
"Kamu mungkin hilang ingatan, tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku ini, Yu. Ranum benar adalah putri kandung mu," ungkap Nanda begitu tiba-tiba.
Ranum dan Rahayu sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nanda barusan.
Keduanya lalu saling melempar pandang. Kemudian meneliti kemiripan yang memang ada pada diri satu sama lain.
"Apa itu benar, Tante? Apa Tante benar adalah Mama kandung nya Anum?" Tanya Ranum dengan suara yang bergetar.
Rahayu masih syok dengan apa yang baru saja didengar nya. Sehingga ia tak langsung menjawab pertanyaan Ranum tadi.
"Tante..juga gak tahu, Num. Tante.. hilang ingatan sejak kecelakaan dulu," ungkap Rahayu dengan jujur.
Selintas, rasa kecewa terlihat di kedua manik milik Ranum. Ia sedikit bersedih dengan kenyataan yang disampaikan oleh Mama Ayu itu.
Memang, samar-samar Ranum teringat pada cerita Adnan tentang Mama nya yang hilang ingatan karena kecelakaan beberapa tahun silam.
Namun begitu mendapati kalau wanita itu ternyata adalah ibu kandung nya, mau tak mau Ranum jadi bersedih juga.
'Bukan kah itu berarti ibu kandung ku sendiri telah melupakan keberadaan ku di dunia ini?' begitu pikir Ranum.
"Ayah..?" Ranum meminta kepastian pada sang Ayah atas apa yang ia ucapkan tadi.
Dan Nanda pun kembali mengulangi ucapan nya itu.
"Iya, Num. Rahayu itu benar adalah ibu kandung mu yang sebenarnya. Atau kita tunggu saja Bunda menyampaikan nya lagi kepadamu nanti ya," Ayah memberikan saran.
Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari pintu depan rumah yang masih terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum!" Sapa suara Nida yang baru saja datang.
Serentak, Nanda, Ranum dan Rahayu pun menjawab salam nya Nida.
Nanda lalu pergi keluar kamar untuk menghampiri sang istri. Sementara itu Rahayu masih tetap di tempat nya berdiri tadi. Mencoba keras agar ia bisa mengingat kenangan yang ia lupakan.
__ADS_1
Di atas kasur, Ranum menatap Rahayu dengan pandangan sedih. Dan Rahayu yang menerima pandangan sedih itu pun jadi merasa bersalah pada kawan sekelas nya Adnan itu.
...
Sekitar setengah jam lebih kemudian, terjadilah reuni mengharukan di antara keluarga kecil itu.
Mula-mula Nida terkejut saat ia kembali bertemu dengan sosok Rahayu. Namun setelah suami nya menceritakan perihal hilang ingatan yang dialami oleh Rahayu, Nida pun langsung diliputi oleh rasa iba.
Akhirnya Nida ikut menceritakan kembali bagaimana Rahayu bisa menitipkan Ranum untuk mereka rawat hingga sebesar ini.
Setelah mendengar cerita yang sama dari mulut Nida dan Nanda, akhirnya Rahayu menjadi percaya dengan kenyataan yang baru diketahui nya itu. Bahwasanya Ranum benar adalah putri kandung nya yang telah ia tinggalkan di sisi pasangan suami istri itu.
Setelah itu, Rahayu langsung menghamburkan diri nya hingga memeluk Ranum. Dalam hati nya ia bersyukur.
Pantas saja Rahayu merasa tertarik untuk selalu dekat dengan Ranum. Dan pantas saja Rahayu begitu khawatir terhadap kesusahan yang dialami oleh Ranum.
Rahayu sering menawarkan bantuan kepada Ranum tanpa ia tahu sebab nya apa. Bahkan hingga membuat Aditya menjadi seperti tak suka kepada putri nya itu karena kebaikan Rahayu yang dinilai nya kelewat berlebihan.
Meski begitu, Rahayu tetap saja memberikan perhatian terhadap Ranum. Ternyata naluri nya sebagai ibu lah yang sudah menggerakkan hati dan pikiran nya untuk selalu memperhatikan Ranum. Karena Ranum adalah putri kandung nya.
"Aku menduga, kalau orang asing yang tadi siang telah membuntuti dan menyakiti Ranum adalah suruhan suami mu itu, Yu. Karena bertahun-tahun lalu pun kamu melarikan Ranum dari nya," Nanda menyampaikan dugaan nya.
"Ya. Aku pun mengingat jelas apa yang kamu katakan saat itu, Yu. Kalau Aditya tak menyukai keberadaan Ranum dalam pernikahan kalian. Sehingga sejak Ranum masih bayi pun ia sudah bermaksud untuk menyakiti nya," imbuh Nida menguatkan pendapat sang suami.
Rahayu kembali terhenyak kaget. Manakala di dengarnya pernyataan terkait Aditya. Meski begitu ia tak kesulitan untuk mempercayai ucapan kedua orang yang seingatnya baru ia temui saat itu.
Karena Rahayu diam-diam mengakui kalau suami nya itu memiliki darah dingin yang selalu berusaha ia sembunyikan dari Rahayu.
Syukurlah Rahayu pernah menyaksikan kebengisan Aditya di kantor nya beberapa pekan yang lalu. Rahayu masih teringat jelas pada genangan darah yang terus mengalir keluar dari sekujur tubuh pegawai Aditya yang telah disiksa oleh suami nya itu.
Dan seketika itu juga, Rahayu langsung bergidik ngeri.
Rasanya ia teramat takut jika sampai Ranum lah yang menjadi korban kekejaman berikutnya dari sang suami.
__ADS_1
"Jika benar begitu, apa yang seharusnya ku lakukan? Bisa kah kalian menyembunyikan Ranum lagi dari Aditya?" Mohon Rahayu kembali.
Nanda dan Nida saling melempar pandang untuk sekilas waktu. Kemudian keduanya kembali menatap Rahayu dengan pandangan menyesal.
"Maafkan kami, Yu. Sepertinya kami tak akan bisa menyembunyikan Ranum lagi. Kamu lihat sendiri kan pada apa yang sudah menyebabkan Ranum terbaring seperti sekarang?" Tanya balik Nanda.
"Apa sebelum-sebelum nya Rahayu juga pernah mengalami penyerangan seperti sekarang?" Tanya Rahayu dengan waspada.
Nanda menggeleng dengan tegas. Lalu ia lanjut bicara.
"Enggak. Gak pernah sama sekali," gantian Nida yang menjawab pertanyaan Rahayu.
Ucapan Nida itu langsung meletuskan balon harapan di benak Rahayu.
Dalam hati nya Rahayu langsung diliputi oleh rasa sesal. Karena sikap nya yang kelewat perhatian terhadap Ranum lah yang besar kemungkinan sudah membuat Aditya menjadi kembali menyerang Ranum.
"Ini salah ku.. sepertinya Aditya mulai kembali menyerang Ranum saat ia mengetahui kalau aku memberi perhatian lebih terhadap Ranum. Mungkin ia takut jika ingatan ku jadi cepat kembali," ucap Rahayu dengan kepala tertunduk menyesal.
"Jangan salahkan dirimu, Yu. Semua yang sudah terjadi itu qodar Allah. Semua ini sudah ditetapkan oleh-Nya. Jadi tugas kita saat ini adalah terus berusaha demi keselamatan Ranum," ucap Nida serius.
Nida lalu menepuk pelan bahu kawan lamanya itu. Hingga Rahayu bisa berdamai dengan dirinya kembali usai berintrospeksi diri.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Ranum dari serangan dan kuntitan orang-orang nya Aditya seperti tadi siang?" Tanya Rahayu entah pada siapa.
Selama beberapa saat, suasana kembali hening. Masing-masing sibuk dengan pikiran nya yang kusut.
"Ah! Aku tahu!" Seru Nanda cukup tiba-tiba. Sehingga membuat kaget pula Nida dan yang lainnya..
"Bagaimana cara nya, Nan?" Tanya Rahayu antusias.
Nanda memberikan semuanya senyuman cerah miliknya. Baru setelah nya ia berkata dengan nada lugas dan mantap..
"Kita temui saja orang nya langsung. Kita negosiasikan bagaimana agar ia mau melepaskan Ranum dari incaran semua anak buah nya itu!" Seru Nanda mengejutkan semua nya.
__ADS_1
***