
"Ah!"
"Sayang! Kamu kenapa?" Dengan khawatir, Aditya terburu-buru menghampiri Rahayu yang tiba-tiba saja seperti kesakitan di bagian kepala.
Mereka berdua saat ini sedang dinner berdua di sebuah restaurant langganan keduanya. Hotel seafood bintang lima kesukaan Rahayu.
Aditya khawatir jika kolesterol sang istri sempat kembali naik usai memakan lobster. Seperti yang pernah terjadi beberapa pekan yang lalu.
"Ehh.. gak tahu nih, Mas. Tiba-tiba aja kepala ku sakit gitu," sahut Rahayu yang masih tampak meringis kesakitan.
"Sebaiknya kita pergi ke dokter sekarang juga ya!" Ajak Aditya sedikit panik.
Rahayu tak menanggapi. Ia masih tampak meringis dalam diam.
Baru setelah beberapa lama berlalu akhirnya wajah Rahayu yang sempat pucat pasi sesaat tadi, kini kembali menemukan warna nya lagi.
Rahayu pun berkata, "seperti nya sudah baikan, Mas. Gak usah ke dokter deh ya. Kayak nya aku oke," ujar Rahayu.
"Tapi.."
"Udah, Mas. Please.. kita lanjutin makan nya lagi ya? Kamu duduk lagi di sana. Gak enak dilihat sama tamu yang lain, lho," ujar Rahayu seraya melirik ke sekitar mereka.
Aditya pun mengikuti lirikan mata sang istri. Dan memang benar. Beberapa pengunjung lain restaurant kini sedang memperhatikan mereka berdua. Termasuk juga seorang pramusaji yang sudah berjalan mendekati tempat meja keduanya berada.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Maam?" Sapa sang pramusaji.
Aditya kalah cepat dari Rahayu. Karena istri nya lah yang terlebih dulu menyahut sapaan sang pramusaji.
"Tak apa-apa. Hanya pusing sedikit saja tadi," sahut Rahayu.
"Apa Ma am mau mencicipi menu lain selain seafood? Mungkin Ma am memiliki riwayat alergi sebelum nya?" Tanya sang pramusaji yang sepertinya baru bekerja di restaurant ini.
Aditya menerka begitu karena dalam kunjungan sebelum-sebelum nya ia tak pernah melihat wajah pramusaji tersebut.
"Kembali ke tempat mu. Apa kau tak mengenal siapa aku?! Istri ku sudah bilang kan kalau ia tak apa-apa!" Kecam Aditya dengan emosi kesal yang terlihat nyata.
Sang pramusaji tampak gentar usai menerima gertakan dari Aditya. Ia pun terburu-buru pergi setelah sebelum nya mengucap kata 'maaf' secara kilat.
"Mas! Kenapa kamu marah gitu sih? Kan kasihan pelayan nya. Dia sampai ketakutan gitu lho!" Tegur Rahayu to the point.
Wajah keras Aditya spontan langsung mencair dan berganti dengan ekspresi lembut manakala ia menatap wajah sang istri.
"Cuma negur pelayan tadi aja kok, Yang. Soalnya dia tadi terlalu banyak tanya. Mengganggu saja!" Ucap Aditya dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
Dalam hati nya, Rahayu sedikit merasa gentar terhadap kepribadian sang suami. Selama beberapa tahun yang diingatnya ia lalui bersama dengan Aditya, Rahayu terkadang merasakan takut yang tak berdasar terhadap sang suami.
Padahal selama ini Aditya selalu berlaku lemah lembut terhadap nya. Aditya selalu memberikan apapun yang menjadi keinginannya. Dan Rahayu sangat bersyukur atas hal itu.
Meski begitu, Rahayu juga tak bisa memungkiri sifat dualisme sang suami yang tiba-tiba bisa berubah sangat keras bila berhadapan dengan orang lain yang sikap nya tak ia sukai. Seperti misal nya pelayan tadi.
Aditya tak segan-segan langsung berkata kasar pada sang pelayan. Padahal menurut Rahayu pertanyaan pelayan tadi tidak lah mengganggu nya. Malah Rahayu menilai pelayan tadi memiliki sifat empati yang cukup besar karena berani menawarkan hal lain yang menurutnya bisa membantu mengurangi rasa sakit Rahayu.
Rahayu menatap lekat-lekat sang suami. Wajah tampan yang mengingatkannya juga pada aktor lama Primus Yustisio itu masih menyimpan daya tarik bagi banyak wanita. Terutama rekan-rekan wanita sosialita nya di kelompok arisan komplek atau pun para sekretaris wanita sang suami di kantor milik nya.
Rahayu pernah sekali datang ke kantor Aditya untuk memberikan kejutan. Dan ia sungguh menyesal karena telah datang ke sana.
Ini dikarenakan saat itu lah Rahayu akhirnya menyadari sifat dualisme sang suami. Dimana Aditya bersikap lemah lembut terhadap dirinya, sementara kepada para bawahannya Aditya bersikap sedikit kelewat otoriter.
Saat itu Rahayu bahkan melihat Aditya menginjak tangan anak buah nya hingga berdarah-darah. Dan itu disebabkan oleh kesalahan yang telah dibuat oleh bawahannya itu.
Itu adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi Rahayu. Dan saat itu juga Rahayu langsung menegur sang suami agar lebih bersikap lembut juga terhadap bawahannya.
Aditya menjanjikan untuk mengikuti saran Rahayu. Namun suaminya itu meminta agar Rahayu tak lagi datang ke kantor nya.
Alasannya klise. Aditya khawatir Rahayu datang di saat ia sedang tak berada di kantor. Tentu lah itu hanya akan menjadi perjalanan yang sia-sia dan melelahkan saja bagi sang istri.
Rahayu mengikuti permintaan sang suami. Tapi bukan karena alasan yang diujarkan oleh Aditya. Melainkan lebih dikarenakan ia tak ingin kembali melihat kejadiaan berdarah seperti saat itu lagi.
"Hh.. tapi bisa kan negur nya gak sekeras tadi?" Tegur Rahayu kembali.
Alis aditya berkedut. Pertanda tak suka atas sesuatu. Rahayu menyadari kedutan itu setelah interaksi nya dengan Aditya selama ini. Karena nya Rahayu pun terburu-buru menambahkan.
"Tapi makasih ya, Mas. Sudah peduli sama aku.." imbuh Rahayu dengan jantung yang berdegup sedikit lebih cepat dari sebelum nya.
Wajah Aditya terlihat merileks. Dan Rahayu pun bisa menghela napas lega akhirnya. Aditya menjulurkan tangannya ke depan. Dan kemudian menggamit jemari istri nya yang putih, mulus dan ramping.
Aditya mengecup lembut punggung jemari sang istri. Membuat Rahayu untuk sesaat melupakan ketakutannya pada sang suami.
Dengan wajah tersipu, Rahayu berkata. "Kamu ini ngapain sih, Mas. Malu ah, dilihat orang lain," ujar Rahayu dengan pipi yang tampak memerah.
"Malu kenapa? Kamu kan istri ku. Jadi sah-sah aja kan kalau aku perhatian sama kamu. Gak usah pedulikan anggapan orang lain. Kamu cukup melihat aku dan aku saja. Ok?" Imbuh Aditya dengan pongah.
Rahayu tak menyahut ucapan sang suami. Ia memilih untuk diam dan menyembunyikan selarik rasa yang beberapa saat sebelum nya sempat ia tujukan terhadap sang suami.
Rasa takut.
'Aneh sekali. Kenapa aku sering merasa segan dan takut pada Mas Adit? Padahal dia selalu bersikap baik kepada ku..' tanya Rahayu dalam benak nya sendiri.
__ADS_1
"Kamu mikirin apa, Sayang?" Tanya Aditya tiba-tiba.
Rahayu terkejut. Sehingga ia tak langsung menjawab pertanyaan Aditya. Maka Aditya pun kembali melontarkan tanya.
"Apa kepala mu sakit lagi?" Tanya Aditya dengan khawatir.
"Ah! Enggak. Bukan itu. Aku cuma keingetan sesuatu aja tadi. Tahu-tahu kepala ku malah sakit," ujar Rahayu terburu-buru.
Dan tiba-tiba saja mata Aditya berkilat oleh sesuatu. Namun Rahayu tak melihat nya. Dengan wajah tersenyum, Aditya bertanya pada Rahayu.
"Apa yang kamu ingat, Yang?" Tanya Aditya pelan-pelan.
Rahayu memandang kejauhan sambil mengingat sesuatu hal. Ia masih tak menyadari kilatan ekspresi mengancam di wajah sang suami.
"Aku itu tadi keingetan sama teman nya Adnan, Mas. Itu lho yang kemarin sempat main ke rumah. Yang paling cantik tapi penampilannya sederhana banget," papar Rahayu menjelaskan.
"Oh ya? Memangnya.. gadis itu kenapa..?" Tanya Aditya dengan nada yang semakin terdengar begitu hati-hati.
Kali ini, Rahayu menyadari nada bicara Aditya yang tiba-tiba berubah. Dan ia sempat melihat sebuah ekspresi asing di wajah suami nya itu. Ekspresi yang langsung membuat nya tersentak oleh perasaan takut tak berdasar terhadap sang suami.
Tapi Aditya begitu cepat merubah ekspresi wajah nya kembali menjadi seperti biasanya ia yang lembut dan ramah. Hingga Rahayu sempat mengira kalau tadi ia hanya sekedar berilusi saja saat melihat ekspresi kejam yang berkilat terlalu cepat.
Tapi Rahayu tahu kalau ia tak berilusi. Ia mengenal betul ekspresi tadi. Ekspresi sama yang pernah dilihatnya muncul saat ia tak sengaja melihat sang suami menginjak-injak tangan anak buah nya di kantor dulu sekali.
Dan Rahayu bergidik dibuat nya. Sebuah alarm tak dikenal, berbunyi di kepala Rahayu. Insting nya mengatakan kalau ia harus berhati-hati saat bicara tentang gadis bernama Ranum. Karena entah kenapa ia selalu merasakan perasaan mengancam dari sang suami setiap kali mereka berbicara tentang teman putra nya mereka itu.
Padahal mereka baru bertemu beberapa kali saja di rumah nya dengan Ranum. Jadi, oleh sebab apa sebenarnya aura mengancam itu bisa muncul dari diri Aditya? Rahayu benar-benar tak mengerti.
"Ah.. tapi mungkin karena aku terlalu banyak makan lobster juga ya, Mas. Jadi kepqla ku sedikit migrain. Bagaimana kalau kita pulang saja sekarang?" Ajak Rahayu, demi mengalihkan perhatian ke topik yang lain.
"Hm.. begitu? Benar, kamu tak mengingat apapun, Yang?"
Tanpa berkedip, Rahayu langsung menyahut.
"Iya. Aku gak ingat apa-apa, Mas. Cuma suka aja sama teman-teman nya Adnan yang ramah-ramah," imbuh Rahayu dengan wajah dibuat se netral mungkin.
"Termasuk juga gadis bernama Ranum itu, bukan?" Tanya Aditya dengan pandangan yang kelewat intens.
Rahayu sedikit merasa gugup. Entah kenapa ia seperti sedang diselidik oleh suami nya saat ini. Namun Rahayu berusaha menepis kegugupan itu. Dan menjawab pertanyaan suami dengan nada suara yang senormal mungkin.
"Ya. Termasuk juga dengan Ranum.." imbuh Rahayu.
***
__ADS_1