Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Kisah Rahayu-Aditya


__ADS_3

PLAK.


Aditya merasakan peras pada pipi kanan nya yang baru saja menerima tamparan. Untuk sesaat, pemuda itu ternganga keheranan.


Ia tak menyangka akan menerima perlakuan kasar seperti ini dari seorang pelayan wanita. Camkan itu. Hanya seorang pelayan wanita saja!


Sampai ketika sang pelayan itu terburu-buru bangkit berdiri menjauhi nya lah akhirnya Aditya baru merasakan sesuatu yang tak nyaman. Karena entah bagaimana ia merasa kehilangan.


Terlebih saat dilihat nya kini pelayan itu berdiri menjulang tak jauh di depan nya. Dengan ekspresi kesal yang begitu kentara terlihat di wajah nya.


Aditya akhirnya bisa mengagumi bentuk tubuh ramping wanita di depan nya itu secara terbuka.


'Cantik juga. Mungkin dia mantan model?' gumam batin pemuda itu.


Meski begitu, apa yang keluar dari mulut wanita itu lebih-lebih mengejutkan Aditya. Tadi nya ia pikir wanita itu akan marah-marah kepada nya, bila melihat ekspresi kesal di wajah cantik nya itu. Namun, yang akhirnya keluar dari mulut sek si nya ternyata adalah..


"Maaf, Tuan! Tadi ada nyamuk di pipi Tuan. Jadi saya spontan menepuk nya. Maaf juga bila saya mengganggu waktu tidur malam Tuan. Tadi saya dititipkan pesan oleh Tuan Imran untuk disampaikan kepada Tuan. Kalau dia telah menyiapkan kamar tidur untuk Tuan di kamar biasa. Dan.. oh ya! Ini dia kunci nya!" Ujar pelayan itu tanpa sedetik pun jeda.


Kemudian terlihat pelayan itu meletakkan kunci kamar yang dimaksud ke atas meja. Aditya mengikuti setiap pergerakan wanita itu dengan jeli. Bahkan Aditya juga ikut mengagumi jemari kecil nan lentik milik wanita di depan nya itu saat ia meletakkan kunci.


'Pastilah dia benaran model!' gumam batin pemuda itu lagi.


"Kalau begitu.." ucap Aditya sedikit tak jelas karena masih di bawah pengaruh mabuk yang menjerat nya.


Pemuda itu lalu bangkit berdiri dengan susah payah dan hampir saja tersungkur ke atas meja, bila saja tangan nya tak sigap menyangga tubuh nya yang atletis.


Aditya juga melihat sebuah tangan putih nan ramping yang kini menyangga lengan atas nya agar tak benar-benar terjatuh ke atas meja.


Menyadari perhatian yang ditunjukkan secara refleks oleh pelayan itu, Aditya tanpa sadar malah tersenyum. Dan pelayan itu menangkap senyum nya. Sehingga dalam kegugupan nya, pelayan itu kembali menegakkan tubuh nya, berdiri. Hingga ia melepas tumpuan tangan nya yang menahan bahu Aditya.


Alhasil, pemuda itu pun akhirnya terjatuh juga. Dengan wajah yang tersungkur ke depan, tepat ke muka meja, Aditya meringis kesakitan menahan sakit di bagian hidung mancung nya yang terantuk meja.


"Aargghh!" Aditya menggeram.


Mendengar suara gedebukan di dalam ruangan, dua penjaga setia Aditya langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan. Mengejutkan pelayan wanita itu yang sibuk memandangi Aditya yang tersungkur dalam diam.


Kedua penjaga Aditya itu lalu melihat pemandangan Tuan Muda nya yang mengenaskan di atas meja. Serta pelayan wanita yang berdiri di dekat nya.


Tanpa berkata apa-apa, salah satu penjaga itu langsung bergerak cepat dan menahan lengan wanita itu ke belakang. Sementara satu tangan nya yang lain siap mencengkeram leher jenjang pelayan itu.


Aditya menyadari kedatangan dua penjaga nya. Sehingga dengan sedikit kesusahan ia bangkit duduk kembali.


Ia lalu melihat posisi Jeff, salah satu penjaga setia nya yang kini telah menawan sang pelayan. Ekspresi ketakutan terlihat jelas menghiasi wajah cantik di depan nya itu.

__ADS_1


"Lepaskan dia, Jeff!" Titah Aditya.


Jeff langsung melepaskan tangan nya dari sang pelayan. Dengan raut bingung yang terlihat jelas di wajah nya. Meski begitu, nama nya perintah adalah perintah. Ia telah diajarkan untuk menuruti perintah apapun dari sang Tuan Muda. Jadi, walau kebingungan, tangan nya secara refleks langsung mengikuti titah yang didengar nya tadi.


Aditya tadi nya baru ingin menenangkan sang pelayan yang terlihat ketakutan itu. Namun ia kalah cepat dari pelayan wanita itu.


Dengan ekspresi yang masih takut-takut, pelayan itu lalu berkata.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan! Selamat malam dan selamat beristirahat!" Pamit sang pelayan cantik dengan terburu-buru.


Dengan ekspresi tertegun, Aditya menatap kepergian sang pelayan dalam diam. Ia tak menyangka akan ditinggalkan begitu saja oleh seorang wanita. Terlebih lagi status nya hanya seorang pelayan kafe semata.


Aditya menyandarkan kembali tubuh nya ke punggung sofa. Sebanyak se kali ia mengusap wajah nya dengan tangan. Mencoba mengusir sisa mabuk yang masih menjerat nya kini.


Kemudian tatapan nya berubah tajam dan persis mengarah ke tempat di mana sang pelayan menghilang tadi.


Dari dalam ruangan, Aditya bisa melihat saat pelayan itu terburu-buru keluar ruangan dan menghilang di keramaian para pengunjung kafe lain nya.


"Temukan identitas pelayan tadi! Lakukan secara diam-diam tanpa dia menyadari nya. Jika sudah, segera berikan kepada ku!" Titah Aditya terdengar begitu berkuasa.


"Baik, Tuan!" Sahut kedua penjaga nya.


Kemudian kedua penjaga nya itu keluar ruangan. Dengan salah satu yang kembali berjaga di depan pintu. Sementara satu penjaga lain nya melaksanakan titah dari Tuan Muda mereka. Mencari identitas pelayan wanita tadi.


***


Keesokan pagi nya Aditya langsung membaca informasi terkait pelayan cantik yang sudah menarik minat nya itu.


Nama nya Rahayu. Asal kota X. Yatim piatu. Merantau ke kota Y sejak dua bulan yang lalu. Bekerja serabutan karena hanya lulusan SMA saja. Hidup seorang diri di kosan yang letak nya tak jauh dari kafe Lazizo. Dinyatakan single.


Aditya tersenyum saat membaca informasi terkait pelayan semalam tadi. Entah kenapa ia merasa menemukan mainan baru yang menarik minat nya.


Sehingga selama beberapa pekan berikut nya, Aditya pun sering menciptakan kontak di antara mereka. Salah satu nya yakni dengan meminta pelayan bernama Rahayu itu saja yang boleh melayani nya setiap kali ia pergi ke kafe Lazizo.


Pada mula nya, Aditya melakukan itu dengan dalih iseng semata. Namun, seiring berjalan nya waktu, usai ia melihat reaksi dan sikap Rahayu terhadap godaan dua sahabat nya, Aditya mau tak mau jadi berdecak kagum.


Ia tak menyangka kalau sama seperti terhadap nya, Rahayu juga dengan halus menolak pendekatan yang dilakukan oleh Jody dan juga Imran terhadap nya. Aditya bisa menangkap raut tak suka di wajah pelayan itu. Namun selalu saja kata-kata manis dan sopan lah yang keluar dari mulut Rahayu.


'Rubah kecil yang culas!' puji Aditya terhadap Rahayu.


Sejak saat itu, Aditya jadi semakin sering mengunjungi kafe Lazizo milik orang tua Imran. Entah bertiga, berdua, atau pun hanya seorang diri, hampir setiap malam nya Aditya selalu menyempatkan datang ke kafe itu.


Aditya menyadari kalau ia tampak nya mulai kecanduan untuk melihat wajah bermuka dua milik pelayan bernama Rahayu itu. Aneh nya Aditya merasa suka. Dan semakin suka.

__ADS_1


Terutama adalah dengan integritas sang pelayan dalam menjaga kehormatan diri nya. Aditya sungguh tertarik dengan sikap wanita itu. Padahal yang selama ini ia hadapi adalah para wanita yang begitu mudah nya rela menjual tubuh nya dengan harga yang murah.


Aditya jarang take in dengan para wanita asing. Namun bila ia menginginkan, maka tak ada satu pun wanita yang menolak pesona penampilan dan juga uang yang dimiliki nya.


Tapi tidak dengan pelayan bernama Rahayu ini. Karena secara halus, Rahayu menolak nya berkali-kali saat pemuda itu menawarkan nya sejumlah uang hingga apartemen mewah.


"Maaf, Tuan. Saya sudah nyaman tinggal di rumah saya yang sekarang. Jadi Tuan tak perlu berbaik hati memberikan saya apartemen mewah," jawab pelayan itu selalu.


Menerima penolakan itu, Aditya tak lantas memaksakan kehendak nya. Dan ini sungguh hal yang tak lazim. Karena umum nya Aditya selalu memaksakan kehendak nya pada apapun yang ia ingin kan. Meski terkadang harus ada tragedi berdarah yang mewarnai proses perwujudan kehendak nya itu.


Tapi dengan Rahayu, Aditya dikejutkan oleh kesabaran yang tak ia sadari dimiliki oleh nya. Dengan sabar, Aditya selalu bersikap menjaga jarak pula. Sama sopan nya seperti yang diterima nya dari sikap-sikap Ayu terhadap nya.


Hingga secara perlahan, hubungan keduanya pun mulai luluh. Dan Rahayu mulai sesekali ikut menemani nya mengobrol bila ia datang ke kafe Lazizo seorang diri.


Keduanya lalu berbincang tentang banyak hal. Dan Rahayu mulai menganggap nya sebagai teman.


Bahkan ketika Rahayu menceritakan satu rahasia terbesar milik nya kepada Aditya, pemuda itu tak merasa marah.


Ya. Aditya tak merasa marah saat Rahayu mengatakan kepada nya bahwa ia saat itu sedang hamil jalan empat bulan. Sebuah kenyataan yang seharusnya bisa membuat nya illfeel pada wanita yang selama ini bersikap jual mahal terhadap pendekatan dari nya.


Tapi dengan sabar nya, Aditya mendengarkan cerita di balik kehamilan tak terduga itu. Di mana Rahayu pernah tanpa sengaja melakukan hubungan malam dengan salah satu sahabat nya di kota nya dulu.


Tapi karena sahabat nya itu sudah mempunyai orang lain yang ia sukai, akhirnya Rahayu memutuskan untuk mengalah dan menjauhkan diri. Pindahlah ia ke kota Y ini. Tanpa mengetahui kalau ia ternyata membawa akibat dari perbuatan di satu malam itu. Yakni hamil.


Mendengarkan cerita Rahayu, Aditya merasa kan simpati yang selama ini tak pernah ia rasakan.


Dengan sabar nya, Aditya mengusap-usap punggung Rahayu hingga wanita itu kembali tenang dan berhenti menangis.


Interaksi kedua nya itu terus terjalin hingga kandungan Rahayu semakin membesar. Tadi nya Rahayu hendak diberhentikan oleh atasan nya dikarenakan kondisi kehamilan nya yang mulai terlihat.


Namun berkat bisikan dari Aditya kepada sahabatnya, Imran, akhirnya Rahayu tak jadi diberhentikan. Apalagi tugas Rahayu juga diperingkas. Menjadi hanya menemani Aditya saja setiap kali pemuda itu berkunjung.


Rahayu dilarang melayani pelanggan yang lain. Dan selama menunggu kedatangan Aditya, Rahayu hanya diijinkan untuk menunggu nya di ruang belakang saja.


Perlakuan khusus ini sebenarnya membuat rahayu merasa tak nyaman. Sehingga selama beberapa kali ia mengatakan kepada Aditya untuk berhenti memperlakukan nya secara khusus.


Namun alasan yang dikemukakan oleh pemuda itu cukup membuat Rahayu serentak langsung terdiam. Karena Aditya kemudian beralasan, "kamu sedang hamil, Yu. Pikirkan juga nasib anak-anak dalam perut mu itu. Apalagi kamu hamil kembar kan? Pastilah itu lebih berat untuk fisik mu!"


Dan Rahayu pun akhirnya menerima perlakuan khusus itu dengan hati yang setengah-setengah.


Flashback selesai.


***

__ADS_1


__ADS_2