketika itu juga Ranum menyorotkan pandangannya ke Adnan. Dan seolah tahu kalau ia sedang diamati, Adnan pun menengok lalu tersenyum lebar ke arahnya.
Ranum melengos. Membuat Adnan melepas tawa pelan. Gingsul di gigi kanannya tampak jelas terlihat.
"Kalian sebenarnya kenal gak sih?"
Pertanyaan dari Tika menarik pikiran Ranum dari gelombang kesal yang menderanya.
"Apa?" Tanya Ranum kebingungan.
"Kamu sama Adnan.."
"Gak. Ga kenal. Emang kenapa?"
"Tapi kalian kayak udah kenal lama gitu. Beneran belum kenal?" Tanya Tika lagi karena merasa tak yakin.
"Iya belum. Rumah kita aja jauuhh banget. Dia di Kampung Jati kan? Ranum di Cicere. Ujung ke ujung. Jadi jauuuhh banget!" Seru Ranum berapi-api.
"Ihihi.. Ranum lucu," Seloroh Tika.
"Hah?"
__ADS_1
"Iya lucu. Biasanya Ranum tuh kalem, manis, persis kayak kucing yang imut-imut ngegemesin. Tapi kalo udah ketemu musuhnya, grrrr.. jadi macan deh. Barusan tuh kamu kayak macan."
"...."
Ranum terdiam. Ia tak bisa mengikuti alur pikir Tika.
Dalam batinnya ia menggerutu,
'aku seperti macan? Atau kucing? Ya enggaklah.. daripada kucing, jauh lebih lucu kelinci lah. Bulunya halus, matanya cantik, kupingnya lucu...bla..blaa..blaa..'
Dan pikiran Ranum pun kembali ke dunia lala-land nya. Baru ketika Pak Amin keluar kelas dan berganti guru lain yang masuk kelas lah Ranum kembali sadar. Kalau saat itu masih dalam waktu jam belajar.
***
Saat bel istirahat berbunyi, Ranum dan Kania pergi ke kantin bersama.
Bersama mereka, bergabung juga Tanti, Mira, Ayu, dan Laras. Keempat teman baru Ranum ini duduk di bangku depan dan bangku belakang Ranum.
Tanti dan Mira menempati bangku di belakang, sementara Ayu dan Laras menempati bangku di depan.
Ke enam remaja putri itu bergerombol memasuki area kantin yang saat itu nampak sudah ramai oleh siswa-siswa yang kelaparan.
Kantin di SMAN 2 kota Y ini bersifat fleksibel. Para siswa bebas mengambil panganan apa saja yang tersedia, lalu menunjukkannya pada Bukde Ndari, untuk kemudian membayarnya.
Setelah membayar, mereka bebas duduk di barisan kursi panjang yang tersedia atau bisa juga membawa makanan yang terbungkus untuk dimakan di taman. Atau juga kembali ke kelas dan memakannya di sana.
Saat itu Ranum dan kelima teman barunya memilih untuk menikmati suasana kantin. Kebetulan ada banyak bangku yang masih kosong.
Ranum membeli ketoprak yang sudah terbungkus dalam styrofoam dan membayarnya. Ia lalu menduduki bangku yang kosong bersama dengan kawan-kawan barunya.
Saat ketopraknya habis separo, seorang siswa duduk di bangku kosong yang ada di sisi kanannya. Ranum tak memperhatikan kedatangan siswa itu dan asik melahap ketopraknya.
"Laper amat."
Tiba-tiba sebuah komentar menohok terdengar dari sisi kanan Ranum. Awalnya Ranum tak menggubris komentar itu, karena ia pikir komentar itu bukan tertuju padanya. Tapi lalu suara yang sama kembali terdengar.
"Yah. Dicuekin. Beneran laper ya."
Merasa penasaran, Ranum menolehkan kepalanya ke kanan dengan masih mengunyah ketoprak dalam mulutnya.
"Adnan!" Ranum terkejut.
"Hadir!" Seru Adnan sambil menyengir.
Remaja pria itu terlihat santai mengemut lolipop dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menopang wajahnya yang memperhatikan Ranum lekat-lekat.
Segera saja Ranum melengos. Ia putuskan untuk mengabaikan sosok di samping kanannya itu.
Hingga ketopraknya habis, barulah Ranum menenggak separo es teh manisnya. Lalu ia mengajak obrol Laras yang duduk di sisi kirinya.
"Adnan, helo. Aku Tika. Kita sekelas."
Adnan tersenyum dan mengangguk singkat. Ia terlihat hanya mengemut lolipop saja.
"Kamu alumni mana ya? " Tanya Tika lagi.
"SMP Baitul Jannah."
Ranum langsung menoleh ke Adnan. 'jauh banget. Itu kan di kota Z,' hatinya membatin.
"Oo.. lumayan jauh ya."
"Masih lebih jauh gue di Baiturrahman," Aku seorang siswa bertubuh tinggi bugar.
"Nama gue Agus," Agus memperkenalkan dirinya.
"Oh. Di Baiturrahman. Aku juga ada temen yang sekolah di sana. Tapi udah lama gak ketemu. Namanya Siska. Kenal ga?" Tanya Tika pada Agus.
"Siska Rahayu bukan? Yang rambutnya hitam keriting? Dia mah di DO!" Seloroh siswa lelaki yang duduk di seberang Adnan.
Seluruh mata langsung menoleh ke siswa itu. Merasa tertarik untuk mendengar gosip.
"Hah? DO? Kenapa ya?" Tanya Tika penasaran.
"Dia ketangkep polisi lagi nyabu. Parah ya!"
"Parah.. ko bisa ya masih SMP nyabu. Salah gaul itu," Sambung siswa yang lain.
"Denger-denger gak cuma nyabu lo. Katanya mereka lagi dugeman juga di Blitz."
"Blitz, klub malem yang di Koro itu? Gak mungkin! Untuk masuk ke sana tuh harus bawa KTP tahu. Jadi cuma yang umurnya 17 tahun ke atas yang bisa masuk," Sahut yang lain.
Dan beberapa menit berikutnya cerita perihal Siska, nyabu, dan Blitz pun berlanjut.
Sementara teman-teman di sekitarnya bergosip, Ranum malah tertarik melihat lalat yang berhinggapan di styrofoam bekas ketopraknya. Sambil melihat lalat yang berlalu lalang, Ranum menyeruput es teh nya.
"Srrtt...srrtt.."
"Haus neng?" Goda Adnan.
"..."
"Ko diem aja. Lagi sariawan yaa.. atau.. Lagi M?"
"Iya. Aku haus. Kenapa emang?" Tantang Ranum.
__ADS_1
Adnan kembali memamerkan gingsul kanan miliknya. Dan Ranum yang melihatnya dari jarak dekat, selama sesaat sempat tertegun.
'manis..' batin Ranum secara tak sadar.
Tapi setelah sadar dengan apa yang barusan terlintas di benaknya, wajah Ranum langsung memerah karena malu.
'Apaan sih, Num. Biasa aja kali. Dia tuh lelaki jahil, nyebelin, dan kayaknya playboy juga deh. Ngapain coba dia nyengir-nyengir melulu, kalau bukan playboy!' gerutu Ranum dalam hati.
"Nih. Kalo masih haus. Es jeruk nya lumayan manis," Tawar Adnan sambil menyodorkan gelas berisi cairan oranye.
"Gak. Makasih. Udah kenyang."
Lalu, terpikirkan sesuatu di benak Ranum untuk menanyakannya pada Adnan.
"Hei. Kenapa kamu ngusulin namaku jadi bendahara. Tahu darimana kalo aku bisa ngurusin keuangan?"
Adnan tak langsung menjawab pertanyaan Ranum. Ia menyeruput jus jeruknya terlebih dahulu baru kemudian menjawab,
"Kamu cewe kan. Semua cewe kan pinter soal duit. Ya udah. Pas kan."
'Jawaban macam apa itu?!' gerutu Ranum dalam hati.
"..."
"..."
"Lagian biar kamu gak kebanyakan ngelamun juga. Kan mending jadi bendahara. Jadi ada kerjaan mintain duit KAS ke teman-teman," Lanjut Adnan.
"!?!" Ranum memelototi Adnan.
'Emang nyebelin ya ni orang!' Ranum menyumpah dalam hati.
"..."
Beberapa lama kemudian, terdengar kembali suara Adnan.
"Waktu tadi pas perkenalan, kamu bilang suka nyanyi ya? Ada idola ga? Isyana? Maudy? Atau... Lazuli?" Tanya Adnan bertubi-tubi.
Ranum memilih untuk mengabaikan lelaki di sampingnya itu. Sebalnya, Adnan masih terus mencoba mengajaknya berbincang.
"Pernah denger lagunya Lazuli yang judulnya 'Merindumu' gak?. Itu loh yang liriknya gini,
'kenangan terhenti di jejakmu.
Tak mampu ku ukir kisah lagi.
Biarkan sejenak ku berhenti.
Tuk merindumuu..'"..
Tanpa disadari, Ranum ikut menyanyikan bait terakhir lagu Yumna itu bersamaan dengan Adnan.
Ketika disadarinya kalau ia baru saja ikut menyanyi, Ranum langsung mengunci rapat-rapat mulutnya. Tapi lalu ia menyadari suasana di meja kantinnya yang tiba-tiba sepi.
Ketika Ranum melihat ke wajah kawan-kawannya, sadarlah ia kalau interaksinya dengan Adnan tak luput dari mata-mata kawannya itu.
Alhasil segera setelahnya Ranum digoda oleh kawan-kawannya.
"Ciee..ciee.. dua sejoli asik sendiri. Kita mah ngobrolin soal apa. Ini orang malah asik nyanyi berdua. Lagunya romantis banget lagi. 'merindumuuu...'"
"Hahahahaha.."
Ranum menunduk malu. Lagi-lagi tanpa disadarinya tangannya meraih gelas berisi jus jeruk yang terletak di depannya, lalu menyeruputnya.
Mencoba mengabaikan godaan dari kawan-kawannya. Ketika godaan dari mereka tak jua berhenti, dan ia hampir ingin pamit diri, Adnan di sampingnya malah beranjak bangun.
"Udah ah. Berisik. Balik aja yuk ke kelas. Bentar lagi masuk loh.." serunya kepada tiga orang siswa rekannya.
Lalu keempat remaja pria itu berlalu pergi. Meninggalkan Ranum dan geng nya di bangku panjang itu.
"Kita balik juga yuk. Udah pada habis kan?" Ajak Ayu.
"Hayuk."
"Yuk"
"Yuk ah.."
"..."
"..."
Dan ke enam siswi itu pun bangun meninggalkan bangku kantin.
Di perjalanan menuju kelas, tiba-tiba saja Tika berbisik pelan di telinga Ranum.
"Ranum, kamu sadar gak kalo tadi kamu nyeruput jus nya Adnan di gelas yang sama... Emm... Itu secara gak langsung kan berarti..."
Dan Tika langsung mempercepat langkahnya. Meninggalkan Ranum yang terpaku selama beberapa detik di tempatnya berdiri. Memikirkan kalimat terakhir Tika yang menggantung. Itu berarti...
'ciu man tak sengaja'..
Blush..
Semburat kemerahan pun mewarnai wajah dan hati Ranum.
__ADS_1
***