
"Nanti olahraga ngapain ya? Lagi mager (malas gerak) nih!" Tutur Tanti sambil merapihkan kaos olahraga nya.
Saat ini ia bersama teman perempuan lainnya sedang berganti baju olahraga di kamar mandi perempuan. Baru saja bel masuk berbunyi. Pertanda akan dimulainya pelajaran olahraga sesaat lagi.
"Kalau kata anak X.2 yang kemarin olahraga sih, mereka kemarin main bola basket," jawab Mira.
"Serius Lo, Mir?" Tanya Tanti dengan binar gembira di wajah nya.
"Iya. Dua rius! Kenapa? Kayaknya senang banget sih kita mau main basket?" Seloroh Mira kemudian.
"Ya iya lah! Gue kan paling demen (suka) kalau main basket. Cita-cita gue kan jadi atlet bola basket. Syukur-syukur gue bisa se jago Lisa Leslie, idola gue yang keren itu!" Ujar Tanti berapi-api.
"Siapa itu Lisa.. siapa tadi?" Tanya Tika ikut menimbrung dalam obrolan.
"Lisa Leslie. Atlet basket putri terbaik di dunia. Gue pernah lihat video lama nya dia pas lagi main kejuaraan dunia, dan wow! Keren banget pokoknya deh!" Tanti asik bercerita.
"Dia itu orang Indonesia?" Ranum menebak.
"Bukan! Dia itu orang Amerika! Tinggi badan nya itu lho, 196 cm! Gue pingin deh bisa setinggi itu nanti nya!" Ucap Tanti berharap.
"Kamu tuh, Tan. Orang luar negeri malah diidolain. Kalau mau idolain tuh atlet dari Indonesia dong! Gak nasionalis banget sih!" Komentar Mira.
"Apaan sih nasionalis-nasionalisan segala. Gue tuh pragmatis. Puitis dan solois, tahu!" Seloroh Tanti kemudian.
Keempat remaja putri itu kini sedang berjalan menuju lapangan. Di mana semua teman kelas mereka yang lain sedang berkumpul saat ini. Kebetulan Pak Gilang, guru olahraga mereka belum muncul. Jadi keempat remaja putri itu pun masih santai berjalan.
Mendengar ucapan Tanti, seketika itu juga ketiga rekannya yang lain langsung tertawa renyah.
"Hihihi! Lucu banget sih kamu, Tan!" Seloroh Tika.
"Bukan lucu, Tik. Tapi ngomsal! Ngomong asal!" Sahut Mira.
"Kayaknya Ranum belum pernah ngelihat sisi puitis nya Tanti deh. Atau apa Ranum yang enggak peka ya?" Komentar Ranum juga, sambil tersenyum geli.
Tanti menyengir lebar. Kemudian menjawab komentar Ranum dengan aksi pura-pura menembak teman nya yang paling cantik di antara geng nya itu.
Tanti langsung meraih tangan kanan Ranum, menci um punggung tangan nya, lalu berkata sambil berjalan mundur.
__ADS_1
"Wahai putri Ranum ku yang cantik jelita nan berwibawa laksana Dewi Durga!" Ucap awal Tanti.
Mira langsung tertawa bahak. Tika ikut tersenyum geli. Sementara Ranum yang sedang digombali justru merasa jengah hati.
Ranum sedikit menyesal karena ikut menggoda Tanti tadi. Terlebih saat beberapa teman lelaki mulai melirik ke arah mereka.
"Ah Tanti! Udah ah! Jangan diterusin!" Mohon Ranum dengan wajah mulai memerah.
Sayang nya permohonannya itu tak digubris oleh Tanti. Ia malah melanjutkan kembali ucapannya tadi.
"Sudikah kira nya engkau menerima-!"
Ucapan Tanti terhenti saat sebuah bola basket terlempar ke arah nya. Gadis tomboy itu reflek menghindar dari bola yang entah dilemparkan oleh siapa itu tadi.
Keempat remaja putri itu langsung berhenti tertawa dan langsung menoleh ke arah datang nya bola. Begitu dilihat, ternyata hanya dua teman lelaki saja yang sedang membalas balik tatapan mereka. Dan itu adalah Adnan dan juga Agus.
"Heh, Gus! Lo yang barusan lempar bola ke gue ya?!" Hardik Tanti seketika itu juga.
Gadis tomboy itu langsung menghampiri Agus dan berdiri menantang nya. Membuat Ranum, Mira dan Tika seketika langsung menatap khawatir pada rekan mereka itu.
"Dih! Suudzon aja! Tuh pak Ketua kelas yang ngelempar! Lagian, Lu berani-berani nya nembak cewek yang di--aw!"
Mendengar ucapan Agus, perhatian Tanti langsung beralih ke Adnan. Akan tetapi ia merasa segan untuk mengkonfrontasikan kebenaran ucapan Agus tadi.
Adnan sendiri lah yang akhirnya mengakui kesalahannya tadi.
"Maaf ya, Tan. Tadi saya gak sengaja ngelepasin bola ke arah kamu. Tadi saya nge dribble bola nya terlalu kencang, sampai jadi lepas kendali deh," Adnan mengaku salah.
Menerima permintaan maaf itu, Tanti pun tak lagi bisa mengatakan apapun selain, "Oh. Ok.."
"Yuk, Tan.. kita ke barisan cewek. Tuh Pak Gilang udah datang!" Ajak Mira sambil menarik tangan teman sebangku nya itu.
Akhirnya perselisihan itu pun bisa terhindarkan pada akhirnya.
***
Setelah melalui satu jam bermain bola basket, akhirnya pelajaran olahraga pun usai juga. Tapi sebelum usai, terjadi sebuah insiden yang sangat memalukan bagi Ranum.
__ADS_1
Saat itu, Ranum sedang bermain basket bersama tim nya. Jadi, tak seperti permainan basket sebenarnya, yang biasanya diikuti oleh enam orang pemain.
Dalam permainan basket kali ini, jumlah keseluruhan siswi yang ada dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian dua kelompok siswi itu beradu main basket.
Ranum yang memang tak mahir berolahraga akhirnya hanya menjadi tim peramai suasana saja dalam tim nya yang berjumlah sembilan orang.
Ranum hanya sesekali ikut berlari ke sana dan ke mari untuk menghindari lemparan bola basket. Ia terlalu takut untuk menangkap bola basket itu.
Tingkah nya ini diperhatikan oleh teman-teman lelaki nya yang sedang duduk di pinggir lapangan. Para siswa telah terlebih dulu bermain basket tadi. Dan kini, mereka sedang beristirahat.
"Ranum! Tangkap bolanya Num! Jangan malah kabur! Ahahahahaha!" Teriak seseorang di pinggir lapangan.
Mendengar ucapan yang ditujukan padanya itu, Ranum jadi salah tingkah. Sehingga pada akhirnya ia memilih untuk menepi saja di sisi lapangan. Ini ia lakukan saat Pak Gilang sedang pergi entah ke mana.
Ketika Pak Gilang kembali, baru lah Ranum kembali bergerak mengikuti pergerakan teman-teman nya yang lain.
Berbeda dengan para siswa yang sudah tahu cara bermain bola yang baik. Yaitu dengan berdiri di posisi nya masing-masing.
Permainan basket yang dilakukan oleh para siswi justru tampak seperti layaknya sekumpulan semut yang selalu mengerubungi gumpalan gula di mana pun gula itu berada.
Maksudnya, ke mana bola basket itu terlempar, maka semua siswi (bayang kan ya, SEMUA) langsung berlari ke arah bola itu berada. Hingga terkadang bola basket itu menggelinding keluar dari kerumunan para siswi itu.
Mungkin bola itu memiliki pikirannya tersendiri. Ia takut karena menjadi rebutan dari tangan-tangan anak perempuan yang tak pandai bermain bola. hihihi.
Kegaduhan semakin menjadi, manakala seseorang berteriak kencang!
"Woy! Selai merah nya tembus tuh!"
Seketika itu pula beberapa siswi langsung melihat ke belakang celana nya. Namun saat mendapati kalau celana mereka masih bersih, salah satu dari mereka langsung mengomel.
"Jangan nge-prank deh! Dasar cowok jahil!" Omel Laluna, salah satu teman sekelas Ranum.
"Bukan Lo, Luna! Itu si Ranum! Celana nya udah tembus itu!" Teriak siswa yang lainnya.
Mendengar nama nya lah yang disebut, Ranum pun seketika itu juga menoleh ke belakang celana nya. Dan, benar saja. Memang celana nya kini bersimbah oleh darah dari haid pertama nya.
Seketika itu pula, wajah Ranum menjadi pucat pasi.
__ADS_1
***