Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Kena Prank


__ADS_3

'Nama mu yang selalu ku simpan dalam hati,


Ku bingkai dan ku hias dalam ruang di hati ku.


Kan ku lindungi cinta yang telah kau beri,


Kan ku jaga hingga ajal datang menjemput ku..


Aku.. mencintai mu.. menyayangi mu.. sepenuh hati ku..


Reff:


Kau kucinta.. kau ku sayangi


Tak kan terganti di dalam hidup ini,


Naluri ku berkata, tuk jalani cinta dengan mu


Ku yakin kau memang untuk ku..'


'Ya! Sahabat Melodi Malam semua! Itu dia lagu 'Kau memang Untuk ku' dari D' Revinzer featuring Lazuli Nun, request-an dari An, sahabat kita di Tangsel. Katanya lagu ini dikirim khusus buat gebetannya. Semoga cepet jadian ya, An! Dan semoga semua jomblo-ers se Indonesia segera ketemu soulmate-nya ya. Aaminn.. dan sekarang...'


Ranum sedang rebahan di atas kasur kamarnya.


Saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Ia baru saja selesai membuat buku kas kelas saat ia mendengar lantunan suara Lazuli di acara radio kegemarannya, Melodi Malam.


Ranun pun menikmati covering lagu yang dinyanyikan oleh artis idolanya itu.


"Kak, kecilin dong.. Nia pingin tidur awal nih. Besok mau joging dulu subuh-subuh. Kakak mau ikut?" Ucap Kania yang baru memasuki kamar.


"Joging? Tumben," Sahut Ranum sambil mengecilkan volume suara radio.


"Buat ngelatih ketahanan fisik, Kak. Nia kan ikut ekskul Paskibraka. Jadi kata kakak senior tuh mending dilatih tiap hari lewat joging, push up, sit up, dan lain-lain.." jelas Kania.


"Oo..."


"Jadi, besok mau ikut joging gak, Kak?" Tanya Kania lagi.


"Hmm.. enggak deh. Kamu aja gak apa-apa sendiri?"


"Gak apa-apa sih. Cuma kurang seru aja kalo sendiri. Gak ada temen ngobrol."


"Emang kalo orang joging tuh bisa ya sambil ngobrol? Capek tahu, Dek.."


"Ya sesekali aja Kak. Biar gak sepi-sepi amat. Ikutlah Kak.."


"Enggak. Kakak gak hobi joging. Dan Kakak gak ikut ekskul Pasko juga kan.."


"Ya temenin Nia aja Kak.."


"Lho kok jadi maksa sih? Enggak Dek.. lain kali aja ya. Kalo Kakak mau ikutan joging, nanti Kakak bilang deh.."


"Hu..uh. gak asik ah nih, Kakak."


Kania lalu beranjak ke tempat tidur dan menutupi separo tubuhnya dengan selimut. Sementara Ranum masih ingin mendengarkan lagu-lagu di acara Melodi Malam.


'Melukis senja tentangmu,


Lewati ruang dan waktu


Tak terhitung langkah jejakku,


Menuju mu..'


"Eh.. lagunya enak tuh Kak. Liriknya juga puitis banget."


Tiba-tiba terdengar suara Kania mengomentari lagu yang sedang diputar di radio.


"Lagu siapa itu, Kak?"


"Yumna, judulnya Melukis Senja"


"Kalo ditembak pake lagu itu kayaknya romantis banget ya?" Ujar Kania mulai berhayal.


"Kalo ditembak ya mati lah, Dek.." seloroh Ranum.


"Iihh Kakak. Garing ah."


"..."

__ADS_1


"..."


'badai rasa menyergapku,


Buatku lupa segala


Akhirnya hati bicara


Ku jatuh cinta.


Melukis senja tentangmu...'


Kembali melodi slow lembut dari penyanyi Yumna mengudara pelan di ruangan berukuran 3,5 X5 m itu. Membuat Ranum dan Kania perlahan mulai menutup mata.


Menuju mimpi.


***


"Ranum, lain kali ingat tuk matikan radio ya sebelum tidur. Semalam pas Bunda tengok jam satu, radionya masih hidup. Itu mubazir, Nak.." tegur Nida keesokan paginya, saat Ranum baru selesai mandi.


"Iya, Bun. Ranum lupa. Maaf," Sesal Ranum.


"Oke gak apa-apa. Tapi lain kali jangan lupa ya."


"Iya, Bunda.."


"Ngomong-ngomong, Kania kok belum pulang ya. Katanya joging dekat-dekat rumah aja kan?" Tanya Nida entah pada siapa.


"Ehh? Kania belum pulang, Bun?"


"Iya nih. Dia bawa hp gak?"


"Bentar Ranum cek, Bun."


Ranum bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil hp jadulnya di atas meja belajar. Ia lalu memencet opsi panggil pada nomor kontak Kania.


Tak lama, terdengar dering telpon hp milik Kania yang tergeletak di dekat bantal.


"Yah, Bunda. Kania gak bawa hp," Seru Ranum pada Nida yang masih menunggu di depan kamar.


"Ooh.. yaudah. Kamu makan, gih. Udah--"


Ucapan Nida terpotong oleh teriakan salam Kania dari pintu depan.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah.." balas Nida dan Ranum.


Keduanya lalu bergegas ke ruang tengah. Di sana mereka dapati Kania tengah duduk menyantap sarapannya.


"Udah cuci tangan belum itu? Kamu joging kemana aja sih, Dek? Bunda khawatir loh," Tegur Ranum.


"Maaf Bunda, maaf ya Kak. Tadi Kania ketemu sama Titan. Itu lho anaknya Buk de Nur, teman kerja jahitnya Ayah waktu di kota X."


"Oh ya, terus?" Tanya Bunda sambil ikut duduk di kursi meja.


"Ngomong-ngomong Ayah mana? Ada salam dari Mas Titan."


"Ayah udah berangkat belanja kain ke Tanah Abang," Jelas Bunda.


"Ooh.. gitu. Jadi tadi aku ditraktir Mas Titan makan bubur ayam. Terus kita keasyikan ngobrol. Dia sekarang tinggal di Kampung Utan, Bun. Buka usaha fotokopi di dekat kampus UIN. Kasihan deh. Katanya Buk De Nur udah setahun ini sakit diabetes basah. Sekarang lagi parah-parahnya," Cerita Kania.


"Ya Allah.. terus Pak De nya apa kabar?", Tanya Bunda.


"Pak De Kiman udah meninggal hampir 2 tahun lalu, Bun. Kecelakaan motor.."


Nida terkejut. Ia merasa sedikit sedih. Pak Kiman adalah orang yang pernah menyelamatkannya dulu sewaktu ia hampir menjadi korban pelecehan di Kalibata. Belum lagi ia sempat membalas kebaikan orang tua itu, sayangnya kini ia telah tiada.


"Bunda.. Bunda.." panggilan Ranum dan Kania menyadarkan Nida dari lamunan singkatnya. Ia lalu bertanya lagi ke Kania.


"Terus kalo Buk De Nur sakit, siapa yang jaga Hafsah? Dia kayaknya baru umur.."


"Tujuh tahun Bun. Yang jaga ya Mas Titan. Ngomong-ngomong, Mas Titan katanya lagi nyusun skripsi sekarang. Makin ganteng lho Kak.."


"Hushh! Orang lagi ngomongin apa kok malah ngelantur ke mana-mana," Tegur Ranum.


"Ihihi.. alhamdulillah kenyang."


Kania selesai menghabiskan nasi goreng di piringnya. Membuat Ranum geleng-geleng kepala.


"Katamu bukannya tadi udah makan bubur ayam. Tapi itu nasi goreng kok habis juga," Canda Ranum.

__ADS_1


"Biarin wee.. joging lumayan bikin laper loh Kak. Kapan-kapan ikut Nia deh. Lumayan bisa cuci mata juga kan."


"Kania, coba lihat udah jam berapa sekarang. Mandi sana!" Tegur Nida.


"Iya, Bunda.."


Dan Kania pun bergegas ke kamar mandi. Sementara Ranum dan Nida masih menghabiskan sisa sarapan paginya di piring.


***


Di dalam kelas, Ranum yang melihat Adnan baru tiba langsung menghampirinya.


"Nih. Buku kas nya. Udah kubuat. "


"Coba lihat. Hmm.. okelah. Tulisan kamu lumayan rapih. Kapan-kapan pinjam buku catatannya ya."


"..."


Dalam batinnya Ranum menggerutu. 'gak nyambung! Orang lagi ngomongin buku KAS, kok malah bahas buku catatan!'.


"Yaudah pegang. Konsolidasi ama Yanto. Kalian berdua kan bendahara barengan. Nanti pas teman-teman udah kumpul semua, baru diobrolin bayar KAS nya berapa per berapa hari. Atur aja lah ya," Jelas Adnan lalu berlalu pergi menuju mejanya.


'Itu orang aneh banget. Kadang jahil. Kadang cuek. Kadang otoriter. Iih..' gerutu Ranum sambil melangkah ke mejanya. Tapi lalu ia berhenti dan kembali mendatangi Adnan.


Dengan malu-malu, Ranum bertanya.


"Emm.. yang namanya Yanto, yang mana ya?"


Adnan nyengir lebar sebelum akhirnya menunjuk ke sosok lelaki berkacamata tebal yang duduk di sampingnya.


"Nih. Yanto."


"Oh.. emm.. hai Yanto," Sapa Ranum malu-malu.


"Ada apa?"


"Ini. Aku mau tunjukin buku KAS yang udah kubuat semalam," Ujar Ranum sambil menyodorkan buku ke hadapan Yanto.


Yang disodorkan tak langsung mengambil buku. Yanto malah menoleh ke Adnan lalu berkata,


"Kemarin Lu nyuruh gua bikin buku KAS kan?"


"Ehh..iya kah ya?"


"Jangan bilang, Lu nyuruh si Bunga tuk bikin buku KAS juga. Enggak kan?" Cecar Yanto pada Adnan.


Secara bersamaan, Adnan dan Ranum menjawab,


"Eng..gak..?" kata Adnan.


"Iya," Kata Ranum.


Ranum melotot. Tiba-tiba ia merasa dikerjai oleh ketua kelasnya ini.


Diraihnya kembali buku yang sudah disodorkannya ke Yanto, lalu ia berbalik.


"Hey. Sorry! Num! Ranum! Saya lupa.. maksud saya kemarin tuh kalian bikin buku KAS nya barengan. Kan kalian bendahara bareng. Oyy! Oy!"


Ranum tak menggubris panggilan Adnan. Ia langsung keluar kelas setelah menaruh asal buku KAS buatannya di atas mejanya.


Dilangkahkannya kakinya menuju toilet perempuan.


Setibanya di toilet, tak ada seorang pun di sana. Ranum mencuci muka untuk mendinginkan wajah sekaligus hatinya.


Setelah itu dibenarkannya kembali ikatan rambutnya yang agak kendur. Tapi lalu ia tak sengaja menjatuhkan ikat rambutnya.


Saat Ranum akan mengambil ikat rambutnya, ia merasa enggan. Karena ikat rambutnya jatuh ke bawah lantai dan mengenai lendir hijau entah apa.


"Iiihh.. jijik amat ya. Apaan lagi itu. Duh. Mau diambil, jijik. Gak diambil, gak ada ikat rambut. Gimana ya.."


"... Ah! Udah ah. Begini aja. Nanti coba tanya Tika ah. Kali aja dia punya ikat Rambut atau karet."


Setelahnya, Ranum kembali ke dalam kelas, dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai panjang sepinggang.


Rambut bagian depan yang lebih pendek, sesekali bergerak membentuk poni di samping wajahnya. Ia tak menyadari kalau sepasang mata mengamatinya dari jauh. Ada keterkejutan dalam pandangan mata itu. Dan juga rindu..


Dan bersamaan dengan langkah kaki Ranum, bel tanda masuk pun berbunyi nyaring.


Catatan:

__ADS_1


*Lagu "Kau Memang Untukku" dari D' Revinzer ini benar-benar ada. Hanya saja yang menyanyikan bukanlah Lazuli Nun (nama pena Mel di dunia musika), melainkan grup band adik nya Mel. Jika berkesempatan, insya Allah akan Mel perdengarkan ya alunan nada nya. semoga diberikan kesempatan..


***


__ADS_2