Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Obrolan Panas


__ADS_3

"Ry kayak nya kurusan. Ry sengaja diet kah?" Tanya Ranum pada Tary di suatu penghujung sore.


Keduanya sedang duduk di teras rumah Ranum sambil menikmati pisang goreng yang Tary bawa dari rumah nya.


"Enggak. Kan habis ujian, Num. Jadi mungkin karena Ry kepusingan kali ya, maka nya kelihatan kurusan?" Sahut Tary.


"Ah. Tapi dulu-dulu waktu SMP juga Ry tetap chubby kok," sergah Ranum menyangsikan alasan Tary tadi.


"Apa karena les tambahan ya, Num?" Tary terlihat berpikir sambil mengunyah gorengan di mulut nya.


"Memang nya Ry punya les tambahan?"


"Iya. Sejak dengar nasihat dari Ayah Anum, Ry jadi bertekad untuk belajar segigih mungkin. Biar Ry bisa dilihat lebih baik daripada yang lain. Biar Ry gak jadi bahan ejekan lagi," ujar Tary.


"Hhmm.. memang nya sampai sekarang teman sekelas Ry masih pada cuekin Tary kah?" Tanya Ranum dengan pandangan iba.


"Hh.. iya Num. Jadi Ry seringnya sih sendirian di kelas. Kecuali.." Tary terlihat ragu melanjutkan ucapannya.


"Kecuali apa, Ry?"


"Kecuali Bobbi sih, Num.." ucap Tary dengan pandangan menatap ke lantai.


"Huh? Bobbi? Maksud Ry, Bobbi Sugara?"


"Iya. Cuma Bobbi sih yang masih sering ngajak obrol Ry," tutur Ry kembali.


"Bukan nya kalian beda kelas ya, Ry?" Ranum bertanya bingung.


"Iya. Tapi Bobby sering banget ke kelas Tary, Num. Biasanya pas jam istirahat. Ry kan jarang pergi ke kantin ya. Soal nya Mama sering bawain cemilan dari rumah. Tahu-tahu Bobbi ke kelas Ry dan bawain banyak snack gitu, Num..." Papar Tary bercerita.


"..." Ranum mengamati wajah Tary lekat-lekat.


Yang diamati malah memalingkan wajah nya ke arah yang lain. Hal ini membuat Ranum jadi mencurigai sesuatu.


"Tary.. jadian sama Bobbi kah?" Terka Ranum secara langsung.


"Ehh?? Enggak!" Elak Tary terlalu cepat.


Meski Tary mengelak, namun Ranum memiliki dugaan lain nya.


"Atau jangan-jangan Bobbi udah nembak Tary ya?" Tebak Ranum kembali.


"??!!! Itu..."


Wajah Tary sudah bersemu merah kini. Tanpa sadar ia mencuwil gorengan pisang menjadi potongan-potongan kecil.


"Gak tahu juga sih itu nembak bukan ya. Tapi Bobbi memang bilang kalau dia suka Tary, Num.." ujar Tary bercerita.


"Itu sih memang sudah dari dulu kelihatan banget ya. Terus?"


"Terus apa, Num?" Tanya Tary nampak kebingungan.


"Ya terus kelanjutan hubungan Tary sama Bobbi gimana?" Tanya Ranum memperjelas.


Kali ini, bahu Tary sedikit terkulai.

__ADS_1


"Hh.. gak tahu juga, Num. Ry juga bingung," Tary mengaku.


"Lho kok gitu? Memang nya Ry jawab apa ke Bobbi?"


"Ry belum sempat bilang apa-apa, Num.."


"Kenapa gak langsung jawab, Ry?"


"Soal nya, bel masuk tiba-tiba aja berbunyi. Jadi ambyar deh ngobrol nya," ucap Tary bernada kecewa.


"Terus besok-besok nya lagi ketemu lagi kan? Kalian ngelanjutin omongan itu gak?"


"Mm.. enggak. Kita berdua sama-sama malu, Num. Jadi sejak obrolan waktu itu, setiap kali kita ketemu, kita malah pada diam-diaman gitu. Ry kan jadi bingung, Num."


"Gak usah bingung lah, Ry. Lo tinggal tembak balik aja si Bobbi. Gitu aja kok repot!" Sambung Kania yang baru selesai membuat jus mangga.


Kania lalu meletakkan teko dan tiga gelas ke pertengahan dipan. Dengan segera, Tary meraih gelas, mengisinya dengan air jeruk, lalu menenggak isi nya hingga tandas tak bersisa.


"Idih.. yang habis curhat ternyata kehausan ya?" Goda Kania.


"Diam ah Lo! Beneran haus tauk!" Ucap Tary.


Setelah beberapa waktu berselang..


"Tentang permasalahan Lo, sebenarnya itu gampang banget sih solusi nya. Lo tinggal ngomong lagi aja ke si Bobbi itu. Terus tanya deh, tentang kelanjutan hubungan kalian gimana," Kania menyarankan.


"Iya. Menurut Anum juga begitu sih."


"Tapi.. setiap kali ketemu dia, mulut gue tuh kayak kekunci gitu, Ya.. aku kan jadi bingung juga ya Num, habis nya Bobbi nya juga begitu. Malah diam. Masa iya Ry duluan sih yang harus nanyain. Lagian, Mama Papa gak ngebolehin Ry pacaran dulu," ujar Tary panjang lebar.


"Gue tuh ngomong elo gue ke orang yang suka nyolot, macam Lo, Ya. Sementara kalau ke anak yang baek-baek kayak Anum yang ngomong nya aku kamu. Bukan ababil lah jadi nya. Tapi beradaptasi!" Tary membela diri.


"Dih! Diskriminasi banget sih Lo! Kakak.. Nia dijahatin tuh Kak sama Tary.." Kania pura-pura mengadu ke Ranum.


Ranum hanya menatap adik dan sahabatnya itu dengan senyuman lebar saja. Interaksi kedua nya memang selalu membuat Ranum ingin tertawa.


"Udah ah, Ya. Kota ngobrol serius nih," tegur Ranum pada sang adik.


"Ok..ok.. serius deh kita ya."


"Kalau memang Mama Papa Ry udah bilang gitu, ya menurut Anum, ikutin aja apa kata Mama dan Papa Ry. Lagipula, kalau nanti pacaran, belajar nya malah gak fokus lagi. Tengok aja contoh nya Kania," ujar Ranum.


"Eeh?? Kok nama Nia keseret-seret sih?" Protes Kania.


"Maaf ya Dek. Ini cuma sebagai bahan pertimbangan aja. Kan di antara kita bertiga, cuma kamu yang pernah pacaran kan?" Ucap Ranum.


"Iya sih. Soal nya Kak Anum kan anti banget kayak nya kalau dideketin sama cowok. Jadi kebanyakan cowok yang suka sama kak Anum tuh udah minder duluan! Kalau Tary sih.."


Kania menggantungkan kalimat nya, seraya melirik ke arah Taru dengan pandangan menilai.


"Apa Lo lihat-lihat?!" Tary geram menerima pandangan menilai nya Kania.


"Dih. Ge er banget sih. Tuh. Kak. Tary kayak nya suka ngegas duluan deh. Maka nya jarang ada cowok juga yang mau deketin dia. Jadi fix, kalian jadi jomblo abadi deh! Hehehe.."


Tary berdecak kesal. Sementara Ranum hanya menggeleng-gelengkan kepala nya saja.

__ADS_1


"Serius nih. Kita balik lagi ke topik," ajak Ranum.


"Jadi karena cuma Nia yang pernah pacaran, kita kan bisa jadiin pelajaran ya dari pacaran yang pernah dilakuin sama Kania, Ry. Dan Anum yakin Ry juga bisa menilai. Apakah pacaran itu bisa bawa manfaat lebih banyak atau malah lebih merugikan?"


"Jelas merugikan!" Sahut Tary dengan spontan.


"Hey! Hey! Gak begitu juga sih. Pacaran juga banyak kok manfaat nya, Kak!" Kania mencoba mengemukakan pendapat nya.


"Apa coba, Dek?"


"Pertama, kita jadi punya penyemangat buat semakin giat belajar," ungkap Kania.


"Terus?" Tantang Ranum.


"Terus kita juga punya teman ke mana-mana.."


"Terus?"


"Terus.. ah ya! Kita kan jadi punya tebengan buat anter kita ke mana-mana. Sering juga kita ditraktir jajan. Kan enak tuh!" Ujar Kania dengan ekspresi menang di wajah nya.


"Begitu ya.. tapi, Ya.. coba deh dipikir baik-baik. Pacaran juga ada banyak rugi nya lho, Dek," ujar Ranum.


"Rugi di mana nya sih, Kak?"


"Pertama, bisa bikin baperan. Kedua, fokus belajar jadi pecah. Yang harusnya waktu digunain untuk belajar, eh malah dipakai buat pergi main-main atau dating."


"Kalau sesekali kan gaj apa-apa, Kak.." serobot Kania.


"Tapi nyatanya kamu waktu itu lebih sering main kan, Dek? Malahan kamu juga sering mangkir dari tugas beresin rumah. Ujung-ujung nya kakak yang harus beresin kerjaan kamu!"


"Itu..oke maaf deh. Maaf. Namanya juga kan lagi bucin. Jadi pingin nya kan dua-duaan terus, Kak.." Kania kembali membela diri.


"Nah! Itu dia Dek! Karena bucin itu lah yang bisa bikin kita melalaikan tanggung jawab. Terus yang paling parah sih pacaran juga bikin suka berbohong. Dan jangan mengelak ya, Ya. Kita tahu banget, seberapa sering nya kamu bohong ke kakak dan Bunda."


"Bilangnya mau ngerjain tugas lakh di rumah teman. Eh tau nya malah keluyuran main sama Tegar. Iya kan?"


Kania cemberut. Ia memutuskan untuk diam. Tahu benar kalau dirinya memang salah.


"Dan yang paling merugikan dari pacaran itu ya, Ry. Dosa. Dosa nya sama aja kayak mendekati zina. Padahal kan kata Bunda zina itu dosa nya besar banget!" Ujar Ranum memaparkan alasan nya.


Kania yang kesal dengan ucapan sang Kakak, tiba-tiba saja berdiri dan langsung masuk ke dalam rumah. Tak lupa pula ia membanting pintu dengan cukup kencang.


Brak!


Ranum yang melihat gelagat sang adik hanya bisa menghela napas. Sementara itu, Tary yang menyaksikan semuanya kemudian berkata.


"Sebenarnya kalian berdua lagi ada slek atau apa sih, Num? Gak biasa-biasanya juga kamu emosian gini?" Tanya Tary.


"Hhh.. maaf ya Ry. Kita memang lagi ada slek dikit."


"Soal apa lagi, Num?"


"Gara-garanya.."


Ranum pun mengingat kembali perbincangannya dengan Kania beberapa malam yang lalu.

__ADS_1


***


__ADS_2