Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Mogok


__ADS_3

"Serius banget!" Ucap Adnan yang tahu-tahu telah berdiri di dekat Ranum.


Pemuda itu lalu duduk di samping Ranum dan menenggak air mineral botol yang dibawanya.


"Main nya udahan?" Tanya Ranum.


Pandangan Ranum lalu tertuju pada kawan-kawan nya yang masih bermain voli. Dalam hati nya ia cukup senang, karena Tary pun akhirnya bisa membaur juga dengan kawan-kawan nya yang lain.


"Iya. Nyantai bentar lah," ujar Adnan.


"..."


Untuk sesaat, tak ada percakapan di antara kedua nya. Ranum kembali mengukir kata di atas pasir. Sementara Adnan memperhatikan kegiatan nya itu.


Keduanya lalu terpaku saat ombak kembali datang dan menghapus kata yang ditulis oleh Ranum.


Adnan kemudian mulai bicara.


"Hebat ya air ombak ini?" Ucap Adnan.


"Huh?"


"Iya. Hebat. Ombak selalu saja datang menyapu pasir di pantai. Sekilas, dalam setiap kepergiannya kembali ke laut, ombak terlihat seperti menarik pasir bersamanya. Padahal sebenarnya, ombak juga membawa pasir saat ia datang menyapu pantai. Sayang, tak ada yang menyadari nya," ucap Adnan berfilosofi.


Ranum diam menyimak.


"Meski pun ombak sering nya ditakuti dan disalah pahami, namun ia selalu setia kembali menjumpai pantai. Karena memang itulah satu-satu nya hal yang bisa dilakukannya."


"Saya suka dengan ombak. Dan berharap bisa seperti ombak juga. Saat tenang ia menyenangkan. Saat terlalu besar ia mampu untuk menenggelamkan. Sungguh hebat bukan?" Ujar Adnan menutup kalimat nya.


Ranum menatap Adnan lama. Hingga tanpa sadar mukut nya pun kemudian ikut berbicara.


"Kalau Anum sih lebih memilih untuk jadi seperti pasir di pantai. Lihat kan? Sebesar dan sebanyak apapun torehan yang kita tuliskan di atas nya. Ia akan selalu bisa kembali seperti sedia kala manakala ombak menyapu nya," imbuh Ranum.


"Menjadi seseorang yang berhati lapang dan pemaaf. Menurut ku itu yang terbaik," ujar Ranum.


Adnan balik memandang gafis di samping nya itu.


"Berarti kita cocok dong. Aku jadi ombak nya. Kamu jadi pasir di pantai nya," seloroh Adnan tiba-tiba.


Seketika itu pula wajah Ranum menjadi merah. Ia langsung memalingkan wajah nya kembali ke lautan lepas. Sambil menyahut dengan suara tak jelas.


"Apaan sih," bisik Ranum.


Di saat kedua mudi itu berbincang, mereka tak menyadari adanya pandangan menusuk yang tertuju pada keduanya dari kejauhan.


Pandangan itu menatap tajam ke arah Ranum. Yang mulanya berisi tatapan tak suka. Lalu perlahan berubah menjadi cemburu, dan akhirnya iri.

__ADS_1


Tak ada yang tahu, kalau dalam hati sosok itu mulai muncul perasaan tak suka kepada Ranum. Kecemburuan yang baru dirasakannya pertama kali seumur hidup nya ini mulai membutakan hati nya dari pertemanan yang ia jalin bersama dengan Ranum.


Bagi sosok itu, Ranum adalah saingan nya untuk mendapatkan Adnan.


***


Acara bersama di pantai itu berakhir menjelang siang.


Ranum pun pulang berboncengan dengan Kania. Diiringi juga oleh Agus dan juga Mira yang rumah nya searah dengan nya.


Sementara teman-teman nya yang lain pergi ke arah yang berlawanan.


Sayang nya, belum sampai ke rumah, motor yang dikendarai oleh Kania dan Ranum malah mogok.


Hendak meminta tolong pada Agus pun mereja tak bisa, karena posisi Agus yang sudah melesat jauh di depan mereka.


Akhirnya Anum dan Mira pun mendorong motor nya hingga keduanya sampai di bengkel langganan nya Ayah mereka.


"Eh, Neng-neng ini anak nya Bang Nanda, bukan?" Sapa sang montir.


"Iya, Mang," sahut Ranum dan Kania berbarengan.


"Ini kenapa motornya? Kok didorong-dorong?" Tanya Mang Usep.


"Gak tahu nih, Mang. Tadi nya sempat kedengaran suara meletus. Kirain ban yang meletus. Tapi tahu-tahu malah mogok di jalan," Kania bercerita.


Akhirnya Kania dan Ranum pun duduk menunggu di pinggir jalan. Kedua nya lalu asik mengobrol hingga tiba-tiba muncul sebuah mobil yang berhenti di depan keduanya.


Kaca jendeka mobil itu lalu terbuka. Dan dari dalam nya, tampak lah wajah cantik Mama Ayu, ibu nya Adnan.


"Ranum? Dan adik nya Ranum bukan? Kalian ngapain di sini?" Sapa Mama Ayu dengan ramah.


Ranum langsung merasa gugup saat disapa oleh ibu nya Adnan itu. Ia tampak malu-malu saat menjawab pertanyaan dari Mama Ayu.


"Motor kami mogok, Tante."


"Duh.. kasihan banget. Mau Tante antar pulang?" Tawar Mama Ayu.


"Gak usah, Tante. Sebentar lagi juga selesai kok kata Mamang nya," ujar Ranum terburu-buru.


Ranum merasa tak enak bila harus menumpang naik mobil dengan Mama Ayu. Terlebih saat ia menyadari tatapan tak suka yang dilayangkan pada sosok di samping ibu nya Adnan itu.


"Sudahlah, Ma. Ayo kita segera pergi. Kita kan masih ada acara lunch sama Pak Broto. Mana sempat menawarkan anak-anak itu pulang!" Ucap Pak Aditya dari samping Mama Ayu.


"Tapi kasihan banget Ranum dan adik nya, Mas. Atau.. sebentar."


Mama Ayu lalu terlihat sibuk melakukan sesuatu. Ranun tak bisa melihat apa yang dilakukan oleh wanita cantik itu.

__ADS_1


Sehingga saat Mama Ayu turun dari dalam mobil lalu menghampiri Ranum dan Kania. Serentak Ranum dan Kania langsung saja berdiri untuk menyalami ibu nya Adnan itu.


Kemudian Ranum dibuat terkejut saat Mama Ayu menyelipkan selembar uang berwarna merah ke tangan nya.


"Pegang ini ya. Untuk pegangan. Khawatirnya perlu uang banyak untuk ngebenerin motor nya. Terima ya, Num," pinta Mama Ayu.


"Ehh, jangan Tante. Gak usah. Anum juga bawa uang kok!" Tolak Ranum dengan wajah malu.


Ia tak menyangka kalau Mama Adnan akan sebaik ini kepada mereka.


"Sudah. Tolong terima saja ya. Tante gak bisa ngebiarin temannya Adnan terdampar di pinggir jalan begini. Tolong terima ya biar hati Tante tenang?" Mohon Mama Ayu kembali dengan sedikit memaksa.


"Ini.." Ranum terlihat kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.


"Anggap aja Tante lagi ngasih angpao duluan ke kalian. Ini rejeki. Gak boleh ditolak ya, Num!" Ujar Mama Ayu.


"..kalau begitu, makasih banyak ya Tante.. " ucap Ranum dengan pandangans edikit tertunduk.


Di samping nya, Kania ikut mengucapkan kalimat terima kasih juga dengan pandangan tegak.


"Makasih ya Tante.. Tante dan Om mau pergi ke luar ya?" Tanya Kania.


"Dek.." Ranum menegur sang adik yang sedikit lancang karena bertanya.


Mama Ayu lalu mengusap pelan kepala Ranum. Baru kemudian membalas pertanyaan Kania tadi.


"Iya, Sayang.. maaf, Tante lupa nama kamu. Maaf ya, Tante memang agak kesulitan mengingat nama," ucap Mama Ayu dengan pandangan bersalah.


"Gak apa-apa Tante. Nama ku Kania."


"Oh iya, Kania."


"Ma! Ayo cepat masuk! Kita masih ada janji lunch sama Pak Broto!" Panggil Aditya dari dalam mobil.


"Iya, Pa."


Mama Ayu lalu kembali menghadap ke arah Kania dan Ranum.


"Kalau gitu, Tante pulang duluan ya Ranum, Kania. Kapan-kapan main lah ke rumah. Adnan jarang banget ngajak teman nya main."


"Oke Tante. Kapan-kapan kita main deh nanti!" Ucap Kania dengan senang hati.


Ranum langsung menyikut pinggang sang adik atas kelancangan nya lagi.


"Bagus. Tante tunggu ya di rumah!" Ucap Mama Ayu kemudian sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.


"Tante duluan ya semua!" Pamit Mama Ayu sebelum mobil silver itu membawanya berlalu pergi dari sana segera.

__ADS_1


***


__ADS_2