Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Terbungkus Rapih


__ADS_3

"Selidiki gadis bernama Ranum itu. Keluarga nya dan semua riwayat hidup nya. Ku tunggu hasil nya segera!" Titah Aditya pada seseorang di seberang telepon.


Setelah mendengar kesiapan orang di seberang sana, sambungan telepon pun lalu terputus. Tinggal lah Aditya seorang diri merenung dalam ruang kerja nya.


Ia menatap sinar rembulan yang cahaya nya separo tersembunyi di balik awan.


Pikiran nya berkecamuk oleh rasa sesal dan khawatir akan masa lalu sang istri. Usai bertemu dengan gadis bernama Ranum tadi, Aditya tiba-tiba saja merasa dikejar oleh rasa bersalah nya terhadap Rahayu. Dan ia sungguh tak menyukai perasaan ini.


Aditya pun kembali dibuat bimbang oleh berbagai pilihan yang harus diambilnya. Antara ia membiarkan masa lalu Rahayu berhasil mengejar nya atau tidak.


Jika ia membiarkan Ayu mengingat kembali kenangan masa lalu nya, tentu lah pandangan benci itu akan kembali ia terima dari satu-satu nya wanita yang paling berharga baginya di dunia ini. Dan ia sungguh tak mengharapkan hal itu akan terjadi.


Sementara bila ia mencegah Rahayu dari mengingat kembali masa lalu kelam nya mereka, ia mungkin akan merasakan bahagia nya dicintai oleh Rahayu untuk waktu yang lebih lama lagi.


Menurut Dokter Rahardi, hilang ingatan yang diderita oleh Rahayu sebenarnya bersifat hanya sementara saja. Jika sang istri menerima perlakuan yang sama atau bersama dengan objek dan tempat yang sama seperti yang pernah dialaminya sebelum kecelakaan, tentulah ia akan bisa mengingat kembali ingatannya dalam jangka waktu kurang dari sepuluh tahun.


Sementara ini sudah hampir sepuluh tahun berlalu.. dan gadis bernama Ranum itu pun tiba-tiba saja muncul. Aditya khawatir jika sang istri akan kembali mengingat perseteruan besar diantara mereka. Dan ia harus menerima pandangan benci seperti yang dulu pernah ia terima.


Trak. Trak. Trak.


Aditya memutar-mutar biji dadu milik nya di tangan kanan. Sebuah kebiasaan lama yang dilakukannya setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu hal yang serius.


Saat ini pun Aditya sedang mempertimbangkan, apakah ia harus melakukan tindakan preventif terhadap gadis bernama Ranum itu, atau tidak.


***


Sementara itu di rumah Ranum...


Pada hari Minggu nya, Tari berkunjung ke rumah Ranum.


Rencananya ia bersama Ranum dan Kania akan jogging pagi ke Taman Bundaran. Sebuah rencana yang sudah sejak lama diusulkan oleh Kania namun baru diiyakan oleh Ranum sekitar sabtu sore nya.


Ranum pun segera menelpon Tari untuk mengajak sahabatnya itu bersama mereka. Dan Tari mengiyakan ajakannya.


Sekitar jam enam pagi, Tari sudah berada di rumah Ranum untuk menjemput sahabatnya itu. Ia mengenakan setelan jogger berlengan panjang yang berwarna kuning cerah.


Begitu bertemu, kedua sahabat itu langsung berpelukan. Meski sebenarnya, lebih ke Tari yang langsung menghamburkan diri dan memeluk Ranum, sih.


Sementara di belakang kedua nya, Kania langsung usil berkomentar.


"Adeudeuhh.. yang temu kangen, langsung aja peluk-pelukan kayak teletubbies.. kelihatan banget nih mana yang jadi Po dan mana yang jadi Lala," ujar Kania seraya menyengir lebar.


(Po dan Lala adalah dua tokoh yang ada dalam serial acara anak-anak berjudul Teletubbies)


Tari lalu melepas pelukannya pada Ranum dan membalas ucapan Kania.


"Kenapa sih, sirik aja!"


Kania terlihat ramping dengan kaos slim fit dan celana hot pants sepanjang lutut. Melihat penampilan Kania, Ranum pun langsung menegur penampilan sang adik.


"Nia, kamu mau jogging pakai baju itu?" Tanya Ranum dengan pelan.


"Iya. Kenapa Kak? Aku kelihatan ramping kan?" Ujar Kania seraya bergaya memutar tubuh nya di depan Ranum dan Tari.


"Bukan ramping! Tapi kekurangan bahan! Itu baju waktu lo masih SD ya, Ya?" Ledek Tari.


Seketika, Kania pun memelototi Tari.

__ADS_1


"Dasar! Ini tuh fashion, tahu! Lagi nge hits dipakai sama anak-anak muda jaman sekarang. Jadi curiga. Lo anak muda apa anak tua sih, Tar?" Balas Kania meledek.


"Aduh. Udah dong. Bisa gak sih sehari aja kalian akur? Kayak nya tiap kali ketemu kok malah kayak Tom and Jerry sih?" Tegur Ranum.


"Dia nya sih, Num!" Tuding Tari.


"Dia nya sih, Kak!" Tuding pula Kania di waktu yang bersamaan dengan Tari.


"Udah. Ayo salaman ah. Malu sama semut merah tuh. Masa berantem terus sih kerjaan nya?" Seloroh Ranum mencoba mencairkan suasana.


Dan usahanya itu berhasil.


Tari dan Kania pun langsung tertawa pelan kala mendengar selorohan nya Ranum. Malah kemudian Ranum jadi bulan-bulanan kedua orang itu.


"Garing banget sih, Kak!" Imbuh Kania seraya menyengir lebar.


"Dasar Anum. Gak cocok banget deh kalau kamu jadi pelawak!" Imbuh pula Tari.


"Iya ya, Tar. Kak Anum tuh cocok nya jadi bu Ustadzah. Sering banget soalnya ceramahin gue," Kania lanjut berkomentar


"Betul banget kata Lo, Nia. Gua juga sering banget diceramahin sama Kakak lo itu."


"Berarti kita senasib sepenanggungan dong, Beb?" Ujar Kania seraya meraih bahu Tari hingga kedua bahu remaja putri itu menempel dan beradu.


Kini Tari dan Kania pun bak dua sahabat yang akur sepanjang waktu.


Melihat keduanya, Ranum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Memang ia sudah cukup sering melihat interaksi Tari dan Kania yang menurutnya aneh.


Cepat akur. Cepat cekcok. Cepat pula untuk kompak berkonspirasi dalam menjahilinya.


"Ehh, sebentar! Gimana kalau kamu ganti baju dulu, Dek? Minimal ganti celana nya sama yang lebih panjangan deh," Ranum memberikan saran.


"Memangnya apa yang salah sama celana Kania sih, Kak?" Protes Kania.


Di samping Kania, Tari menyikut Kania dengan lengan nya.


"Gua udah bilang kan tadi, Non geulis. Baju Lo tuh minim bahan. Kayak gak tahu selera nya Bu Ustadzah kita yang satu ini deh!" Komentar Tari.


Kania langsung mengerucutkan bibir. Namun ia tak bergegas mengganti baju nya.


"Ah, Kakak suka gitu deh. Ini tuh fashion, Kakak ku yang cantik.." rayu Kania.


"Tapi gak semua fashion itu baik, Kania ku yang jauh lebih cantiikk.." balas Ranum dengan gombalan pula.


"Maksudnya gak baik tuh gimana sih, Kak? Ini kan cuma selembar kain doang. Sama lah kayak baju yang Kakak pakai juga. Kita cuma beda selera dalam pilih model baju aja, Kak. Gak ada itu istilah baik dan buruk nya dalam berpakaian," kilah Kania.


"Ya ada lah, adikku tersayang.." Ranum lalu mengajak Kania untuk duduk di balai bambu depan rumah. Baru ia melanjutkan kembali ucapannya.


"Kalau kita berpakaian yang lebih sopan dipandang mata, kan dinilai orang lain juga enak. Lagipula kita kan gak cuma bawa nama sendiri, Dek. Tapi juga bawa nama Ayah dan Bunda setiap kali kita keluar rumah."


"Kamu memangnya mau, dengar orang-orang bilang gini, 'itu anak nya Pak Nanda pakai baju nya minim dan seksi!' atau.."


Belum selesai Ranum bicara, Kania sudah buru-buru menyanggah nya.


"Itu sih cuma kerjaan orang-orang yang usil suka bergosip aja, Kak. Cuekin aja. Lagian kan yang penting Kania tahu etika dan jaga sikap jadi anak yang baik. Apa itu istilahnya, mm.. oh ya! Inner beauty! Yang penting kan inner beauty nya bagus Kak!" Kania mencoba berargumen.


Ranum berusaha untuk tetap sabar menghadapi protes sang adik. Dengan cepat ia mencari kalimat yang lebih bisa diterima oleh akal adik nya yang sebenarnya cerdas dan logis itu.

__ADS_1


"Ya. Kamu memang benar, Dek. Inner beauty itu memang bagus bila kita jaga. Tapi, seharusnya outer nya juga dihias dengan sebaik mungkin dong. Kakak kasih contoh deh nih, ya," Ranum lalu menjeda kalimat nya sejenak.


"Semisal Nia lagi jalan-jalan ke kaki lima. Terus Nia lihat jajanan kue yang banyaak banget dan kelihatannya enak-enak. Tapi Nia juga lihat ada banyak lalat dan debu yang berterbangan. Kira-kira Nia bakal beli jajanan yang dibungkus rapih atau jajanan yang gak dibungkus?" Ranum mengajak adik nya berpikir logis.


"Mm.. yang kebungkus sih, Kak. Tapi.. tapi Nia kan masih kebungkus, Kak.. Nia masih pakai baju kan ini," ujar Kania masih protes.


"Iya kebungkus. Tapi apa menurut Nia, pakaian ini bisa menjaga Nia dari fitnah nya orang-orang? Memang, kita gak harus melulu mendengar pendekar semua orang. Tapi kalau pendapat semua orang itu ada benarnya tentang ketidakbaikan yang ada pada diri kita, apa salah nya jika kita memperbaiki diri?"


"..."


"..."


"Nia paham kan, kalau Kakak tuh sayaang banget sama Nia. Maka nya Kakak gak mau tubuh Nia ini jadi bahan fitnah dan omongan gak baik dari orang-orang. Kakak sayang Nia. Dan akan selalu menegur Nia agar Nia bisa terhindar dari keburukan dunia."


"Walaupun Kakak sendiri mengakui sih kalau kakak belum bisa se shalehah Bunda yang pakai kerudung. Tapi Kakak juga masih belajar untuk membiasakan diri untuk menjaga kehormatan diri Kakak dan juga Ayah dan Bunda," tutur Ranum panjang lebar.


"..."


"..."


"..."


Setelah beberapa lama Kania diam berpikir, pada akhirnya ia pun berujar dengan suara pelan.


"Hh.. ucapan Kak Anum ada benar nya juga sih. Ya udah. Nia ganti baju dulu deh ya."


Kania lalu bangkit berdiri untuk masuk kembali ke dalam rumah. Dan setelah beberapa lama, ia kembali keluar dengan outfit yang baru. Sebuah kaos longgar lengan pendek, dengan celana katun polos berwarna biru langit.


Out fit nya hampir seragam seperti yang juga dikenakan oleh Ranum. Hanya saja outfit Ranum berwarna biru gelap.


"Gimana sekarang? Udah terbungkus rapih kan, Kak?" Ucap Kania dengan senyuman manis.


Ranum memberikan adik nya itu senyuman hangat.


"Iya. Kalau gini kan, kita kayak kembaran ya, Dek.." tutur Ranum.


"Jahat.. jadi Tari deh yang beda sendiri seragam nya.." imbuh Tari tiba-tiba.


Seketika itu juga Ranum dan Kania langsung meraih masing-masing tangan nya Tari.


"Gak apa-apa, Tar. Lo udah sempurna kok pake baju kurung gitu," seloroh Kania dengan cengiran lebar.


"Nia.. jangan gitu ah!" Tegur Ranum pada sang adik.


Sementara kepada Tari, Ranum berkata.


"Kamu mau ganti baju juga pakai punya Anum, Rie?" Ranum menawarkan.


"Ah. Anum ngeledek nih. Mana muat baju kamu di aku, Num. Aku kan pakai nya serba XL.." keluh Tari.


"Ahahahaha.. derita Lo, Tar!" Ledek Kania kembali.


"Udah ah! Kita berangkat sekarang yuk. Mumpung masih pagi."


Dan akhirnya, ketiga remaja putri itu pun berangkat jogging, setelah sebelumnya melakukan pemanasan singkat di depan rumah.


***

__ADS_1


__ADS_2