
"Gambar siapa nih? Kok mirip gambar si Dora sih?!" Serobot Agus tiba-tiba. Tahu-tahu ia sudah menarik bangku hingga ke dekat bangku nya Mira.
Seketika itu pula Ranum menengok ke arah Agus. Dengan malu-malu, ia pun mengaku jujur.
"Itu gambar Anum, Gus," Ranum mengaku.
"Hah?! Beneran Num? Hahaha.. lucu banget sih, Num! Lo niat ngelukis apa gambar kartun, Num? Sorry. Tapi beneran. Gambar nya mirip banget sama kartun Dora the Explorer itu tuh, Num.." seloroh Agus.
Dora The Explorer adalah kartun yang nge hits di awal tahun 2000 an, dengan slogan "Berhasil, berhasil, berhasil, hore!".
Ranum pun menggaruk kepala nya yang sebenarnya tak terasa gatal. Antara merasa malu sekaligus ingin meneliti kebenaran ucapan Agus tadi.
Dan setelah diamati baik-baik, memang benar ucapan Agus itu. Gambar lukisan Ranum justru lebih seperti gambar kartun saja.
Kemudian Ranum melirik pada gambar lukisan dari teman-teman nya. Ternyata gambar mereka nampak jelas unsur realita nya. Dan yang paling indah dan mendekati kemiripan dengan potret asli nya adalah lukisan buatan Tika.
Nampak nya kawan sebangku Ranum itu memang memiliki bakat di bidang kesenian.
"Gambar Tika bagus banget.. Benar-benar mirip asli nya," Ranum memuji Tika tiba-tiba.
Sehingga kini semua perhatian pun beralih ke lukisan nya Tika.
"Wiiz.. iya. Keren banget nih, Tik. Lo punya bakat terpendam nih kayak nya!" Seru Agus yang menunduk ke dekat kepala Mira untuk melihat lukisan Tika lebih jelas.
"Sana, sana! Jangan mepet-mepet!" Tegur Mira sambil mendorong pipi Agus hingga menjauhi kepala nya.
"Alamak.. mimpi apa gua semalam. Barusan Ayang Mbep megang-megang pipi gua, Mak.." banyol Agus dengan wajah seperti sedang menghayal.
"Dasar tukang halu!" Cibir Tanti.
Sementara Mira yang digombali malah cuek bebek dan mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
"Eh, tahu gak? Semalam tuh Mira nemu uang lho 50 ribu!" Ujar Mira bercerita.
"Wah.. terus, Lo pake jajan apa Mir?" Tanya Tanti.
"Gak sempat. Soal nya pas nemu, ada pak Ustadz Danu di belakang ku yang juga lagi lewat. Tahu kalau itu uang temuan, uang nya ku kasih deh ke pak Ustadz."
"Lho kok gitu sih?" Tika ikut berkomentar.
"Iya. Soalnya aku malah dapet ceramahan. Katanya kalau kita nemuin barang atau uang yang bukan punya kita, maka kita punya kewajiban untuk nemuin pemilik nya sampai ketemu. Kalau dalam jangka waktu tertentu masih gak ketemu juga, maka uang nya akan lebih baik disedekahkan. Ribet banget kan tuh?" Papar Mira panjang lebar.
"Hmm.. kayak nya Ayah juga pernah bilang kayak gitu deh ke Anum," sambung Ranum.
"Oh ya? Dihh.. memang nya kenapa uang nya harus dikembaliin sih?" Protes Tanti.
"Karena itu bukan hak kita," jawab Ranum singkat dan padat. "Begitu sih kata Ayah," imbuh Ranum kembali.
"Ayah kamu tuh ustadz ya, Num?" Tanya Tika tiba-tiba.
"Bukan. Ayah ku penjahit, Tik," jawab Ranum.
"Oo.. Tika pikir Ayah Ranum tuh ustadz. Soal nya sering banget Tika dengar dari Ranum, 'kata Ayah', 'kata Ayah'," ucap Tika lagi.
Ranum tersenyum manis.
__ADS_1
"Tapi Ayah dan Bunda suka baca dan lihat acara ceramah di tv. Jadi mungkin lebih banyak tahu deh jadi nya," imbuh Ranum.
"Oo.." semua ber koor.
"Teman-teman," panggil Tika.
"Kenapa Tik?"
"Ini. Kayaknya untuk satu minggu ke depan kita gak bisa latihan SKJ di rumah ku dulu deh," ujar Tika dengan wajah menyesal.
"Memang nya kenapa, Ka?" Tanya Mira.
"Kakak ku yang pertama kan lagi nysuun skripsi. Nah, jadi sekarang itu dia lagi KKN di Puskesmas dekat rumah sama teman-teman nya. Jadi ada beberapa teman nya yang ikut menginap selama seminggu ke depan nya kira-kira di rumah Tika," papar Tika panjang lebar.
"Ooh.."
"Iya. Kan kayak nya gak enak juga ya kalau kita latihan SKJ. Berisik-berisik pas kakak ku dan teman-teman nya lagi bikin laporan KKN," ujar Tika kembali memperjelas.
"Iya udah gak apa-apa. Terus, nanti lusa kita mau latihan di mana dong? Jangan di rumah gue ya. Rumah gue gak ada area luas nya buat joget-joget SKJ. Secara, keluarga gue kan cuma tinggal di kontrakan sempit," papar Tanti.
"Hmm.. gimana kalau di rumah Ranum?" Tika memberi saran.
"Enggak kejauhan? Rumah Anum kan di Kayu Jati lho. Masih lebih dekat rumah Mira atau Agus," tutur Ranum.
"Ehh, jangan di rumah Mira lah.. Emak Mira soalnya agak cerewet. Gak suka banget kalau dengar yang berisik-berisik. Maaf.." Mira menampakkan wajah menyesal nya.
"Terus di rumah siapa dong?" Tanti bertanya entah pada siapa.
"Kita tanya ke anak cowok aja yuk?Mungkin dari mereka kita bisa dapat saran yang lebih baik," Tika kembali memberi saran.
"Ayo. Kayaknya mereka udah duluan ke kantin deh. Yuk kita ke kantin juga. Keburu bel masuk berbunyi lagi nanti," ajak Mira.
Setelah perbincangan singkat dengan tim cowok, akhirnya diputuskan kalau latihan SKJ esok lusa akan dilakukan di rumah Adnan.
***
Esok lusa nya..
Sepulang sekolah, ketujuh remaja tim SKJ nya Ranum pun pergi ke rumah Adnan dengan berboncengan motor.
Tika berboncengan dengan Adnan. Mira dan Tanti berboncengan dengan Agus. Sementara Ranum berboncengan dengan Yanto.
Rumah Adnan berada di daerah Cicere. Sekitar lima belas menit dari sekolah.
Saat datang melewati gerbang rumah Adnan yang sangat besar, Ranum dan yang lainnya terlihat takjub. Rumah Adnan terbilang mewah. Terdapat kolam ikan kecil di depan rumah, dan halaman yang cukup luas untuk bermain tenis. Pekarangan bunga di pinggir halaman pun tertata dengan sangat rapih. Memperindah penampilan rumah megah yang berwarna putih gading itu.
"Kalian tunggu dulu ya di sini. Aku minta Bi Inem buatin minuman dulu," ucap Adnan, meninggalkan ke enam remaja lainnya di teras rumah yang lebar nya seperti kamar ukuran 3x4 m.
Setelah beberapa waktu berlalu, seorang wanita paroh baya muncul dan membawakan nampan berisi minuman es jeruk.
"Silahkan diminum. Den Adnan nya sedang berganti baju. Mohon tunggu sebentar," tutur Bi Inem.
"Terima kasih, Bi," koor semuanya berbarengan.
Bi Inem pun kembali masuk ke dalam rumah. Dan tak lama kemudian Adnan kembali muncul dengan kaos army dan celana setengah betis.
__ADS_1
Selama beberapa saat penampilan nya sempat diamati oleh ke empat remaja putri yang ada di sana. Karena Adnan berubah jadi terlihat lebih keren dan tampan dalam baju rumahan nya.
"Kita latihan di belakang aja yuk. Dekat kolam renang lumayan ada space yang lebar buat SKJ an," ajak Adnan.
"Ayo!"
***
Usai latihan, semua remaja itu melepas penat dengan duduk-duduk di samping kolam renang yang ada di area belakang rumah.
Saat itu jam menunjukkan pukul 3 sore. Ranum sebenarnya segera ingin pulang ke rumah saat ini juga. Karena ia masih harus menyapu dan mengepel rumah sebelum Ayah dan Bunda pulang sore nanti nya. Itu memang menjadi tugas harian nya Ranum bersama Kania.
Kania mengatakan kepadanya tadi pagi kalau ia akan kembali pulang sore hari ini. Karena ia akan mengerjakan tugas prakarya bersama dengan teman di kelas nya. Jadi tentu membuat Ranum harus segera pulang dan berberes rumah bukan?
Tapi begitu melihat kalau teman-teman nya masih ingin duduk santai bermain air di pinggir kolam renang, Ranum pun jadi segan untuk mengajak semua nya pulang.
'Apa aku pulang duluan saja ya?' benak Ranum bertanya pada dirinya sendiri.
Belum sempat Ranum berpamitan pada teman-teman nya, ketika Adnan tiba-tiba bertanya kepada nya dari bangku santai, tempat ia merebahkan badan.
"Mau pulang sekarang, Num? Memang nya gak mau main dulu?" Tanya Adnan beruntun.
Ranum pun menengok ke arah teman pria nya itu dan menjawab, "iya, Nan. Harus buru-buru pulang nih ke rumah. Soal nya udah sore."
"Segini mah belum sore lah, Num. Jam 7 tuh baru sore," serobot Agus yang sedang asik berendam dalam kolam renang bersama Yanto.
"Itu sih kemaleman, dodol!" Umpat Tanti.
"Jam 11 tuh baru kemaleman, Nenek!" Balas Agus meledek Tanti.
"Kalau gitu, Mira juga pulang deh. Di jalan depan, angkot lewat gak ya?" Imbuh Mira.
"Nanti saya anterin deh. Tunggu sebentar," ujar Adnan yang langsung lari ke dalam rumah.
Diikuti juga oleh Agus yang terburu-buru keluar dari kolam dan menyusul langkah Adnan.
" Ah.. Bos tungguin gue , Bos! Gue juga mau antar ayang Mira lah," seru Agus yang setengah berlari menyusul Adnan ke dalam rumah.
Sekitar delapan menit kemudian, Adnan kembali muncul bersama Agus yang telah mengenakan kembali baju seragam nya.
"Tika, Tanti, Yanto, main di sini dulu aja kalau kalian mau. Sementara saya antar Ranum dan Mira pulang lebih dulu," terang Adnan.
"Aku pulang juga deh, Nan," imbuh Tika.
"Sama. Gue juga balik deh. To, lo anterin gue balik dulu ya," ujar Tanti memberi titah.
Rumah Tanti dan Yanto memang searah. Sementara rumah yang lain berlawanan arah dari keduanya.
"Ya sudah, kalau gitu Ranum sama Tika naik motor saya aja ya. Sementara Agus biar sama Mira," ujar Adnan mengatur.
"Sip lah, Bos!" Sahut Agus yang langsung mengacungkan jempol nya pada Adnan.
"Apa aku gak sebaiknya ikut Agus aja ya, Nan? Jadi nanti kamu bisa langsung pulang setelah nganterin Tika," ujar Ranum memberi usul.
"Udah. Gak apa-apa. Yuk pergi sekarang!" Ajak Adnan.
__ADS_1
"Ayo!" Koor yang lain hampir bersamaan.
***