
Akhir-akhir ini, entah kenapa Ranum merasa kalau ada orang yang membuntuti nya. Ranum yakin kalau ia tak sedang berhayal. Memang ada seseorang yang selalu membuntuti nya sejak kejadian terserempet motor beberapa hari yang lalu.
Syukurlah saat terserempet, Ranum hanya mengalami lecet-lecet di beberapa bagian saja. Jadi Ranum hanya ijin tak masuk sekolah selama satu hari itu saja.
Itu pun sebenarnya Ranum ingin memaksa masuk sekolah lagi. Toh pikir nya ia hanya perlu berganti baju saja. Karena seragam nya yang kotor karena terkena lumpur saat ia terjatuh di pinggir jalanan yang becek.
Tapi Bunda memaksa nya untuk mengambil ijin sakit sehari itu. Sementara Kania kembali berangkat ke sekolah seorang diri dengan menaiki ojek.
Saat itu, Bunda memang belum berangkat ke butik tempat nya bekerja. Berbeda dari ayah yang memang sudah berangkat sedari hari masih gelap.
Alhasil selama seharian itu Ranum beristirahat di rumah ditemani oleh Bunda yang mengambil cuti libur pada hari itu juga.
Dan saat malam nya datang, reaksi Nanda saat mendapati putri angkat nya terserempet motor adalah khawatir dan juga menyesal. Menyesal karena ia tak sempat mengantarkan kedua putri nya ke sekolah dengan aman. Sehingga kejadian terserempet ini pun akhirnya harus terjadi juga.
Baru pada keesokan hari nya lah Ranum diijinkan untuk kembali ke sekolah oleh Ayah dan Bunda. Dengan syarat, kalau ia pergi diantar oleh Papa.
Sesampainya di sekolah, Ranum langsung dikerubungi oleh teman-teman cs nya. Mereka semua memberondongi Ranum dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kecelakaan motor yang menimpa nya kemarin.
"Orang yang nabrak kamu minta maaf gak, Num?" Tanya Mira.
"Enggak, Mir. Dia malah langsung kabur gitu," aku menjelaskan.
"Dih! Fiks itu mah. Lari dari tanggung jawab nama nya!" Seru Tanti berapi-api.
"Yah.. iya juga sih ya," imbuh ku tak yakin.
"Ya iya lah, Num! Itu orang kan kabur! Dasar gak bertanggung jawab! Dulu juga bokap gue pernah ditabrak sama orang. Orang nya bawa mobil terus nabrak bokap gue yang mau nyebrang. Dia nya juga gak lihat lampu merah, malah main ngebut aja dan nabrak bokap gue. Tadi nya itu orang mau kabur. Tapi warga keburu menghadang mobil nya dia. Jadi ketangkep deh!" Tutur Tanti bercerita.
"Bisa ya malah kabur gitu. Gak ngerasa bersalah atau gimana ya itu orang?" Ujar Tika.
"Iya. Banyak juga sih kejadian tabrak lari gitu kan ya di berita televisi. Untung lah kamu cuma lecet-lecet dikit aja ya, Num.." ucap Mira bersyukur.
"Iya, Mir. Alhamdulillah.." sahut Ranum dengan singkat.
Dan beberapa hari pun berlalu. Dan Ranum tersadar kalau ia sedang dibuntuti.
Sayang nya hari ini ia pulang sendirian. Karena Kania ada latihan pasko. Beberapa kali Ranum menengok ke belakang, dan sosok lelaki yang sama selalu saja berada dalam jarak yang tak terlalu jauh dan juga tak terlalu dekat di belakang nya.
Ranum merasa takut. Karena nya, saat sebuah mobil berhenti tiba-tiba di dekat nya. Dan jendela nya terbuka, Ranum sangat terkejut karena mendapati Mama Ayu lah yang menyapa nya dari kursi penumpang di jok belakang mobil.
__ADS_1
"Ranum? Kok sendirian pulang nya? Mau Tante anter pulang yuk? Sekalian mau ngelewatin rumah kamu juga," ucap Mama Ayu.
Terlebih dulu, Ranum menengok ke belakang. Sosok lelaki tadi kini berdiri di dekat tiang listrik. Ia melihat ke arah Ranum. Membuat remaja putri itu langsung saja naik masuk ke dalam mobil nya Mama Ayu.
Setelah berada di dalam mobil..
Ranum menghela napas lega. Sikap nya itu membuat Mama Ayu menjadi curiga.
"Kamu kenapa, Num? Kayak ketakutan gitu.." ucap Mama Ayu.
Ranum terlihat ragu untuk mengungkapkan dugaan tentang adanya penguntit yang mengikuti nya diam-diam.
Tapi setelah paksaan dari Mama Ayu, akhirnya Ranum pun menceritakan kekhawatiran nya itu.
"Sepertinya ada orang asing yang ngikutin Anum, Tante, dari kemarin-kemarin. Ranum takut," ungkap Ranum.
"Kamu lihat orang nya memang?" Tanya Mama Ayu memastikan.
"Lihat, Tante. Orang nya sama. Dari kemarin-kemarin dia selalu ngikutin Anum terus. Biasanya kan Anum pulang sama Kania, tapi hari ini Kania ada ekskul pasko, jadi Anum pulang sendiri deh."
"Kamu yakin, Nak?"
"Kamu minta jemput Papa kamu aja gimana?"
"Ayah dan Bunda kan kerja, Tante. Pulang nya sore. Mungkin kalau besok-besok Anum pulang sendirian, Anum mau naik angkot atau ojek aja deh.."
"Ya.. itu bisa jadi solusi juga. Tapi, akan lebih baik kalau kamu bilang ke orang tua kamu juga ya, Num. Biar mereka tahu kondisi kamu sekarang ini. Itu.. muka kamu lecet kenapa?" Tanya Mama Ayu tiba-tiba.
Ranum memegang bekas lecet sepanjang sepuluh senti meter yang memanjang dari pipi ke bawah dagu nya.
"Ini.. Anum sempat terserempet motor, Tante, beberapa hari lalu," tutur Ranum.
"Kok bisa sih?" Seru Mama Ayu merasa khawatir.
"Mm.. musibah mungkin ya, Tante.." jawab Ranum dengan suara pelan.
Selama beberapa saat, suasana dalam mobil sempat hening. Sampai Ranum tersadar kalau mobil perlahan berhenti di depan gang yang menuju rumah nya.
"Sudah sampai, Tante! Anum turun di sini aja."
__ADS_1
"Oh.. Tante mau main dulu, boleh? Tante pingin tahu rumah kamu di mana. Siapa tahu, kapan-kapan Tante ada perlu jadi bisa mampir."
"Ee... Boleh. Mari, Tante," ajak Ranum mempersilahkan.
Kedua nya lalu keluar dari mobil, dan berjalan bersisian melewati gang yang cukup lebar untuk dilewati oleh sebuah mobil.
Mama Ayu menitahkan sopir nya untuk menunggu di pinggir jalan saja. Sementara ia mengantarkan Ranum sampai ke rumah nya.
"Maaf ya, Tante. Rumah Anum mungkin masih agak berantakan. Soal nya kalau pagi Bunda gak sempat rapih-rapih. Baru sore nya Anum atau Nia bisa beresin rumah," ungkap Ranum dengan wajah sedikit malu.
"Oh.. nyantai aja. Tante cuma mau tahu rumah kamu aja kok, Num. Ngomong-ngomong, Ayah dan Bunda kamu berarti siang ini masih di tempat kerja ya?"
Ranum membuka pintu rumah yang terkunci. Sambil menjawab pertanyaan Mama Ayu tadi.
"Iya, Tante. Tante mau minum teh hangat?" Tawar Ranum.
"Gak usah, Nak. Kalau gitu, Tante langsung pulang aja deh ya. Kamu gak apa-apa Tante tinggal sendirian di rumah?"
"Iya. Gak apa-apa Tante. Kalau sampai rumah, biasanya juga udah aman kok. Lagipula semisal ada apa-apa juga ada tetangga kok di samping rumah. Tante beneran mau pulang sekarang? Enggak minum dulu, Tan?"
"Iya, gak usah repot-repot. Tante cuma mau nganterin kamu aja kok sampai rumah. Sekalian biar tahu juga sih rumah kamu. Hati-hati ya, Num. Salam buat Ayah dan Bunda Ranum. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. makasih ya, Tante!" Ucap Ranum.
Setelah sosok Mama Ayu tak lagi terlihat di gang depan rumah nya, Ranum pun kembali masuk ke rumah.
Ranum lalu mengunci pintu rumah, dan beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia belum menunaikan shalat zuhur.
Sayang nya, baru juga Ranum membaca takbir, saat pintu rumah kembali di ketuk.
Dengan menyesal, Ranum memutuskan untuk melihat dulu, siapa yang datang ke rumah nya siang-siang begini.
Tapi, begitu Ranum menggeser selot yang mengunci pintu rumah nya, seseorang yang berdiri di depan rumah nya itu tiba-tiba saja merangsek masuk dan mengagetkan Ranum.
Orang itu adalah lelaki yang selama beberapa hari terakhir ini telah menguntit Ranum sepulang nya ia dari sekolah.
"Kamu?!!"
***
__ADS_1