Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Seperti Bunga


__ADS_3

Ranum kegerahan. Tika mengaku tak memiliki ikat rambut atau karet lebih. Alhasil ia melalui dua jam belajar pertama dengan rambut tergerai bebas.


Mulanya Ranum agak malu ketika memasuki kelas, banyak pandang mata yang mengikuti sosoknya.


Bahkan ketika ia sudah duduk di bangku pun Ranum mendapati beberapa temannya masih mengamatinya. Termasuk Adnan.


Tapi Ranum tak menggubris pandangan mata Adnan yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu. Ia hanya menengok ke belakang ketika Mira memanggilnya.


"Num. Ranum!" Panggil Mira.


"Ya, Mir?"


"Tumben rambutnya digerai?"


"Ikat rambutnya jatuh kena kotoran. Jijik mau diambil lagi. Jadi ya udah," Ujar Ranum pasrah.


"Tapi lo cantikan kalo gini deh Num," Puji Tanti ikut nimbrung di samping Mira.


"Tuh kan apa kubilang. Mending digerai aja, Num, rambutnya," Seloroh Tika.


"Gak kuat gerah.. eh ada yang punya karet atau ikat rambut lebih gak?" Tanya Ranum setengah berharap.


"Enggaakk.." sahut ketiganya berbarengan.


"Bu Nunik datang. Bu Nunik datang tuh!" Ujar Mira tiba-tiba.


Dan selama pelajaran Kimia yang diajar oleh Bu Nunik, Ranum pun mesti bertahan dengan rasa gerah yang melandanya. Siksaan kecil ini berlanjut ke pelajaran Bahasa Indonesia hingga bel istirahat berbunyi.


Ranum segera berdiri. Ia ingin segera ke kantin dan meminta karet pada Buk De Ndari. Tapi saat langkahnya baru menjejaki pintu keluar kelas, Adnan tiba-tiba memanggilnya.


Merasa tak enak jika mencueki Adnan di hadapan teman-temannya, Ranum pun mempersilahkan kelima kawannya untuk duluan ke kantin.


"Tapi nanti tolong beliin ketoprak ya, Ka. Takut kehabisan," Pinta Ranum pada Tika.


"Oke. Tenang aja. Kita duluan yaa.."


"Eh! Sama karet juga Kaa.." teriak Ranum menambahkan.


"Iya.. iya.."


Dan Tika bersama yang lain pun menuju kantin. Ranum kemudian menoleh ke Adnan.


"Ada apa?"


"Saya mau minta maaf. Saya khilaf. Lupa dan gak jelasin secara rinci pas saya minta tolong buatin buku KAS ke kamu. Maaf," Ucap Adnan.


"Iya. Diterima maafnya."


"Gampang banget. Beneran udah dimaafin ini?"


Ranum menjawab dengan anggukan singkat.


"Udah kan? Duluan ya. Ditunggu teman-teman nih," Ujar Ranum seraya membalikkan badan.


"Mau ke kantin ya? Saya ikut. Saya juga laper."


Dan Adnan pun mensejajarkan dirinya di samping Ranum. Bersama mereka jalan menuju kantin. Meski begitu, Ranum nampak enggan berjalan bersamanya.

__ADS_1


"Teman-teman kamu mana?" Tanya Ranum dengan enggan.


Tampak jelas di matanya kalimat sebenarnya yang ingin diucapkan oleh Ranum.


'Ngapain ikut-ikut aku. Kayak gak ada temen aja. Sana jaga jarak!' batin Ranum.


"Yang lain juga udah ke kantin. Tadi barusan ngelewatin kita."


Mendengar kata 'kita' yang diucapkan Adnan, tiba-tiba jantung Ranum berdebar lebih cepat. Membuatnya jadi mempercepat langkahnya agar tak beriringan jalan dengan Adnan.


Dan seolah tahu kalau Ranum tak menyukainya, Adnan pun menjaga jarak dan berjalan persis di belakang Ranum.


Sesampainya di kantin, Ranum dan Adnan menuju bangku teman-temannya masing-masing.


Dan seolah sudah direncanakan, kedua nya kembali duduk berdampingan saat menyadari kalau kedua grup teman mereka kembali duduk di meja panjang yang sama.


Ranum kembali menggerutu dalam hati.


'ini teman-teman pada sengaja gak ya?'


"Num! Sini!" Panggil Tika.


"Nih udah ku beliin ketopraknya. Dan ini karetnya," Ucap Tika lagi sambil menyodorkan bungkusan ketoprak dan karet merah.


"Makasih yaa, Tik. You save me a lot!"


"Udah nyantai aja. Makan-makan."


Dan Ranum langsung menyerbu ketoprak di hadapannya dengan segera.


Ketika Ranum hendak bangun dan membeli es teh, sebuah tangan di sampingnya menyodorkan segelas es teh kepadanya.


"Nih. Es teh. Punyaku es jeruk yang ini. Gak usah dibayar. Anggap aja ucapan minta maaf."


Ranum mulanya merasa segan untuk mengambil gelas di hadapannya. Tapi lalu Adnan berkata lagi.


"Itu es teh doang kok. Dari temen biasa."


Akhirnya Ranum bersedia menerima es teh dari Adnan.


'Lagipula aku memang udah kehausan.'


"Makasih.."


"Sama-sama.."


Tak lama terdengar suara koor di sekeliling keduanya.


"Cieeee... 'makasiihh..' 'sama-samaa'"


"Udah jadian ya ini berarti. Udah pake traktir-traktiran. Kita-kita sebagai best friend kok gak sekalian ditraktir sih Nan."


"Gitu dah. Kalo udah punya cewek, seringnya teman mah jauh dilupain."


Candaan dari teman-teman Adnan membuat Ranum jadi jengah. Ia merasa dilema apakah es teh di tangannya harus ia taruh kembali atau bagaimana.


"Apaan sih. Biasa aja kali. Gua ada salah ma dia. Jadi wajar dong kalo gua minta maaf," Sergah Adnan.

__ADS_1


Ranum sejenak tertegun. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa sedikit sedih mendengar ucapan Adnan.


"Hei. Bunga. Buku KAS buatan lu lebih rapih dari bikinan gua. Jadi nanti pake punya lu aja ya," Suara seorang lelaki terdengar di telinga Ranum.


"Hei. Denger gak sih?" Suara itu bicara lagi.


Saat Ranum mencari sang pemilik suara, ia mendapati kalau itu ada suara Yanto. Tapi anehnya lelaki itu serius menatapnya.


"Ya? Pake bikinan lu aja buku KAS nya."


"Mm.. oke. Tadi kamu panggil aku--"


Ucapan Ranum dipotong teman Adnan yang bernama Agus.


"Nama dia tuh Ranum, To. Bukan Bunga. Ya percuma lah lo ngomong ngalor ngidul kalo nyebut namanya aja salah. Dia ga bakal ngeuh kalo lo ngomong ma dia," Tegur Agus.


"O. Ranum. Sama-sama cantik ko kayak bunga."


Semua : "..." (Hening)


"Kenapa?" Tanya Yanto. Merasa tak ada yang salah dengan ucapannya.


"Gak. Gak apa-apa. Lo mah ngomong pinter selangit tapi suka gak tahu arti yang lo omongin," Ucap Agus lagi.


"Apaan sih lu. Gua emang pinter kok."


"Iya.. iya.. sorry ya Ranum. Dia ini emang rada ga peka. Jangan diambil hati ya. Dia mah ga ada maksud apa-apa kok," Kata Agus.


"Apaan sih, Gus. Lu tuh yang ngomongnya gak bisa dingertiin. Gua aja gagal paham," Ujar Yanto lagi.


Semua : "..."


"Mm.. Yanto. Gini aja. Menurutku kita bagi-bagi job desk aja. Jadi kamu mintain uang KAS anak laki-laki. Sementara aku mintain ke anak yang perempuan. Gimana?" Usul Ranum, memecah keheningan yang terasa mulai aneh.


"Oh. Oke. Gitu juga oke. Kira-kira berapa ya?"


"Gak usah gede-gede. Seminggu seribu aja sih.." usul Mira.


"Iya. Setuju itu," Seru yang lain berbarengan.


"Ya udah. Nanti aja lagi dibahasnya. Pas di kelas aja sih. Sekarang mah kita makan aja dulu. Keburu bel masuk bunyi lagi," Tegur Adnan.


"Ya deh Pak Ketua.."


"Ngerti deh Pak Ketuu.."


Dan suasana di kantin pun terasa hangat. Karena pertemanan di antara remaja-remaja itu yang kian dekat.


Saat bel masuk benar berbunyi, mereka semua segera beranjak pergi. Meninggalkan jejak dan sisa jajanan mereka di kantin tadi.


Di perjalanan menuju kelas, sekilas Ranum merasa mendengar suara bisikan pelan.


"Tapi kamu emang cantik. Kayak bunga."


Saat ia menoleh ke kiri, Adnan melewatinya tanpa melihatnya lagi. Dalam hati, Ranum merasa ragu. Apakah yang didengarnya itu sekedar hanya ilusi.


***

__ADS_1


__ADS_2