Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Rencana Rahayu


__ADS_3

Masa liburan sekolah akhirnya berakhir. Para siswa kembali bersekolah pada hari Senin pagi nya. Termasuk juga Ranum dan Kania.


Beberapa hari terakhir, hujan mulai turun di waktu yang acak. Terkadang pagi, siang, sore, bahkan juga malam. Kedatangan hujan tak lagi bisa diprediksi kini. Tak seperti bertahun-tahun yang lalu, yang mana di negeri ini hanya dikenal dua musim saja yang silih berganti. Yakni musim hujan dan musim kemarau.


Tapi, di bulan yang sebenarnya sudah memasuki musim hujan sejak dua bulan yang lalu itu, hujan begitu jarang muncul. Hanya sesekali saja. Baru beberapa hari terakhir ini saja hujan datang hampir setiap hari.


Hari pertama masuk sekolah di semester yang baru, Kania dan Ranum harap-harap cemas menatap langit.


Langit terlihat gelap mendung sedari mereka membuka kedua mata. Namun hujan belum turun juga.


"Ayo, ayah antar kalian ke sekolah! Takut nya kalau kalian jalan kaki, nanti hujan lagi!" Ujar Ayah menawarkan diri untuk mengantar.


Seketika itu pula Ranum dan Kania langsung bersorak dan berterima kasih kepada Nanda.


"Makasih Ayah! Tunggu bentar! Nia mau ambil tas Nia dulu ya!" Ucap Kania seraya masuk ke dalam kamar.


"Anum juga Yah! Sebentar ya!" Ranum ikut bergegas mengikuti langkah Kania.


Tak lama kemudian, kedua nya pun langsung membonceng di jok belakang sepeda motor Nanda.


Sesampainya di sekolah, Ranum dan Kania langsung turun dari boncengan motor Nanda. Lalu keduanya salim mencium punggung tangan sang Ayah.


"Makasih ya, Yah.. hati-hati di jalan!"


"Ya. Pulang sekolah mau Ayah jemput lagi?" Tanya Nanda tiba-tiba.


"Memang nya ayah libur hari ini?" Tanya balik Ranum.


"Enggak sih. Tapi takut nya hujan kan."


"Tenang, Yah! Tadi Bunda bawain payung kok!" Ujar Kania.


"Oo.. ya sudah. Kalian yang semangat ya belajar nya! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam warohmatullah.."


Nanda pun berlalu pergi dengan motor nya. Sementara Ranum dan Kania menunggu sosok ayah nya hilang di kejauhan, baru mereka berbalik untuk masuk melewati gerbang masuk.


Tapi, belum sempurna keduanya membalikkan badan, saat sebuah mobil merah tiba-tiba membunyikan klakson dan berhenti di dekat mereka.


Tak lama pintu mobil terbuka dan menampakkan Adnan yang turun dari dalam mobil.


"Nanti siang Mama jemput ya, Nan! Kamu tunggu aja lho di halte depan!" Ucap Mama Ayu dari kursi depan.


"Iya Ma. Makasih ya, Ma.." ucap Adnan.


"Eh. Ada Ranum sama Kalila juga.." sapa Mama Ayu pada dua kakak beradik itu.

__ADS_1


"Kania, Tante. Bukan Kalila," koreksi Kania seketika.


"Adek!" Ranum menegur sang adik, lalu tersenyum meminta maaf pada Mama Ayu.


"Assalamu'alaikum Tante, Adnan!" Sapa Ranum.


"Wa'alaikum salam.. iya ya. tante lupa. Maaf ya Kania. Maklum lah ibu-ibu ya suka lupa. Kalian tadi berangkat sama siapa? Tante kira bukan kalian tadi yang bonceng bertiga," ujar Mama Ayu dengan senyuman ramah.


"Tadi kita berangkat sama Ayah, Tante. Soalnya mendung. Kalau jalan kaki takutnya kehujanan," papar Kania menjelaskan.


"Memang nya kalian biasanya jalan kaki? Rumah kalian bukan nya lumayan jauh ya dari sekolah?" Tanya Mama Ayu penasaran.


"Iya Tante. Lumayan jauh sih kalau jalan kaki sekitar dua puluh menitan. Kalau naik motor kan paling cuma lima menitan aja, Tante," kembali, Kania yang menjawab pertanyaan Mama nya Adnan.


"Duh.. jauh banget ya berarti kalau sampai harus jalan setengah jam an. Kenapa gak naik angkot aja?"


"Itu.." Kania terlihat bingung untuk menjawab.


Sebenarnya ia juga ingin naik angkot. Tapi Kak Ranum selalu mengajaknya berjalan kaki setiap hari. Katanya biar bisa lebih hemat ongkos.


Lagipula dengan kegiatan jalan kaki yang dilakukannya setiap hari, Kania juga lebih kuat dalam menjalani latihan ekskul pasko yang ia geluti.


"Mungkin biar lebih sehat, Ma. Dulu juga Adnan pernah kan jalan kaki waktu SD. Akhirnya Adnan jadi ramping kan sekarang," ucap Adnan menyelamatkan situasi.


Rahayu pun tampak nya menyadari alasan sebenarnya kedua mudi di depannya itu berjalan kaki. Tapi ia pura-pura tak tahu dan mengiyakan saja ucapan putranya itu.


"Kayak nya jalan kaki deh, Tante. Ayah kan kerja," jawab Kania.


"Begitu.. gini aja. Pulang nanti kan Tante mau ke arah Kayu Jati ya. Jadi nanti biar Tante antar aja ya kalian untuk hari ini? Rumah kalian di arah itu kan?" Ucap Rahayu.


"Ehhh?? Itu.. apa enggak ngerepotin, Tante?"


"Gak.. gak apa-apa kok. Sekalian lewat aja."


Ranum dan Kania pun mengiyakan saja tawaran dari Mama nya Adnan itu. Sementara dalam hati nya Ranum bertanya-tanya. Darimana kiranya Tante Ayu mengetahui alamat tempat tinggal nya mereka?


Setelah basa-basi singkat lagi, mereka lalu berpisah dengan Mama Ayu. Sementara Adnan, Kania dan Ranum memasuki gerbang sekolah bersama-sama.


Di perjalanan menuju kelas, Ranum tergelitik untuk bertanya kepada Adnan. Apakah ia yang memberitahu pada Mama nya tentang alamat tinggal nya.


Tapi belum sempat Ranum bertanya, Kania lagi-lagi lebih cepat menanyakan nya terlebih dulu.


"Tadi kok Mama kamu tahu alamat ku dan Kak Anum sih, Nan?" Tanya Kania kepada Adnan.


"Itu.. aku pernah gak sengaja pulang bareng Mama terus ngelewatin gang masuk ke rumah kalian. Terus aku keceplosan ngomong kalau rumah kalian di situ," ujar Adnan mengakui.


"Oo.. pantas aja. Kirain sebelum nya Mama kamu pernah nganterin Kak Anum gitu pulang.." Kania memvokalkan dugaan nya.

__ADS_1


Ranum langsung menyikut pinggang sang adik dan menegur nya.


"Apaan sih, Dek! Jangan asal ngomong ah!" Tegur Ranum.


"Soal nya waktu itu juga kan.."


Ucapan Kania buru-buru dihentikan oleh Ranum.


"Oke Nia. Kita masuk duluan ya ke kelas. Kamu sana buru-buru masuk ke kelas juga. Kata nya mau ke senior pasko mu juga kan, Dek?" Ujar Ranum terburu-buru sambil mendorong punggung Adnan untuk segera memasuki ruangan kelas mereka.


Kania sedikit merengut karena tahu kakak nya berusaha menghindar dari percakapan tentang Mama Ayu. Tapi benar juga apa kata kakak nya tadi. Ia memang harus menghadap dulu ke senior Asma pagi ini untuk membahas latihan pasko minggu depan.


Dengan tergesa-gesa, Kania pun mempercepat langkah nya menuju ruang kelas nya sendiri. Dan pikiran tentang sikap kakak nya tadi, langsung terhempas dari pikiran nya seketika itu juga.


***


Sementara itu di dalam mobil yang membawa Rahayu..


Rahayu sedang tepekur mengingat wajah Ayah nya Ranum dan Kania. Entah kenapa, hati nya mendadak gelisah saat menatap wajah rupawan lelaki paruh baya itu.


Rahayu tak pernah merasa seperti ini terhadap Aditya, suami nya sendiri. Sehingga Rahayu merasa curiga, apakah ia sebenarnya mengenali Ayah dari teman putra nya itu.


Oleh sebab itulah Rahayu ingin mengantarkan Ranum dan Kania. Sehingga ia mungkin bisa bertemu langsung dengan Ayah dan juga ibu nya kedua remaja itu.


Bisa jadi mereka bisa membantu nya mengingat kembali ingatan nya yang telah hilang selama hampir sepuluh tahun ini. Karena Rahayu mencurigai sikap sang suami yang menurut nya tak wajar karena seperti menghalang-halangi nya dari mengingat ingatan nya sendiri.


Ya. Rahayu ingin menyelidiki semua nya sendiri. Tapi sebelum itu, ada mulut yang harus ditutup terlebih dulu oleh nya sesegera mungkin. Ia tak ingin usaha nya ini ketahuan oleh Aditya.


Karena untuk sebab yang tak Rahayu ketahui jelas nya, ia yakin. Kalau suami nya itu akan sangat tak menyukai aksi nya ini bila sampai Aditya mengetahui nya nanti.


Rahayu melirik ke samping, ke arah sopir yang telah lama menjadi sopir pribadi nya itu.


Rahayu berdeham pelan. Dan berkata, "Tolong rahasiakan ke Tuan ya, Pak kalau siang nanti saya mau mengantarkan teman-teman nya Adnan pulang."


Pak Bas terlihat tersentak. Tak menyangka akan diminta untuk berbagi rahasia dari bos yang paling ia segani selama puluhan tahun ia bekerja.


"Itu.." Pak Bas terlihat ragu. Sehingga Rahayu kembali membujuk nya dengan sekepal uang merah yang ia sodorkan ke saku baju Pak Bas yang sedang menyopir.


"Ini untuk Bapak. Saya tahu kalau Bapak sedang membutuhkan uang saat ini demi berobat istri Pak Bas. Anggap lah ini ucapan terima kasih dari saya. Karena Pak Bas telah lama bekerja mengantarkan saya.." tutur Rahayu terburu-buru.


"Dan tentang mengantarkan anak-anak, saya tetap meminta Pak Bas untuk tidak mengatakannya ke suami saya. Toh saya hanya ingin mengantarkan anak-anak saja. Bukan seperti hendak melakukan hal yang tidak-tidak bukan, Pak?" Imbuh Rahayu kembali.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Pak Bas mengangguk kaku. Dan Rahayu pun seketika merasa lega dibuat nya.


"Terima kasih, Pak!" Ucap Rahayu dengan tulus.


"...sama-sama Nyonya.."

__ADS_1


***


__ADS_2