
"Oya, Yah! Memang nya, kalau main ke rumah orang yang non muslim tuh gak boleh ya?" Tanya Ranum tiba-tiba.
"Kata siapa gak boleh? Boleh kok. Berteman lah dengan siapa saja. Tapi jadikanlah sahabat, dari teman yang terbaik dari yang terbaik saja," papar Nanda.
"Jadi, gak apa-apa ya, Anum main ke rumah Tika?" Tanya Ranum memastikan.
"Boleh.. Tika anak yang baik kan?"
"Baik kok, Yah. Kita juga duduk sebangku malah."
"Oh. Tapi kamu sering nya cerita tentang teman mu yang namanya Mira. Bunda kira kamu duduk sebang ku nya sama Mira?" Tanya Bunda dengan wajah heran.
"Ranum memang duduk sebangku sama Tika, Bund. Tapi Anum lebih akrab sama Mira. Mau tuker pindah duduk kan gak enak ya. Jadi ya udah. Lagipula Tika juga baik sih," jawab Ranum.
"O.. begitu."
"Gak apa-apa berteman dengan non muslim. Yang penting saling menghargai satu sama lain. Dan juga harus tahu adab nya tersendiri loh ya, kalau sedang saling berkunjung," Nida menasihati.
"Adab apa ya, Bund?" Tanya Kania.
"Semisal, gak boleh mengucap salam ke orang yang non muslim. Atau juga mengucapkan hari perayaan agama mereka," terang Nanda.
"Lho kok gitu, Yah? Kenapa gitu?" Tanya Kania dengan nada sedikit protes.
"Karena.."
Ucapan Nanda, tiba-tiba saja terpotong oleh sapaan salam dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum! Nan! Nanda!"
"Wa'alaikumussalam warohmatullah!" Koor keempat anggota keluarga yang masih mengelilingi meja makan itu.
Kemudian, dengan segera Nanda bangun berdiri menuju pintu. Diikuti juga oleh istri nya, Nida.
"Kang Eman? Ada apa Kang ke sini malam-malam?" Terdengar suara Nanda yang bertanya pada Kang Eman.
Kang Eman adalah tetangga yang rumah nya tak jauh dari rumah Ranum.
"Mau pinjam motor nya, Nand. Istri saya mau melahirkan."
"Masya Allah. Boleh Kang. Boleh. Sebentar saya ambil kan dulu ya kunci nya."
"Makasih, Nan. Tapi kalau bisa saya minta tolong kamu yang bawa motor nya ya? Biar saya yang jaga di belakang. Saya gugup, Nand. Takut gak sengaja kelewatan nge gas," ungkap Kang Eman dengan jujur.
"Baik, Kang. Kalau gitu saya ambil jaket juga ya, sebentar."
Di meja makan, Kania dan Ranum membereskan piring dan gelas usai makan. Mereka juga sambil ikut mendengarkan percakapan di ruang depan saat ini.
Tak lama kemudian Nanda sudah kembali ke ruang depan dengan jaket dan kunci motor di tangan nya.
__ADS_1
"Bund, Ayah anterin Kang Eman dulu ya. Ayah titip anak-anak!" Ucap Nanda kepada Nida.
"Iya, Yah. Hati-hati ya!"
"Iya. Assalamu'alaikum! Ayo Kang!"
"Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokaatuh!" Jawab Nida dari seberang pintu.
"Ayah ke mana, Bund?" Tanya Ranum yang sudah berdiri di dekat Nida.
"Nganterin Kang Eman, Num. Katanya istri nya udah mau lahiran," jawab Nida.
"Waahh! Berarti sebentar lagi Safira mau punya adik dong!" Komentar Kania dari pintu ruang tengah.
Safira adalah kawan karib Kania semasa SMP dulu. Sayang nya kini Safira lanjut sekolah di pesantren. Ia pun tinggal di asrama pesantren nya yang ada di kota Z.
Safira baru bisa pulang setiap enam bulan sekali. Dan itu masih sangat lama.
"Insya Allah," sahut Bunda.
"Kok insya Allah sih, Bund?" Protes Kania.
"Karena kan memang belum lahiran. Berarti itu belum pasti. Hanya Allah yang bisa memastikan setiap perkara yang dihadapi oleh para makhluk-Nya, Ya. Jadi kita sebagai makhluk Allah harus sering-sering mengucapkan 'insya Allah' dalam menghadapi situasi yang belum pasti seperti saat ini."
"Tapi kan Mama nya Safira udah mau lahiran. Berarti udah pasti dong, Bund?" Tutur Kania tak mau mengalah.
"Oh! Nia paham maksud Bunda. Maksud nya, belum tentu juga lahirannya akan berhasil ya, Bund?" Tebak Kania.
"Husy.. kalau bisa, yang gak baik, jangan diucapkan ya,Ya. Cukup kamu mengerti, ya udah jangan dibahas panjang lebar lagi. Bagaimana pun juga ucapan kan doa ya, Nak. Jadi sebisa mungkin, kita harus selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang baik saja ya, Num, Nia.." terang Bunda panjang lebar.
"Iya, Bunda.." koor Ranum dan juga Kania secara bersama an.
"Ya sudah, sekarang, tolong bereskan sisa makan nya ya, Nak. Bunda mau lanjut menjahit sedikit lagi," ungkap Nida.
"Baik, Bunda.."
***
Keesokan hari nya..
Hari ini, ada pelajaran seni rupa. Pak Ajat sedang menjelaskan materi tentang gambar realis, atau gambar yang menyerupai objek gambar nya. Lebih sering gambar realis dikenal dengan istilah lukisan.
Di depan kelas, Pak Ajat memberikan contoh melukis potret penyanyi terkenal asal luar negeri. Potret nya dilihat dari sebuah poster yang ditempel di papan tulis.
Pak Ajat berhasil melukis potret penyanyi wanita itu dengan kemiripan yang hampir mendekati sempurna. Dan itu dilakukan nya dalam waktu sekitar sepuluh menit saja! Ranum pun dibuat takjub saat melihat nya.
"Sekarang, coba kalian melukis potret penyanyi ini juga di buku kalian. Nanti saya akan menilai nya satu persatu," ucap Pak Ajat.
Maka menit-menit berikut nya, keadaan kelas nya Ranum pun menjadi hening. Karena semua siswa nya sibuk menggambar wajah penyanyi yang ada di papan tulis.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit sebelum bel berakhir, Pak Ajat mengelilingi ruangan kelas untuk melihat satu-per satu hasil lukisan anak murid nya.
Ranum sedari tadi fokus menggambar. Ia ingin sekali bisa pandai melukis semahir Pak Ajat. Karena nya ia tak menengok-nengok bahkan ke Tika sekali pun. Karena ia ingin membuat lukisan yang menyerupai potret penyanyi yang dicontohkan tadi oleh Pak Ajat.
Kemudian Pak Ajat tahu-tahu sudah berdiri di samping meja Ranum. Ranum mula nya tak sadar dengan keberadaan Pak Ajat.
Baru setelah ia mendengar pujian dari guru nya itu saja baru lah akhir nya Ranum mengangkat pandangan nya.
"Bagus banget lukisan nya ini.. kamu punya bakat untuk melukis!" Puji Pak Ajat.
Ranum langsung tersenyum sumringah pada guru nya tersebut.
Tapi begitu dilihat nya Pak Ajat bukan melihat kepada nya, melainkan kepada Tika, seketika itu pula Ranum tersadar kalau bukan dia lah yang telah dipuji oleh Pak Ajat.
"Siapa nama kamu?" Tanya Pak Ajat.
"Tika, Pak," jawab Tika terus terang.
"Tika ya. Sering dilatih ya kemampuan melukis nya. Gaya lukisan kamu lumayan bagus. Cuma perlu penambahan garis bayang saja di sekitar leher sini, nih. Jadi lebih terlihat real," papar Pak Ajat sambil memberikan tambahan sapuan pada lukisan nya Tika.
Setelah selesai memberikan sapuan pada lukisan nya Tika, giliran lukisan Ranum yang dinilai oleh Pak Ajat.
Ranum merasa gugup. Entah kenapa ia tak percaya diri jika lukisan nya bisa mendapatkan pujian. Karena setelah diamati nya lagi, lukisan nya malah lebih mirip seperti karikatur. Atau gambar kartun.
Dan benar saja. Saat Ranum melihat ekspresi di wajah Pak Ajat, Ranum langsung tahu kalau lukisan nya tidak sesuai yang ia harap-harap kan. Karena nya ia tak menduga saat detik berikutnya ia juga mendapatkan pujian dari Pak Ajat.
"Kamu juga sudah melakukan yang terbaik. Walau ini tak bisa dikatakan sebagai lukisan juga ya. Mungkin lebih ke gambar kartun atau karikatur. Tapi gak apa-apa. Seni itu soal bakat dan usaha. Jadi kamu hanya perlu berusaha lebih baik lagi."
Tak lama kemudian, bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Seketika itu pula pelajaran pun berakhir sudah.
"Num, coba lihat gambar Lo tadi, boleh?" Todong Tanti dengan tiba-tiba.
"Err.. gambar buatan ku tuh jelek, Tan. Gambar Tika aja ya?"
"Enggak. Gue mau lihat gambar buatan Lo, Num. Soal nya tadi gue sempat lihat sekilas. Dan gambar buatan Lo ingetin gue ke salah satu film kartun," tutur Tanti.
Akhirnya Ranum pun menunjukkan gambar buatannya kepada Tanti. Di samping nya, Tika dan Mira juga ikut mengerubungi gambar buatan Ranum.
"Tuh kan, beneran mirip banget. Ya Mir, Ya?" Tutur Tanti sambil menyikut Mira di samping nya."
Ranum melihat Mira yang tersenyum-senyum.
"Memang nya lucu nya tuh di mana, Mir?" Tanya Ranum tak mengerti.
"Gambar kamu tuh, Num. Mirip.."
"Gambar siapa nih? Kok mirip gambar si Dora sih?!" Serobot Agus tiba-tiba. Tahu-tahu ia sudah menarik bangku hingga ke dekat bangku nya Mira.
***
__ADS_1