
Selesai jam olahraga, adalah jam mata pelajaran Geografi. Pelajaran yang membuat kesegaran selepas senam tadi menjadi lenyap dalam seketika.
Ini terjadi lantaran penyampaian Pak Gimin yang kelewat membuat mata para siswa nya jadi mengantuk. Dengan suara yang pelan, dan ekspresi yang terbilang stagnan dan datar, Pak Gimin berhasil membuat seisi kelas nya Ranum berubah bak seperti ayam sayur. Lepek, lemas dan mengantuk.
Syukur nya Pak Gimin adalah seorang guru yang memiliki kesabaran maha tinggi. Karena meski ia mendapati ada murid nya yang tertidur, beliau tak serta merta langsung marah.
Beliau hanya berdeham sedikit agak kencang. Kemudian memanggil nama siswa yang tertidur tadi hingga ia terbangun. Walau setelah beberapa lama kemudian siswa tadi kemungkinan akan kembali jatuh tertidur.
Ranum sungguh merasa simpatik pada guru nya ini.
'Kasihan sekali Pak Gimin. Karena harus sering menegur teman-teman yang tak sopan dan sengaja tertidur di saat jam pelajarannya berlangsung. Hoaaahhmmm..' pikir Ranum.
Gadis itu pun menutup mulut nya yang juga tak berhenti menguap sedari tadi.
Herannya, begitu bel istirahat berbunyi, kepala para murid yang tadi nya terkulai mengantuk di atas meja, tiba-tiba saja langsung menegak. Satu dua orang bahkan langsung bangun dan keluar kelas, tanpa menunggu Pak Gimin keluar terlebih dahulu.
Ranum jadi berpikir lagi. Sepertinya menjadi guru bukanlah profesi yang mudah untuk dilakoni. Ia jadi berpikir ulang untuk menjadi guru saat ia besar nanti.
Bagaimana jika ia harus menghadapi murid-murid yang seperti ini, atau malah lebih nakal lagi? duuh. Ranum langsung dibuat ngeri hanya dengan membayangkan nya saja.
Ketika bel istirahat berbunyi, Ranum dan Mira memilih untuk tak pergi ke kantin lagi. Karena kedua nya masih kenyang usai jajan sehabis pelajaran olahraga tadi. Sementara itu, Tika dan Tanti kembali pergi ke kantin untuk membeli cemilan-cemilan kecil.
Saat ini Mira pindah duduk ke bangku nya Tika. Ia sedang mengobrol seru dengan Ranum tentang pelajaran Pak Gimin.
"Kasihan banget ya Pak Gimin, Num. Sering banget pelajarannya dianggap remeh sama beberapa teman kita," ucap Mira dengan suara pelan.
"Iya, Mir. Gak kebayang deh gimana rasanya jadi beliau, ya. Kalau Ranum sih, mestilah udah nyerah aja jadi guru, semisal diremehin gitu sama anak murid nya Ranum," sahut Ranum dengan suara tak kalah pelan.
"Tapi ada sebab nya juga sih, kenapa teman-teman bersikap begitu. Pak Gimin nya juga gak bisa bersikap tegas sih ya, ngadepin anak-anak yang gak respect sama beliau. Jadi nya kan mereka nya pada manja dan semena-mena deh," sahut Mira lagi.
__ADS_1
"Hm.. iya. Bisa jadi juga sih. Mungkin kalau cara ngajar nya lebih seru kayak Bu Rosi, anak-anak gak bakal sengantuk ini kali ya, Mir?"
"Wah. Benar banget tuh, Num. Mira paling senang deh tiap pelajaran Biologi. Seru aja gitu ya. Ada aja permainan nya tiap pelajaran Biologi mulai. Permainan tebak kartu waktu kemarin juga lumayan seru. Jadi gak sabar nungguin pelajarannya lagi minggu depan nanti!"
Ranum tersenyum dan mengiyakan juga pernyataan Mira.
"Iya, Mir. Oh ya, kamu udah selesai ngerjain tugas dari Bu Rosi belum?" Tanya Ranum tiba-tiba.
"Duh. Iya ya. Jadi inget. Aku belum ngerjain tugas nya nih, Num. Mau ke perpus bareng kah yuk tuk pinjam buku nya? Aku gak punya buku paket nya soal nya."
"Sama. Ranum juga gak punya. Gimana kalau sekarang aja kita ke perpus nya? Takut kehabisan buku nya karena dipinjam sama yang lain," Ranum memberikan saran.
"Iya, ya. Yuk, sekarang aja Num ke perpus nya! Masih ada sepuluh menitan kan ya waktu istirahat nya. Ayo, Num!"
Akhirnya kedua mudi itu pun beranjak bangun menuju perpustakaan sekolah. Selesai mendapatkan buku paket Biologi yang dibutuhkan, Ranum dan Mira langsung menuju meja Pak Doyo, sang penjaga perpus yang usianya masih terbilang muda.
Selanjutnya Pak Doyo meregistrasikan buku pinjaman kedua siswi itu. Baru memberikannya kembali kepada Ranum dan Mira.
Di pintu masuk perpustakaan ternyata Ranum tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang juga hendak masuk ke dalam perpus.
Orang itu membawa tumpukan binder file yang cukup tinggi sehingga ia tak melihat Ranum karena terburu-buru melangkah.
Beruntung nya Ranum tak jatuh karena ditahan oleh Mira.
Meski begitu, nasib sial harus dialami oleh orang yang ditabrak oleh Ranum. Karena hampir semua binder file yang ia bawa harus terjatuh berserakan di atas lantai.
"Duh! Maaf, Pak!" ucap Ranum meminta maaf.
Dengan kompak, Ranum dan Mira lalu bergegas membantu memunguti binder file yang berserakan di lantai. Setelahnya mereka memberikannya pada sosok lelaki yang ditabrak oleh Ranum tadi.
__ADS_1
Pada mulanya Ranum tak melihat wajah sang lelaki saat ia menyerahkan binder file kepada nya. Namun saat Ranum menyadari kalau uluran tangannya tak segera disambut, akhirnya pandangan nya pun terangkat ke atas.
Dan akhirnya Ranum melihat wajah manis seorang lelaki muda yang, samar-samar dikenal nya.
"Mm.. Kak.." Ranum mencoba mengingat-ingat nama lelaki di depannya itu.
"Titan. Apa kabar, Ranum? Lama kita gak ketemu," sambung Titan kemudian.
"Ah. Iya! Maaf Kak Titan. Ranum memang sering lupa kalau soal sebutin nama," ucap Ranum sambil terburu-buru menundukkan pandangan.
Gadis itu merasa cukup malu karena ketahuan jelas tak mengingat nama lelaki yang pernah menjadi tetangganya dulu di kota X.
"Gak apa-apa. Jadi, apa kabar, Num?" Tanya Titan mengulang.
"Baik, Kak. Alhamdulillah.."
"Num, ayo buruan ke kelas. Takut keburu ada Pak Satya masuk nanti. Bisa-bisa kalau kita telat masuk, nanti dikasih tambahan PR lagi!" Ajak Mira setengah panik di samping Ranum.
"Iya, Mir. Maaf ya Kak. Ranum masuk ke kelas dulu. Assalamu'alaikum!" pamit Ranum dengan terburu-buru.
Ranum dan Mira pun setengah berlari menuju ruang kelas mereka lagi. Berharap mereka bisa tiba sebelum Pak Satya, guru Matematika yang terkenal killer di kalangan setiap murid di SMA ini.
Sementara itu Titan yang tak menyangka dengan pertemuan langsung nya dengan Ranum, masih tertegun di depan ruang perpustakaan. Pandangan nya masih mengekori sosok Ranum yang berlari menjauh dari nya.
Baru setelah sosok Ranum menghilang saja Titan tersadar dan menjawab salam nya Ranum.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.."
Dan Titan pun melanjutkan kembali langkah nya ke dalam perpus untuk mengantarkan foto kopian yang telah dipesan oleh Pak Doyo, penjaga perpus di SMA ini. Sementara benak nya masih diliputi ingatan tentang kejadian sesaat tadi.
__ADS_1
***