Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Terciduk


__ADS_3

Flash back di hari pembagian raport..


Setelah jajan bersama Tika dan yang lainnya di kantin, Ranum pamit pulang terlebih dulu.


Sebelum ia benar-benar pulang, Ranum sempat dibuat heran sekaligus risih saat beberapa teman lelaki di kelas nya menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Namun Ranum menolak semua ajakan itu dengan dalih kalau ia akan pulang berdua dengan adik nya.


Akhirnya Ranum pun keluar dari kantin setelah berhasil membuat beberapa teman lelaki di kelas nya itu kecewa. Namun Ranum tak ingin memusingkan hal itu. Ia menganggap mestilah ini mereka lakukan untuk menyelamati nya saja sebagai juara kelas.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, beberapa teman lelaki Ranum mulai tertarik untuk berhubungan lebih dekat dengan gadis itu. Hal ini terjadi setelah mereka melihat senyum manis nya Ranum saat menerima raport tadi.


Aneh? Yah.. memang terkadang rasa suka itu bisa bermula dari kejadian yang aneh bukan?


Kembali ke Ranum yang kini melangkah kan kaki nya menuju kelas Kania. Sebelum ke kantin tadi, Kania sempat mengatakan padanya untuk menunggu nya pulang. Karena ada hal yang hendak Kania lakukan terlebih dulu.


Setelah lima belas menit menunggu Kania di kantin, Ranum khawatir juga karena ia tak kunjung melihat sang adik menemui nya di kantin. Padahal mereka telah berjanji untuk bertemu di sana. Akhirnya Ranum pun memutuskan untuk pergi ke kelas Kania.


Dan, di dekat pintu ruang kelas itu lah Ranum menyaksikan sesuatu yang tak sepatutnya ia lihat. Karena Ranum melihat di pojokan kelas yang tersembunyi, Kania sedang berci uman dengan seorang teman lelaki nya.


Dengan spontan, Ranum pun memanggil nama sang adik.


"Kania!"


Seketika itu pula dua sejoli yang sedang memadu kasih itu pun langsung saling menoleh ke arah pintu. Di mana Ranum menatap sang adik dengan pandangan kecewa.


Kania yang terlihat gugup langsung berdiri dan mendekati Ranum.


"Kak! Ini.. kita cuma.." Kania tampak kebingungan merangkai kata. Sementara itu Ranum memberikan pandangan tak suka pada lelaki yang kini terlihat malu-malu dan tak berani membalas tatapan nya.


"Kita ngobrol di luar. Sekarang juga!" Ucap Ranum dengan suara pelan tetapi tegas.


Ranum merasa bingung, kesal, dan sangat kecewa.


Padahal Nida telah sering mengajarkan kepada Kania dan Ranum tentang adab berhubungan dengan lawan jenis. Tentang penting nya menjaga diri dari sentuhan lelaki yang belum jadi mahram nya mereka.


Lalu kini Ranum melihat Kania begitu mudah nya melempar semua nasihat sang ibunda, dan malah asik berci uman dengan lelaki yang bukan mahram nya.

__ADS_1


Ranum menunggu Kania sedikit agak jauh dari pintu kelas nya Kania. Dalam hati nya ia beristighfar berkali-kali. Mencoba untuk menenangkan diri agar ia tak larut dibawa emosi saat dirinya bicara dengan Kania nanti.


Tak lama kemudian Kania muncul di dekat Ranum.


Ranum menyelidik penampilan sang adik lebih lekat lagi. Kemeja putih sang adik terlihat sedikit berantakan dan sudah keluar dari garis pinggang rok nya.


Ranum teringat dengan apa yang dilihat nya dalam ruangan kelas tadi. Ia melihat tangan pemuda tadi sempat menelusup masuk ke balik kemeja sang adik.


'astaghfirullahal 'azhiim..!' Ranum beristighfar dalam hati.


Ia memejamkan kedua mata nya untuk sesaat. Sebelum menatap kembali adik satu-satu nya itu.


"Banyak hal yang harus kita omongin, Dek. Kita perlu cari tempat yang lebih privat," ucap Ranum bernada dingin.


...


Keduanya lalu ke sebuah ruangan kelas lain yang kosong. Di sana lah akhirnya Ranum menginterogasi sang adik.


"Siapa tadi itu, Ya? Pacar kamu? Kamu tahu apa yang tadi kamu lakuin itu, Dek?" Tanya Ranum dengan pandangan yang menyimpan kecewa pada kelakuan sang adik.


"..iya kak. Tadi itu Reno, pacar baru nya Nia. Dia yang sering anterin Nia pulang, Kak," Kania mengaku.


"Sejak kapan kamu pacaran sama dia? Kamu kok gak cerita ke kakak sih Dek? Dulu waktu sama Tegar kamu cerita ke Kakak.." tuduh Ranum.


"Soal nya.. Kania tahu, pasti Kak Anum gak akan setuju kalau Nia pacaran lagi. Kakak kan anti banget ke cowok kayak nya," ujar Kania.


"Kakak enggak anti cowok, Dek. Kakak cuma ikutin nasihat Bunda aja. Kamu ingat kan apa kata Bunda soal menjaga kehormatan wanita? Kita itu anak cewek, Dek. Harus hati-hati bersikap terhadap anak cowok. Kita gak boleh biarin orang lain menyentuh beberapa bagian tubuh kita sembarangan. Tapi kamu malah..!"


Ranum tak snaggup mengatakan apa yang ingin dikiatakan nya. Bahwa ia tadi sempat melihat tangan lelaki yang bernama Reno itu berada di balik kemeja putih sang adik.


Pandangan Kania masih tertunduk saat ia bergumam dengan suara pelan.


"Kita tahu batasan kok, Kak. Kita gak ngelakuin yang aneh-aneh.."


"Gak aneh-aneh gimana, Dek! Jelas-jelas kakak ngelihat tangan cowok tadi masuk ke dalam baju mu! Jangan bohong sama Kakak!" Ucap Ranum dengan cukup gusar.

__ADS_1


Kania tersentak kaget. Ia tak menyangka kalau kakak nya ternyata menyadari apa yang dilakukannya bersama Reno tadi secara mendetail.


Dan Kania juga tak menyangka kalau Ranum akan semarah itu pada nya. Selama ini ia tak pernah melihat sang kakak semarah ini.


Seketika itu pula mata Kania memerah dan berembun. Dua bulir air mata pun meluruh turun ke kedua pipi kecokelatan gadis itu.


"Kak Anum.." panggil Kania dengan suara terisak.


Ranum memalingkan wajah nya ke arah yang lain. Ia paling tak tega jika melihat Kania menangis seperti ini.


Sedari mereka masih kecil, bila ia melihat Kania menangis, Ranum akan langsung berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangis sang adik.


Tapi nyatanya kali ini justru ia sendiri lah yang telah menyebabkan sang adik menangis.


Meski bagitu, Ranum tak menyesal atas apa yang telah dikatakannya kepada Kania. Ia merasa berkewajiban untuk menegur dan mengingatkan sang adik. Kalau kali ini adik nya itu memang telah berbuat salah.


"Kamu tahu kan Dek, kalau apa yang kamu lakukan berdua tadi sama Reno itu perbuatan dosa? Dosa Dek.. Dosa..dan kamu ingat juga kan Dek, kalau apa yang kita lakukan sebelum kita menikah itu akan berimbas juga ke Ayah dan Bunda? Dosa yang kita lakukan saat ini bisa juga ditimpakan ke Ayah dan Bunda kan, Dek.. tega ya kamu!" Tuding Ranum dengan amarah yang tak lagi mampu ia tahan.


Seketika itu pula Kania menghambur dan memeluk pinggang Ranum yang duduk di hadapan nya.


"Ampun, Kak.. Nia minta maaf.. Nia janji gak akan ulangin lagi.. tolong jangan bilang ke ayah dan Bunda ya kak..?" Pinta Kania di sela isak tangis nya yang terurai.


Selama beberapa saat Ranum tak menyahuti permintaan sang adik. Ia masih sibuk menetralkan amarah yang menguasai hati nya saat ini.


Sungguh, ia sangat kecewa pada sang adik. Namun tetap, ia masih akan selalu menyayangi Kania, karena bagaimana pun juga Kania adalah saudara satu-satu nya di dunia ini. Meskipun mereka bukan lah saudara sedarah.


Hhh.. Setelah beberapa lama, Ranum akhirnya merasa lebih tenang. Dan ia akhirnya bicara kembali.


"Oke. Kakak akan tutup mulut untuk sekali ini, ya, Ya. Tapi kakak minta kamu koreksi diri dan pikirin sendiri apa yang sebaiknya kamu lakuin ke depannya nanti," ucap Ranum.


"Maksud kakak?" Tanya Kania yang kebingungan.


"Cowok yang baik, justru akan membantu cewek nya untuk menjaga diri dari sentuhan yang diharamkan. Itu sih pendapat Kakak. Coba Kania pikirkan sendiri, apakah Reno termasuk dalam kriteria cowok yang baik atau enggak," ucap Ranum dengan lugas dan lagi tegas.


Flashback selesai.

__ADS_1


***


__ADS_2