
Di perjalanan pulang membonceng ke motor nya Adnan, Ranum tak banyak bicara. Hanya sesekali Adnan menanyai nya pertanyaan seputar keluarga Ranum. Namun Ranum selalu menjawab dengan jawaban yang singkat dan padat.
Ranum merasa risih. Bagaimana pun juga ini adalah pengalaman pertama nya memboncneg ke teman cowok. Rasanya Ranum gugup sekali. Takut terlihat oleh orang-orang yang ia kenal, saat ia duduk berduaan di atas motor bersama Adnan.
"Anum, duduk nya jangan jauhan gitu. Saya gak rabies atau penyakitan kok," tutur Adnan di awal mula mereka baru pulang dari rumah Tika.
Jawaban Ranum saat itu hanya lah, "Gak apa-apa. Aku lebih nyaman duduk begini, Nan."
Setelah beberapa lama motor melaju, Adnan kembali menyadari sesuatu yang salah dari sikap duduk Ranum.
"Ranum, kamu kok gak pegangan ke pinggang saya? Cepat pegangan! Bahaya kalau tiba-tiba saya harus nge rem mendadak kan?" Nasihat Adnan ke sekian kali nya.
"Gak apa-apa, Nan. Anum udah pegangan kok ke motor nya."
Yang dimaksud pegangan oleh Ranum adalah batang besi yang menjadi body di bagian belakang motor.
Dan setelah sampai di dekat rumah Ranum, tiba-tiba saja gadis itu langsung meminta Adnan untuk berhenti. Padahal mereka belum sampai di depan rumah nya Ranum.
"Nan! Aku turun di sini!" Ucap Ranum.
"Ini kan masih di pinggir jalan, Num. Rumah kamu masuk gang situ?" Tanya Adnan seraya menunjuk ke sebuah gang kecil.
"Iya. Makasih ya, Nan!" Ucap Ranum terburu-buru.
"Kalau gitu biar saya antar sampai ke dalam, Num. Nanggung banget kan?" Tawar Adnan.
"Gak apa-apa, Nan. Tinggal jalan sebentar doang kok," tolak Ranum dengan senyuman canggung.
"Oh. Ya udah deh kalau gitu. Saya pergi duluan ya, Num!" Pamit Adnan.
"Iya. Makasih ya, Nan," ucap Ranum sebelum akhirnya berbalik jalan menuju rumah nya.
***
Begitu sampai rumah, Ranum langsung lari ke kamar mandi. Saat itu, kondisi rumah masih kosong karena Ayah, Bunda dan juga Kania yang belum pulang.
Dengan terburu-buru, Ranum lalu mengambil wudhu. Ia hendak menunaikan shalat zuhur yang belum sempat dilakukan nya.
Berada di rumah Tika yang Budhist membuat Ranum merasa segan untuk ikut menumpang shalat di sana. Lagi pula, Tika tak mungkin juga mempunyai mukenah bukan?
Sayang nya, baru juga selesai wudhu, terdengar suara adzan di kejauhan.
"Allahu Akbar! Allaahu Akbar!"
"Aduh.. udah masuk waktu ashar. Terus gimana ini ya?" Gumam Ranum kebingungan.
Pada akhir nya, Ranum hanya melaksanakan shalat ashar saja jadi nya. Ia telah lalai dan tak menunaikan shalat zuhur hari ini.
Setengah jam kemudian, Kania pulang. Kania diantar pulang hingga ke depan rumah oleh seorang pria.
"Assalamu'alaikum, Kak!" Sapa Kania pada Ranum yang sedang menyapu rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warohmatullah.. tadi diantar siapa, Ya?" Tanya Ranum.
Kania kemudian duduk di sofa ruang TV.
"Dih Kakak. Baru juga datang udah langsung main interogasi-interogasi an aja. Capek banget nih, Kak. Setengah jam an lebih kan Nia ikut ngebonceng ke Ardi," tutur Kania separoh mengeluh.
"Jadi, nama nya Ardi toh. Dia teman sekelas Nia ya? Muka nya udah dewasa banget tapi..." Ranum berkomentar.
"Kok kakak bisa komentar gitu? Kan Kakak ada di dalam rumah? Hayo.. hayo ngaku. kakak tadi ngintipin teman Nia ya…? Hihihi,"
Ranum lalu terlihat salah tingkah. Ia kemudian langsung berpaling untuk lanjut menyapu teras.
"Sebentar aja sih lihat nya. Tadi niat nya cuma nengok aja lewat jendela. Eh, Ya. Nanti tolong angetin lauk pauk ya. Kakak mau ngepel terus mandi," titah Ranum sambil mengalihkan topik.
"Oke, Kakak ku yang cantik.. O ya. Pesanan Nia mana Kak?" Tanya Kania kemudian.
"Ada di atas meja di kamar."
"Berapa Kak?" Tanya Kania kembali.
"Udah gak usah lah. Anggap aja itu hadiah ultah kamu. Sebentar lagi kan kamu ultah?" Kilah Ranum.
"Wahh.. makasih Kak Anum ku yang cantik nan baik hati.. tapi bisa gak ini tuh hadiah aja.. kalau hadiah ultah nya nanti Kakak beliin lagi buat Nia?" Bujuk Kania.
"Hmm.. bisa dipikirkan lah nanti. Udah sana mandi duluan, Ya!" Titah Ranum kemudian.
"Siap! Ibu Boss!"
***
Ranum sedang makan bersama Kania, Ayah Nanda dan juga Bunda Nida. Usai makan, Ranum langsung saja melontarkan pertanyaan pada Ayah, nya.
"Ayah.. tadi Anum gak sempat shalat zuhur. Keburu masuk waktu ashar. Gimana ya yah?" Ungkap Ranum dengan jujur.
"Kok bisa gak sempat, Num?" Tanya Ayah.
"Tadi itu.."
Dan Ranum pun lalu menjelaskan kondisi yang membuat nya tak sempat menunaikan shalat zuhur. Setelah selesai, Ayah lalu berkata.
"Seharusnya, Anum tadi menyempatkan untuk shalat dulu di mushola sekolah," tegur Ayah.
Ranum langsung tertunduk lesu mengingat kelalaiannya tadi.
"Iya, Yah. Anum lupa. Tadi buru-buru juga sih."
"Atau Anum bisa cari mushola di dekat rumah Tika kan juga bisa," kembali Ayah memberikan saran nya.
"Hmm.. iya juga sih, Yah."
"Semisal gak memungkinkan, dan kejadiannya kayak tadi. Terlanjur masuk waktu ashar. Anum juga tetap bisa melakukan shalat zuhur. Tapi dijamak sama shalat ashar."
__ADS_1
"Dijamak?"
"Iya. Di jamak itu maksudnya mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu. Contoh nya zuhur ke ashar atau ashar ke zuhur. Bisa juga shalat maghrib ke isya, atau isya ke maghrib," tutur Nanda menjelaskan.
"Maksud nya, Yah?" Tanya Ranum yang masih tak mengerti.
"Jadi Anum shalat zuhur dulu terus dilanjut shalat ashar. Tapi nanti niat shalat nya beda ya. Soal nya Ranum kan shalat zuhur nya di waktu shalat ashar ya."
"Ooh.. gitu. Bisa gitu ya, Yah?"
"Iya, Num. Islam kan agama yang selalu memberikan kemudahan bagi pemeluk nya dalam beribadah. Maksud dibolehkannya menjamak shalat ini juga karena dulu ketika zaman baginda rasul saw. Para sahabat kan sering melakukan perjalanan jauh. Istilah nya jadi musafir."
"Nah.. karena perjalanan yang jauh, akhirnya diperbolehkan lah melakukan shalat jamak ini, Num. Tujuan nya untuk memudahkan para musafir yang sedang bepergian, agar tetap bisa menunaikan shalat nya di mana pun ia berada," papar Nanda panjang lebar.
"Jadi lain kali, Anum udah tahu kan harus bagaimana kalau menghadapi situasi seperti tadi?" Celetuk Bunda dari seberang meja.
Ranum tersenyum malu.
"Tahu, Bun. Lain kali Ranum harus ingat untuk shalat dulu di mushola sekolah, sebelum pergi latihan ke rumah nya Tika," ucap Ranum menyimpulkan.
"Cerdas sekali!" Puji Bunda.
Setelah beberapa lama, tiba-tiba saja Bunda menoleh ke Kania yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kania. Kalau kamu siang tadi shalat zuhur kan, Nak?" Tanya Bunda tiba-tiba.
Kania yang ditodong pertanyaan itu langsung kebat-kebit terlihat malu pula.
Akhirnya ia pun ikut berkata jujur.
"Nia juga gak sempat shalat, Bund.. lupa. Soalnya tadi Nia pergi melayat dulu sih!" Ucap Kania buru-buru untuk membela diri.
"Melayat ke mana, Ya?" Tanya Ayah.
"Ke rumah teman sekelas Kania, Yah. Mama nya meninggal."
"Innalillahi wainna ilaihi raaji'uun.." ucap Nanda dan Nida berbarengan.
"Sakit kah?" Tanya Ayah lagi.
"Bukan, Yah! Katanya sih diguna-guna sama orang!" Ungkap Kania dengan suara berbisik. Seolah takut didengar oleh orang lain.
"Astaghfirullahal 'azhiim.." tutur Nanda dan Nida kembali berbarengan.
"Memangnya bisa ya Yah, guna-guna in orang sampai mati?" Tanya Kania penasaran.
"Wallahu a'lam Nak. Yang jelas, hidup dan mati nya kita sudah ditentukan oleh Allah swt. Bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini. Adapun orang yang melakukan sihir dan bersekutu dengan makhluk jin, mereka sungguh sudah melakukan perbuatan dosa yang sangat besar," papar Nanda.
"Iya. Itu syirik nama nya. Dosa syirik adalah satu-satu nya dosa yang tak akan diampuni oleh Allah swt. Terkecuali dengan taubatan nasuha. Taubat yang sebenar-benar nya taubat!" Nida menambahkan dari sisi meja yang lain nya.
"Ooh.." koor Ranum dan Kania berbarengan.
__ADS_1
***