
Keesokan pagi nya, Rahayu ingin kembali menawarkan Ranum dan Kania tumpangan pulang. Namun ia tak bertemu dengan kedua gadis itu.
Sikap Rahayu yang sedikit lebih perhatian terhadap kedua teman nya, membuat Adnan merasa penasaran. Karena nya ia pun langsung menanyakan pada Sang Mama terkait sikap nya terhadap Ranum dan Kania itu.
"Mama kenapa sih kayak nya pingin banget anterin Ranum dan Kania pulang?" Tanya Adnan secara lamgsung.
"Itu.." Rahayu kebingungan untuk menjawab pertanyaan Adnan dengan jawaban apa.
"Karena Mama suka sama kepribadian Ranum!" Jawab Rahayu dengan kalimat asal.
"Hah?" Adnan menganga. "Serius itu Ma?" Tanya Adnan memastikan kebenaran jawaban sang Mama.
"I..iya. Ranum itu kayak nya baik banget ya orang nya. Udah mah cantik, dan kata mu juga juara satu ya dia? Berarti pintar juga dong! Mama jadi pingin punya anak cewek kayak dia deh.." imbuh Rahayu berangan-angan.
"Apaan sih, Ma. Mama kan udah hampir kepala empat. Jadi kalau mau melahirkan lagi kan kurang dianjurkan sama dokter. Banyak risiko nya, Ma!" Tutur Adnan mengingatkan.
"Duh aduh Sayang nya Mama yang perhatisn banget ini.." seru Rahayu sambil menjawil pipi putra nya itu.
Rahayu kini duduk bersama Adnan di bangku belakang mobil. Keduanya diantarkan oleh sopir baru mereka menuju pulang.
Entah ke mana Pak Bas sebenarnya. Tapu Rahayu mendengar dari salah satu pelayan di rumah, kalau Pak Bas mengajukan cuti panjang selama sebulan ke depan. Karena ia ingin fokus mengobati istri nya yang sedang sakit.
Rahayu merasa terenyuh sata mendemgar berita itu. Karena nya ia tadinya bermaksud untuk menjenguk Pak Bas dan istri nya di rumah mereka. Sayamg nya, tak ada yang mengetahui alamat Pak Bas yang sekarang.
Sementara alamat yang tertera di buju pegawai nya ternyata adalah alamaf kontrakannya yang lama.
Kembali ke saat ini di dalam mobil...
"Kamu kayak nya niat banget sih, Nak, untuk jadi dojter. Sampai-akhir-akhir ini kamu sering banget ingetin tentang kesehatan Mama," puji Rahayu pada putranya itu.
"Soalnya Adnan mau Mama cepat sembuh, Ma. Biar Mama gak suka melamun lagi atau migrain lagi karena mengingat-ingat ingatan yang hilang. Maafin Adnan ya Ma, karena Adnan gak bisa cerita banyak tentang masa lalu Mama.." ungkap Adnan menyesal.
"Kamu kan masih kecil banget, Nak waktu Mama kecelakaan. Jadi ya wajar kalau kamu gak ingat banyak hal. Kamu masih umur lima tahun kan kayak nya?" Ujar Rahayu mengingat-ingat.
"Iya, Ma.."
__ADS_1
"Nah. Jadi jangan salahin diri sendiri ya, Sayang. Pada akhirnya ingatan Mama pasti akan segera kembali. Kita hanya harus lebih bersabar sedikit lagi."
"Iya Ma.."
Dsn perjalanan pun terus berlanjut. Tanpa keduanya menyadari kalau percakapan keduanya juga telah direkam dalam alat penyadap yang berada pada arloji yang dikenakan oleh Rahayu.
Beberapa kilometer dari lokasi mobil itu berada, Jeff ikut mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Dan ia memutuskan kalau percakapan itu tak perlu ia laporkan kepada Tuan besar nya, Aditya.
***
Beberapa hari berokutnya, hujan terus mengguyur pemukiman penduduk di kota Y.
Oleh sebab itu pula Ranum dan Kania memutuskan untuk menaiki angkot beberapa hari terakhir ini. Pulang dan pergi.
Karena mereka tak mungkin juga meminta Ayah Nanda untuk mengantarkan mereka setiap hari. Karena ada kalanya Nanda pun harus berangkat labih pagi dari jam berangkat nya Ranum dan Kania.
Pagi ini, Ranum dan Kania juga kembali menaiki angkot. Sebenarnya kemarin siang Adnan menawarkan untuk mengantarkan Ranum pulang dengan mobil Mama nya. Namun Ranum menolak tawaran itu tanpa sepengetahuan Kania.
Ranum tak enak hati bila harus sering merepotkan Mama nya Adnan itu. Lagi pula, mereka tak memiliki hubungan apa-apa. Jadi rasanya tak etis juga bila Ranum menerima kebaikan mereka setiap hari.
"Kak, nanti siang Nia ada latihan pasko. Jadi mungkin Kakak pulang duluan ya," ungkap Kania.
"Oh.. pulang nya sore lagi ya, Dek? Kalau gitu, kamu yang bawa payung nya deh ya!" Ranum menawarkan satu-satu nya payung yang sedang mereka gunakan saat ini.
"Jangan lah. Kak Anum aja yang bawa payung nya!" Sergah Kania terburu-buru.
"Terus nanti kamu gimana?" Tanya Ranum.
"Kania nanti kan diantar teman Nia, Kak naik motor. Jadi ngapain bawa payung?" Elak Kania beralasan.
Ranum menyipitkan mata nya.
"Bukan sama Reno kan?!" Tuding Ranum mengancam.
Kania langsung merengut karena nya.
__ADS_1
"Bukan! Curigaan amat sih, Kak! Lagi pula, aku sama Reno juga gak berani ngapa-ngapain lagi kok. Gara-gara keciduk sama Kak Anum waktu itu!" Dumel Kania.
"Beneran tuh? Reno nya juga gak berani ngapa-ngapain?" Tanya Ranum merasa sangsi.
"Iya! Masa iya Nia harus dipantau pake kamera CCTV sih seharian sama Kak Anum, biar kakak percaya kalau Kania udah gak macam-macam lagi sama Reno?" Dumel Kania berlanjut.
"Ya enggak sampai begitu juga sih Dek. Soalnya kamu juga belum putus kan sama Reno?" Tanya Ranum berhati-hati.
"Tuh kan! Kak Anum suka banget sih ikut campur soal Nia pacaran ama siapa?! Nia kan udah gede, Kak! Nia juga bisa kok jaga diri sendiri! Nia juga tahu batasan-batasan nya!"
"Iya. Iya. kakak minta maaf deh. Soalnya waktu itu kan kamu sama Reno asik dua-dua an di kelas yang sepi.. Mana tahu kalau kesempatan itu ada lagi, ada setan yang lewat dan ngegodain kalian berdua lagi kan.." imbuh Ranum.
"Pokoknya Kak Anum percaya aja deh sama Nia. Kasih Nia kesempatan untuk mengatur hidup Nia sendiri dong, Kak! Gimana Nia bisa dewasa kalau hidup Nia terus dipantau kayak si macan kumbang di film dokumenter hewan satwa di televisi itu tuh!" Tuding Kania merajuk.
"Oke deh, Adik kakak yang udah gede dan cantik ini.. kakak akan kasih ruang privasi buat kamu. Tapi kakak harap, kamu jaga kepercayaan kakak, Ayah dan juga Bunda ke kamu ya, Dek. Jangan sampai kejadian yang kemarin terulang lagi!" Ranum memperingatkan sang adik.
"Siap Bos!"
Dan, tanpa keduanya sadari, sebuah motor melaju cepat dari arah belakang menuju Ranum dan juga Kania. Beruntung, ada pedagang di dekat mereka yang melihat datang nya motor itu. Sehingga pedagang itu langsung meneriaki Ranum dan Kania yang masih berjalan santai di pinggir jalanan.
"Awas Neng! Ada motor!" Seru pedagang di pinggir jalan.
Ranum dan Kania langsung menoleh ke belakang. Keduanya terkejut saat melihat motor yang hampir saja akan menabrak mereka. Sehingga dengan terburu-buru keduanya langsung minggir ke pinggir.
Sayang nya, Ranum yang berjalan paling pinggir, dekat dengan jalan raya, pun masih juga menjadi korban dari motor yang melaju cepat tadi. Meskipun itu hanya terserempet saja. Ranum tetap saja terjatuh dan mengalami lecet di bagian kaki, tangan dan juga wajah nya.
"Kak Anum!" Teriak Kania histeris saat melihat sang Kakak yang terjatuh.
Ia pun langsung menghampiri Ranum yang terjatuh ke tanah untuk membantu nya.
...
Di kejauhan, motor yang tadi menyerempet Ranum berhenti di sebuah tikungan sepi. Dalam hati nya, pengendara itu menyayangkan karena ia telah menjalankan misi.
Tapi tak apa. Toh ia akan tetap mencoba cara lain untuk menuntaskan misi dari Tuan besar nya itu. Yakni, melenyapkan Ranum.
__ADS_1
***