
Setelah musyawarah kelas yang diadakan secara dadakan saat jam istirahat, akhirnya diputuskan kalau kelas Ranum akan menampilkan teater singkat juga.
Segera setelah itu ditunjuklah Lidya yang bertugas untuk menyusun naskah. Ditunjuk nya kawan Ranum itu dengan alasan karena Lidya dikenal mahir dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Terlebih lagi Lidya pernah mengikuti kompetisi membuat cerpen di masa SMP nya dulu.
Lidya pun tak menolak tugas yang diembankan kepada nya itu. Dengan bersemangat ia menjanjikan akan membuat naskah yang bagus untuk penampilan teater kelas mereka nanti nya.
Dan ucapan Lidya itu dibuktikan nya sekitar tiga hari kemudian.
Dengan lingkaran hitam yang tampak nyata di bagian kantung mata nya berada, Lidya menyerahkan naskah awal drama yang akan mereka tampilkan nanti nya.
"Ini, Nan. Naskah nya. Cerita romantis gitu. Singkat banget sih. Tentang seorang pasangan cowok dan cewek yang udah dari kecil bersahabat baik. Sebenarnya mereka saling suka. Tapi karena gak ada yang berani bilang cinta, akhirnya keduanya saling tunggu menunggu sampai keduanya udah dewasa dan gak nikah-nikah. Mereka baru tahu perasaan satu sama lain pas ada acara reunian SMA mereka. Terus.."
Ucapan Lidya itu langsung dipotong oleh Adnan.
"Oke. Bagus. Kita tinggal tentuin pemain nya aja ya nanti sepulang sekolah. Btw, ini durasi nya berapa menit kira-kira, Lid?" Tanya Adnan.
"Kalau kata kakak ku yang kuliah sih kemungkinan gak sampai setengah jam, Nan. Aku buat naskah ini juga dibantu Kakak ku sih. Aku yang bikin ide, dia yang ngetik," imbuh Lidya menjelaskan.
"Siap. Makasih ya Lid. Dan sampaikan salam makasih juga ya buat Kakak mu itu," ucap Adnan dengan senyuman tipis.
"Sama-sama, Adnan," sahut Lidya membalas.
***
Siang hari nya, usai bel pulang berdering nyaring..
Ranum dan teman-teman sekelas nya kembali bermusyawarah. Kali ini tujuannya adalah untuk menentukan pemeran dalam pentas drama kelas nya mereka nanti.
Setelah dihitung, perkiraan dari naskah yang dibuat oleh Lidya dan Kakak nya itu, dibutuhkan sekitar belasan orang. Sehingga diputuskan sisa orang yang tak mendapat jatah peran akan diberi tugas untuk mempersiapkan kostum dan juga hal lain yang terkait.
Pemeran utama drama nanti diputuskan secara mufakat sepulang sekolah. Dan Adnan dan juga Tika, didapuk menjadi pemeran utama naskah itu.
Sebenarnya ada juga sih yang mengusulkan nama Ranum untuk menjadi pemeran utama wanita nya. Namun Ranum jelas-jelas menolak usulan itu. Ia berdalih kalau ia terlalu malu untuk berakting. Dan ia pun tak yakin bisa berbicara tanpa tergagap di depan penonton nanti nya.
Akhirnya usulan nama Tika lah yang disepakati oleh semua nya. Dan gadis itu tampak sangat senang dengan peran yang akan dilakoni nya itu.
Selain kedua nya, dari grup Ranum, Mira juga ikut bermain dalam drama sebagai teman baik nya Tika. Sementara Tanti bersama dengan Ranum mendapatkan tugas untuk menyiapkan kostum.
__ADS_1
Akhirnya sejak saat itu, siswa di kelas Ranum terpecah menjadi dua kelompok. Yakni kelompok pemeran yang akan fokus berlatih menghapal skrip naskah masing-masing.
Dan juga kelompok akomodasi yang bertugas untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk penampilan nanti.
Ranum dan kelompok akomodasi nya pun sering bermusyawarah sendiri. Dan dibagilah tugas-tugas nya itu.
***
Suatu ketika di dalam kamar nya Ranum...
"Kak, kelas Kakak mau nampilin apa di acara pensi nanti?" Tanya Kania tiba-tiba sambil merebahkan badan.
Ranum yang sedang mengerjakan tugas BTQ (Baca Tulis Quran) di meja belajar nya pun untuk sesaat menghentikan kegiatannya itu.
Ranum menoleh pada sang adik yang kini berbaring miring menghadap ke arah nya.
"Insya Allah mau ngadain drama gitu, Dek. Kalau kelas Nia, mau nampilin apa?" Tanya balik Ranum.
"Kalau kelas Nia sih mau nampilin band gitu, Kak. Dan Kania jadi vokalis cewek nya," ungkap Kania dengan bangga.
"Wahh! Keren tuh! Rencana nya mau nyanyiin lagu apa, Ya?" Tanya Ranum dengan cukup antusias.
"Hmm.. yang mana sih?" Tanya Ranum tak ingat.
"Yang gini loh.. 'Kau ku cinta.. kau ku sayangi takkan terganti..' yang itu tuh Kak!" Jelas Kania.
"Oh yang itu. Iya. Bagus itu. Suara kamu juga kan bagus," puji Ranum menyemangati.
"Masih merduan suara Kak Anum lah! Suara Nia mah terbilang pas-pasan. Gak merdu mendayu-dayu macam suara Kakak," puji Kania.
"Ah! Nia bisa aja muji nya!" Elak Ranum.
"Lha memang iya kan suara Kakak tuh merdu. Sayang aja Kakak tuh agak pemalu. Jadi jarang nampilin diri kakak yang..sebenarnya bisa jadi populer lho Kak, kalau Kakak mau lebih membuka diri," ujar Kania mengompori.
"Mulai ngasal kamu, Dek. Udah ah! Kakak mau lanjutin ngerjain tugas dulu ya, Nia. Deadline nya dua hari lagi nih!" Imbuh Ranum.
"Memang nya tugas apa sih, Kak?"
"BTQ, Nia. Menyalin lima hadits arba'in bebas."
__ADS_1
"BTQ? Kok Nia gak ada tugas BTQ ya? Tanya Kania sambil mengingat-ingat.
"Memang nya guru kamu siapa, De?" tanya Ranum.
"Bu Jannah," Jawab Kania lugas.
"Oh pantas saja! Kalau kelas kakak gurunya Pak firda."
"Pantas lah.. "
Setelah beberapa lama berlalu dalam keheningan, tiba-tiba saja keduanya mencium bau busuk.
Ranum langsung mengerucutkan hidung nya. Sementara Kania memilih untuk berpura-pura tidur saja.
Melihat gelagat mencurigakan sang adik, Ranum pun tahu dengan penyebab sumber kebauan yang dicium nya tadi.
"Kania! Kamu barusan kentut ya?!" Tuding Ranum pada sang adik.
Kania masih berpura-pura memejamkan mata. Sehingga Ranum pun akhirnya meletakkan pena ke atas meja, lalu mendekati kasur tempat sang adik terbaring saat ini.
Dengan begitu tiba-tiba, Ranum menyergap adik nya itu dan menggelitiki perutnya hingga terpingkal-pingkal.
"Ahahahaha! Ampun Kak! Ampun! Iya! Iya! Nia ngaku kentut, Kak! Hah. Ha. Hah." Ucap Kania terburu-buru mengaku.
Usai mendengar pengakuan sang adik, Ranum sempat memberi jeda pada aksinya itu. Namun tak lama. Karena beberapa saat kemudian, Ranum kembali menci um bau busuk yang sama. Sehingga ia pun kembali menggelitiki perut sang adik, yang kemudian dibalas dengan gelitikan pula dari Kania pada kakak nya itu.
"Kamu habis makan apa sih, Dek?" tanya Ranum dengan wajah yang masih menunjukkan protes.
"Cuma telor asin aja sih, Kak. Kakak mau juga?" tawar Kania.
"Pantas saja bau. makanan mu telor ternyata. Lain kali, permisi dulu lah ya, Dek. biar Kakak juga kan bisa bersiap-siap nutupin hidung!" ujar Ranum.
"Hehehe.. Iya. iya, Kak. Lain kali Nia bilang dulu deh.." janji Kania.
"Atau malah jangan cuma bilang aja, Dek. sekalian aja kamu ngejauh dulu. Biasanya juga Kakak begitu," Ranum mengaku.
"Oohh.. iya deh. Siap, Bos!" seru Kania sambil bergaya memberikan hormat pada komandan, eh, kakak nya itu.
***
__ADS_1