Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Curhat Mira


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.. dua hari sebelum dibagikannya raport.


"Num, aku lagi suka nih sama cowok. Tapi kayaknya cowok itu suka sama cewek lain deh," ucap Mira tiba-tiba ketika keduanya sedang berjalan menuju perpustakaan.


"Hmm.. kamu tahu dari mana kalau cowok itu suka sama cewek lain, Mir?" Tanya Ranum.


"Tahu aja. Dari caranya cowok itu bersikap ke si cewek.. dari cara ngomong nya juga. Kelihatan banget lah kalau dia suka ama cewek itu!" Keluh Mira.


"Terus?"


"Terus apa?" Tanya balik Mira.


"Ya terus, memang nya kamu maunya gimana?" Tanya Ranum kembali.


"Mau ku...hmm.. gak tahu juga sih.. bingung," ungkap Mira dengan jujur.


"Kamu mau nembak cowok itu kah? Mau pacaran sama dia?" Tanya Ranum menyelidik.


"Hhh.. gak tahu, Num.. aku sendiri masih bingung sih. Pinginnya sih dia yang nembak aku," ucap Mira dengan mata penuh berharap.


"Itu berarti kamu berharap punya hubungan yang lebih sama dia, Mir.." Ranum menyimpulkan.


"..iya juga sih.. menurut kamu, kira-kira aku bisa jadian gak ya sama dia?" Tanya Mira dengan bimbang.


"Tergantung."


"Tergantung apa, Num?" Tanya Mira dengan tatapan serius.


"Tergantung ada yang bakal ungkapin perasaan atau enggak. Dan tergantung bakal diterima atau enggak juga sih ya.."


"Kayak cerita di drama kelas kita kemarin ya, Num?"


"Iya.. Diam-diam saling suka. Diam-diam saling memendam rasa. Tanpa tahu kalau sebenarnya mereka tuh saling suka. Sayang banget kan waktu yang terbuang sia-sia. Coba kalau ada salah satu dari mereka yang berani bilang cinta. Mungkin keduanya udah jadian sedari lama," imbuh Ranum.


"..."


"...kamu mau pinjam buku apa, Mir?" Tanya Ranum kepada Mira saat keduanya sudah berada di dalam perpustakaan.


Mira menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku gak mau pinjam buku. Cuma ngembaliin buku ini aja nih," imbuh Mira sambil memperlihatkan sebuah buku di tangan nya.


"Oh.. sama. Anum juga cuma mau ngembaliin buku aja.."


Setelah mengembalikan buku, keduanya memutuskan untuk melipir ke mushola.


Selama tiga hari terhitung sedari hari ini, berlangsung jam class meeting. Jadi tak ada pelajaran apapun yang berlangsung. Semua siswa bebas berkeliaran selama masih berada dalam area sekolah.


Di mushola, hanya ada dua orang siswi yang sedang shalat dhuha. Kebetulan ruang mushola putri dan putra memang terpisah. Dengan dipisahkan oleh sebuah sekat diantara keduanya.


Ranum dan Mira pun kembali melanjutkan session curhat kedua nya lagi.


"Tapi aku takut, Num.. gimana kalau nanti aku ditolak?" Ucap Mira mengungkapkan kekhawatirannya.


"Ya sudah. Mau gimana lagi? Hak untuk menerima atau menolak kan memang milik setiap orang ya, Mir. Perasaan itu gak bisa dipaksaan. Kalau tetap dipaksakan, ujung-ujung nya malah akan menyakiti," Ranum berpendapat.


"Gitu ya? Iya sih.. Mira pikir juga begitu. Hh.. dilema banget nih, Num. Mira udah terlanjur sayang sama cowok itu. Sering banget kepikiran dia.. makanya tiap kali lihat cowok itu dekat sama cewek lain, Mira ngerasa cemburu banget. Pingin marah-marahin tuh cewek deh langsung!" Ungkap Mira dengan jujur.


"Duh. Jangan sampai kita marah-marahin orang yang gak punya salah sama kita, deh Mir. Dosa. Tentang perasaan Mira ke cowok itu.. pernah coba ngalihin ke hal lain gak, Mir?" Tanya Ranum tiba-tiba.


"Maksud nya, Num?"


"Belum.. memang nya bisa ya?"


"Ya bisa aja mungkin. Kan belum dicoba. Atau, Mira bisa coba sering-sering berpuasa. Anum inget, Bunda pernah bilang, kalau puasa itu sangat baik untuk menahan hawa nafsu. Menurut Anum, rasa suka kan bisa dibilang nafsu juga. Iya gak sih?"


Mira menggeleng tak tahu.


"Yah.. intinya, dengan berpuasa, mau gak mau kita kan bakal sering ingetin diri sendiri untuk terus menahan diri dari melakukan ataupun memikirkan hal-hal yang gak baik. Jadi mungkin puasa juga bisa jadi solusi untuk masalah kamu itu, Mir.." papar Ranum.


"...gitu ya, Num?"


"Iya."


"Jadi, aku puasa nih?" Tanya Mira memastikan.


"Iya, Mir. Coba aja!"


"Terus, kalau aku ngelihat cowok itu jadian sama cewek lain, terus aku pingin ngelabrak mereka gimana dong?" Tanya Mira masih menggalau.

__ADS_1


"Ya jangan lah Mir.. cemburu itu memang hal yang wajar. Tapi jangan sampai kita dikendalikan oleh rasa cemburu nya kita, Mir. Stay cool. Lagian, kita kan masih pelajar. Apa guna nya sih pacar-pacaran? Cuma bikin baper aja deh kalau menurut Anum," imbuh Ranum.


"Kamu memangnya gak mau pacaran, Num?" Tanya Mira penasaran.


"Ya mau.."


"?.."


"Tapi nanti. Kalau aku udah nikah aja. Jadi pacarannya sesudah nikah. Gitu sih kata Bunda ku, jenis pacaran yang paling asik," ujar Ranum lagi.


"Hah?? Pacaran sesudah nikah?! Memangnya kamu mau buru-buru nikah, Num? Selesai kita lulus SMA kamu mau langsung nikah gitu?!" Tanya Mira dengan suara yang lebih kencang.


"Syuuut.. pelanin suaranya dong, Mir.. malu kalau kedengaran yang lain.." Ranum mengingatkan Mira.


"Eh. Iya. Maaf ya. Maaf. Jadi, kamu mau nikah pas kita lulus SMA, Num?" Tanya Mira mengulangi.


"Gak tahu juga sih. Kan belum kelihatan juga ya jodoh nya. Anum sih pinginnya kerja dulu, biar bisa bantu Ayah dan Bunda. Tentang menikah.. hihihi.. umur kita kan masih muda banget, Mir. Ngapain juga kita mikirin soal menikah!" Kekeh Ranum.


"Ehehe.. iya juga ya. Habisnya kamu sih, Num! Ngomong mau pacaran sesudah menikah. Kan aku mikirnya juga tentang pernikahan deh."


"Hahaha.. iya ya. Udah ah ganti topik. Atau kita ke kelas sekarang? Tanti sama Tika kayaknya juga udah balik deh dari kantin," ajak Ranum.


"Ayo! Hmm.. masih bingung nih mau gimana ngadepin cowok yang aku sukai, Num," lanjut Mira.


"Udah.. gak usah pusing mikirin soal itu ah. Mending kita banyakin berdoa aja. Semoga nilai raport kita gak ada yang merah. Kan kasihan juga orang tua kita kalau nilai kita rendah.." ucap Ranum.


"Wah! Iya juga ya. Kalau gak diingetin kamu, Num. Aku sih bakal lupa sama raport yang bakal dibagikan besok lusa," ujar Mira.


"Dasar. Maka nya, jangan baperan melulu lah, Mir. Kita itu masih pelajar. Jadi tugas utama kita ya belajar. Urusan soal hati, mending disimpan rapih dulu deh. Ada masanya nanti kita bebas mikirin soal cinta cinta dan cinta. Tapi yang jelas bukan saat ini, Mir. Ingat sama kedua orang tua kita yang udah capek-capek bekerja buat nyekolahin kita. Iya kan?" Papar Ranum panjang lebar.


"Hh.. benar juga sih katamu, Num. Hmm.. doain aku ya, Num. Biar bisa lupain perasaan suka ku ini ke cowok itu. Kayaknya memang lebih baik aku menghindar dulu aja ya dari melihat dia. Biar gak kepo-kepo atau ngerasain cemburu buta, gitu.." ungkap Mira kemudian.


"Nah. Ide bagus tuh. Sebelum ke kelas, kita ke kantin dulu yuk! Haus nih," ujar Ranum.


"Ayo! Aku juga haus," imbuh Mira.


Dan, kedua mudi itu pun saling bergandengan tangan menuju kantin sekolah. Kali ini dengan perasaan yang lebih tenang dibandingkan beberapa waktu sebelum nya.


Sebuah perbincangan tentang cinta pun terlupakan begitu saja. Digantikan oleh pembicaraan tentang hal lain seputar sekolah mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2