Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Jeff Ditemukan!


__ADS_3

Setelah mengetahui kalau pelaku penculikan Ranum dan juga Adnan adalah Jeff, Aditya langsung berusaha menghubungi nomor telepon anak buah nya itu. Namun, hasil nya nihil.


Nomor telepon Jeff dalam keadaan non aktif. Ia tak bisa dihubungi.


Aditya menggebrak meja, merasa kesal. Ia lalu menitahkan anak buah nya yang lain untuk melacak keberadaan Jeff sesegera mungkin.


Setelah menutup telepon, Aditya lalu menceritakan kepada Rahayu dan juga Nanda tentang Jeff yang jadi pelaku penculikan anak-anak. Aditya juga bersumpah kalau ia tak tahu dengan perbuatan Jeff ini.


Entah apa tujuan Jeff melakukan ini. Aditya benar-benar tak mengetahui nya.


Mendengar pengakuan Aditya, Rahayu sebenar nya masih merasa sangsi atas ucapan suami nya itu. Namun ia memutuskan untuk mempercayai suami nya sekali lagi.


Rahayu ingin tahu, kesungguhan Aditya untuk menyelamatkan kedua keponakan nya itu.


Selanjut nya, Nanda memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu. Sebelum pulang, ia meminta kepada Aditya untuk memberinya kabar sesegera mungkin. Dan Aditya memberikan janji nya kepada Nanda.


Setelah satu jam berlalu, Aditya lalu mendapatkan informasi tentang keberadaan Jeff. Ia pun melanjutkan informasi itu kepada Rahayu dan juga Nanda. Mereka bersepakat untuk meringkus Jeff dengan bantuan anak buah Aditya terlebih dahulu. Baru kemudian menyerahkan Jeff ke pihak polisi.


Aditya meminta Rahayu untuk tak ikut ke tempat Jeff berada. Karena bisa saja situasi nya akan sangat membahayakan.


Tapi Rahayu menolak usulan itu. Ia bersikukuh untuk ikut mencari keberadaan kedua anak nya bersama Aditya. Mau tak mau, Aditya pun mengikuti keinginan Rahayu. Dengan satu syarat, kalau istri nya itu akan tetap berada di dalam mobil menunggu nya. Dan Rahayu pun setuju.


Selama dua jam perjalanan menuju lokasi, langit mulai menunjukkan perubahan warna nya. Dari terang menjadi gelap. Dari siang menjadi malam.


Mereka tiba di lokasi persembunyian Jeff sekitar jam delapan malam. Lokasi nya adalah sebuah gedung pabrik tua yang sudah tak lagi beroperasi. Lokasi nya jauh di pinggiran kota yang sepi dari lalu lalang orang.


Selama setengah jam berikut nya, keheningan malam di area gedung pabrik tua itu pecah oleh suara tembakan yang saling bersahutan. Selama operasi penyelamatan itu berlangsung, Aditya dan Rahayu menunggu dengan tegang di dalam mobil.


Baru ketika ponsel Aditya bergetar dan menerima laporan bahwa Jeff telah berhasil diringkus saja lah akhirnya Aditya dan Rahayu keluar dari mobil untuk menemui Jeff.


Jeff diseret paksa oleh salah seorang anak buah nya Aditya. Ia memiliki luka lebam di bagian pelipis dan juga mata. Serta luka tembak di kedua kaki nya. Kondisi nya terlihat payah, dengan darah segar yang terus mengucur keluar dari bekas luka tembakan di kaki nya itu.


Melihat wajah Jeff, Rahayu tersentak kaget. Karena ia mengenali anak buah suami nya itu cukup baik. Jeff sering menjadi sopir pribadi suami nya setiap kali mereka bepergian bersama.


Rahayu penasaran dengan alasan Jeff melakukan aksi penculikan ini. Namun sebelum menanyakan hal itu, ada hal lain yang menjadi prioritas utama nya saat ini.


"Di mana anak-anak? Di mana Ranum dan juga Adnan?" Tanya Rahayu sambil melihat ke sekitar.


Salah seorang anak buah Aditya menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


"Mereka tak ditemukan di lokasi ini, Nyonya. Jeff seperti nya menyembunyikan Tuan Muda Adnan dan gadis lain nya di tempat yang berbeda."


"?!! Mas!" Rahayu menjeritkan tanya pada sang suami.


Yang akhirnya membuat Aditya menanyakan nya langsung kepada Jeff.


"Di mana kau sembunyikan anak-anak, Jeff?! Apa sebenar nya tujuan mu melakukan ini?!" Tanya Aditya sambil menggertak pemuda yang sudah terlihat begitu payah.


"..." Jeff membisu. Ia menundukkan kepala nya ke bawah. Menatap luka di kaki nya yang berdarah-darah.


"Katakan sekarang juga Jeff! Tidakkah kau merasa berhutang nyawa kepada ku? Jika bukan karena aku yang menyelamat kan mu dari amukan Opa, pastilah saat ini kau hanya tinggal kerangka saja di dalam hutan sana!" Umpat Aditya.


Jeff terlihat sedikit tersentak mendengar masa lalu nya itu diungkit.


Ya. Ia tahu kalau ia telah berhutang nyawa pada Tuan majikan nya ini. Karena itu lah ia nekat melakukan hal gila ini, agar Tuan Muda nya bisa kembali menjadi sehebat dirinya di masa dulu. Tak pandang bulu dalam membantai semua lawan. Tak mengenal apa itu kawan dan juga lawan. Demi kejayaan geng Tengkorak, kelompok mafia terbesar di kota Y saat ini.


Jeff tak bergeming. Ia tetap saja membisu, meski Aditya telah mengulang pertanyaan nya lagi selama beberapa kali. Meski tubuh nya semakin rentak oleh pukulan yang diterima nya bertubi-tubi.


Hanya satu kalimat saja yang berhasil keluar dari mulut Jeff kemudian.


"Demi kejayaan kembali geng Tengkorak, saya rela melakukan semua ini, Tuan Muda. Saya harap, Tuan Muda bisa kembali menjadi sehebat dulu, sebelum Anda mengenal rubah betina ini.."


Dor!


"Mas Adit! apa yang kamu lakukan?!" Rahayu bergidik ngeri saat melihat suami nya itu memegang pistol. Terlebih lagi saat ia melihat genangan darah yang semakin banyak di sekitar tubuh Jeff.


Aditya hanya berkata singkat, "Jangan hina istri ku dengan mulut mu itu!"


Jeff ambruk ke tanah dengan posisi miring. Meski rasa sakit itu semakin memupuskan kesadaran nya, Jeff tetap melanjutkan kembali kalimat nya tadi. Meski dengan terputus putus.


"Tuan Muda.. akan menjadi..pemimpin.. yang hebat.. jika saja.. wanita ini.. tak ada..di.. kehidupan Tuan.. Muda..!"


Dor! Dor! Dor!


Aditya menembakkan sisa peluru secara asal ke tanah samping tubuh Jeff. Membuat lelaki itu gentar karena mengira akan menjadi sasaran tembakan tadi.


Begitu selesai, Aditya langsung mengajak Rahayu yang syok, masuk kembali ke dalam mobil.


Sebelum masuk ke dalam nya, Aditya kembali berkata pada Jeff.

__ADS_1


"Aku tak mau terjebak menjadi seseorang yang kau, atau siapa pun inginkan. Aku akan mencari jalan dengan cara ku sendiri. Mulai saat ini, kau bukan lagi anak buah ku. Selamat hidup di balik jeruji besi!"


Kepada anak buah nya yang lain, Jeff berkata, "Rawat luka nya. Dan serahkan ia kepada polisi. Dan pastikan juga agar dia tak membocorkan rahasia geng Tengkorak kepada polisi! buat dia bisu!"


Dan Aditya pun langsung masuk ke dalam mobil. Menyusul Rahayu yang telah lebih dulu masuk ke dalam nya sesaat tadi.


Setelah berada di dalam mobil, Rahayu langsung mencecar Aditya dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Dia akan baik-baik saja kan, Mas dengan semua luka itu? Bagaimana dengan anak-anak, Mas? Mereka ada di mana?! Bagaimana jika.."


Ucapan Rahayu segera dipotong oleh Aditya.


"Tenanglah, Dek. Anak buah Mas sedang mencari keberadaan anak-anak saat ini. Kita tak bisa mengharapkan Jeff untuk memberitahukan lokasi keberadaan mereka,"


"Mas mengenal betul karakter Jeff. Pemuda itu sebenar nya memiliki loyalitas tinggi. Sayang nya ia terlalu berharap tinggi pada kepemimpinan Mas di geng mafia binaan Kakek Mas dulu. Jadi ia seperti nya kecewa karena Mas tak melanjutkan kejayaan geng mafia ini," ucap Aditya menjelaskan.


Rahayu tertegun mendengar asumsi Aditya itu. Sehingga kemudian ia kembali bertanya.


"Apa Mas menyesal telah bertemu dengan Adek?" Tanya Rahayu bersungguh-sungguh.


Aditya menoleh ke samping, tepat menatap ke dalam mata sang istri.


"Enggak. Mas gak pernah menyesal telah bertemu dengan kamu, Dek. Mas justru berterima kasih kepada Tuhan, karena telah mempertemukan Mas dengan kamu. Kehidupan Mafia bukan lah kehidupan yang sebenarnya Mas ingin kan."


"Mas hanya ingin menikmati sisa hidup Mas dengan tenang bersama kamu. Itu pun jika kamu masih menginginkan juga.." ucap Aditya terdengar pesimis.


Rahayu kembali dibuat tertegun. Berbagai pilihan berkecamuk dalam pikiran nya. Menyaksikan kesungguhan dari kata-kata Aditya barusan, telah menggetarkan jiwa Rahayu.


Jika bisa disebut dalam satu nama, bisa jadi Rahayu kembali "jatuh cinta" pada lelaki yang berstatus sebagai suami nya itu.


Keheningan yang menenangkan dalam mobil itu lalu pecah oleh suara ponsel milik Aditya.


Syukurlah, Anak buah nya telah menemukan tempat yang diduga menjadi lokasi disembunyikan nya Ranum dan juga Adnan.


Segera saja, mobil yang dinaiki oleh Rahayu dan juga Aditya itu melaju cepat membelah jalan raya. Menuju satu titik lokasi yang menjadi tujuan baru mereka kini.


Menuju pelabuhan Bora-Bora.


***

__ADS_1


__ADS_2