Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Cerita Aditya bag. 2


__ADS_3

"Sampai akhirnya Mas bertemu dengan mu di kafe itu. Dan pandangan Mas mulai sedikit berubah karena ucapan mu soal integritas dan loyalitas terhadap kebenaran itu," lanjut Aditya bercerita.


"Lalu kamu melahirkan. Tapi Mas kemudian menyadari kalau kamu terlalu fokus pada kedua bayi mu. Dan itu membuat Mas cemburu.. kamu memang terlalu sibuk mengurus dua bayi, sehingga kamu memutuskan untuk berhenti bekerja di kafe dan memilih untuk berdagang kue agar bisa intens mengurus bayi mu itu."


"Adek dulu tinggal sendirian, Mas, waktu melahirkan anak-anak?" Tanya Rahayu.


Aditya menoleh singkat.


"Ya. Tapi dulu ada seorang nenek-nenek yang ikut membantu mu merawat anak-anak. Kalau sekarang sih orang nya mungkin sudah meninggal," Aditya menerangkan.


"Terus?"


Aditya tiba-tiba saja terlihat gugup. Rahayu pun bisa merasakan tangan suami nya itu mendingin dalam genggaman nya.


Beberapa kali Aditya berusaha untuk melepaskan tangan Rahayu, namun Rahayu tetap memggenggam tangan Aditya.


"Katakan saja, Mas. Adek akan mendengarkan cerita Mas sampai akhir. Adek berjanji!" Ujar Rahayu.


Setelah menghela napas beberapa kali, barulah akhirnya Aditya melanjutkan kembali pembicaraan mereka.


"Terus Mas terpikirkan satu hal yang jahat. Jahat banget. Mas bahkan berpikir kalau kejahatan Mas itu akan sulit untuk kamu maafkan."


"... Kejahatan apa itu, Mas?" Tanya Rahayu sedikit ragu.


Entah kenapa Rahayu merasa ikut gugup seperti sang suami. Apa yang akan diucapkan oleh Aditya di detik berikut nya mungkin akan menjawab salah satu pertanyaan yang bercokol di benak wanita itu.


"Mas memerintahkan kepada anak buah Mas untuk membuat mati salah satu bayi kamu, Dek. Agar kamu tak terlalu sibuk dan mengabaikan Mas lagi."


"..."


"..."


"Apa?!" Rahayu tersentak kaget.


Secara spontan, ditarik nya tangan nya dari menyentuh jemari Aditya. Sebongkah emosi sedih dan marah langsung menyelimuti benak dan pikiran nya saat itu juga.


Aditya melihat reaksi buruk dari sang istri. Sehingga ia pun terburu-buru melanjutkan ucapan nya.

__ADS_1


"Tapi itu tak jadi Mas lakukan, Dek! Mas tak jadi membunuh bayi mu! Mas akhirnya hanya menyuruh dokter membuat laporan kematian pada salah satu bayi. Dan membuat bayi itu tampak mati selama satu jam,"


"Lalu saat itu juga kita langsung menguburkan bayi itu,"


"Maksud Mas, Mas menguburkan bayi Adek hidup-hidup?!!" Amuk Rahayu tak tertahankan.


"Bukan!! Maksud Mas. Mas membuat kamu melihat seolah bayi itu lah yang dikuburkan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah yang dikubur itu adalah bantal. Semua orang yang terlibat dalam prosesi penguburan itu adalah anak buah Mas. Jadi rahasia itu aman tak terbongkar," ucap Aditya mulai panik.


"Terus di mana bayi nya Adek? Tunggu dulu, adek tebak. Apa itu adalah bayi lelaki nya Adek?" Tanya Rahayu.


"Ya. Dia memang bayi lelaki mu, Yu. Mas menyuruh Jeff menempatkan nya di sebuah panti asuhan."


"Panti asuhan?!"


"Ya.. itu.. Mas takut kalau rahasia itu akan terbongkar. Jadi Mas memutuskan untuk menempatkan nya di sana."


"Tidak kah Mas berpikir kalau aku akan sangat membenci Mas karena hal itu?!" Rahayu setengah meneriaki Aditya di dalam mobil.


Aditya terlihat merasa bersalah. Dalam posisi duduk di dalam mobik dan menghadap ke arah sang istri, Aditya lalu menjawab pertanyaan Rahayu tadi.


"Ya.. Mas sempat terpikirkan hal itu. Tapi karena saat itu Mas sangat tak menyukai keberadaan bayi itu, jadi Mas tetap memaksa untuk melakukan nya."


Aditya kembaki mengangkat wajah nya. Menatap wajah sang istri yang masih terlihat merah padam oleh amarah.


"Kita sudah sering ke sana, Dek. Dan kita juga sudah menjemput kembali anak lelaki mu itu," ungkap Aditya.


"...maksud, Mas?!" Rahayu membulatkan kedua mata nya.


Sebuah dugaan menyasar ke dalam pikiran nya terkait ucapan Aditya barusan.


"Adnan adalah anak kandung mu, Dek.. bukan kah itu terlihat begitu jelas?" Ungkap Aditya pada akhirnya.


JDARR!!


Rahayu kembaki tersentak oleh fakta lain yang sungguh mengejutkan itu.


"A.. adnan adalah anak kandung ju, Mas?" Tanya Rahayu setengah tak percaya.

__ADS_1


"Ya. Dia memang benar anak kandung mu, Dek. Tidak kah kamu merasakan nya sendiri saat pertama kali kamu melihat nya di panti? Bukan kah kamu mengatakan nya kepada Mas kalau kamu merasa seperti sudah mengenal lama, anak itu?" Tanya balik Aditya.


Ditanya seperti itu, benak Rahayu pun memutar ulang semua memori nya terkait Adnan. Ia memang tak mengingat saat ia mengadopsi anak lelaki nya itu dari panti asuhan. Karena peristiwa itu terjadi sebelum ia hilang ingatan.


Namun Rahayu mengingat kembali kedekatan nya bersama Adnan selama hampir sepuluh tahun ini. Bagaimana benak nya begitu yakin menganggap Adnan seperit darah daging nya sendiri.


Benar lah kata pepatah lama. Bahwasanya dsrah itu lebih kental daripada air biasa.


Pasti akan ada perbedaan jelas di antara hubungan darah dan hubungan biasa. Dan Rahayu benar-benar merasa Adnan seperti putra kandung nya sendiri.


Dua bulir kristal menganak sungai dari ujung kedua mata Rahayu. Melihat istri nya menangis, Aditya langsung panik dan berusaha menghapus bekas tangisan sang istri. Namun Rahayu malah menampik nya.


Rahayu lalu menyandarkan punggung nya ke jok mobil. Mencoba mengunpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki untuk mendengarkan kelanjutan pengakuan dari sang suami.


Entah rahasia apalagi yang telah disembunyikan oleh Aditya dari nya. Satu rahasia terkait Adnan saja sudah membuat Rahayu merasa sangat sakit hati.


Rahayu memejamkan kedua mata nya untuk sesaat. Mencoba menenangkan debur jantung nya yang bertalu-talu dalam kesedihan dan kekecewaan yang menderanya terhadap perbuatan Aditya.


Dan aditya menyadari arti sikap Rahayu itu. Hati nya ikut terbelah saat menyaksikan wajah patah hati sang istri yang telah dibuat nya kecewa itu.


Sebuah penyesalan terbit di benak lelaki itu. Sedikit menyesali keputusan nya untuk berkata jujur terhadap sang istri. Namun apalah daya, beras telah menjadi bubur.


Semua sudah terjadi. Dan keputusan nya itu tak lagi bisa ia ambil lagi. Aditya harus menuntaskan apa yang akan dikatakan nya kepada Rahayu sesegera mungkin. Dan ia mau tak mau harus siap menghadapi sikap Rahayu terhadap nya setelah kejadian ini.


...


"Lalu, apa lagi setelah itu? Rahasia apa lagi yang Mas sembunyikan dari ku?!" Tanya Rahayu dengan nada mengecam.


Kepala Aditya kembali tertunduk. Namun ia tetap melanjutkan pengakuan nya itu.


"Lalu kita menikah sekitar setahun kemudian. Tapi di usia pernikahan yang baru berjalan dua bulan, Mas lagi-lagi merasa cemburu. Saat itu kita sudah hidup di bawah atap yang sama. Jadi Mas bisa bersama dengan mu selama hampir seharian di hari libur nya Mas. Tapi lagi-lagi kamu terlalu sibuk dengan bayi perempuan mu. Karena saat itu dia sedang mulai belajar berjalan,"


"Dan kamu juga sedang mengandung anak kita. Jadi kamu mual muntah cukup parah. Mas merasa sedih karena kurang nya perhatian kamu saat itu kepada Mas."


"Lantas Mas memutuskan untuk kembali membuang anak Ayu?!" Cecar Rahayu begitu saja.


Kepala Aditya langsung terangkat begitu mendengar kecaman sang istri. Dalam hati nya, lelaki itu ingin mengatakan kebohongan. Namun saat memandang kedua manik indah milik Rahayu, Aditya seolah tak bisa mengatakan hal lain lagi selain kebenaran.

__ADS_1


"Ya.. Mas bermaksud untuk melakukan itu lagi," ungkap Aditya dengan sejujur-jujur nya.


***


__ADS_2