Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Pertemuan pertama Rahayu-Aditya


__ADS_3

"Jadi cerita nya, dulu itu Mas suka nongki-nongki gitu di kafe punya teman Mas. Kebetulan di kafe itu kamu bekerja sebagai pelayan nya," Aditya mulai bercerita.


Flash back enam belas tahun silam...


Aditya merasa kesal. Baru saja Opa mencabut hak black card milik nya. Ini dikarenakan ia yang sedikit mengambil beberapa barang bagus dari gudang keluarga mereka secara diam-diam.


Ulahnya ini bisa diketahui oleh Opa, hasil pengaduan dari pelayan Kim.


"Sia lan! Padahal gue udah bayar banyak mulut pelayan Kim! Tapi tetap saja mulut nya itu bocor juga! Awas saja! Gue bakal buat perhitungan nanti pada si tua bang ka itu!" Umpat Aditya.


Ia menenggak wine putih dalam sekali teguk, akibat kekesalan yang memenuhi benak dna pikiran nya saat ini. Di samping nya, seorang scouter (pendamping) cantik bergelayut manja ke tubuh Aditya. Gincu merah sengaja ditinggalkan gadis itu di pipi dan leher pemuda tampan itu.


Aditya membiarkan sang scouter memanjakan tubuh nya. Kepala nya sudah cukup bebal memikirkan apapun lagi selain amarah pada pelayan tua di rumah nya itu.


"Udah lah Bro! Tenang aja! Lo masih punya kita. No black card pun Lo tetap sahabat kita. Ya enggak, Man?" Ujar seorang lelaki yang sama teler nya seperti Aditya. Lelaki itu bernama Jordan. Namun Aditya dan yang lain terbiasa memanggil nya Jody.


"Yo i. Asal Lo inget aja nanti kalau black card Lo udah balik lagi. Atau boleh deh kesetiaan gue dituker sama perlindungan seumur hidup dari keluarga Lo. Sebut gue sebagai best buddiest nya Lo, ya, Dit!" Seru lelaki berkepala botak yang bernama Imran.


Imran adalah anak pemilik kafe yang sedang mereka tongkrongi saat ini. Aditya, Imran dan Jody adalah tiga sekawan yang memang biasa berkumpul di ruang VVIP yang tersembunyi di lantai atas bangunan kafe Lazizo.


Ruangan tempat mereka berada saat ini dikelilingi oleh kaca-kaca yang bis amembuat mereka melihat tembus pandang ke keramaian yang ada di lantai bawah mereka. Sementara orang di luar ruangan itu tak akan bisa menyadari keberadaan mereka.


"Sialan Lo, Ron! Murah banget sih kesetiaan Lo itu!" Umpat Aditya pada sahabat nya itu.


Imran terkekeh. Ia tak menanggapi umpatan Aditya dan mulai sibuk menggerayangi tubuh molek scouter cantik yang kini duduk di atas pangkuan nya.


Sebuah ******* dan erangan pun perlahan terdengar dari sudut tempat pemuda itu duduk dengan scouter nya.


Aditya menoleh jijik pada tingkah Imran. Dilemparinya sahabat nya itu dengan potongan kentang goreng yang terhidang di atas meja.


"Cari kamar sendiri, sana! Jangan ML (making love \= bercinta) di sini! Eneg gue denger nya!" Ujar Aditya.


"Oke, Bro.. gue take in dulu ya. Lo happy-happy aja di sini. Semisal perlu kamar juga, tinggal bilang ke si Beo. Bye!" Pamit Imran terburu-buru dengan scouter yang masih bergelayyt manja ke tubuh nya.

__ADS_1


Merasa sedikit gerah melihat tingkah Imran barusan, Aditya mendorong jauh scouter yang melayani nya. Didorong nya wanita ber make up tebal itu dengan pandangan kesal, sambil mengusir nya secara langsung.


"Go away! Peegi jauh sana! Gue pingin sendiri!" Usir Aditya.


Sang scouter menjadi kesal karena ditolak dan diusir mentah-mentah oleh Aditya. Sehingga ia pun langsung pindah duduk ke dekat Jody. Sehingga sahabat nya Aditya itu kini ditemani oleh dua orang scouter.


"Wahh.. ketiban duren runtuh nih gue.. Lo gak mau main-main dulu nih, Men, sama ni cewek?" Tanya Jody yang sudah tampak kewalahan karena sentuhan dua wanita yang menempel ke tubuh nya.


"Ambil aja! Lagi males, Gue!" Jawab Aditya asal sambil menuangkan kembali wine ke gelas nya.


"Oke. Kalau gitu, gue juga cabut dulu ya, Men. Udah panas nih yang di bawah!" Ujar Jody juga tampak terburu-buru pergi.


"Pergi dah Lo pada! Dasar horny semua Lo! Gue lagi kesal gini, malah Lo tinggalin sendirian! Emang dasar gak setia kawan deh Lo ya!" Umpat Aditya pada pintu yang telah tertutup, usai Jody menghilang pergi bersama dua scouter cantik nya.


Merasa sedikit pusing, Aditya memutuskan untuk memejamkan kedua mata nya sebentar saja.


...


Di antara kepala yang terasa pusing dan mata yang berat, Aditya berusaha sekuat tenaga untuk membuka kedua mata nya. Dan kembali, dumelan itu didengar nya dengan cukup jelas.


"Orang kaya memang gak punya aturan. Tidur sembarangan udah kayak pengemis di kolong jembatan!" Dumel suara wanita pelayan kafe yang kini sedang membereskan sisa makanan dan minuman yang berantakan di atas meja.


Aditya mengerjapkan kedua mata nya. Berusaha mengusir rasa pusing yang mengganggu nya. Dalam diam, ia kembali mendengarkan dumelan pelayan wanita itu. Entah kenapa ia tertarik untuk mendengar ucapan sang pelayan yang wajah nya masih tak jelas ia lihat. Lantaran posisi sang pelayan yang agak membelakangi Aditya.


"Masih mending aku lah. Biarpun telat bayar kosan dua bulan, seiyanta aku selalu pulang ke kosan ku sendiri setiap malam. Aku tahu rumah ku sendiri. Gak sembarangan tidur macam orang-orang ini!" Dumel wanita itu lagi.


Aditya tertegun.


Rumah.. ia teringat dengan penthouse tempat nya tinggal saat ini. Penthouse seharya puluhan milyar yang fihadiahkan oleh Opa kepadanya atas pembunuhan pertama yang dilakukan nya terhadap pemimpin gangster yang memberontak terhadap kelompok Tengkorak. Geng Mafia asuhan Opa nya.


Rumah mewah dengan swimming pool di roof top nya itu hanya menjadi tempat singgah nya sesekali saja. Sementara ia lebih sering tidur di mana pun. Entah di hotel, di rumah salah satu sahabat nya, atau di tempat-tenpat lain nya.


Tak ada rumah bagi seorang anggota mafia seperti Aditya. Karena rumah yang paling aman bagi nya adalah di mana-mana.

__ADS_1


Musuh nya selalu mengintai di mana pun ia berada. Sehingga Aditya sedikit emmpercayai orang lain untuk dekat dengan kehidupan pribadi nya. Sedikit ceroboh saja, maka ia bisa saja ditemukan tergeletak di jalanan. Mati sendirian.


Aditya bergidik. Ia berusaha mengusir rasa tak nyaman nya setiap kali emmikirkan tetlntang kematian. Bisa dibilang, ia takut mati. Apalagi ia pernah melihat Mama nya mati ditembak oleh seorang pemberontak saat keduanya sedang makan siang di sebuah food court yang ramai.


Kematian tiba-tiba yang disaksikan nya itu meninggalkan sedikit traumatis bagi Aditya. Sehingga sejaj kejadian naas itu, Aditya selalu membawa beberapa pengawal setia nya ke mana pun ia pergi.


Seperti saat ini, dua pengawal setia nya, Jeff dan Kiddo pastilah sedang berjaga di depan ruangan VIP ini. Namun Aditya heran, bagaimana bisa pelayan ini begitu mudsh nya masuk ke dalam sini? Apakah Imran yang sudah meminta pelayan ini untuk mengecek nya?


"Errmmm.."


Aditya tak sengaja menggeram. Tenggorokan nya terasa begitu kering usai menenggak hampir setengah botol wine putih keluaran tahun 80-an.


Geraman nya itu spontan membuat sang pelayan jadi terlonjak kaget. Sebuah ucapan latah pun keluar dari mulut sang pelayan.


"I..nini nini belah poni!"


Sedetik kemudian, pelayan wanita itu berbalik dan menghadap ke Aditya. Dan saat itu lah Aditya merasa tenggelam dalam dua manik terindah yang pernah ditemui nya hingga kini.


Manik hitam yang terlihat begitu dalam, kini memandang pemuda itu dengan bentuk nya yang membulat besar. Bibir pink yang terlihat begitu penuh, kini membulat pula dengan posisi terbuka.


Wajah mungil, putih dan cantik itu berhasil memikat hati Aditya yang masih mabuk di bawah pengaruh wine yang diminum nya. Hingga tanpa sadar, Aditya langsung saja menarik tangan pelayan itu cukup kencang. Sampai membuat sang pelayan terjatuh ke dalam pelukan nya.


Setelah itu, masih tak sadar sepenuh nya, Aditya juga bertanya pada pelayan itu.


"Sebut kan harga mu!" Titah Aditya.


Akan tetapi...


PLAK!


Aditya malah menerima tamparan keras di pipi nya oleh tangan pelayan cantik itu.


***

__ADS_1


__ADS_2