Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Gosip


__ADS_3

"Oh ya! Selamet ya, Num! Kata Zidan kamu ya yang jadi juara umum di kelulusan kemarin?" Ucap Tari.


Zidan adalah tetangga Tari. Dan ibunya adalah Bu Rosi, guru Biologi Ranum dan Tari.


Dengan sedikit malu, Ranum menjawab.


"Oo beneran itu ya. Bunda juga waktu itu bilang sih kalo Anum jadi juara umum. Cuma karena ga ada info lebih lanjut atau apa kek, jadi ya agak gak yakin juga beritanya bener atau enggak."


"Bener, Num. Zidan denger dari Mama nya, Bu Rosi. Eh, panjang umur. Tuh orangnya nongol. Dan! Zidan! sini dulu!"


Di halaman depan tampak seorang remaja lelaki datang mendekat. Tubuhnya tinggi sedang, dengan wajah mungil yang dihiasi kacamata baca yang oversize. Ia terlihat pemalu, melihat gelagatnya yang seringkali menundukkan pandangannya.


"Kenapa Tar?" Tanya Zidan dengan suara pelan.


"Kata Bu Rosi, eh, Mama kamu, Ranum kan yang jadi juara umum sekolah kami?" Tanya Tari.


Sebelum menjawab, Zidan sempat melirik ke arah Ranum sebelum segera menundukkan pandangannya lagi.


"Iya.. Ranum. Yang juara umum."


"Tuh kan, Num!"


"Oo.. Anum malah gak ngerasa ya. Haha.. tapi Fina lulus gak ya? Waktu itu yang terakhir dapet surat kelulusan tuh Anum sama Fina. Terus pas pulang Anum lihat Ayahnya Fina kayak marah-marah gitu."


"Paling ngomel karena gak jadi juara umum kali, Kak. Fani, kembarannya Fina kan sekolah bareng Kania. Dia pernah bilang sih. Katanya Ayahnya tuh nuntut banget soal prestasi pendidikan. Mesti juara. Makanya Fani dikit banget temennya. Soalnya lebih sering mojok di kelas tuk baca buku," Seloroh Kania tiba-tiba.


"Hmm..kasihan ya," Iba Ranum.


"Untung Mama-Papa Rie orangnya asyik-asyik. Yang penting udah usaha belajar yang maksimal. Tentang hasil sih urusan takdir," Cerita Tari.


"Iya. Ayah sama Bunda juga gitu," sahut Kania.


Selama beberapa detik suasana hening. Sampai sebuah suara pelan terdengar di pojokan.


"Kalau Ibu sih berharap aku bisa dapat ranking. Soalnya beliau bilang malu kalau anaknya gak berprestasi. Apalagi beliau kan mengajar," Ujar Zidan perlahan dengan kepala menunduk.


Serentak saja tiga pasang mata remaja perempuan itu (Tari, Kania dan Ranum) menoleh ke arahnya. Masing-masing batin mereka berkata,


Tari: 'ooh.. ternyata Bu Rosi kayak gitu ya..'


Kania: 'eehh, masih ada di sini toh!'


Ranum: 'Anum kira dia udah pulang..'


Suasana kembali hening. Sampai perbincangan kembali membahas perihal kelulusan.


"Terus siapa ya yang kemarin gak lulus? Ada dua orang kan?" Tanya Ranum.


"Denger-denger sih yang gak lulus tuh Siska sama Beri. Dua-duanya di DO (Drop Out) karena ketahuan make obat," Cerita Tari.


"Astaghfirullahal'azhiim.." seloroh Ranum.


"Siska yang rambutnya curly itu bukan?" Tanya Kania.


"Iya," Jawab kompak Tari dan Ranum.

__ADS_1


"Oo.. berarti bener beritanya ya," Renung Kania.


"Berita apa, Nia?" Tanya Tari penasaran.


"Berita kalau ada enam siswa SMP yang diciduk polisi di klub malam Blitz Rabu lalu. Dua orang dari SMPN 23 dan empat orang dari SMP Baiturrahman," Jawab Zidan.


"Iya. Ehh.."


Ketiga pasang mata Kania, Ranum dan Tari kembali menoleh ke arah Zidan. Dalam batin mereka berkata,


Tari: 'oo..'


Ranum: 'ko lupa ya kalo dia masih ada?'


Kania: 'nih anak suka ngagetin deh. Kirain udah pulang dari tadi.'


"Ehh, kok lo tahu ya? Setahu gue berita ini eksklusif banget ditutup rapet-rapet. Cuma anak Baiturrahman aja yang tahu soal berita ini. Apa emang udah bocor ya ke mana-mana?" Tanya Kania heran.


"Lhaa? Dia kan emang se SMP bareng lu, Nia. Masa iya lu ga kenal ama Zidan," Ucap Tari.


"Hah? Emang ya? Perasaan gak pernah lihat deh. Emangnya lu kelas berapa, Zid?" Tanya Kania.


"Saya kelas 9E."


"9E? Pantes jarang lihat. Gua kelas 9A. Ujung ke ujung. Lumayan jauh," Jelas Kania.


"Halah.. alesan aja. Bilang aja emang gak kenal. Pake alasan jauh segala," Tari mencebik.


"Emang jauh tahu! Apalagi kalo dia tipikal ngamar. Seringnya di kelas ya Zid?" Tanya Kania tiba-tiba.


"Iya."


"Oke.. diterima deh alesannya," Cibir Tari.


"Ehh.. udah ah! Dari tadi ribut melulu. Balik ke topik awal nih. Jadi di Baiturrahman ada empat orang yang di DO juga, Ya?" Tanya Ranum mencoba menengahi keduanya.


"Iya. Denger-denger sih mereka nyabu di malam terakhir kita pada ujian. Gila banget gak tuh!" Lanjut Kania lagi.


"Parah!" Serapah Tari.


"Kasihan banget ya.. lebih kasihan lagi pasti orang tuanya. Patah hati banget pasti," Ucap Ranum.


Suasana kembali hening selama beberapa waktu. Sampai kemudian terdengar suara dari rumah samping Tari.


"Zakiah, coba susul Zidan ke warung. Tadi gua suruh beli garam kok ya gak balik-balik ya. Nyasar kemana ya tuh bocah?" Suara 1 bicara.


"Ogah ah. Panas.. suruh Zizi aja tuh. Gua mau v-call dulu ama ayang bebeb!" Suara 2 menyahut.


"Ziiiziii.. susul abang Zidan gih ke warung. Kakak mau masak kehabisan garam ini.. cepetan!" Teriak suara 1 lagi.


"Zizi lagi buat paper craft nih Kak.. tanggung dikit lagi kelar.. Zulaikha ajaa. Dia lagi nganggur tuh.." sahut suara 3.


"Zulaikha sayaang.. tolong susul Abang Zidan dong ke warung!" Pinta suara 1.


"Ya Kak.." sahut suara 4.

__ADS_1


Mendengar obrolan di samping rumah Tari, tiba-tiba saja Zidan bangun berdiri lalu langsung berlari. Saat ia sudah ada di gerbang pintu, ia tiba-tiba berbalik dan berkata,


"Saya balik dulu ya!"


Dan Zidan langsung melesat pergi. Sementara itu Tari, Ranum dan Kania terdiam selama beberapa waktu. Kania lah yang memecah kebisuan yang terasa aneh itu.


"Zidan tuh anaknya aneh, ya gak sih? Nia lupa terus kalo dia masih ada di sini."


"Iya. Makanya dia punya julukan Ghost-Zid. Si Hantu Zidan. Soalnya sosoknya tuh kayak hantu. Sering tak terdeteksi," Jelas Tari.


"Oh! Jadi dia toh! Aku sering sih denger nama Ghost-Zid. Anak pindahan tahun lalu. Pendiem banget dan kayak hampir gak punya temen gitu. Ternyata dia toh!" Seloroh Kania.


"Kasihan ya.." iba Ranum.


"Iya. Lebih kasihan lagi karena dia punya empat saudara cewek yang super rame. Kalian denger sendiri kan tadi obrolan keempat saudara ceweknya? Zidan tuh udah kayak kasim gitu deh disuruh-suruh melulu," Cerita Tari lagi.


Ranum dan Kania mengangguk setuju. Membayangkan kehidupan Zidan yang pendiam di antara saudara-saudara perempuannya saja sudah membuat Ketiganya merasa kasihan padanya.


Terlebih lagi mengingat kepribadian Bu Rosi, guru Biologi mereka yang juga cukup galak. 'kasihan.. kasihan..' batin Ranum dan Tari.


"Tapi kalo dilihat-lihat orangnya lumayan manis sih. Mukanya cocok sama Ka Ranum," Kelakar Kania tiba-tiba.


"Kania! Mulai deh.. jangan main jodoh-jodohan ah. Kakak malu tahu kalo sampe orangnya denger. Entar disangka Kakak suka dia lagi!" Omel Ranum.


"Hihihi.. Tapi bener juga sih, Num kata Kania. Anum tuh kayaknya cocok kalau jadian ama Zidan. Cocok jadi babysitter! Hahaha!" Seloroh Tari.


"Hush! Rie malah ikut-ikutan segala lagi. Udah ah! Jangan berisik! Nanti kalo kedengeran saudara perempuannya gimana?! Bisa malu aku."


"Gak papalah.. Tari kenalin aja yuk sekalian. Semuanya baik-baik kok. Cuma rame doang," Tambah Tari lagi.


"Ya Allah.. lama-lama kok malah tambah eror ya ni dua anak. Udah ah. Balik aja. Yuk, Nia. Pulang. Udah mau ashar ini."


"Baru juga ashar. Entar aja Kak. Masih panas.. jam empat aja baliknya yaa.." bujuk Kania.


"Enggak ah. Sekarang aja yuk. Kan belum sapu halaman ama nyiram tanaman. Nanti keburu Ayah Bunda pulang gimana?" Tegur Ranum.


"Yah.. Ranum ngambek. Padahal masih asyik nih cerita-cerita.." seloroh Tari.


"Kayaknya daripada cerita, tadi kita tuh kebanyakan ngegosip deh. Udah ah. Nanti dosanya nambah lagi. Kata Bunda, ngegosip tuh diumpamakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Hii ngerii. Kalian mau dipanggil Sumanti, sang pemakan bangkai? Ranum sih gak mau," Ujar Ranum bersikukuh.


"Ahh.. tobat deh kalo bu ustadzah udah ngomongin dosa."


"Yah..Kakak..jangan ngomongin makan bangkai segala napa. Serem tauk. hayuk atuh lah.." gerutu Kania sambil berdiri.


"Dayang Tariii.. kita balik dulu yaa.." goda Kania pada Tari.


"Iih.. ampun. Baliklah sono. Datang gak diundang. Pulang gak usah deh minta anter!" Balas Tari.


"Yuk, Rie. Assalamu'alaikum!"


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaamm..warohmatulloh.."


Dan panas mentari mulai meredup. Ia perlahan turun dari singgasananya menuju kursi senja.

__ADS_1


Sementara angin sore perlahan mengantar kesejukan ke sepanjang jalan. Menemani orang-orang yang berlalu lalang menuju pulang.


***


__ADS_2