Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Bully


__ADS_3

Keesokan harinya, Ranum dan Kania berangkat ke sekolah di jam yang sama. Ketika keduanya berangkat, nampak Kania merengut saja.


"Kenapa sih, Nia? Manyun melulu," Tanya Ranum perhatian.


"Kakak nyebelin ah. Ngapain coba balik model rambut ke ekor kuda lagi. Sisirnya belah tengah pula! Sia-sia deh tangan ajaib Nia kemarin bekerja," Gerutu Kania.


"Duilee ampe segitunya pingin lihat Kakak tampil cantik. Udah Kakak gini aja lah. Kania aja yang tampil cantik. Jadi kamu enak dong gak punya saingan," Goda Ranum.


"Gak asyik ah Kakak mah. Besok-besok jangan nangis ya kalo cowo yang Kakak suka malah balik sukanya ke Kania!"


"Iyaa..iya.." Jawab Ranum dengan asal.


Dan sepanjang hari itu, hingga hari ketiga MOS, Ranum tak lagi mendapat perhatian berlebih seperti hari kemarin.


Hanya Tika yang berani mengomentari perubahan penampilannya yang kemudian dijawab Ranum dengan jawaban,


"Kemarin kena prank adek. Jadi didandanin sesuka dia."


Tika menerima jawaban Ranum. Dan ia tak merubah sikapnya. Keduanya masih baru membangun hubungan pertemanan mereka.


Dari obrolan-obrolan mereka, Ranum mengetahui kalau Tika adalah seorang Budhist, penganut agama Budha.


Tika adalah anak bungsu dari empat saudara perempuan. Rumahnya amat dekat, berada di gang sempit samping sekolah. Tika adalah pribadi yang ramah, supel, serta suka melukis.


Pelaksanaan MOS berakhir di hari ke tiga. Dari sekian banyaknya ekskul yang menunjukkan isi kegiatannya, Ranum tertarik untuk mengikuti ekstrakurikuler Musik dan ekstrakurikuler ROHIS (Rohaniawan Islam).


SMAN 2 kota Y memang mewajibkan siswa/siswinya untuk mengikuti minimal dua ekstrakurikuler dan maksimal empat ekstrakurikuler. Sementara Tika mengikuti ekskul Seni rupa dan ekskul PMR.


Dan besok lusa, dimulailah masa seragam putih abu-abu bagi Ranum, Kania, dan teman sejawatnya.


***


Ini adalah hari Minggu. Besok hari pertama masa putih abu-abu Ranum akan dimulai.


Kini Ranum sedang menyapu teras sementara Kania menyapu di halaman belakang. Bunda sedari jam delapan sudah berangkat ke butik Almeer.


Sementara Ayah sedang menjahit di ruang tamu. Terdengar jelas suara mesin jahit lama saat dipakai Ayah menjahit baju.


Selepas menyapu, Ranum mengepel dan barulah akhirnya ia beristirahat sejenak di serambi rumah. Di saat itulah tiba-tiba terdengar rengekan Tari yang baru saja datang di halaman.


"Anum.. hiks. Tari mau sekolah di SMAN 2 aja ah. Sedih sekolah di Pinang mah. Gak ada temen."


Tari lalu mengambil kursi duduk di samping Ranum dan ikut menyomot pisang goreng yang ada di piring.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum! Ehh, ada bu Dayang. Kenapa Bu? Muka suntuk amat."


Suara Kania tiba-tiba terdengar di muka pintu. Ia lalu duduk di sisi lain Ranum dan ikutan menyomot pisang goreng.


"Gak usah banyak bacot dah Lu. Gua lagi sedih nih. Gua gak punya temen sebangku di kelas. Gak ada temen yang mau ngajak ngobrol. Tiap kali gua ajak kenalan, orang-orang malah pada mundur teratur. Tauk kenapa kali ya?" Keluh Tari.


"Karena Lu bau kali!" Seloroh Kania.


"Hush! Asem kecut! Serius gak pake becanda deh lu. Beneran ini mah gua sedih banget. Apa karena..." Tari nampak ragu-ragu meneruskan kalimatnya.


"Kenapa Rie?" Tanya Ranum pelan.


"Apa karena Tari gendut ya? Anak-anak cowok sering ketawa gitu sambil ngelihatin Tari. Anak-anak cewek di kelas juga pada bisik-bisik gak jelas. Sedih.. huaa.." Tari tersedu-sedu merengkuh pundak Ranum. Yang dipeluk, langsung balas menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Kania lalu beranjak bangun dan memeluk kepala Tari sekilat waktu. Lalu ia duduk di samping Tari. Ia terdiam. Tak tahu harus menghibur dengan cara bagaimana.


Selama beberapa waktu suasana hening. Hanya terdengar sedu sedan pelan dari Tari. Sampai kemudian terdengar suara Ayah di muka pintu.


"Ehh, ada Tari main. Udah lama Tar? Pada ngapain ini? Pelukan Teletubbies?" Canda Ayah.


Tari bersegera menghapus jejak air matanya. Lalu bangun menghampiri Ayah Nanda tuk salim dan kembali duduk di tempatnya tadi.


"Tari baru dateng, Yah. Hiks.."


"Lho kok. Tari nangis?" Tanya Nanda kembali.


Yang ditanya malah diam. Malu karena ketahuan Ayah menangis. Kania lah yang menjawab pertanyaan ayahnya.


"Bully!? Bener Tar? Ama siapa? Sini biar Ayah hadapin orangnya!" Cecar Nanda dengan berapi-api.


Tari masih merasa malu tuk menjawab. Tapi dalam hatinya ia terharu karena Ayah peduli padanya.


Ketika Tari menceritakan keluhannya pada Papanya untuk pindah sekolah, ia malah mendapat nasihat panjang lebar.


Papa bicara tak jelas soal menjadi anak yang tangguh dan mandiri. Hiks. Tari merasa Papa tak mengerti apa yang ia alami.


"Jadi gini, Yah. Tari sedih karena temen-temen kelasnya gak ada yang mau deket sama dia. Padahal dia sering ngajak ngobrol, tapi malah dicuekin. Terus dia sering ngerasa temen-temennya ngomongin dia sambil bisik-bisik. Itu yang bikin Tari pingin pindah sekolah," Jelas Ranum.


"Astaghfirullahal'azhiim.. " ujar Ayah.


Ayah lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil bangku tempat ia biasa menjahit. Kemudian ia meletakkan bangku itu sekitar satu meter di depan trio remaja putri itu untuk kemudian duduk di sana. Perlahan, ayah berkata.


"Tari yang sabar ya. Mungkin teman-teman Tari belum kenal kalo Tari tuh anak yang baik, senang menolong, ramah dan setia. Makanya Tari jangan bosen untuk terus menyapa dan mengajak obrol mereka. Nanti lama-lama juga mereka kenal Tari."


Nanda berhenti sejenak. Dilihatnya Tari dan kedua putrinya menyimak dengan khidmat. Kemudian Nanda lanjut memberi nasihat.

__ADS_1


"Tentang bisik-bisik, usahakan untuk tidak berprasangka yang gak baik ya Tar. Kan kata ustadz juga sebagian prasangka itu dosa. Tetep berpikiran positif dan terbuka. Tetep tebarin senyuman Tari yang bikin orang ikut ceria. Kalo masih ada yang suka bisik-bisik di belakang Tari, ya cuekin aja,"


"Kita gak bisa maksain semua orang untuk suka sama kita. Pasti ada aja orang yang gak suka, walau kita udah berbuat baik,"


"Tapi Tari mesti inget. Kalo Allah selalu mengumpulkan orang baik dengan orang baik. Dan orang jahat dengan orang jahat. Jadi yang penting Tari terus bersikap dan berbuat baik,"


"Yakin deh, Allah akan kasih temen yang baik juga buat Tari. Allah jauhin Tari dari temen-temen yang enggak baik," tutur Ayah panjang lebar.


"Aamiin.." ucap Tari, Ranum dan Kania berbarengan.


"Tapi, Yah. Sedih kan kalo gak punya temen.. gak punya temen sebangku.. Tari ceritain ke Papa soal ini, tapi Tari malah kena omel. Dibilang Tari harus tangguh lah. Mandiri lah.." keluh Tari perlahan.


Nanda diam selama sejenak. Sebelum akhirnya lanjut bicara.


"Di sinilah perlunya Tari untuk bersabar. Anggap aja ini ujian dari Allah buat Tari. Tari bisa sabar gak? Bisa tetep jadi Tari yang ceria gak? Kalo Tari tetep sabar untuk selalu ceria dan berbuat baik ke temen-temen yang bully Tari, Tari bakal lulus. Dan jadi anak yang tangguh sekaligus mandiri seperti yang disebut Papa Tari,"


"Jadi Papa Tari ada benernya juga lho. Papa Tari pingin Tari jadi lebih mandiri. Lebih tangguh lagi. Jadi nanti ketika Papa dan Mama Tari ga ada di samping Tari, mereka ga akan cemas soal Tari lagi. Soalnya Tari bisa hadapi semua masalah dengan baik. Mereka sayang sama Tari."


Tari masih menunduk. Lamat-lamat ia mencerna ucapan Nanda.


"Tapi Tari gendut Yah.. makanya temen-temen pada ngejauh," Keluh Tari lagi dengan suara pelan.


"Tari.. teman yang baik gak akan mandang fisik atau kekayaan atau kepintaran kita. Mereka akan menerima diri kita apa adanya,"


"Jadi kalo mau cari teman baik, carilah yang mau nerima kelebihan dan kekurangan Tari. Biarkan mereka yang gak mau temenan ama Tari. Yang penting Tari nya udah ngajak temenan kan."


"Udah Yah.." jawab Tari.


"Nah. Bagus. Kalo udah bersikap baik, bersabar dengan balasan sikap temen-temen, Tari tinggal jadi anak yang tangguh. Jangan bersedih. Apalagi sedih untuk temen-temen yang gak peduli sama Tari. Sayang banget kan air matanya," "Buktiin ke mereka kalo Tari anak yang cemerlang. Terima mereka yang mau nerima Tari apa adanya. Udah. Happy aja. Nikmatin masa-masa SMA nya. Gak bakal terulang lagi lho.. buat hari-hari kalian jadi menyenangkan dan bermakna. Oke semua!"


"Iya, Yah." Jawab ketiganya bersamaan.


Beberapa detik kemudian terdengar adzan zuhur berkumandang.


"Tuh. Alhamdulillah udah adzan. Ayah shalat dulu ya. Kalian juga shalat dulu. Shalat di awal waktu itu pahalanya besar."


"Iya Ayah. Makasih ya Yah.." jawab Tari.


"Ya, Ayah," jawab Kania.


"Ya, Ayah. Habis adzan selesai, insya llah langsung shalat deh."


Dan Nanda pun masuk ke dalam rumah. Sementara ketiga remaja putri itu khusyu mendengarkan suara adzan yang terdengar syahdu.

__ADS_1


Suara indah yang memanggil para hamba-Nya untuk kembali menghadap Rabb-nya.


***


__ADS_2