Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
MOS


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak hari ujian seleksi masuk SMAN 2 kota Y. Pengumuman siswa yang lulus seleksi pun sudah dipasang di mading sekolah.


Dua hari lalu Ranum dan Kania berdesak-desakan dengan calon siswa lainnya untuk melihat nama dan hasil tes mereka.


Dan ketika mereka mendapati kata 'LULUS' tertulis di samping nama mereka, Kania loncat-loncatan karena merasa sangat senang. Sementara Ranum hanya tersenyum lebih lebar dari biasanya.


Walau ada sedikit kecewa juga dalam hati Kania karena harus beda kelas dengan Ranum. Ia kelas X.6. Sementara Ranum kelas X.1.


Selanjutnya Ranum dan Kania membaca pengumuman terkait tanggal masuk sekolah, MOS (Masa Orientasi Siswa), sekaligus persyaratan terkait MOS.


Setelah mencatat persyaratan MOS yang perlu dibawa, keduanya langsung pulang.


MOS akan berlangsung selama Tiga hari pertama saat masuk sekolah. Lebih tepatnya minggu depan.


Kegiatan MOS di SMAN 2 kota Y ini agaknya terbilang normal. Dimulai dari persyaratan MOS yang cukup mudah untuk disediakan, serta isi kegiatan MOS yang memang benar-benar diperuntukkan untuk siswa mengenal sekolah beserta seluruh kegiatan ekstrakuler yang ada di sekolah.


Mungkin berkaca dari tahun-tahun lalu yang lebih banyak menimbulkan protes karena melahirkan korban-korban kasus kekerasan, MOS tahun ini tak ingin pengalaman buruk tahun lalu terulang lagi.


Baguslah. Dunia Pendidikan memang seharusnya bersih dari tindak kekerasan.


Sekitar lima hari sebelum MOS dimulai, Bunda memberikan seragam putih abu-abu pada Ranum dan Kania.


Rok abu Ranum panjangnya beberapa senti di bawah lutut. Dengan sedikit rimpel di bagian tengah depan roknya.


Sementara Rok abu Kania berbentuk A-line dengan hiasan tiga kupu-kupu abu di sebelah samping atas rok. Itu memang sesuai dengan permintaannya kepada Bunda.


Untuk urusan fashion, Kania hampir selalu tampil sopan dan modis. Berbeda dengan Ranum yang selalu tampil polos dan simpel.


Dan tibalah juga hari MOS yang dinanti-nantikan.


Sedari jam enam Ranum sudah sibuk menghias diri. Ia memakai seragam SMP lamanya lagi. Lalu menguncir rambutnya yang sepanjang pinggang dengan model khas miliknya, kuncir ekor kuda.


Ranum lalu menyematkan tujuh sedotan berwarna merah pada rambutnya. Setelahnya, ia melingkari pinggangnya dengan syal merah.


Ketika ia hendak mengambil topi kerucut dari kertas karton merah yang terletak di atas kasur, suara Kania menghentikannya.


"Kak Ranum. Itu syal kenapa ditaro di pinggang kayak gitu? Itu kenapa juga ngiket sedotannya acak-acakan? Sini-sini Kania benerin."


Saat Ranum menoleh, ia sedikit tertegun. Dilihatnya Kania tampil cantik seperti biasanya dia, padahal Kania juga mengenakan peralatan MOS sama sepertinya. Hanya saja seluruh atributnya berwarna pink.


Rambut Kania yang sepanjang lengan dibiarkannya terurai. Hanya terdapat dua kepangan kecil di samping kanan dan kiri kepalanya yang kemudian ia sisipi dengan ikatan sedotan berbentuk kupu-kupu kecil.


Kemudian syal pink bermotif kupu-kupu kecil nampak meliliti lehernya dengan rapih. Topi kerucut pink pun dibentuknya lebih tinggi dari milik Ranum dengan buntut pendek seperti rambut berwarna pink di ujung atasnya.


Sehingga ketika Kania memakai atribut MOS-nya, ia malah tampak seperti penyihir cantik.


Ranum tertegun. Lebih tertegun lagi ketika Kania tiba-tiba saja melepas kunciran ekor kuda di rambutnya. Ia pun melepas semua ikatan sedotan yang ada.


"Eh, Nia. Jangan dilepas-lepasin lagi.. ini udah jam berapa coba. Kakak belum sarapan juga."


"Nia dari dulu tuh gatel pingin ngubah penampilan Kak Ranum. Kakak tuh cantik loh. Kulit kuning langsat, mata bulat, hidung lumayan mancung, muka mungil ala baby face, dan yang paling bikin Nia iri tuh rambut hitam lebat dan panjang punya Kakak ini,"

__ADS_1


"Nia susah banget manjangin rambut. Kalo udah lewat sepanjang lengan aja seringnya rontok parah. Makanya rambut Nia panjangnya segini-gini aja."


Ranum terdiam. Ia memang sengaja memanjangkan rambutnya. Karena ia menyukai sensasi ketika menyisiri rambut panjangnya dengan jemari. Rasanya membuat hati tenang.


"Makanya, udah punya modal bagus kayak gini ya manfaatin dong Kak. Hias secantik mungkin."


"Buat apa, Nia?" Tanya Ranum tiba-tiba.


"Yaa buat--"


"Cari gebetan? Cari pacar?" Tebak Ranum.


"Enggak cuma buat itu juga Kak.. kan kalo kita tampil cantik, Ayah Bunda juga bisa ikut bangga," Jawab Kania.


"Iya gitu kah?" Tanya Ranum tak yakin.


"Iya! Udah serahin aja semuanya ke Nia! Nia akan bikin Kakak jadi tampil chic dan cantik alami," seru Kania berapi-api.


Alhasil selama beberapa menit ke depannya, Ranum membiarkan Kania mengotak/atik rambutnya, sementara ia sarapan nasi goreng.


Setelah Kania selesai, ia nampak kagum melihat hasil karyanya sendiri. Dan Ranum yang ditatap seperti itu oleh Kania pun jadi malu dan salah tingkah.


Ketika Ranum hendak melihat hasil tangan adiknya itu di cermin ruang tamu, Kania melarangnya. Ia beralasan kalau ia takut Kakaknya itu malah akan merusak hasil riasan rambutnya jika sampai Ranum melihatnya.


Ranum pun mengalah. Ia ikuti saja kata adiknya itu. Dan tepat pukul tujuh pagi itu, Ranum dan Kania berangkat sekolah.


Di sepanjang jalan, banyak orang yang memperhatikan Ranum dan Kania. Pikir Ranum, 'mungkin karena kami mengenakan aksesoris MOS ini. Jadi kelihatan aneh'.


Sepertinya semua serempak untuk datang awal, agar terhindar dari hukuman para senior.


Saat acara MOS dimulai, semua peserta berbaris sesuai dengan kelompok warna atribut, dengan kata lain barisan sesuai kelas masing-masing. Dan Ranum mendapati tak ada wajah yang dikenalnya di barisan tempatnya berada.


'Kayaknya mesti cari temen baru nih!' pikir Ranum.


Sepanjang pelaksanaan MOS di hari pertama itu, kegiatan yang dilakukan adalah pengenalan ruang kelas, ruang guru, ruang TU, mushola, kantin, ruang musik, lab. Komputer, serta lab. Campuran untuk mapel MIPA.


Setiap barisan peserta MOS dipandu oleh tiga orang senior. Dengan dua senior putra dan satu senior putri.


Herannya Ranum merasa ia sering menjadi pusat perhatian hari itu. Beberapa teman siswa kelasnya pun berani mengajaknya berkenalan, hal yang amat jarang terjadi padanya selama ini.


Ranum memang malu jika berhadapan dengan lawan jenis nya. Umumnya ia selalu menjaga jarak dengan anak lelaki, sehingga tanpa sadar teman-teman lelakinya pun dulu ikut menjaga jarak darinya.


Tapi hari ini, dengan sikapnya yang memang tak banyak bicara, Ranum sering diajak berkenalan oleh teman kelas siswanya.


Keheranannya terjawab ketika seorang teman siswinya menyapa. Ia bernama Tika. Seorang chinese dengan kulit putih bersih, mata sipit, dan lesung pipi di sebelah kanan wajahnya.


'cantik..' batin Ranum saat melihat Tika.


"Kamu cantik," Kata Tika.


"Iya. Kamu cantik," Sahut balik Ranum yang masih termangu menatap Tika.

__ADS_1


Setelah beberapa detik kemudian barulah disadarinya kalau Tika baru saja memujinya.


"Eh? Aku cantik?" Tanya Ranum tak yakin.


"Ihihi.. iya. Kamu.. cantik. Lucu juga. Masa gak sadar kalo kamu cantik," Ujar Tika sambil tertawa pelan.


"Namaku Tika. Kita sekelas ya. Udah punya temen sebangku belum?" Tanya Tika.


"Ranum. Namaku Ranum. Aku gak punya kenalan di kelas ini," Jawabnya pelan.


"Kalo gitu nanti kita sebangku ya!" Undang Tika.


Merasa sedikit malu karena didekati teman yang cantik, Ranum hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman malu-malu. Melihatnya, Tika tertawa lagi.


"Ranum, kamu lucu."


Dan pertemanan pun terjalin di antara keduanya hingga bel pulang memisahkan mereka.


***


Sesampainya di rumah, jam baru menunjukkan pukul 12 siang. Bukan kamar mandi atau kamar tidur yang menjadi tujuan Ranum ketika sampai.


Begitu sampai, Ranum masuk ke ruang tamu dan berdiri di depan cermin. Saat melihat bayangan yang tampak di sana, barulah ia melihat apa yang dilihat orang-orang darinya selama seharian ini.


Pada cermin seukuran tubuh di depan Ranum, berdiri seorang anak perempuan yang cantik.


Ranum mendapati kalau wajahnya masih sama seperti biasanya. Yang membuatnya beda adalah riasan rambutnya.


Biasanya Ranum menyisir rambutnya jadi belah tengah untuk kemudian menguncir rambutnya di belakang jadi kuncir ekor kuda. Ia tampak biasa.


Tapi saat ini, rambut hitam panjangnya di caci kelabang ke belakang. Dengan sedikit juntaian rambut poni di depannya.


Ranum memang menyadari kalau tadi pagi Kania sudah menggunting sedikit bagian depan rambutnya. Tapi ia tak tahu kalau hasilnya akan sebagus ini.


Di bagian samping atas kanan dan kiri kepalanya, sedotan berwarna merah diikat dengan begitu rapihnya hingga tampak seperti bunga mawar kecil-kecil.


"Gimana hasil karya, Nia? Bagus kan? Tadi Kakak banyak yang godain gak?" Ujar Kania tiba-tiba di belakang Ranum.


"Kania! Ngagetin aja!" Jerit Ranum.


"Deuuh.. sampe gak sadar kalo Nia ada di belakang. Ngelihatin bayangin sendiri doang kok yaa.. tapi beneran deh Kak. kakak tuh cantik lho kalo sering berhias. Tinggal tambahin bedak ama lipglos. Boleh lah jadi yang ke dua tercantik di angkatan kita ini. Kania yang pertama. Hihihi.." goda Kania.


"Gak. Kakak kapok. Gak mau ah dandan-dandanan lagi. Malah jadi banyak yang godain. Jangan-jangan kamu sengaja ya dek, hiasin rambut Kakak kayak gini?" Tanya Ranum tiba-tiba sambil memicingkan mata.


Kania yang ditanya malah langsung kabur ke kamar sambil berteriak.


"Kakak ke ge-er-an ah!"


Ranum mendengus pelan. Setelahnya, ia melepaskan semua atribut MOS nya satu persatu. Hingga dilihatnya rambut hitamnya terjuntai bebas.


Lalu ia mengambil sisir dan menguncir rambutnya kembali seperti model khasnya yang biasa. Model kuncir ekor kuda.

__ADS_1


***


__ADS_2