
Keesokan harinya..
"Kakak.. kakak tahu rumah nya Adnan enggak?" Tanya Kania tiba-tiba di perjalanan berangkat menuju sekolah.
"Tahu. Memang nya ada apa, Dek?"
Seketika itu juga wajah Kania langsung saja sumringah.
"Di mana, Kak? Di mana?" Tanya Kania dengan semangat berlebih.
Sikap adik nya itu, langsung memunculkan kecurigaan Ranum akan sesuatu hal.
"Di Cicere. Memang nya kamu ada perlu apa pingin tahu alamat rumah nya Adnan?" Tanya Ranum menyelidik.
"Itu loh Kak.. dengar dari teman nya Kania, Adnan tuh punya ruang studio musik sendiri di rumah nya. Teman sekelas Kania kan kebetulan pernah main ke rumah nya Adnan," ujar Kania menjelaskan.
"Terus?" Tanya Ranum yang belum paham, ujung dari obrolan ini.
"Ya kan kalau Kania bisa dekat sama Adnan, nanti Kania bisa sering-sering latihan rekaman menyanyi kan, Kak."
Ranum mengerutkan kening nya. Masih bingung dengan maksud sebenarnya Kania.
"Kamu memang nya mau jadi penyanyi, Dek?" Tanya Ranum.
"Apa aja sih. Yang penting jadi selebritis. Jadi artis. Mau model, penyanyi atau presenter, pokonya Kania mau jadi orang terkenal!" Seru Kania berapi-api.
"Buat apa jadi artis, Dek? Kebanyakan lingkar pergaulannya gak benar. Ayah pernah bilang gitu kan? Kalau artis itu kebanyakan cuma mengandalkan berita-berita sensasional biar bisa tetap eksis di dunia hiburan. Jarang banget ada yang berhasil jadi artis yang pro. Yang benar-benar mendedikasikan kemampuan terbaiknya untuk setiap bidang yang ia geluti," ujar Ranum mengingatkan Kania.
"Kalau gitu, Nia mau jadi salah satu artis yang terbaik deh! Biar Ayah juga suka sama profesi Artis yang Kania lakukan nanti nya!" Seru Kania masih berapi-api.
Ranum menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tanda bahwa ia merasa angan sang adik yang sungguh kelewat tinggi. Meski begitu, Ranum berusaha bersikap berimbang terhadap cita-cita sang adik.
"Yah.. Kakak cuma bisa bantu aminkan deh ya, Ya?" Imbuh Ranum.
"Ya jangan bantu doa doang dong, Kak!" Protes Kania.
Ranum menganga kebingungan.
"Memang nya kakak bisa bantu apalagi sih, Dek?" Tanya Ranum.
"Ajak Kania main ke rumah Adnan yuk Kak?" Pinta Kania pada kakak nya.
"HAH?! Kamu mulai ngaco deh, Dek. Buat apa juga kita cewek main ke rumah cowok? Kayak gak ada tempat lain buat jadi tempat main aja!" Ujar Ranum mulai tak sabar.
__ADS_1
"Iihh Kakak..! Maksud Nia, ya Kakak ajak Kania ikut ke rumah nya Adnan juga dong tiap kakak latihan SKJ ke sana," rengek Kania pada sang kakak.
Remaja putri berusia 14 tahun itu kini bergelayut manja pada sang Kakak. Membuat langkah Ranum jadi agak tersendat-sendat.
Tapi benak Ranum terusik oleh sesuatu hal.
"Dari mana kamu tahu kalau Kakak latihan SKJ nya di rumah Adnan?" Tanya Ranum menyelidik.
Seingatnya, ia tak pernah menceritakan pada Kania kalau sudah dua kali terakhir kemarin ia latihan SKJ di rumah Adnan. Ranum berpikir kalau Kania masih mengira ia latihan SKJ di rumah Tika.
"Dari.. dari.. eeee..."
Ranum menangkap gelagat mencurigakan dari Kania. Terlebih saat ia mendapati tatapan bersalah di mata sang adik. Ranum pun akhirnya memiliki satu dugaan.
"Kamu baca pesan di ponsel Kakak diam-diam ya?!" Tuding Ranum.
Dan Ranum langsung bisa menangkap jawaban pertanyaannya tadi dari gelagat Kania yang langsung kalang kabut.
"Nia gak sengaja Kak, baca nya! Nia tadinya cuma mau minta share it lagu aja di ponsel Kakak..!" Ujar Kania terburu-buru.
"Lalu kenapa kamu bisa nyasar baca pesan di aplikasi ponsel Kakak, Ya? Itu melanggar privasi Kakak, nama nya!" Ujar Ranum dengan nada tertekan.
Ranum langsung menggegaskan langkah nya. Meninggalkan Kania yang diliputi oleh rasa bersalah.
"Kakak! Tungguin Nia, Kak!" Panggil Kania.
Ranum tak menggubris panggilan adik nya itu. Selemah lembut hatinya Ranum, ia paling tak suka jika privasi nya terganggu. Meski Kania adalah adik yang sangat ia sayangi, Ranum tetap ingin mendidik adiknya itu kalau apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang salah!
"Kakak! Jangan marah dong..! Iya Kania minta maaf deh, Kak. Nia janji gak bakal baca-baca pesan di ponsel Kakak lagi deh!" Ikrar Kania berapi-api.
Ranum berhenti melangkah untuk kemudian menghadap ke Kania. Kania pun ikut berhenti melangkah dan memandang Ranum dengan raut menyesal yang tercetak nyata di wajah nya.
"Bukan cuma aplikasi pesan aja yang gak boleh seenaknya kamu baca, Dek! Tapi juga ponsel itu sendiri. Itu kan barang yang sifatnya pribadi. Ya kalau kamu mau pinjam, kan bisa bilang dulu ke Kakak," nasihat Ranum.
"Iya Kak," sahut Kania dengan wajah tertunduk lesu.
"Iya apa nih? Iya ngerti atau iya mau ngelakuin lagi?" Tanya Ranum sedikit menggertak.
"Iya ngerti, Kak! Iya ngerti!" Sahut Kania dengan terburu-buru.
Melihat sikap sang adik yang masih tertunduk lesu, Ranum jadi merasa sedikit bersalah karena telah memarahi Kania. Namun setelah dipikir-pikir lagi, apa yang dilakukannya saat ini juga demi kebaikan Kania sendiri.
Ranum tak ingin Kania menjadi seseorang yang tak punya etika. Seenaknya menyentuj barang yang bukan milik nya sesuka hati. Apalagi jika barang itu sifatnya pribadi, seperti dalam kasus ponsel milik Ranum ini.
__ADS_1
Ranum meraih tangan sang adik, lalu mengajaknya kembali melanjutkan langkah. Sementara Kania masih bertanya-tanya dalam hatinya, 'apakah kiranya sang kakak telah emmaaafkannya atau tidak'.
Kania mengikuti tarikan tangan sang Kakak kepadanya dalam diam. Dan sebelum mereka memasuki gerbang sekolah, Kania sempat mendengar suara Ranum yang mengingatkannya sekali lagi.
"Jangan diulangi lagi ya!" Ranum mengingatkan.
Dan Kania langsung mengiyakan ucapan sang Kakak dengan bersungguh-sungguh.
"Iya, Kak! Nia janji gak akan pegang-pegang ponsel Kakak lagi!" Kembali Kania berikrar.
"Bukan cuma ponsel Kakak, Ya! Tapi ponsel orang lain juga! Itu gak sopan namanya, Dek!" Ranum menegaskan nasihatnya kembali.
"Iya. Iya. Nia minta maaf, Kak.." sahut Kania dengan suara yang lebih pelan.
Di sekitar dua remaja putri itu kini mulai ada banyak remaja lain yang juga baru tiba di sekolah.
Ranum pun akhirnya kembali bicara dengan nada yang normal kembali.
"Ya sudah. Ayo buruan masuk. Sebentar lagi kan bel sekolah. Kakak ada pelajaran olahraga di jam pertama. Jadi kakak mau ganti baju dulu," tutur Ranum menjelaskan.
"Iya Kak.."
Setelah beberapa lama, tiba-tiba saja Kania kembali bertanya. Gadis itu berbisik ke dekat telinga sang kakak dengan hati-hati.
"Jadi, bolehkan Nia ikut main pas Kakak latihan SKJ di rumah Adnan nanti?" Tanya Kania dengan nada memohon.
"Kok masih bahas hal ini sih?" Tanya Ranum sedikit kesal.
"Tapi kalau gak boleh juga gak apa-apa deh, Kak! Nia bisa main ke studio rekaman di dekat sekolah aja nanti!" Ujar Kania dengan terburu-buru saat menyadari kekesalan dalam suara Kakak nya tadi.
Mendengar kalimat Kania, Ranum langsung berpikir cepat.
'Daripada Kania main ke studio musik sendirian, atau malah sama cowok yang gak ku kenal, apa sebaiknya kuikuti aja ya keinginan nya itu?' benak Ranum bergumul dalam pikirannya sendiri.
Dan, setelah Ranum hampir sampai di depan kelas nya, ia pun akhirnya kembali berkata.
"Nanti deh Ya, kalau Kakak latihan lagi di rumah nya Adnan, kakak akan kasih tahu kamu, Dek. Tapi Kakak gak punya hak untuk ijinin kamu main ke rumah nya Adnan. Kamu sendiri yang harus tanya ke dia deh ya. Boleh enggak nya kamu ikut main!" Ucap Ranum pada akhirnya.
Seketika itu pula, Kania langsung saja menghambur dan memeluk sang Kakak.
"Wahh!! Makasih ya, Kak! Kak Ranum memang paling best best deh pokok nya!" Seru Kania dengan kegembiraan yang begitu kentara.
***
__ADS_1