Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Ujian Masuk SMA


__ADS_3

Dan hari ujian masuk SMAN 2 kota Y pun tiba.


Ranum dan Kania berangkat bersama ke sana dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit lamanya. Begitu sampai di sana, keduanya mendapati sudah ada banyak siswa yang akan mengikuti tes.


Padahal ketika sampai di sana jam baru menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Masih ada waktu sekitar setengah jam lebih sebelum ujian masuk dimulai.


Kania dan Ranum kemudian mencari ruangan dan meja yang tertera nomor peserta ujian mereka.


Setelah mengetahui di mana masing-masing akan duduk nanti, keduanya memilih untuk duduk menunggu di depan salah satu kelas.


Sambil menunggu, keduanya membuka kembali beberapa catatan teori atau hafalan yang mereka kira akan keluar dalam soal ujian.


Tak terasa setengah jam lebih telah berlalu. Kini terlihat semakin banyak saja siswa yang hadir dan berpartisipasi dalam ujian kali itu.


Sekitar 5 menit sebelum ujian dimulai, Kania mengajak Ranum masuk ke dalam kelas.


"Kak, masuk ke dalam yuk. Lima menit lagi nih," Ujar Kania seraya bangun dari duduknya.


"Yuk!" Sahut Ranum.


Ranum lalu mengumpulkan catatan dan kertas yang tadi dipakainya untuk latihan soal Fisika. Setelahnya ia segera bangun untuk menyusul Kania yang sudah duluan masuk ke dalam kelas.


Gabruk!


"Duh!" Ranum mengaduh.


Tak sengaja ia menabrak seseorang ketika ia hendak berbalik. Beberapa lembar catatan dan pensilnya pun terjatuh.


"Maaf. Maaf. Aku gak sengaja!" Ucap Ranum.


"Okay.. no problem," Jawab suara yang terdengar agak barito. Suara lelaki.


Ranum tak mengangkat wajahnya untuk melihat lelaki yang ia tabrak. Ia fokus mengumpulkan barang-barangnya sesegera mungkin.


Ketika ia mencari pensil 2B miliknya, ia malah menemukan pensil 2B lain. Pensil 2B itu jelas bukan miliknya. Karena terdapat belitan karet merah di bagian atas pensilnya. Sementara pensil miliknya itu polos, tak terdapat apa-apa.


Setelah mencari selama beberapa waktu, Ranum tak menemukan pensil miliknya. 'Apa ketuker ya ama pensil orang tadi?' Ranum membatin.


'iya kali ya. Ah udah ah. Pake aja yang ada dulu.'


Dan setelahnya Ranum pun bergegas masuk ke dalam kelas.


***


Ujian masuk SMAN 2 kota Y berlangsung dengan tertib. Tepat pukul setengah delapan ujian dimulai.


Terdapat 60 soal pilihan berganda yang tersusun dari teori-teori ataupun soal hitung dari Tujuh pelajaran (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, Sejarah dan Geografi). Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan ke enam puluh soal itu adalah 120 menit.


Jadi ketika bel berbunyi pada pukul setengah sepuluh, semua peserta ujian pun mengumpulkan kertas ujiannya ke meja pengawas.

__ADS_1


Dan sebelum keluar kelas, setiap pengawas memberi info tanggal pengumuman siswa yang lolos seleksi masuk. Setelahnya, seluruh siswa pun keluar kelas.


Ada yang berwajah masam. Ada yang berwajah penuh percaya diri. Ada pula yang berwajah biasa-biasa saja. Itu adalah ekspresi dari seluruh siswa itu.


Ketika Ranum dan Kania sudah berada di luar kelas, Ranum mendapati adiknya itu cengar-cengir tak jelas.


"Kenapa sih, Nia?" Tanya Ranum.


"Aku yakin aku bisa lulus, Kak!" Ucap Kania dengan begitu yakin.


"Hush. Istighfar kamu, Dek. Gak boleh sombong!" Tegur Ranum.


"Hehe.. habis soalnya mirip-mirip kayak pas ujian kelulusan kemarin sih. Ya kan Kak?" Seru Kania.


"Iya sih. Cuma ada beberapa soal yang aku gak ngerti. Itu loh soal bangun ruang. Kayaknya gak ada jawaban yang cocok deh di abc-nya. Udah hitung berkali-kali tetep aja gak ada di pilihan jawaban," Ujar Ranum.


Kini keduanya berjalan menuju gerbang keluar sekolah. Bersama mereka ada banyak juga yang hendak langsung pulang selepas ujian. Walau ada juga yang terlihat duduk santai di pinggir lapangan atau depan kelas.


"Masa sih Kak? Seinget Nia pas hitung soal bangun ruang itu ada kok pilihan jawabannya," Ujar Kania.


"Gak tahu juga sih. Udah ah. Sekarang kemana nih. Masih pagi banget. Gimana kalau kita ke perpus Kota? Minggu lalu Kakak lihat ada koleksi buku baru loh!" Ajak Ranum.


"Novel baru ada juga gak?" Tanya Kania.


"Kayaknya sih ada. Novel misteri tapi. Karangan siapa ya. Mm.. kalo gak salah kebanyakan novel barunya karya Samantha Christie deh."


Kania termangu sejenak. Dan tiba-tiba saja mereka mendengar suara batuk yang aneh. Seperti batuknya orang yang menahan tawa.


Ranum tak tahu remaja pria mana yang tadi terbatuk. Tapi Ranum merasa batuknya remaja itu seperti ditujukan untuk ucapannya.


'apa yang salah dengan ucapanku?' Ranum membatin.


Barulah ketika didapatinya Kania yang tiba-tiba tertawa, ia akhirnya tahu apa yang salah.


"Ahahahaha! Kakak nih payah banget sih. Setahu Nia, pengarang novel misteri yang ada di perpus tuh namanya Agatha Christie. Bukan Samantha Christie!"


Ranum mengerjap-kerjapkan matanya merasa bingung.


"Ehh? Iya kah ya? Tahu juga deh. Kakak lupa. Kakak kan gak terlalu suka baca novel," Kilah Ranum.


"Dan Kakak juga payah kalo disuruh inget nama. Waktu itu aja anaknya Bu Dar yang mau pedekate in Kakak malah Kakak ubah namanya seenak jidat. Dari Mas Gilang jadi Mas Alang. Gimana orangnya gak langsung ill feel ama Kakak coba?"


Diingatkan soal daya ingatnya dalam mengingat nama, Ranum jadi merasa malu.


Memang ucapan Kania itu ada benarnya. Ranum memang payah sekali dalam urusan mengingat nama. Karenanya ia khawatir kekurangannya ini akan berpengaruh buruk pada cita-citanya kelak, menjadi guru Matematika.


"Buahahahaaa!!"


Serentak Ranum dan Kania menoleh lagi ke belakang. Terlihat seorang remaja pria bertubuh kurus dengan tinggi sedang tengah menahan tawa. teman-teman remaja pria itu pun keheranan melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa, lu? Tiba-tiba ketawa gak jelas," Tanya seorang remaja berkacamata tebal.


"Hahaha..enggak apa-apa. Tiba-tiba keingetan hal lucu aja," Jawab remaja pria itu.


Entah benar atau tidak, tapi firasat Ranum mengatakan kalau remaja pria di belakangnya ini sedari tadi menguping pembicaraannya dengan Kania dan


lalu menertawakannya.


Ranum menyipitkan matanya ke arah remaja pria itu. Tak berapa lama remaja pria itu seperti sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh Ranum.


Remaja pria itu lalu menyunggingkan senyuman yang lebar ke arah Ranum. Terlihat oleh Ranum, gigi gingsul di sebelah kanan dari deretan gigi pria itu. Membuat pria itu terlihat cukup manis.


"Kak Ranum! Kalo jalan tuh lihatnya ke depan. Kelamaan nengok ke belakang tuh bisa bikin-- awas Kak!"


Peringatan Kania pada Ranum agaknya sedikit terlambat. Ranum sudah akan terjatuh ke dalam pinggiran selokan jika saja tak ada tangan kuat yang menariknya dari belakang.


Ranum pun membentur bahu lengan yang menarik tangannya tadi. Ketika ia menolehkan kepala, ternyata yang baru saja menolongnya adalah remaja pria yang tadi menurut Ranum menertawakannya.


Setelah tertegun sejenak, Ranum segera melepaskan lengannya dari remaja itu dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih."


Remaja pria itu membalas dengan tersenyum lebar dan menyahut.


"Okay. Take care ya!" Dan rombongan remaja pria itu berlalu melewati Kania dan Ranum yang masih diam terpaku.


"Untung tadi ada yang narik tangan Kakak. Coba kalo gak. Sepanjang jalan pulang Kakak bisa bawa bau selokan kemana mana. Ngomong-ngomong, Kakak kenal cowok tadi?"


Ranum yang masih linglung menjawab apa-adanya.


"Enggak. Gak kenal."


"Ooh.. kirain kenal. Kalo kenal mau minta kenalin gitu. Mukanya ganteng-ganteng manis sih."


Menyadari arah obrolan Kania, Ranum langsung menegurnya.


"Baru juga selesai ujian masuk, masa udah mau cari gebetan. Hayuk ke perpus sekarang. Jam 1 kita pulang."


Mendapat teguran Ranum, Kania memanyunkan bibirnya.


"Hu uh. Kak Ranum gak asik ah. Apa salahnya punya temen banyak. Punya gebetan banyak juga gak masalah kok. Kan jadi punya banyak pilihan tuk dijadiin pacar."


"Makin ngawur aja nih anak. Hayuk cepet jalannya. Mulai panas ini."


Dan kedua pemudi itu pun berlalu pergi. Bersamaan juga dengan banyak peserta ujian masuk lainnya.


Ada yang menuju rumah kawannya untuk bermain. Ke pasar tradisional untuk belanja. Ke perpustakaan daerah yang letaknya ada di perempatan jalan. Ataupun melangkahkan kakinya kembali ke rumah masing-masing.


Menuju pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2