Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Cerita Aditya bag. 1


__ADS_3

"Mas adalah putra tunggal dari pasangan orang tua yang menikah karena terpaksa. Mama adalah putri seorang pejabat yang menjadi tawanan dari kelompok mafia asuhan kakek nya Mas. Dan untuk alasan politik, Mama akhirnya diharuskan untuk menikah dengan Papa, salah satu putra dari dua putra Opa.


"Mungkin karena pernikahan itu terpaksa, jadi tak ada cinta yang terjalin di antara kedua orang tua Mas. Bahkan, hingga Mas dan kembaran Mas terlahir pun kami juga tak mendapatkan cinta dari Mama," cerita Aditya.


"Mas juga punya kembaran?" Rahayu memotong ucapan Aditya.


"Ya. Sayang nya, nasib kembaran Mas cukup tragis. Karena dia diculik oleh kelompok musuh nya Opa saat ia baru berumur setahun. Sebuah bukti foto badan bayi tanpa kepala dikirimkan kepada Opa kemudian. Jadilah akhirnya Mas menjadi satu-satu nya penerus di keluarga ini,"


"Sedari kecil, Mas selalu dididik oleh Opa dan juga Papa. Keduanya selalu mengajarkan kekerasan kepada Mas. Mas bahkan sudah diajarkan memegang pistol sejak usia Mas baru menginjak tujuh tahun. Target pertama Mas adalah seekor burung merpati, peliharaan Mas sendiri."


"Opa mengajarkan agar Mas tak memiliki belas kasih. Sehingga ia memaksa Mas untuk menembak burung merpati pemberian salah seorang pelayan di rumah Mas yang dulu. Waktu itu Mas menangis sejadi-jadi nya. Mas gak mau menembak burung merpati itu pada mula nya."


"Tapi lalu Opa melukai burung itu secara perlahan-lahan.."


Sampai di sini, Aditya sempat berhenti bicara. Agaknya ia sedang mengingat kenangan masa kecil nya dulu yang cukup traumatis bagi nya itu.


Mendapati sikap sang suami jadi seperti itu, mau tak mau Rahayu pun spontan bertanya.


"Menyiksa seperti apa maksud nya, Mas?" Tanya Rahayu.


Aditya mengedipkan kedua mata nya beberapa kali. Baru kemudian menjawab pertanyaan Rahayu.


"Pertama-tama Opa menyuruh salah satu anak buah nya untuk mematahkan kaki sang burung.."


Rahayu langsung merasa ngilu, saat mendengar penuturan suami nya itu.


"Sampai kaki nya terlihat bengkok dan terkulai. Burung itu menjerit-jerit dan berusaha mematuki tangan anak buah nya Opa. Dan Mas pun berusaha untuk menolong burung itu. Tapi usaha Mas bernilai percuma. Pada akhirnya burung itu harus melewati beberapa siksaan lain nya sebelum akhirnya Mas setuju untuk menembak nya dengan pistol. Mas ingat sekali dengan kata-kata Opa saat itu."


"Terkadang, kematian adalah jalan terbaik yang bisa dialami oleh seseorang. Dibanding menerima penyiksaan yamg tiada habis nya," Aditya meniru ucapan Opa saat itu.

__ADS_1


"Salah! Kematian bukan lah cara instan yang baik dalam menghadapi kehidupan!" Sanggah Rahayu secara tiba-tiba.


Aditya tertegun saat mendengar sanggahan dari sang istri tersebut. Ia lalu membiarkan Rahayu mengungkapkan pendapat nya terkait kehidupan dan kematian.


"Kita diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini agar kita bisa survive. Agar kita bisa berhasil menjadi seorang pejuang yang membanggakan. Bangga di sini maksud nya bukan bangga di puji oleh banyak orang ya, Mas,"


"Melainkan bangga karena telah berhasil melewati berbagai tantangan yang diberikan oleh hidup. Tanpa kalah dikarenakan menggunakan cara-cara instan yang justru menghinakan. Loyalitas dan integritas terhadap kebenaran adalah dua hal penting yang bisa mencirikan apakah seseorang bisa disebut membanggakan atau enggak!" Tutur Rahayu panjang lebar.


Aditya tercenung menatap sang istri. Di raihnya beberapa helai rambut Rahayu yang berantakan. Lalu disampirkan nya ke belakang telinga Rahayu. Dengan pandangan teduh, Aditya pun mengomentari kalimat istri nya itu.


"Dulu, kamu pun pernah mengatakan hal yang sama kepada Mas.."


"Huh? Kapan, Mas?"


"Dulu.. saat-saat awal kita berkenalan. Kata mu loyalitas dan integritas pada kebenaran adalah dua hal penting yang menjadi ciri seseorang bisa dikatakan orang baik atau bukan. Dan dulu kamu bilang kalau kamu sempat terpeleset melakukan kesalahan fatal. Hingga membuat mu hamil di luar nikah. Kamu sangat menyesali kesalahan mu itu," ucap Aditya lagi.


"Adek mengatakan itu, Mas?" Tanya Rahayu tercenung.


"Terus?" Tanya Rahayu lagi, saat ia tak segera mendengar Aditya melanjutkan kisah nya.


"Setelah kejadian menembak burung yang Mas suka, Mas mulai sering dilatih untuk menembak hewan-hewan lain nya yang sering berinteraksi dengan Mas. Seperti ayam-ayam, musang, kelinci peliharaan Mama, dan juga beberapa hewan lain nya. Mas pun akhirnya lumayan cukup mahir menembak sekitar delapan bulan kemudian,"


"Sekitar umur sembilan tahun, Mas menyaksikan kematian Mama di depan mata kepala Mas sendiri. Saat itu kami sedang makan di luar. Di tempat keramaian. Lalu tiba-tiba saja seorang snipper menembak Mama di bagian mata kanan nya."


Deg. Deg. Rahayu langsung berjengit ngeri saat membayangkan kejadian itu.


"Luka tembak itu langsung melukai otak Mama hingga peluru nya bahkan tembus ke belakang kepala Mama. Sejak saat itu lah Mas semakin intensif mempelajari ilmu bela diri dan senjata-senjata lain nya. Karena Mas begitu takut dengan kematian,"


"Papa dan Opa Mas yang membiarkan Mas mempelajari semua itu?" Tanya Rahayu tak percaya.

__ADS_1


"Ya. Memang mereka sedari dulu ingin mendidik Mas menjadi penerus kelompok mafia mereka. Tapi Mas terkadang masih mangkir dari session latihan. Dan memilih untuk bermain-main atau mengikuti Mama dalam diam,"


"Mama, meskipun tak pernah menunjukkan kalau ia mencintai Mas sebagai anak nya, ia tak pernah mengajarkan Mas untuk melukai atau membunuh. Mama membiarkan Mas mengikutinya berkebun, atau bermain piano. Dan itu membuat Opa jadi tak suka kepada nya,"


"Mas bahkan menduga, kalau Mama bukan dibunuh oleh musuh kelompok nya Opa. Seperti yang dikatakan oleh Papa saat itu. Melainkan Opa sendiri lah yang telah menyuruh anak buah nya untuk mengeksekusi Mama. Dan kenyataan itu baru Mas ketahui beberapa tahun silam setelah Opa wafat."


Hati Rahayu terenyuh mendengar kisah hidup sang suami. Ia lalu meraih jemari Aditya dan menggenggam nya erat-erat. Mencoba mengalirkan kenyamanan dan menunjukkan penyertaan terhadap suami nya itu saat ini.


Aditya memberikan Rahayu senyuman tipis. Ada kegetiran yang Rahayu tangkap di mata suami nya itu. Namun Aditya kembali menatap ke depan. Sehingga apa yang tersingkap di balik manik mata itu pun harus kembali tersembunyi.


"Inti nya, sejak kepergian Mama, Mas tak lagi mengenal hal lain selain membu nuh dan menguasai apapun yang dititahkan oleh Opa kepada Mas. Bahkan di umur ke tiga belas, Mas ikut melaksanakan sebuah misi yang ditunjuk oleh Opa. Di mana Mas harus membunuh seorang ketua geng pemberontak di kelompok nya Opa,"


"Mas memang tidak ikut dalam operasi peringkusan geng pemberontak itu. Namun saat ketua geng itu tertangkap, Mas diperintah oleh Opa untuk melayangkan beberapa tembakan fatal ke tubuh ketua geng itu. Dan itu adalah pembunuhan pertama Mas."


Aditya menundukkan kepala nya. Merasa sedikit malu atas noktah kelam di kehidupan masa muda nya dulu.


Beberapa tahun terakhir ini Aditya mulai dihantui oleh rasa bersalah nya kepada orang-orang yang pernah ia bunuh dan juga siksa. Namun ia selalu pandai menepis rasa bersalah itu. Dan fokus terhadap kehidupan nya masa kini.


Setelah menikah dengan Rahayu, meski mendapat pertentangan dari sang Papa, Aditya akhirnya mulai mengalihkan semua usaha milik keluarga nya dari ilegal menjadi usaha legal. Aditya mulai ingin membangun hidup yang aman bersama sang istri.


Sayang nya ia terbakar oleh api cemburu terhadap kedua bayi istri nya dulu. Sehingga ia memutuskan untuk memisahkan Rahayu dari kedua bayi nya itu. Agar ia bisa menjadi satu-satu nya fokus perhatian dari sang istri.


Sungguh sebuah alasan yang tak masuk akal, memang.


Tapi untuk Aditya yang sedikit mengenal cinta dalam hidup nya, alasan yang tak masuk akal itu cukup bisa dimasuk akal juga.


Dan akhirnya, Aditya pun melakukan hal fatal yang membuat hubungan nya dengan Rahayu jadi memburuk.


Sebelum menceritakan kesalahan fatal nya itu, Aditya kembali melanjutkan kisah hidup nya kepada Rahayu.

__ADS_1


***


__ADS_2