Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Latihan SKJ


__ADS_3

Sesampainya di rumah Tika..


"Ayo masuk!" Ajak Tika begitu rombongan remaja itu sampai di halaman rumah nya.


"Assalamu'alaikum!" Sapa Agus dan Yanto.


"Hush! Lupa ya? Tika kan Budhist," tegur Mira.


"Eh. Iya ya. Maaf Tik. Gua lupa," ucap Agus dengan wajah cengengesan.


"Iya gak apa-apa. Ayo masuk!" Ajak Tika dengan ramah.


"Ma ma!" Teriak Tika saat memasuki pintu rumah.


"Zhe li, Xing an (di sini, Sayang).." suara seorang wanita menyahuti panggilan Tika dari dalam rumah.


Tak lama kemudian, seorang wanita berwajah oriental keluar dari dalam rumah. Wanita itu sangat cantik, dan memiliki beberapa kemiripan dengan Tika. Dia adalah ibu Dewi, mama nya Tika.


"Oh, ada teman-teman nya Tika, toh. Ayo masuk semua! Silahkan duduk," sambut ibu Dewi dengan ramah.


"Ma, Tika sama teman-teman mau latihan SKJ dulu ya. Di halaman belakang aja."


"Oh.. ya sudah. Ajak lah teman-teman Tika ke belakang. Ingat untuk makan dulu ya, Xing an," ucap ibu Dewi.


"Tadi kita sudah makan bakso kok, Ma. Tapi mungkin dua teman Tika pinjam mangkok nya aja. Soalnya tadi belum sempat ikut makan," papar Tika menjelaskan lagi.


"Ya sudah. Kamu ambil saja ya sendiri. Mama mau tidur siang dulu. Main baik-baik ya semua," sapa ibu Dewi kepada rombongan remaja itu.


"Iya, Tante. Terima kasih, Tante," koor semua nya berbarengan.


Selanjutnya Tika dan kawan-kawan melewati ruang tv dan dapur hingga kemudian keluar melewati pintu belakang. Dari sana, mereka langsung sudah berada di area halaman belakang.


Bagian belakang rumah Tika memiliki pagar pembatas yang cukup tinggi. Sehingga untuk latihan SKJ pun mereka akan merasa aman dan nyaman dari pandangan mata tetangga sekitar.


Terlebih lagi terdapat kanopi yang menutupi area belakang rumah ini. Sehingga mereka tak akan kepanasan dari terpapar sinar matahari.


"Di sini aja ya latihan nya?" Tanya Tika pada semua nya.


"Iya, Tik. Sempurna banget nih tempat buat latihan kita. Ini tuh biasa buat main tenis ya?" Tanya Tanti saat mendapati garis putih berbentuk kotak di pinggiran halaman.


"Ya tenis, ya futsal, Pa pa suka olahraga banget sih. Jadi sengaja bikin tempat olahraga yang semi outdoor kayak gini."


"Oo.."


"Sebentar ya. Tika ambilin air minum dulu. Pasti pada haus kan?"


"Duuh.. memang sungguh pacar idaman deh Tika ini. Iya, Ka. Haus banget nih gua.." sahut Agus yang sudah langsung duduk selonjoran di balai bambu di dekat pintu.


"Tika, Anum ikut ke kamar mandi ya?"


"Oh.. boleh, Num. Ayo ikut Tika!" Ajak Tika kepada Ranum.


Kebetulan kamar mandi terletak bersebelahan dengan dapur. Jadi selesai menunaikan hajat kecil nya, Ranum langsung membantu Tika di dapur.

__ADS_1


Tika terlihat kepayahan dalam memecahkan batu es yang akan ditaruh nya ke teko. Sementara separoh teko tersebut telah diisi dengan cairan berwarna oranye.


"Mau Anum bantu, Tik?" Ranum menawarkan bantuan.


"Boleh, Num. Batu es nya dingin banget," seloroh Tika sambil menyerahkan es batu dan alat pemecah nya kepada Ranum.


Tak sampai satu menit kemudian, Ranum berhasil memecahkan es batu itu ke teko.


"Wah.. Ranum hebat banget. Kayak nya udah ahli banget ya mecahin es batu. Udah terbiasa ya, Num?"


"Ah. Gak juga, Tik. Cuma pernah bantuin Bunda mecahin es batu aja pas ikutan jualan takjil di bulan ramadhan."


"Takjil itu apa, Num?" Tanya Tika.


"Takjil itu cemilan untuk berbuka puasa. Seperti kolak, es buah, puding, gorengan, dan lain-lain," tutur Ranum menjelaskan.


"Ooh.. Tika ingat! Setiap bulan puasa memang ada banyak banget ya yang jualan cemilan di pinggir jalan. Tika suka beli kolak pisang. Rasanya gurih-gurih lezat gitu, Num. Enak!"


"Iya Tika. Setiap bulan puasa memang ada banyak yang jadi pedagang dadakan. Termasuk Bunda nya Ranum juga, Tik."


"Wah.. keren."


"Keuntungan nya soalnya lumayan, Tik. Sehari bisa dapat untung sampai lima ratus ribu. Itu tuh gak termasuk uang modal ya.."


"Ooh.. gitu ya. Berarti bulan puasa tuh menguntungkan banget dong!" Tika menyimpulkan.


"Alhamdulillah.."


Kemudian Tika dan Ranum membawa minuman ke halaman belakang. Yang tanpa lama kemudian langsung diserbu oleh para remaja lelaki yang ada.


"Oh iya. Tika lupa. Buat makan bakso ya? Oke sebentar ya. Tika ambilin lagi ke dalam."


Tika lalu kembali ke dapur untuk mengambik dua mangkok beserta sendok dan garpu nya.


"Ini, Nan. Mangkok nya. Yang ini buat Ranum," ucap Tika sambil menyerahkan mangkok pada Adnan dan juga Ranum.


"Makasih ya, Tik," sahut Ranum.


Kemudian, Ranum mengeluarkan bekal dari dalam ransel nya.


"Sebenarnya Anum dibawain bekal sama Bunda. Ada yang mau bantu makan lagi gak?" Tawar Ranum.


Dan remaja lainnya langsung menggeleng.


"Tenang, Num. Nanti saya bantu habisin deh," ujar Adnan yang sudah mulai menyuapkan bakso ke mulut nya.


Sementara Itu, Tika dan yang lainnya menyimak gerakan SKJ yang tampil di layar laptop milik kakak nya Tika. Tika sengaja meminjam laptop pada Kakak perempuannya yang sudah kuliah itu semalam tadi.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Ranum dan Adnan sudah selesai menghabiskan makan siang mereka. Kedua nya lalu ikut gabung bersama teman mereka yang lain di depan laptop.


Setelah nya, latihan SKJ pun dimulai.


***

__ADS_1


Satu setengah jam kemudian..


"Udah ah. Capek banget gue!" Keluh Tanti yang langsung rebahan di atas balai bambu.


Diikuti juga oleh Ranum dan juga yang lainnya.


"Mir, nanti pulang sama gua aja. Sore gini kan biasanya agak susah dapat angkot yang ke arah rumah kita ," tawar Agus.


Rumah Mira berada di distrik yang bersebelahan dengan distrik tempat Ranum tinggal. Dan memang, menjelang sore, keberadaan angkot dari pasar ke arah rumah Ranum itu jarang muncul.


Rata-rata masyarakat sudah memiliki motor masing-masing. Sehingga daya pikat mobil angkot sebagai sarana transportasi pun kian menurun. Terutama menjelang sore hari.


"Mm.. bertiga sama Ranum bisa, Gus? Kasihan kan kalau Ranum nanti gak ada teman pulang," sahut Mira.


".. Bisa sih. Tapi nanti gak bisa... Eh! Bos! Biar Ranum diantar si Bos aja ya!" Usul Agus tiba-tiba.


Seketika itu pula semua mata langsung memandangi Adnan.


Yang dipandang sendiri malah memandang bingung pada Agus.


"Rumah gue kan di Cicere, Gus. Berseberangan jauh lah sama rumah Lo bertiga (Agus, Mira dan Ranum)," jawab Adnan.


"Aduh bos. Lupa ya? Kan Bos bilang mau ke rumah gua untuk ngambil DVD Harry Potter. Iya kan? Kan?" Agus mengingatkan.


"Kapan--mmmpppp!!?"


Agus langsung membekap mulut Adnan dengan telapak tangan nya. Kemudian ia menarik Adnan hingga berada agak jauh dari teman-temannya yang lain.


Agus lalu membisikkan sesuatu ke telinga Adnan. Tak lama setelah dibisiki oleh Agus, wajah Adnan langsung berubah jadi seperti tersadarkan akan sesuatu.


"Oke. Iya Num. Kamu nanti pulang sama saya aja. Mira sama Agus. Dan Tanti sama Yanto. Tapi tunggu kita dulu tuk ambil motor ya di sekolah!" Tutur Adnan menjelaskan.


"Apa itu enggak ngerepotin kamu, Nan? Gak apa-apa. Anum nunggu angkot aja deh. Paling lama nunggu satu jam an," tolak Ranum.


"Kalau gitu, Mira juga nemenin Anum deh," Mira membeo.


"Duh.. jangan Mir. Nanti kita nya yang ngerasa gak enak. Masa kita pulang duluan ninggalin kalian sih?" Tambah Agus membujuk.


"Udah Mir, Num. Ikut anak-anak cowok aja. Lagian kan searah pulang nya," bujuk Tika ikut menyeletuk.


"Tapi Adnan kan enggak searah sama kita, Tik," kilah Ranum.


"Tapi kan saya mau sekalian ke rumah Agus. Jadi searah lah, Num," kilah Adnan tak mau kalah.


"..."


"..."


"..."


"Ya sudah. Ranum ikut pulang bareng deh. Maaf ya Nan," ucap Ranum pada akhirnya ketika semua tatapan kawan nya terarah kepada nya.


"Gak apa-apa, Num. Santai aja.." balas Adnan menyahut.

__ADS_1


***


__ADS_2