
Kania, Tari dan Ranum sudah mengitari taman Bundaran sebanyak dua kali. Dan kini ketiga nya sedang duduk lesehan di pinggiran taman. Masing-masing memegang botol air mineral yang isinya telah separo diminum.
"Ternyata lumayan ramai juga ya di sini kalau hari Minggu?"
Ranum mengamati lalu lalang orang yang juga hendak berolahraga.
"Hari biasa juga ramai kok, Kak. Tapi kebanyakan sih cuma ibu-ibu yang pada ikutan senam aerobik," sahut Kania.
Ranum pun teringat kalau Kania memang sering joging juga pagi-pagi sebelum berangkat sekolah.
Pandangan Ranum kemudian beralih ke sekumpulan orang yang sedang melakukan senam aerobik di pertengahan taman.
"Dilihat dari gerakan nya, kayak nya senam nya baru mulai, ya gak sih?" gumam Tari dengan suara pelan.
Ranum lalu melihat gerakan para peserta senam aerobik di depannya itu. Dan ia pun sependapat juga dengan komentar Tari barusan.
"Wahh.. iya tuh! Yuk kita ikutan, Kak, Tar!" Ajak Kania yang langsung bangun berdiri dan ikut berbaris di bagian belakang kumpulan orang-orang itu.
Pada awalnya Ranum hanya menganga terkejut saat dilihat nya Kania yang langsung ikutan senam aerobik. Ranum sendiri merasa malu untuk mengikuti ajakan adik nya itu. Jadi ia memutuskan untuk duduk menunggu Kania selesai senam saja di tempat duduk nya kini.
Ranum lalu menoleh ke Tari. Namun ia harus kembali dibuat terkejut saat melihat Tari yang juga bangkit berdiri dan menyusul Kania untuk ikutan senam.
Tinggallah Ranum sendirian di tempat itu. Untuk mengusir rasa tak nyaman karena menunggu sendiri, akhirnya Ranum mengeluarkan headset dan ponsel nya.
Dan tak berapa lama, Ranum pun terbuai dalam alunan musik lagunya Lazuli Nun yang berjudul, "Aku Masih ada di sini".
Bila pagi datang, dan tunjukkan hari yang terang
Meski saat nya ku tuk pergi, dan engkau sendiri
Terdiam ku menanti, melupakan hal buruk yang terjadi
Melihat mu masih menangis, pun aku bersedih
Oh.. sahabat, jangan lah kau terus berduka,
Tersenyumlah..
Aku masih ada di sini..
Reff: Masih ada waktu untuk kita berdua tuk bersama
Lalui masa indah kita..
Meski nanti aku akan jauh darimu
Tapi yakinlah, hati ku selalu di dekat mu
__ADS_1
Temani hari-hari mu..
Puk.
Ranum tersentak kaget begitu ia merasakan tepukan pelan di bahu kiri nya.
Dan, begitu ia mendapati sosok wajah yang tak asing lagi bagi nya, Ranum pun langsung menyapa orang itu.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Ranum sedikit bernada ketus.
"Ya olahraga, lah. Masa iya saya mau berenang," sahut Adnan menimpali.
"..."
Adnan kemudian ikutan duduk di samping Ranum. Kemudian balik bertanya kepada gadis itu.
"Kamu sendiri ngapain duduk di sini sendirian? Ngelamun pula. Bahaya banget lho melamun di tempat umum sendirian," tegur Adnan kemudian.
"Aku enggak melamun kok," elak Ranum sambil memandang ke tempat Kania dan Tari berada.
"Lha wong saya melihat nya sendiri kok. Tadi itu kamu jelas-jelas melamun," Adnan mengotot dengan argumen nya.
"Terserah lah kalau gak percaya," ucap Ranum acuh tak acuh.
Dan beberapa menit berikut nya, tak ada lagi percakapan di antara Ranum dan juga Adnan.
Lagi-lagi Adnan menepuk pundak gadis itu.
"Apa lagi sih?" Tanya Ranum mulai tak sabar.
"Eer.. itu. Mau pinjam hp nya bentar dong. Aku mau ngabarin Agus kalau aku gak bisa ikutan main futsal," Adnan beralasan.
"Memang nya ponsel mu ke mana?" Tanya Ranum setengah kesal karena merasa terus diganggu.
"Lowbet. Baru Ingat sama janji ku ke Agus barusan. Jadi.. boleh ku pinjam ponsel nya?" Tanya Adnan kembali.
Ranum pun akhirnya memberikan ponsel nya kepada Adnan. Dan ia melihat sendiri ketika Adnan mengirimkan pesan ke Sebuah nomor yang dihafal nya di luar kepala.
Setelah mengirimkan pesan, Adnan mengembalikan ponsel Ranum.
"Makasih ya, Num."
Ranum mengangguk singkat, lalu kembali memasang headset ke telinga nya.
Sebenarnya Ranum tak benar-benar tidak menyukai Adnan juga sih. Ia hanya merasa canggung dan malu saja setiap harus berhadapan dengan anak laki-laki sebaya nya. Jadi seringnya untuk menutupi kegugupannya, Ranum jadi tampak bersikap jutek ke lawan jenis nya itu.
Asik mendengar lantunan musik dengan mata yang sengaja ia pejam kan, Ranum lagi-lagi dibuat kaget saat Kania dan Tari tahu-tahu telah selesai senam.
__ADS_1
Keduanya tampak kelelahan namun masih bisa tertawa kikik menertawakan sesuatu.
"Hoy!" Tari mengejutkan Ranum.
Dan Ranum pun seketika melata terkejut.
"Astaghfirullah..astaghforullahal 'azhiim..! Tari!" Ranum menatap Tari dengan pandangan mata yang agak menyipit.
"Lagian, kita mah pada senam aerobik. Lha Anum malah asik-asikan dengerin musik di ponsel. Niat olahraga gak sih, Num?" Tegur Tari.
Sayang nya, belum sempat Ranum menjawab, ucapannya terlebih dulu terpotong oleh suara seruan Kania kepada Adnan. Ternyata remaja lelaki itu masih duduk tak jauh dari tempat Ranum berada.
"Ehh.. ada Adnan. Kamu kok di sini, Nan?" Tanya Kania dengan nada akrab.
"Mm.. baik. Kamu adik nya Ranum kan ya?" Tanya Adnan memastikan.
"Yap! Anda betul sekali. Gimana, kita berdua mirip kan?" Seru Kania sambil menempelkan wajah nya ke sisi wajah Ranum.
Tari menganga tak percaya dengan sikap Kania yang begitu akrab berbincang dengan seorang cowok tampan.
Sementara itu, Ranum merasa tak suka dengan sikap Kania yang kelewat akrab dengan Adnan. Karena nya ia pun tiba-tiba saja berdiri dan mengajak Kania dan Tari untuk beranjak pulang.
"Pulang sekarang, yuk? Gerah banget nih," Ranum beralasan.
"Yah Kakak. Istirahat sebentar lah. Capek banget nih habis senam.." tolak Kania yang malah mendudukkan diri nya di bangku yang tak jauh dari Adnan.
Kania lalu mengajak bincang Adnan. Yang disahuti oleh teman sekelas nya Ranum itu dengan sabar dan ramah.
Sementara itu, Tari tiba-tiba saja berbisik ke telinga Ranum.
"Cowok ini ganteng juga, Num. Dia gebetannya Nia ya?" Tanya Tari.
"Gak tahu. Hh.. kita pulang duluan aja kah ya Rie?" Ajak Ranum dengan perasaan kesal yang sulit tuk dijelaskan.
Tari menganga sebentar saat ia menyadari Ranum yang sepertinya kesal. Pandangannya lalu berganti ke arah cowok yang didengarnya tadi bernama Adnan.
Sebuah dugaan pun muncul di benak Tari. Dan ia dibuat terkejut oleh dugaannya sendiri itu.
"Kamu suka cowok ini juga ya, Num?" Tanya Tari tiba-tiba dengan suara bisik, tepat ke telinga Ranum.
Hal ini membuat Ranum terkejut dan langsung berteriak cukup kencang.
"Ya enggak lah!"
Dan, semua mata orang-orang yang berada di sekitar Ranum pun langsung beralih menatap nya heran.
***
__ADS_1