
Setelah perbincangan di kantin, akhirnya diputuskan jika latihan tim SKJ nya Ranum cs dan Adnan cs akan dimulai pada keesokan harinya.
Latihan ini akan dilakukan tiga kali dalam seminggu, hingga empat pekan berikutnya. Mengingat pelaksanaan ujian tim akan dilaksanakan pada satu bulan berikut nya.
Rumah Tika menjadi tempat latihan yang telah disepakati bersama. Karena lokasi nya yang tak jauh dari sekolah.
***
Keesokan hari nya...
"Kakak!"
Ranum menoleh ke pintu masuk ruang kelas nya. Terlihat di sana Kania yang tersenyum sangat manis.
Beberapa teman pria di kelas Ranum langsung tertarik untuk memperhatikan Kania lama-lama. Memang penampilan Kania dengan rambut pendek nya itu membuatnya terlihat dewasa dan cantik.
Ranum yang belum selesai mencatat ulang penyelesaian soal Matematika di papan tulis langsung bangun berdiri dari bangku nya.
"Siapa itu, Num?" Tanya Tika yang juga masih menulis seperti Ranum.
"Adik ku, Kania," ucap kilat Ranum sebelum pergi menghampiri Kania di muka pintu.
Di luar kelas, ada banyak siswa yang mengerubung seperti semut. Mereka semua hendak pulang ke rumah nya masing-masing.
Bel pulang memang telah berbunyi sedari tadi. Namun terkhusus kelas Ranum para siswa nya masih sibuk mencatat soal Matematika yang tadi telah dipaparkan oleh Pak Ngo.
Memang satu guru ini lah yang paling sering lelet dalam menggunakan jam mengajar nya. Dan sayang nya kelas Ranum memiliki jadwal pelajaran Matematika di akhir pelajaran. Sehingga menyebabkan mereka jadi lelet lah pulang nya.
"Nanti Nia nitip beliin tali rambut ya, Kak?" Mohon Kania begitu Ranum dan dirinya sudah berdiri di pelataran ruang kelas Ranum.
"Kenapa enggak beli sendiri, Ya? Kakak kan pulang nya kemungkinan bakal sore. Gak tahu juga pasar masih buka atau enggak," sahut Ranum.
Rumah Tika berada di belakang area pasar. Di mana setiap harinya jalan pasar menjadi jalan yang harus dilewati oleh Ranum dan Kania sebelum sampai di sekolah.
"Kania mau ke rumah teman Nia dulu, Kak. Mama nya meninggal. Jadi Nia sama teman-teman mau melayat ke rumah nya. Rumah nya di Baraya," tutur Kania.
Baraya adalah daerah di kota Y yang letaknya berseberangan dengan arah rumah Kania dan Ranum.
"Terus, pulang melayat, Nia sekalian mau latihan SKJ juga di rumah Laras yang ada di Baraya juga. Takut nya pulang kesorean kan pasar nanti keburu tutup. Jadi nanti Kakak tolong beliin dulu tali rambut nya. Yang model biasa punya Nia, Kak," lanjut Kania.
__ADS_1
"Pakai ikat rambut Kakak juga gak apa-apa, Ya. Ikat rambut Kakak masih banyak kok di rumah," tawar Ranum.
"Ngg.. enggak mau, Kak. Model nya Nia gak suka. Punya Kakak kelewat polos. Hampir kayak karet gelang yang buat bungkusin nasi uduk aja," seloroh Kania.
"Dasar. Ya udah, nanti Kakak beliin deh. Tapi kamu pulangnya jangan kesorean ya, Dek?" Ranum mengingatkan.
"Iya, Kakak ku yang cantik. Makasih ya, Kak! Kalau gitu, Nia pulang duluan ya, Kak!" Pamit Kania hampir berbalik badan.
Tapi Ranum menahan lengannya dari berlalu pergi.
"Eits! Mau nitip ikat rambut kok gak ngasih uang nya Dek? Jangan pakai alasan lupa ya!" Tegur Ranum dengan ekspresi pura-pura galak.
"Ihihi.. pakai uang Kakak dulu ya? Uang Nia tadi udah terpakai buat sumbangan melayat, Kak!" Papar Kania.
"Semua nya? Biasanya masih ada sisa lima belas ribu kan?" Terka Ranum berkalkulasi.
"Iih. kakak lupa ya. Kan Nia mau latihan ke Baraya juga. Jadi itu sisanya buat pegangan ongkos, Kak.." sahut Kania kembali.
"Jadi, pakai uang Kakak dulu nih?"
"Iya. Nanti besok baru deh Nia gantiin ya, Kak. Bisa ya Kak?" Mohon Kania sambil bergelayut manja di lengan Ranum.
Ranum langsung tersenyum melihat tingkah adik nya itu. Ia pun akhirnya menyahut kembali.
"Wahhh! Makasih Kakak ku yang cantik. Eh, Nia minta ikat rambut nya yang ini deh, Kak!" Ucap Kania sambil memeluk singkat Ranum.
Saat melepas pelukannya, Kania dengan jahil nya ikut menarik ikat rambut Ranum yang menguncir kuda rambut nya itu. Sehingga detik berikut nya, rambut hitam nan panjang milik Ranum pun tergerai bebas tak lagi dikuncir kuda.
"Kania!" Panggil Ranum dengan Kesal.
Sayang nya Kania telah berhasil menjauh. Dengan membawa tropi kemenangan atas ulah jahil nya tadi.
"Untuk sementara Nia pakai ikat rambut Kakak ini dulu deh ya hari ini. Soalnya pasti nanti gerah pas latihan SKJ Kak. Dan ingat untuk beliin ikat rambut untuk Kania ya Kak!" Teriak Kania dari kejauhan.
"Iih. Anak itu memang ya!" Gusar Ranum sambil tersenyum-senyum.
Kemudian Ranum kembali ke dalam kelas. Baru juga ia hendak lanjut menulis, sayang nya Tika dan yang lain telah lebih dulu selesai menulis.
"Kita ke rumah Tika sekarang aja yuk! Nanti Ranum bawa buku catatan Tika aja!" Usul Tika menawarkan buku catatan nya.
__ADS_1
"Oh! Ya sudah. Sebentar, Ranum beresin buku nya dulu ya."
Selesai membereskan perlengkapan menulis nya, Ranum bersama tim SKJ nya yang lain (termasuk juga Adnan dan dua kawan karib nya) langsung berangkat menuju rumah Tika.
Saat melewati pasar, Tika dan yang lain menyempatkan diri untuk jajan bakso terlebih dulu sebagai pengganti makan siang. Sementara Ranum memutuskan untuk membeli ikat rambut titipan Kania sendirian. Baru setelah nya ia menyusul ke rumah Tika.
Pagi tadi Bunda sudah menyiapkan bekal omelet untuk Ranum dan Kania makan siang. Jadi Ranum berencana untuk memakannya nanti di rumah Tika.
Ranum pun akhirnya pergi sendirian membeli ikat rambut nya Kania ke pasar.
Selesai membeli ikat rambut yang biasanya dibeli oleh Kania, Ranum langsung pergi ke rumah Tika.
Ranum menunggu Tika dan yang lain di depan gang masuk yang menuju rumah Tika, karena melalui pesan nya Mira mengabarkan kalau mereka baru saja bubar makan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Tika dan yang lain pun akhirnya muncul juga.
"Sudah ke pasar nya, Num?" Tanya Tika ketika kedua nya sudah dekat.
"Sudah, Tik."
"Kamu pasti belum makan ya?" Tebak Mira.
"Iya. Gak apa-apa. Ranum udah--"
Belum selesai Ranum menjelaskan tentang bekal yang dibawanya dari rumah. Sebuah tangan menjulurkan bungkusan berisi bakso di depan Ranum. Dia adalah Adnan.
"Ini ambil! tadi aku beli dua bungkus. Aku juga belum makan kok!" papar Adnan.
"ee.." Ranum memandang bingung pada bungkusan bakso di depan nya.
"Udah Num terima aja. Kasihan tuh si bos, dari tadi udah ngomel-ngomel aja nyuruh kita cepat selesain makan. Kayaknya takut bikin Lo kelamaan nunggu dan kelaparan, deh!" celetuk Agus.
"Kalau gitu, makasih ya, Nan," ucap Ranum dengan ekspresi canggung.
"Sama-sama, Num."
"Ajegile.. kenapa enggak bilang 'sama-sama ayang mBep' sih, Bos?" celoteh Agus dengan asal.
Dan Adnan pun langsung menghadiahi kawan karib nya itu dengan sebuah toyoran di bahu.
__ADS_1
"Tutup mulut, Lo, Gus!"
***