Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Papa Adit


__ADS_3

"Adnan!"


Seorang lelaki seumuran Ayah Nanda tiba-tiba saja muncul di pintu masuk belakang rumah. Wajah nya datar dan terlihat menyisiri ke enam sosok teman nya Adnan satu persatu.


Saat pandangan nya sampai kepada Ranum, ada keterkejutan yang sekilas terlihat di wajah nya. Tapi lalu ia mem fokuskan pandangannya kembali ke Adnan.


"Ya Papa," sahut Adnan pada panggilan lelaki di dekat pintu. Ternyata lelaki itu adalah ayah nya Adnan yang bernama Adit. Untuk selanjutnya kita akan memanggilnya Papa Adit.


"Mau ke mana kamu?" Tanya Papa Adit.


Adnan terlihat gentar saat berbicara dengan Papa Adit. Sehingga membuat teman-teman nya yang lain pun jadi ikutan merasa gentar.


"Adnan mau antar teman-teman pulang dulu, Pa. Teman-teman Adnan gak punya motor," jawab Adnan dengan kepala tertunduk.


Papa Adit tak berkata apa-apa lagi selama beberapa waktu. Sampai kemudian sebuah pertanyaan pun terlontar jua dari mulut nya.


"Mereka semua teman-teman mu?" Tanya Papa Adit.


"Iya, Pa," sahut Adnan singkat dan padat.


"Kamu, siapa nama mu?" Tanya Papa Adit menunjuk kepada Tika.


"Saya Tika, Om."


Kemudian mata Papa Adit berpindah ke sosok di sebelah Tika, yakni Mira. Dan Mira pun akhirnya juga memperkenalkan diri tanpa perlu diminta. Begitu pun juga yang lainnya.


Semuanya langsung memperkenalkan diri nya masing-masing kepada Papa Adit. Sampai tiba giliran Ranum, Papa Adit tiba-tiba saja menambahkan pertanyaan lain untuk remaja itu.


"Kamu tinggal di mana?" Tanya Papa Adit kepada Ranum.


"Di Kayu Jati, Om," jawab Ranum.


"Oo.. siapa nama orang tua kamu?" Tanya Papa Adit kembali.


Pertanyaan Papa Adit itu menarik perhatian remaja lain kepada nya. Karena entah kenapa semua remaja itu merasa kalau Papa Adit tertarik untuk mengetahui asal-usul nya Ranum.


Sementara itu, Ranum yang menjadi objek pertanyaan malah terlihat kebingungan untuk sesaat.


"Mm.. ayah Anum bernama Nanda, Om. Sementara Bunda Anum bernama Nida," jawab Ranum.


Sekilas, ada keterkejutan yang sempat melintas di wajah Papa Adit. Namun itu hanya disadari oleh Adnan saja. Adnan pun jadi penasaran, mengapa Papa nya begitu tertarik untuk mengetahui perihal keluarga Ranum?


Belum sempat Adnan berkomentar, ia melihat sang Mama muncul di balik tubuh sang Papa.


Mama Ayu adalah wanita berumur awal tiga puluhan yang sangat cantik. Dengan wajah mungil, hidung mancung, dan rambut hitam lurus yang tergerai indah, Mama Ayu berhasil memukau teman-teman nya Adnan di sana.


"Mama," sapa Adnan pada Mama nya.


Seketika itu juga pandangan Adnan melembut. Dan ia pun langsung menghampiri sang Mama yang selalu hadir dengan senyuman tipis miliknya.


"Adnan, Sayang. Kamu sedang bermain dengan teman-teman mu, Nak?" Tanya Mama Ayu.

__ADS_1


"Iya, Ma. Adnan habis latihan SKJ sama teman-teman. Tapi sekarang mereka mau pulang," ujar Adnan bercerita.


"Oh. Kalian gak mau main dulu, anak-anak?" Tanya Mama Ayu dengan ramah.


"Enggak, Tante.. terima kasih," koor hampir semuanya berbarengan.


"Ya sudah. Hati-hati ya di ja--"


Ucapan Mama Ayu seketika terhenti saat pandangan nya sampai ke sosok Ranum. Entah kenapa, sosok remaja putri itu membuat hati nya tertarik dengan begitu kuat. Padahal penampilan remaja yang sebenar nya cantik itu terlihat amat biasa.


Tapi entah kenapa benak Ayu tak mampu berpaling dari menatap Ranum lama-lama.


"Kamu.."


Belum selesai Mama Ayu berkata, saat Papa Adit menarik siku nya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayo, Ma! Kita naik ke atas. Bukan kah tadi kamu bilang migrain mu kambuh?" Ajak Papa Adit tiba-tiba.


"Mm.. iya. Tapi.." pandangan Mama Ayu masih tertarik untuk mengamati sosok Ranum. Sehingga membuat remaja putri itu merasa tak nyaman karena menjadi pusat perhatian Papa-Mama nya Adnan.


Setelah kedua orang tua nya Adnan berlalu pergi, tinggal lah semua remaja itu kini memperhatikan Ranum.


Hal ini membuat Ranum menjadi gugup dan merasa malu. Ia lalu meremas bagian ujung baju nya tanpa sadar.


"Kita jadi pulang sekarang kan?" Tanya Ranum mengingatkan teman-teman nya.


Baru lah ke enam remaja lainnya tersadar dengan niat pulang mereka tadi. Dan akhirnya, ketujuh remaja itu pun berboncengan sepeda motor menuju pulang. Ke rumah nya masing-masing.


***


"Makasih ya, Nan," ucap Tika begitu sampai.


"Sama-sama," sahut Adnan.


"Jumpa besok, Ranum, Adnan!" Sapa Tika mengantar kepergian dua teman nya itu menjauh.


"Ya, Tik! Jumpa besok ya!" Sapa balik Ranum kepada nya.


Kini, Ranum hanya berduaan saja dengan Adnan.


Selama beberapa saat, tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Hingga tiba-tiba saja Ranum yang memberanikan diri memulai percakapan. Ada sesuatu yang mengganjal hati nya saat ia bertemu dengan kedua orang tua Adnan tadi.


Seolah-olah Papa dan Mama nya Adnan mengenali diri nya saja. Padahal Ranum begitu yakin kalau sesaat tadi adalah pertemuan pertama nya dengan orang tua Adnan itu.


"Mama kamu cantik banget, Nan!" Puji Ranum, dalam prakata nya.


"Makasih. Kamu juga kok!" Sahut Adnan dengan nada suara yang terdengar normal.


'Duh! Salah ucap deh. Kenapa juga aku tiba-tiba memuji Mama nya Adnan ya? Ini sungguh hari yang aneh!' monolog Ranum di dalam hati.


"Papa Mama kamu seperti nya habis dari kondangan, Nan?" Ujar Ranum.

__ADS_1


"Ya. Seingat saya, Mama memang mengatakan kalau mereka ada kunjungan ke rumah yatim piatu hari ini," jawab Adnan sambil lalu.


Padahal sebenarnya dalam hati remaja lelaki itu pun diliputi keheranan atas sikap orang tuanya tadi kala melihat Ranum.


'Kenapa Papa seperti mengenal Ranum? Dan kenapa juga Mama terlihat tertarik kepada Ranum?' tanya Adnan pada dirinya sendiri.


"Apa kamu pernah bertemu dengan Papa dan Mama ku Num, sebelum nya?" Tanya Adnan tiba-tiba.


"Enggak.. sepertinya sih enggak ya, Nan."


Sudah. Ranum tak berani menambahkan ucapan apapun lagi. Khawatir ia salah ucap karena tergoda untuk mengungkapkan dugaan nya yang belum tentu kah benar.


'Bisa jadi juga bila wajah ku hanya mengingatkan pada seseorang yang mereka kenal bukan?' terka Ranum dalam pikiran nya sendiri.


Sekitar setengah jam kemudian, Adnan pun mengantarkan Ranum hingga ke depan rumah nya. Dan Ranum dibuat heran saat mendapati Bunda nya ternyata telah pulang lebih awal. Bunda Nida kini sedang menyapu teras rumah.


"Assalamu'alaikum, Bunda kok udah pulang jam segini?" Tanya Ranum keheranan.


"Iya, Nak. Pekerjaan Bunda hari ini alhamdulillah bisa selesai lebih cepat. Jadi Bunda bisa pulang lebih awal deh."


Bunda Nida memberikan Ranum, senyuman teduh nya. Tapi kemudian pandangan nya jatuh pada sosok Adnan yang terlihat berdiri ragu-ragu di samping motor milik nya.


"Siapa ya ini? Teman nya Ranum ya?" Sapa Nida dengan ramah.


"Ee.. iya Tante. Saya nganterin Ranum pulang aja Tante. Tadi kita habis latihan SKJ di rumah saya bareng teman-teman yang lain," tutur Adnan menjelaskan.


"Oh.. begitu."


"Iya, Bunda. Terus Adnan ini nganterin Ranum pulang. Tadi kita pulang nya ramai-ramai sih sama yang lain," imbuh Ranum.


"Wah. Terima kasih ya Nak Adnan, karena sudah berbaik hati mengantarkan Ranum sampai ke rumah. Ayo mampir dulu sini! Bunda bawa gorengan untuk kalian makan," tawar Nida pada dua remaja itu.


"Makasih, Tante. Tapi Adnan pamit pulang dulu ya, Tante. Mama dan Papa Adnan tadi minta Adnan untuk langsung pulang setelah mengantarkan Ranum," tolak Adnan dengan halus.


"Yah.. sayang sekali ya. Tapi ya gak apa-apa. Kapan-kapan mainlah lagi ya, Nan. Berhati-hatilah di jalan raya," tegur Nida mengingatkan.


"Iya, Tante. Num, saya pulang dulu ya!" Pamit Adnan.


"Iya. Makasih ya, Nan. Maaf udah ngerepotin."


"Nyantai aja. Tante, Adnan pulang ya. Assalaamu'alaikum!" Sapa Adnan sebelum berlalu pergi dengan motor nya.


Setelah itu, Ranum pun langsung masuk ke dalam rumah. Namun langkah nya tiba-tiba saja dihentikan oleh Bunda nya.


"Ranum, Sayang.. bisa tolong duduk ke sini sebentar. Bunda mau ngomong sesuatu dulu," ajak Nida sambil menepuk sofa di samping tempat nya duduk.


"Baik, Bund.." sahut Ranum singkat dan padat.


Meski sebenarnya dalam hati remaja putri itu pun mulai merakit beragam pertanyaan atas isi obrolan nya nanti bersama sang Bunda.


'Gak biasa-biasanya Bunda bersikap serius gini. Ada apa ya?' benak Ranum sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diciptakannya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2