Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Nyamuk Pengganggu


__ADS_3

"Aku baru anterin foto kopian ke ruang TU (Tata Usaha) di sekolah kamu, waktu aku dengar kalau kamu diculik. Tapi karena kejadian nya udah agak lama, sekitar setengah jam. Akhirnya aku gak bisa nolongin kamu sesegera mungkin,"


"Untung aja aku punya nomor kamu, Num. Dan untung juga aku punya teman dekat yang jago IT. Dia itu jago nge hacked. Jadi untuk melacak posisi ponsel kamu tuh gampang banget!"


"Gak lama, dia ngasih tahu posisi ponsel kamu. Katanya posisi ponsel mu masih berpindah-pindah. Arti nya penculik itu masih bawa kamu di perjalanan,"


"Akhirnya aku minta teman ku itu untuk terus pantau posisi kamu. Sementara aku langsung pergi ke lokasi terakhir yang disebutkan teman ku,"


"Gak lama kemudian teman ku bilang kalau posisi ponsel kamu udah tetap berhenti di satu titik lokasi. Dan itu adalah di pelabuhan Bora-Bora ini. Sayang nya pas aku temuin ponsel mu, kamu nya gak ada. Ponsel mu itu malah dipegang sama seorang petugas porter,"


Aku tanya ke porter itu dari mana dia bisa dapat ponsel kamu, dan dia bilang kalau dia beli ponsel kamu dari seorang lelaki yang enggak dia kenal,"


"Terus aku tanya lagi apa dia tahu di mana aku bisa nemuin orang yang jual ponsel itu ke dia. Dan syukurlah dia bisa. Karena transaksi jual beli nya ternyata baru banget kejadian nya. Sayang nya pas kita ketemu orang yang jual ponsel kamu, dia bukan lah orang pertama yang nemuin ponsel kamu, Num!"


"Maka nya perlu waktu agak lama untuk aku nemuin kamu sampai malam begini di rumah kosong tadi. Itu sungguh keberuntungan banget buat ku. Karena akhirnya aku gak sengaja ketemu sama penculik kamu yang lagi makan di kedai ini selepas maghrib tadi!"


"Aku tahu dia yang culik kamu, karena dia sendiri yang cerita ke teman nya kalau dia habis dapat uang lumayan banyak dari nyulik cewek SMA,"


"Feeling ku bilang kalau cewek SMA yang dimaksud itu adalah kamu, Num. Karena nya aku langsung ikutin orang itu dari belakang diam-diam. Terus pas dia lagi sendirian, ku hadang aja penculik itu untuk nyebutin posisi dia menyekap kamu. Dan, sampai lah akhir nya aku di rumah kosong itu nemuin kalian berdua di sana," tutur Titan panjang kali lebar.


Mendengarkan cerita Titan, benak Ranum langsung dipenuhi oleh rasa syukur dan juga haru.


Bersyukur karena Allah telah mengirimkan seorang penyelamat tak terduga di kala masa pelik yang dialami oleh Ranum sesaat tadi.


Sekaligus juga terharu karena kepedulian Kak Titan terhadap nya sehingga rela berletih-letih mencari dan menolong nya hingga lewat malam seperti ini.


"Makasih ya, Kak Titan. Anum gak tahu, dengan apa Anum bisa membalas pertolongan Kak Titan ini. Kalau gak ada Kak Titan, kami mungkin akan tetap berada di rumah kosong tadi sampai waktu yang kami gak tahu kapan adanya," Ranum mengucapkan kalimat terima kasih nya.


Titan membalas kalimat Ranum dengan senyuman menenangkan milik nya.


"Santai aja, Num. Kakak tulus kok menolong kamu. Lagi pula Kakak gak bisa tenang pas tahu kalau kamu diculik. Jadi bisa dibilang Kakak menolong mu demi diri Kakak sendiri," ucap Titan dengan kalimat ambigu.


Mendengar kalimat Titan barusan, Ranum menatap pemuda itu dengan pandangan bingung. Sementara itu di sisi lain Ranum, Adnan yang menjadi pendengar perbincangan kedua nya sedari tadi, hampir saja tersedak oleh minuman nya sendiri.


Adnan merasa sedikit menyesal karena harus berada dalam posisi seperti nyamuk bagi kedua orang di dekat nya itu. Adnan tampak nya tahu dengan maksud tersembunyi Titan dalam kalimat nya tadi.

__ADS_1


Pemuda itu menyukai Ranum.


Setelah kenyang, ketiga nya lalu keluar dari kedai. Namun saat hendak pulang, terjadi sedikit perdebatan di antara ketiga nya.


"Aku gak bisa biarin kamu nunggu taksi sendirian di sini, Nan. Apa gak sebaik nya kita pulang bareng aja?" Tanya Ranum kepada Adnan.


"Naik motor Kak Titan? Bertiga, Num? Kamu yakin?" Tanya balik Adnan.


"Itu.." Ranum menjadi bingung. Ia juga tak tahu apa yang sebaik nya dilakukan.


Adnan tadi meminta nya untuk pulang terlebih dulu bersama Kak Titan dengan motor nya. Sementara ia akan menunggu taksi kosong yang lewat. Tapi Ranum merasa tak enak hati dengan usulan itu. Bagaimana pun juga mereka baru saja diculik.


"Gini aja deh. Kita hubungin nomor keluarga mu aja, Nan. Kamu ada ingat nomor saudara atau Mama dan Papa kamu kah?" Tanya Kak Titan.


Ponsel Adnan juga dibuang oleh penculik mereka siang tadi. Sayang nya Adnan tak seberuntung Ranum yang ponsel nya berhasil ditemukan lagi oleh Kak Titan. Karena Adnan tak tahu. Entah berada di mana ponsel nya saat ini.


"Oh! Saya ingat nomor Mama, Kak. Boleh pinjam ponsel nya, Kak Titan?" Pinta Adnan.


Setelah itu, Titan meminjamkan ponsel nya ke Adnan. Remaja lelaki itu langsung saja mengetikkan nomor sang Mama yang begitu dihafal nya di luar kepala. Adnan ingat, karena nomor Mama nya hanya berbeda satu angka terakhir saja dengan nomor nya sendiri.


"Ha..halo? Maaf, ponsel Nyonya Ayu tertinggal di rumah. Beliau sedang bersama Tuan Besar," ucap Bik Sum.


Dengan terburu-buru, Adnan langsung mengatakan pada Bik Sum bahwa yang menelepon nya saat ini adalah Adnan.


"Ya Allah, Den! Aden ke mana aja? Bibik dengar Den Adnan diculik? Apa itu benar, Den?!" Teriak Bik Sum terdengar histeris.


Adnan menenangkan ART yang sudah ia anggap seperti nenek nya sendiri itu.


"Itu benar, Bik. Tapi syukur lah Adnan ditolong orang. Sekarang Adnan ada di pelabuhan Bora-Bora. Bibik bisa tolong kirim orang untuk jemput Adnan di sini, Bik? Atau tolong kabarin ke Mama dan Papa posisi Adnan sekarang?" Pinta Adnan pada Bik Sum.


"Alhamdulillah.. iya, Den. Sebentar ya den. Bibik cari orang dulu. Atau Bibik telepon nomor Tuan aja ya Den. Nanti bibik kasih nomor ini ke Tuan!" Seru Bik Sum.


"Boleh, Bik. Makasih ya, Bik.."


"Sama-sama, Den.."

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, panggilan telepon terputus. Namun tak lama setelah panggilan ke nomor Mama Ayu, sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Kak Titan. Ternyata itu adalah telepon dari anak buah Aditya.


Titan lalu memberitahu posisi mereka berada saat itu kepada orang di seberang telepon. Yang mana orang itu lalu mengabarkan informasi lokasi mereka langsung ke nomor Aditya.


Jadi lah akhirnya Aditya yang sednag bersama dengan Rahayu di dalam mobil, langsung menitahkan sopir untuk membawa mereka ke pelabuhan Bora-Bora.


***


"Nah. Sudah. Berarti sekarang kita tinggal menunggu Papa kamu menjemput mu, Nan," ucap Kak Titan.


"Terima kasih ya Kak. Padahal gak apa-apa juga kok kalau Kakak mengantar Ranum pulang lebih dulu," ucap Adnan.


"Aku akan ikutin Ranum, Nan. Dia gak tega untuk ninggalin kamu sendirian di sini. Jadi gak apa-apa juga lah kita temani kamu. Ya kan, Num?" Sahut Kak Titan.


"Iya, Nan. Mana bisa kita ninggalin kamu sendirian di sini. Ha..cuhh!" Ranum berakhir dengan bersin-bersin.


Kemudian Ranum tampak mengusap-usapkan lengan nya yang terasa dingin karena disentuh oleh angin malam.


Melihat kondisi Ranum yang kedinginan, spontan saja Titan langsung melepaskan jaket yang ia kenakan. Begitu pun dengan Adnan yang melepaskan sweater rajut yang ia kenakan sebagai lapis terluar kemeja putih sekolah nya.


Dua tangan terulur ke arah Ranum. Menawarkan dua pakaian berbeda untuk dikenakan oleh gadis itu. Menerima perlakuan itu, Ranum malah tampak bingung. Tak tahu apa yang harus dikatakan nya terhadap dua lelaki itu.


Setelah jeda yang tak terlalu lama, akhirnya Adnan mengalah. Pemuda itu menarik kembali sweater nya. Dan mempersilahkan Ranum untuk menerima jaket dari Kak Titan.


"Pakai jaket nya Kak Titan aja, Num. Itu lebih tebal dari sweater saya. Biar kamu gak kedinginan masuk angin," ujar Titan.


Alhasil, Ranum pun akhirnya menerima jaket Titan dengan sedikit perasaan jengah di hati nya.


"Makasih ya Kak.." ucap Ranum dengan kepala tertunduk.


"Sama-sama, Num," sahut Titan, dengan senyuman dan tatapan yang menyimpan sendu.


Di dekat kedua nya, Adnan lagi-lagi merasa seperti nyamuk pengganggu bagi kedua orang di samping nya saat itu.


***

__ADS_1


__ADS_2