
Selesai menerima telepon dari pihak sekolah, Nida langsung menghubungi suami nya, Nanda. Mereka kemudian berjanji untuk bertemu di sekolah. Demi bisa mengetahui apa yang sebenar nya terjadi.
Sekitar setengah jam kemudian, ketiga nya bertemu di ruang kantor kepala sekolah. Dan dari mulut salah seorang guru itu lah akhirnya mereka bisa mendengar kronologis kejadian.
Sebelum masuk ke kantor, Nida juga bertemu dengan Kania, putri bungsu nya. Kania lah yang mengetahui persis kejadian yang sebenarnya terjadi. Karena saat itu ia dan Ranum sedang berjalan di sisi Ranum.
Sejak bertemu dengan Ayah-Bunda nya, Kania terus saja menangis. Ia merasa bersalah karena tak bisa mencegah orang-orang itu menculik sang kakak.
Cerita nya, bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Ranum dan Kania tak bergegas langsung pulang seperti kebanyakan siswa lain nya.
Kedua nya melipir dulu ke kantin untuk membeli jajanan, karena Kania merasa sudah terlalu lapar saat itu. Mereka baru pulang setelah makan dulu di kantin.
Saat itu, suasana di depan sekolah sudah jauh lebih sepi. Meski masih ada beberapa siswa yang juga belum atau baru akan pulang seperti mereka.
Kania berjalan di sisi terdalam jalan raya. Dan Ranum lah yang berjalan di sisi terluar nya. Kedua nya sedang asyik bercengkrama saat tiba-tiba saja sebuah mobil van hitam berhenti di dekat mereka.
Sebelah kaca mobil itu terbuka dan seorang penumpang yang duduk di samping pengemudi mobil bertanya kepada Kania tentang sebuah alamat. Ranum sedikit menepi di belakang Kania.
Kemudian mereka dibuat terkejut saat tiba-tiba saja pintu belakang mobil van itu bergeser terbuka dengan begitu cepat. Dan seorang lelaki tinggi berkaca mata hitam setengah turun dari dalam mobil.
Kania tak terlalu melihat gerak-gerik lelaki itu. Jadi ia sangat terkejut saat tiba-tiba saja ia mendengar suara teriakan Ranum.
Begitu Kania menoleh ke belakang, Ranum telah berada dalam bekapan tangan lelaki berkaca mata itu di dalam mobil. Dan sesaat kemudian, mobil van itu melaju cepat meninggalkan area persekolahan itu.
Kania menyaksikan penculikan terhadap Ranum dengan hati yang syok berat. Sehingga ia baru bisa tersadar bahwa kakak nya telah diculik setelah mobil melaju cukup jauh.
Ketika tersadar bahwa ia baru saja menyaksikan penculikan kakak nya, Kania langsung berteriak histeris ke sekitar nya. Sampai datang lah Adnan yang hendak pulang dengan motor nya.
Mendengar pengaduan Kania terkait Ranum, Adnan langsung menyuruh nya untuj melapor ke ruang guru. Sementara Adnan mengatakan kalau ia akan mencoba mengikuti mobil van itu sebisa nya.
Dan, sekitar setengah jam kemudian, salah seorang guru mencoba menghubungi nomor Adnan. Panggilan itu tersambung, tapi sayang, panggilan itu malah dimatikan sepihak oleh Adnan. Dan ketika nomor nya dihubungi lagi, nomor Adnan telah tidak aktif.
__ADS_1
Timbullah dugaan bahwa Adnan juga turut menjadi korban penculikan seperti Ranum.
Segera saja pihak sekolah menelpon wali murid terkait yang telah diculik, yakni orang tua Ranum (Nida) dan juga orang tua Adnan (Rahayu).
Hingga sampailah Nida, Rahayu dan juga Nanda di sekolah dan mendengar kronologis penculikan itu.
Ketiga orang dewasa itu saling berpandangan. Benak mereka memiliki dugaan terkait tersangka penculikan kedua anak mereka itu.
Setelah berpamitan pada pihak sekolah, Rahayu langsung mengajak Nida dan Nanda berbicara di luar sekolah. Bersama mereka juga ada Kania yang masih terlihat syok atas kejadian yang menimpa kakak nya itu.
"Kalian menebak suami ku sebagai dalang di balik kejadian ini bukan?" Tanya Rahayu to the point.
"Ya. Aku dan Nida menduga seperti itu, Yu," jawab Nanda.
"Beri aku waktu sebentar. Aku akan bertanya sendiri kepada Aditya. Aku yakin, dia akan menjawab sejujur nya kepada ku," ucap Rahayu lagi.
"Jangan tanya di telpon! Akan lebih baik bila kita menemui nya langsung. Jadi dia gak akan punya waktu untuk berkelit," Nida memberikan nasihat.
Rahayu menyetujui usulan itu. Ia lalu mengambil ponsel nya dna langsung menelpon Aditya.
"Di kantor. Kenapa, Dek?" Tanya Aditya dari seberang telepon.
Rahayu mengerutkan kening. Karena ia menangkap rasa penasaran dalam suara sang suami. Seolah-olah Aditya memang tak menyadari maksud Rahayu menelepon nya saat ini.
"Adek mau ketemu sekarnag juga. Penting," jawab Rahayu singkat dan padat.
"...baik lah. Nanti begitu sampai, Kamu langsung saja naik ke kantor Mas," jawab Aditya kemudian.
"Ok."
Dan klik. Sambungan pun terputus.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa dia bisa menemui mu?" Tanya Nanda.
"Ya. Kita langsung saja ke kantor nya sekarang juga. Atau, apa sebaik nya aku ke sana sendi saja ya?" Tanya Rahayu sedikit ragu.
"Jangan! Bagaimana kalau nanti kamu malah ganyi disekap oleh nya? Maaf, maksud ku, bisa saja kan kemungkinan itu terjadi?" Tutur Nanda merasa curiga.
"..Ya. Berarti kita bertiga ke sana? Tapi, bagaimana dengan putri kalian itu?" Tanya Rahayu menunjuk ke arah Kania yang masih terlihat syok.
Nand amelihat ke arah putri nya itu. Setelah beberapa lama, Nida lah yang kemufian memberikan usulan.
"Biar Kania pulang bersama ku. Ayah temani saja Rahayu ke kantor Aditya. Tapi, Ayah.. maksud ku, kalian berdua harus hati-hati. Segera beri kabar kepada ku bila kalian telah mendapatkan berita tentang Ranum dan juga Adnan," ujar Nida.
Nanda mengecup singkat pucuk kepala sang istri dengan sayang. Pun jua ia mengelus kepala Kania dengan perlahan.
"Baik lah. Kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian pulang dulu!" Ucap Nanda.
"Jangan! Itu akan terlalu lama. Ayah langsung saja pergi bersama Rahayu dengan mobil. Biarkan Bunda dan Kania bawa pulang motor nya. Kita berkejaran dengan waktu, Yah!" Ujar Nida.
"Kamu yakin akan baik seperti itu, Bund? Kamu akan langsung pulang ke rumah dengan Kania?" Tanya Nanda merasa bimbang.
Nida menggeleng.
"Bunda akan pergi ke kantor polisi dulu, Yah. Untuk melaporkan kejadian penculikan ini. Jelas-jelas kita membutuhkan bantuan dari pihak berwajib terkait masalah ini," jawab Nida dengan tatapan tegas.
Nanda mengangguk-anggukkan kepala nya. Setuju dengan ide istri nya itu.
"Baiklah. Kalau begitu, Ayah pergi dulu ya. Kalian berhati-hati lah di jalan!" Pamit Nanda pada istri dan anak nya.
"Ayah juga! Kamu juga Yu, berhati-hati lah!" Sahut Nida.
Keempat nya pun berpisah. Dengan Nanda yang pergi bersama Rahayu. Sementara Nida pergi bersama Kania.
__ADS_1
Ada dua tempat berbeda yang dituju oleh dua kelompok itu. Namun dengan tujuan yang sama, yakni menemukan kembali keberadaan Ranum dan juga Adnan.
***