
Hari terus berganti. Hingga tak terasa dua bulan berlalu dengan begitu cepat.
Ranum bersama para siswa SMA nya yang lain telah melalui tes kelompok SKJ nya. Sehingga kini Ranum tak lagi latihan SKJ bersama-sama.
Hubungan gadis itu dengan Adnan pun terbilang membaik. Kedua nya mulai sering terlihat mengobrol di kala jam pelajaran belum masuk.
Seperti saat ini. Adnan dan juga Agus duduk di dekat bangku Ranum cs dan bersenda gurau bersama-sama. Sesekali Ranum akan menyahuti ucapan Adnan. Begitu pun sebaliknya nya. Adnan pun akan sering mengomentari ucapan-ucapan Ranum.
Seringkali bahkan kedua nya begitu kompak dalam menilai sesuatu hal. Juga ada banyak kesamaan yang secara tak sengaja disadari oleh keduanya, namun terlihat jelas oleh kawan-kawan di sekitar mereka.
"Jadi, gua tuh penasaran. Kalian itu sebenarnya udah jadian belum sih? Kok gua gak pernah ditraktir makan ya?" Ucap Agus sambil menggoyang-goyangkan kursi yang diduduki nya ke depan dan ke belakang secara teratur.
Mendengar pertanyaan itu, seketika wajah Ranum yang seputih susu pun menjadi berwarna ke pink pink an.
Adnan langsung menoyor bagian belakang kepala Agus dengan pelan. Sehingga membuat Agus hampir saja terjatuh dari aksi memainkan kursi yang diduduki nya itu.
"Gak sopan!"
"Duh! Bos! Kan kepo sedikit mah boleh lah ya. Pasti nya semua teman-teman kita di sini juga penasaran kan pingin tahu status nya kalian berdua. Kelihatan nya bucin tapi gak bucin juga sih. Gak ada *****-***** tangan gitu.." ucap Agus dengan asal lagi.
Dan toyoran kedua pun berhasil didapat oleh Agus. Namun bukan berasal dari Adnan. Melainkan dari Tanti yang duduk tak jauh dari tempat Agus duduk saat ini. Ia menepak bagian dahi nya Agus dengan cukup kencang.
Kali ini Agus kehilangan kendali atas kursi yang ia main-main kan. Beruntung ia jatuh ke belakang. Sehingga punggung nya hanya membentur pinggiran meja. Jika ia jatuh ke depan, sudah bisa dipastikan kalau wajah nya akan tersungkur membentur pinggiran meja lain di depannya.
"Tanti! Kebangetan banget sih tenaga Lo! Gua curiga. Jangan-jangan lo tuh anak cowok yang nyamar jadi cewek ya?! Lihat aja tuh penampilan Lo yang kelewat tomboy!"
Dan Tanti kembali akan menoyor dahi nya Agus. Namun berhasil ditangkis oleh remaja lelaki itu.
"Mulut lo tuh ya memang macam congor bebek! Kalau ngomong tuh ya dipikir-pikir dulu apa?! Gue cewek tulen tahu! Cuma sedikit maco aja. Kenapa? Jangan-jangan lo ngerasa minder ya lihat kemacoan gue?!" Ledek Tanti.
"Dihh.. amit-amit.. woy! Kalian kok bisa sih temenan sama cewek jejadian ini?" Tanya Agus tiba-tiba ke arah Mira dan juga yang lain.
Ranum cs tak menganggap penting omongan Agus. Sehingga obrolan pun terus berlanjut tanpa memperhatikan protes kekesalan pemuda itu.
"Eh! Acara pensi bulan depan, kelas kita mau nampilin apa nih?" Tanya Tika kepada teman-teman nya.
"Kelas sebelah sih, Mira dengar mau nampilin teater. Kayaknya seru juga sih ya kalau kita juga nampilin teater," usul Mira.
"Teater? Ribet lho persiapannya. Ya harus siapin naskah, peran, kostum. Gak bakal keburu kalau waktu nya cuma sebulan doang!" Komentar Agus yang kembali ikut nimbrung dalam obrolan.
__ADS_1
"Daripada teater, mendingan seni tari aja!" Imbuh Agus kembali mengusulkan ide.
"Tari? Gak salah Lo nyaranin kelas kita tuk menari? Lo cowok kan, Gus?" Timpal Tanti membalas ejekan Agus yang tadi.
"Dih! Serius nih gua! Maksud gua, udah kelas kita nampilin tarian SKJ aja yang kemarin lagi. Tapi ramai-ramai sekelas. Kan rame tuh!" Papar Agus menerangkan.
Dan langsung saja, ide nya itu mendapat teriakan dari Ranum cs dan juga Adnan.
"Woooohh! Punya ide gak kreatif amat sih! Masa iya kita nampilin SKJ massal. Lo kata, kita mau nge gym massal apa!" Ledek Tanti kembali.
"Biarin wee! Yang penting kan gua punya usulan. Dari pada Lo yang cuma bisa nyinyir doang!" Tukas Agus yang mulai kesal pada ledekan Tanti padanya.
Ranum cs dan juga Adnan hanya bisa menghela napas letih saat melihat dua kawan nya itu kembali berseteru.
Hampir bosan rasanya mendengar kedua remaja itu ribut setiap hari dan sepanjang waktu. Jadi kini mereka lebih sering langsung mengalihkan pembicaraan saja dibanding harus menegur keduanya yang tak pernah jemu untuk kembali bertengkar beberapa menit setelah berbaikan nanti nya.
"Num, uang kas sekarang ada berapa?" Tanya Adnan tiba-tiba.
Ditanya tentang uang kas, Ranum langsung mengeluarkan buku kas khusus anak perempuan yang berada di dalam tas ransel nya.
Setelah membuka halaman ke tiga, Ranum pun membalas pertanyaan Adnan itu.
"Wiih.. udah banyak tuh! Kita bisa makan-makan enak dong nih!" Imbuh Agus dengan ekspresi lapar di wajah nya.
"Jangan tamak! Itu tuh uang kelas Gus. Bukan uang milik mu sendiri!" Tegur Mira.
"Yah, Ayang Bep.. cuma becanda aja kok tadi tuh. Agus mah enggak tamak kok orang nya. Malah dermawan dan rendah hati pada sesama lho!" Gombal Agus mulai merayu Mira.
"Dih! Najis amit-amit," komentar Tanti saat melihat sikap lebay nya Agus terhadap Mira.
Namun Agus tak memperdulikan komentar gadis tomboy itu. Ia malah sengaja menyandarkan kepala nya pada meja di depannya. Kebetulan posisinya bersandar adalah di meja milik Mira dan juga Tanti. Dan Agus tepat merebahkan kepala nya ke hadapan Tanti. Meski tatapannya terlihat mendamba ke arah Mira yang duduk di sisi dalam, bersandar pada tembok ruangan kelas.
"Woyy! Jangan rebahan di meja gue bisa kan? Mahal!" Dumel Tanti blak-blakan sambil kembali menoyor dahi Agus menjauh.
"Dasar nenek pelit!" Umpat Agus.
"Biarin! Daripada Lo, buyut keriput!" Balas Tanti.
"Elo tuh, yang keriputan! Gua mah baby face lah!" Tukas Agus.
__ADS_1
Dan kedua mudi itu pun kembali terlibat cekcok mulut.
Sementara Ranum dan yang lain memilih untuk mengabaikan keduanya lagi.
Hingga terdengar suara Adnan yang kembali bertanya.
"Kalau uang yang di Yanto ada berapa ya?" Tanya Adnan kepada Ranum.
"Wah.. kalau itu, Anum sih enggak tahu. Tapi kalau dihitung-hitung sih ya, seharusnya udah terkumpul 160ribuan di Yanto sekarang," tebak Ranum.
"Boro-boro dapat segitu! Orang baru terkumpul separuh nya aja dari yang disebutin si Bunga Anum!" Ucap Yanto tiba-tiba.
Remaja lelaki itu baru saja memasuki ruangan kelas dan mendengar tebakan Ranum atas uang KAS yang dipegang nya.
"Lho kok cuma segitu, To?" Tanya Tika keheranan.
"Lha iya. Anak-anak cowok kan paling susah kalau dimintain uang Kas. Apalagi bocah ini nih!" Ucap Yanto seraya menepak bahu Agus dengan cukup kencang.
"Nagihin uang Kas ke si Agus udah kayak nagihin uang setoran mingguan ke emak-emak aja! Susah nya minta ampun. Banyak pula alasannya!" Ungkap Yanto di depan kawan-kawan nya itu.
Agus yang dituding oleh Yanto pun langsung memasang ekspresi nyengir ala-ala kuda. Malu benar ia atas ucapan kawan karib nya itu (Yanto).
"Tapi gua kan juga masih bayar Kas, To! Jangan salah omong deh! Kesan nya kan gue jelek dari omongan Lo tadi!" Imbuh Agus setengah protes.
"Gitu ya? Yaudah, sini cepetan bayar! Lo hutang dua minggu Kas ya, Gus!" Todong Yanto saat itu juga.
"Hahaha! Bagus, Yanto! Tagih aja tuh si Congor bebek!" Imbuh Tanti yang menertawakan Agus tanpa malu-malu.
Agus memberikan tatapan kesal pada gadis tomboy di dekat nya itu. Baru setelah nya ia mengeluarkan uang gocengan dari saku baju nya.
"Iya. Iya. Gue bayar nih. Takut banget sih kalau gua gak bayar. Lagian cuma dua ribu doang kan seminggu. Udah kayak ngasih pinjaman dua juta aja sih ke gua!" Dumel Agus kemudian.
"Biar kata cuma dua ribu aja, nagihin kas ke elo tuh susahnya ampun-ampunan. Apalagi kalau nagih yang juta-jutaan. Bisa kesal mati berdiri nanti gue jadi nya!" Komentar Yanto seraya memberikan uang kembalian seribu logam kepada Agus.
Dan Agus hanya bisa menggerutu kesal. Terutama pada Tanti yang sedari tadi tak berhenti menertawakan kemalangan nya karena telah 'dipalak' oleh Yanto barusan.
Hahaha.
***
__ADS_1