
Flashback 6 tahun yang lalu.
Nama ku Titan. Kependekan dari Titanium. Ya. Bapak ku sengaja memberiku nama seperti unsur kimia yang bernomor atom 22 dalam Tabel Periodik Unsur itu.
Menurut Bapak, Titanium adalah logam yang paling bermanfaat, selain juga tahan karat, dan kuat seperti beberapa baja (dalam keadaan murni nya) namun lebih ringan.
Bapak ku sebenarnya hanya lah seorang kuli bangunan. Namun kecintaannya pada sains membuat ku harus memiliki nama yang berbau sains pula.
Begitu pun juga dengan adikku satu-satunya, Hafsah. Hafsah memiliki nama panjang Hafsah Selenium.
Menurut ibu, tadinya nama Hafsah hanya Selenium saja. Namun karena ibu ngotot ingin menambahkan nama lain yang normal, akhirnya ditambah lah nama Hafsah di depan nama adik perempuan ku itu.
Selenium sendiri adalah unsur bernomor atom 34 yang namanya sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, yakni Selene. Selene memiliki makna bulan. Unsur ini umumnya berupa mineral yang terdapat pada tanaman kacang-kacangan.
Aku sering meledeki Hafsah dengan nama belakang nya itu. Dari Selenium menjadi 'Selai harum'. Dan aku hampir selalu dimarahi oleh ibu atas ledekan ku itu setiap kali Hafsah mengadu kepadanya.
Usia ku kini lima belas tahun. Sementara Hafsah baru enam tahun. Di usia ku yang sekarang, aku tumbuh sebagai remaja yang supel, gaul dan sedikit jahil.
Bisa dibilang aku adalah komplotannya anak-anak jahil di kota tempat tinggal ku saat ini, di kota X. Hampir semua anak-anak mengenal ku dan selalu menghindari ku. Karena mereka tak ingin menjadi objek kejahilan ku.
Sebenarnya aku tak terlalu jahil juga sih. Sesekali aku hanya suka meminta cemilan beberapa anak yang lebih kaya statusnya dari ku, atau pun memojokkan anak-anak cupu yang kelewat pendiam.
Salah satu yang sering jadi korban kejahilan ku adalah anak perempuan berumur sepuluh tahun yang bernama Ranum.
Dia adalah anak perempuan tercantik di kota tempat tinggal ku. Meski pun cantik, Ranum adalah anak yang tak sombong. Cenderung pendiam, malah. Aku sering memojokkannya ke tembok rumah tetangga ku lalu menarik-narik rambut kuncir kelinci nya yang menggemaskan itu.
Dan aku semakin gemas menjahilinya karena anak itu tak suka mengadu dan hanya berlari menjauh dalam diam. Dia mengingatkan ku pada kelinci tetangga ku yang sering kuajak main saat aku berusia lebih muda.
Sayang nya kelinci itu sudah mati sejak lama.
Suatu hari, seperti biasa, aku sedang duduk nongkrong di pinggir jalan bersama teman satu geng ku.
Suga, salah satu teman ku baru saja membeli sebungkus rokok. Rencana nya kami hendak lomba menghisap roko. Siapa yang paling kuat dan banyak menghabiskan roko, maka dia lah pemenang nya.
Hadiah dari lomba konyol ini adalah ditraktir bermain PS 5 sepuas-puasnya. PS 5 adalah permainan komputer di rental yang sedang populer saat itu. Uang rental nya dikumpulkan dari orang-orang yang kalah lomba menghisap rokok.
Usai berlomba, ternyata yang menang adalah Suga. Memang dasar bocah te ngik itu sudah sering menghisap rokok bapak nya. Jadi wajar lah jika dia yang menang.
Tapi bagaimana pun juga janji tetaplah janji. Karena nya aku dan ketiga teman ku lainnya yang juga kalah, harus mengumpulkan uang bersama untuk hadiah Suga pergi ke rental dan bermain PS 5.
Aku merutuk kesal. Ku pikir tadi aku bisa menjadi pemenang nya. Jadi aku pun akhirnya kebingungan kini. Karena di antara teman-teman ku yang lain, aku lah yang status kekayaan orang tua nya paling miskin.
__ADS_1
Jadi aku pun harus memutar otak untuk mendapatkan uang iuran hadiah nya Suga. Dan aku terpikir untuk menggunakan keahlian ku saja. Yakni memalak anak-anak kecil lainnya. Hahaha.
Sebenarnya, aku tak pernah sembarangan memalak orang sih. Aku memiliki aturan ku sendiri dalam melakukan aksi memalak ini.
Pertama, dia adalah anak orang yang kaya atau mampu. Dan kedua, aku tak akan memalak semua uang milik anak itu. Yah.. anggap saja aku menagih sedekah yang seharusnya mereka berikan kepada orang-orang tak mampu seperti ku, bukan?
Sore itu, aku sedang menyeleksi anak-anak yang melewati jalan di depan ku. Sampai kemudian akhirnya ku temukan juga target anak yang akan menjadi objek aksi memalak ku.
Dia adalah Ranum. Anak sulung dari pasangan suami istri pekerja konveksi di kampung ku.
Di kampung tempat tinggal ku, pekerja konveksi memiliki penghasilan yang lumayan besar. Terbesar kedua setelah profesi pekerja malam.
Aku pun sering mendapati Ranum dan adik nya membeli es krim di warung Teh Yati. Sebuah jajanan yang terbilang mewah bagi anak-anak yang tinggal di perkampungan ku yang kumuh ini .
Jadi Ranum dan adiknya yang bernama Kania itu menjadi salah satu objek kegiatan memalak yang kulakukan.
Sore itu, si kecil Ranum berjalan seorang diri. Padahal biasanya aku sering melihatnya berjalan berdua dengan adiknya sambil bergandengan tangan.
Aku sering dibuat tertawa setiap kali melihat duo kakak beradik itu lewat di jalan depan tempat aku biasa nongkrong. Karena tingkah Kania sangat mirip sekali dengan adikku Hafsah. Begitu manja dan menempel pada Kakak nya.
Terkadang kulihat Ranum bersusah payah menggendong Kania yang menyanyi dengan begitu riang di atas gendongan nya. Sementara Ranum hanya tersenyum tipis meski peluh di wajah nya sudah berlapis-lapis.
Sore ini si kecil Ranum berjalan sendirian sambil membawa tentengan bungkusan. Sepertinya ia baru belanja es krim dari warung Teh Yati.
Dan niat jahil ku pun langsung muncul dan memilih bocah itu sebagai target ku berikutnya.
Aku langsung saja berdiri dan meninggalkan teman-teman ku yang asik mengobrol soal PS 5. Ku hampiri si kecil Ranum yang tampak sedang bersenandung pelan.
'Hmm.. bocah yang cantik. Jika sudah besar, mestilah dia akan tumbuh jadi perempuan yang cantik juga!' pikir ku menghayal.
Dengan sigap, aku langsung mencegat langkah bocah itu. Saat melihat ku, si kecil Ranum langsung memasang ekspresi was-was. Dan aku merasa puas karena telah berhasil membuat anak kecil di depan ku itu merasa takut kepada ku.
Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung meminta uang kepadanya.
"Bagi duit!" Pinta ku memaksa.
"Jangan, Kak. Ini uang Bunda. Kalau es krim aja boleh. Tapi satu aja ya. Yang satu nya punya Kania, soalnya.." ucap si bocah dengan ekspresi takut.
"Sini deh es krim nya!" Aku menagih es krim pada nya.
Kemudian si kecil Ranum membuka kantong kresek nya untuk mengambil es krim yang akan diberikannya kepada ku.
__ADS_1
Karena tak sabar, aku pun hendak mengambil nya sendiri, karena nya kutarik paksa saja bungkusan kresek di tangan si bocah Ranum.
"Lama banget sih! Sini aku yang ambil!"
"Sebentar, Kak! Biar Ranum yang,, ehh.. jangan yang itu kak. Itu punya Nia!" Dan aku pun berebut es krim dengan si kecil Ranum.
Aku mendengar teman-teman nongkrong ku menertawai ku di belakang.
"Kacau kamu, Tan! Anak kecil main dirampok aja!" Seru Suga di belakang ku.
Aku tak menggubris omongan Suga. Karena aku sudah kecanduan untuk membuat bocah di depan ku ini menangis. Rasa-rasanya aku jarang sekali melihat anak perempuan ini menangis.
Ranum lebih sering diam dan tersenyum tipis saja. Tipikal anak yang pemalu begitu.
"Jangan, Kak! Itu punya Kania! Yang ini aja Kak!"
Si kecil Ranum berusaha mengambil es krim adik nya dari tangan ku. Namun jelas sekali aku lah yang menang. Karena tubuh ku kan jauh lebih tinggi dari nya.
Perbedaan usia kami yang lima tahun membuat perbedaan tinggi tubuh kami juga jadi lumayan jauh. Tinggi bocah itu bahkan tak sampai ke dada ku.
"Ngalah napa sih! Kan bisa beli lagi! Sana kun tet pulang!" Ejek ku tanpa belas kasih.
Tali si kecil Ranum masih terus berusaha mengambil es krim di tangan ku. Hingga perebutan es krim ini membuat posisi kami tanpa sadar bergeser hingga ke tengah jalan.
Suatu waktu sebuah motor melintas cepat menuju kami.
Aku yang membelakangi motor itu tak mengetahui adanya motor ini. Namun si kecil Ranum melihatnya.
Detik berikutnya tahu-tahu bocah perempuan itu mendorong ku sekuat tenaga ke samping. Dan aku pun refleks ikut menarik nya juga hingga akhirnya kami jatuh ke pinggir jalan dengan posisi tubuhnya yang menimpa ku.
Yang paking membuat ku terkejut adalah saat bibir kecil si bocah Ranum itu mendarat tepat di atas bibir ku.
Selama sesaat aku terpaku. Aku tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi selama beberapa menit berikutnya.
Tidak sampai Suga dan kawan-kawan ku yang lain menghampiri kami dan membantuku bangun, baru lah aku tersadar dengan apa yang sudah terjadi barusan.
Bahwa si kecil Ranum telah menolong ku dari tertabrak motor. Dan bocah itu juga telah mencuri ciuman pertama ku.
Flash back selesai.
***
__ADS_1