Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Rumah Kosong


__ADS_3

Flashback beberapa jam sebelum nya...


Ranum terbangun oleh benturan yang dialami kepala nya.


Bruk.


Tubuh nya di lempar begitu saja ke atas lantai suatu ruangan yang sangat gelap. Dan ia tersadar kalau tangan nya telah diikat ke belakang.


Bruk.


Ranum kembali mendengar suara tubuh yang terjatuh ke lantai. Dan ia menoleh ke sisi lain tubuh nya. Ia terkejut. Karena di samping nya, Adnan pun bernasib sama seperti nya.


"Baiklah. Kita berpisah sampai di sini dulu ya, Cantik. Aku tak tega jika harus melukai mu dengan kedua tangan ku sendiri. Jadi akan ku biarkan kau mati perlahan di tempat ini. Jangan takut, aku membawa saudara kembar mu juga untuk menemani mu mati. Jadi kalian berdua akan bersama-sama pada akhirnya!" Ucap seorang lelaki yang begitu dikenal oleh Ranum.


Lelaki itu adalah lelaki yang telah menyerang nya di kesempatan kemarin lusa.


"Tunggu dulu! Jawab pertanyaan ku dulu! Kenapa kamu menyerang ku?! Dan apa maksud mu dengan saudara kembar ku?! Aku hanya mempunyai saudara perempuan saja!" Cecar Ranum terhadap lelaki yang tampak seumuran dengan Ayah nya.


"Hmm.. harus kah aku mengatakan nya pada mu?" Tanya lelaki itu pada diri nya sendiri.


"Oh. Baiklah. Anggap saja ini hadiah terakhir untuk mu sebelum kalian mati membusuk di sini," ucap lelaki itu.


"Perkenalkan. Nama ku adalah Jeff. Aku adalah orang kepercayaan Tuan Muda Aditya di geng Tengkorak. Alasan ku mengurung kalian di tempat ini adalah agar Tuan dan Nyonya berselisih dan akhirnya berpisah. Nyonya tentu akan menyalahkan Tuan Muda dengan hilang nya kalian berdua secara bersamaan,"


"Tadi nya aku hanya bermaksud untuk menculik mu saja. Tapi ternyata kembaran mu itu, mengikuti kita dengan motor nya. Jadi, ya, tak apa-apalah. Sekalian saja. Itu mungkin akan lebih bagus efeknya bagi perpecahan di antara Tuan Muda dan Nyonya," tutur lelaki yang mengaku bernama Jeff itu.


"Tuan Muda Aditya? Siapa itu, aku gak kenal! Apa juga hubungan nya dengan ku?! Dan Adnan bukanlah saudara kembar ku!" Cecar Ranun tak paham.


Jeff menghela napas. Ia akhirnya bersandar pada dinding dan melanjutkan sesi tanya jawab ini.

__ADS_1


"Terlalu panjang jika aku harus menjelaskan nya sedari awal, Cantik. Cukup percaya saja bila ku katakan kepada mu kalau Adnan adalah saudara kembar mu. Kalian terpisah sejak masih bayi. Dan ibu kandung kalian adalah ibu nya Adnan. Kasihan bocah itu. Dia mengira ibu kandung nya sebagai ibu adopsi saja selama ini," papar Jeff menerangkan.


Ranum tercengang. Sulit untuk mempercayai ucapan Jeff yang terdengar sembarangan itu.


'Aku dan Adnan adalah saudara kembar?! Tak mungkin! Kami..'


Pikiran Ranum lalu terasa buntu.


Tiba-tiba saja ia teringat dengan semua momen yang dilalui nya bersama Adnan. Perasaan akrab yang dirasakan nya terhadap pemuda itu. Juga beberapa kemiripan di wajah mereka. Kulit putih, tubuh tinggi (meski masih lebih tinggi Adnan dari pada Ranum).


Dan yang paling tak bisa dijelaskan oleh Ranum adalah perasaan tertarik yang dirasakan nya terhadap Adnan. Bukan tertarik seperti kepada lawan jenis. Bukan seperti itu. Tapi lebih seperti perasaan tertarik untuk terus bersama dan mengenal Adnan lebih baik lagi.


"Salahkan saja Mama kandung kalian itu!" Ucap Jeff lagi.


"Tante Ayu?" Tanya Ranum tanpa sadar.


"Ya. Salahkan saja dia yang sudah melahirkan kalian ke dunia ini. Dan kebodohan nya juga karena telah membuat Tuan Aditya jatuh hati kepada nya. Gara-gara wanita itu, Tuan jadi lelaki yang lemah!" Kecam Jeff terdengar begitu geram.


"Sudah! Sebaik nya aku segera pergi. Selamat tinggal, Cantik! Selamat mati secars perlahan-lahan.."


"Tunggu! Tunggu dulu! Jangan tinggalkan kami! Tolong! Tolong!! Seseorang, tolong kami!!" Ranum berusaha bangkit dan mendobrak pintu yang baru saja ditutup oleh Jeff. Sayang nya, begitu tubuh nya membentur pintu itu ia tersadar kalau usaha nya akan percuma. Karena pintu itu terbuat dari logam.


Dengan tangan yang masih terikat, Ranum mencoba meraba-raba ke sekitar nya. Syukurlah ada sedikit cahaya yang masih bisa masuk melalui lubang-lubang kecil di dinding. Jadi ia masih bisa mengamati ruangan tempat dia dikurung saat ini.


Ranum berada dalam sebuah ruangan berpintu besi. Tampak nya ini adalah bekas rumah kosong. Bila dilihat dari beberapa furnitur seperti sofa tua dan meja kayu yang telah berdebu.


Dalam ruangan yang banyak sawang ini, Ranum tak melihat adanya jendela. Ini memupuskan harapan nya untuk bisa keluar dari tempat ini.


Pandangan Ranum kemudian kembali ke Adnan. Dengan perlahan, ia menghampiri teman sekelas nya itu yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Begitu sudah ada di dekat nya, Ranum mencoba memanggil nama teman nya itu berkali-kali, namun Adnan tetap saja tak sadarkan diri.


Merasa bingung harus berbuat apa, Ranum akhirnya memilih untuk duduk di dekat pemuda itu. Dan mengamati wajah Adnan lekat-lekat. Ia mencoba mencari kemiripan di kedua wajah mereka. Demi bisa membuktikan ucapan Jeff tadi tentang Adnan sebagai saudara kembar nya.


"Benar kah kita bersaudara, Nan? Apa kamu mengetahui nya? Apa itu sebab nya kamu selalu berusaha mendekati ku selama ini?" Tanya Ranum pada Adnan yang tak kunjung sadar.


Beberapa lama waktu berlalu. Ranum telah letih dari berteriak meminta tolong. Sayang nya usaha nya itu bernilai percuma. Karena hingga kini tak ada siapa pun yang menghampiri keberadaan nya dan Adnan di tempat ini.


Merasa capek, Ranum akhirnya terduduk lemas di atas lantai. Mencoba memikirkan cara apalagi yang bisa dilakukan nya agar bisa terbebas dari tempat ini.


Sekitar satu jam setelah Ranum tersadar di tempat itu, Adnan terbangun dengan sendiri nya.


Pemuda itu mengeluhkan kepala bagian belakang nya yang terasa sakit. Seperti nya Adnan dipukul dari belakang oleh Jeff dan antek-antek nya tadi. Mendengar itu, Ranum jadi merasa iba kepada nya.


"Katanya kamu mengikuti mobil orang yang telah menculik ku. Kenapa kamu melakukan nya, Nan?" Tanya Ranum beberapa saat kemudian.


Adnan telah melepaskan ikatan di tangan Ranum. Karena tangan nya sendiri tak diikat oleh para penculik tadi.


Saat ini keduanya duduk selonjoran sambil bersandar pada dinding di dekat pintu. Kedua nya asik berbincang dalam ruang temaram yang mulai semakin gelap itu. Tampak dari lubang di dinding, warna cahaya yang masuk telah berubah menjadi kemerahan. Pertanda senja yang mulai menjemput hari.


"Karena saya mendengar kamu diculik. Jadi bagaimana saya bisa membiarkan mereka pergi begitu saja!" Jawab Adnan apa ada nya.


"Tapi.. kenapa kamu begitu peduli? Kan kamu cukup melaporkan nomor plang mobil nya ke pihak sekolah atau kantor polisi. Gak perlu mengejar nya begini," komentar Ranum.


"Itu sudah dilakukan oleh saudari mu itu, Kania. Jadi, saya mengejar kamu saja," jawab Adnan acuh tak acuh.


Ranum menatap Adnan tak percaya. Sehingga beberapa detik kemudian, sebuah pertanyaan lain pun ditanyakannya kepada pemuda itu.


"Nan, apa kamu mengetahui kalau kita adalah saudara kembar?" Tanya Ranum dengan begitu tiba-tiba.

__ADS_1


***


__ADS_2