Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Diselamatkan Kak Titan


__ADS_3

"Nan, apa kamu tahu kalau kita adalah saudara kembar?" Tanya Ranum dengan begitu tiba-tiba.


Adnan terlihat bingung dengan pertanyaan Ranum barusan. Sehingga ia malah balik bertanya.


"Maksud kamu apa, Num? Saudara kembar? Kita?" Tanya balik Adnan.


Dan akhirnya, tahu lah Ranum bahwa Adnan ternyata tak mengetahui tentang hal itu. Ia pun lalu menjelaskan kepada Adnan tentang ucapan Jeff kepada nya tadi. Dan Adnan mendengarkan penjelasan Ranum dengan serius.


Setelah Ranum selesai bercerita, Adnan berkomentar.


"Pantas saja. Saya selalu merasa ingin mengenal kamu lebih baik lagi," komentar Adnan.


"Kamu juga merasa seperti itu, Nan?" Tanya Ranum terkejut.


Adnan mengangguk.


"Ya. Tapi teman-teman kita selalu saja menyalah artikan pendekatan yang saya lakukan memiliki maksud yang lain. Padahal niat saya cuma ingin kenal lebih dekat aja sama kamu. Kamu bisa ngerti kan, Num?" Tanya Adnan.


Ranum ikut mengangguk. Meski pun wajah nya mulai terasa panas karena ia pun dulu sempat mengira kalau Adnan menyukai nya sebagai lawan jenis.


Adnan tampak nya mengetahui isi kepala Ranum. Namun ia tak menggoda nya. Adnan malah melanjutkan perbincangan mereka ke topik yang lain.


"Pantas saja sikap Mama kepada mu begitu mengherankan. Ternyata Mama juga sudah tahu ya kalau kamu adalah anak nya. Mama memang sempat mengatakan nya kepada ku kemarin. Tapi saya gak tahu siapa yang Mama maksud dengan anak perempuan nya yang telah hilang itu. Ternyata itu kamu ya, Num?"


"Tante Ayu bilang ke kamu, Nan?"


"Iya. Kemarin malam. Tapi apa ucapan Jeff tentang kita adalah saudara kembar itu benar, Num? Apa itu berarti aku juga anak kandung Mama?" Tanya Adnan dengan tatapan mendamba.


Ranum menggeleng tak tahu.


"Gak tahu, Nan. Aku juga gak tahu kalau aku punya saudata kembar. Aku cuma baru tahu kalau Tante Ayu itu Mama ku. Kami baru saja melakukan tes DNA kemarin. Rencana nya hari ini hasil nya diambil," jawab Ranum.


"Kemarin? Pantas lah kamu gak masuk sekolah. Ku pikir kamu masih sakit," komentar Adnan.


Kedua remaja itu asik berbincang hingga ruangan tempat mereka dikurung menjadi gelap total sepenuh nya.

__ADS_1


Merasa takut dalam kegelapan ini, tanpa sadar Ranum meraih kemeja Adnan. Adnan yang tersadar saat kemeja nya ditarik langsung bertanya.


"Kenapa, Num? Kamu takut gelap?"


Sedikit canggung, Ranum langsung melepaskan pegangan nya di kemeja Adnan. Namun Adnan balik meraih tangan nya untuk kemudian ia genggam.


"Jangan takut. Kamu gak sendirian. Ada saya. Ok. Sebaik nya kita istirahat dulu. Kalau sudah terang, kita cari cara lagi untuk keluar dari tempat ini," Adnan membuat rencana.


Ranum mengangguk. Dan akhir nya malam itu itu teetidur di samping Adnan. Dengan tangan yang saling bergenggaman dengan lelaki yang diduga adalah kembaran nya itu.


***


Belum lama ia tertidur, Ranum mendengar suara pukulan pada pintu logam di dekat nya.


Suaranya begitu kencang, sehingga langsung membuat nya dan Adnan berjengit kaget. Kedua nya lalu berdiri dan menjaga jarak cukup jauh dari posisi pintu berada.


"Ranum! Apa kamu ada di dalam?!" Panggil suara seorang lelaki yang seperti dikenal oleh Ranum.


Setelah mencoba mengingat pemilik suara bas itu, Ranum tak juga berhasil menemukan nama pemilik suara itu. Akhirnya ia pun balas meneriakkan tanya.


"Ya! Anum ada di dalam sini! Siapa di luar?!"


"Tunggu sebentar ya, Num! Aku lagi coba buka pintu nya. Menjauh lah dari pintu! Pintu nya sudah berkarat. Takut jatuh menimpa kamu!" Teriak Titan lagi.


"I..iya Kak Titan!" Sahut Ranum membalas.


Setelah beberapa lama waktu berlalu, pintu pun akhirnya bisa terbuka. Cahaya dari kamera ponsel pun langsung menyorot ke dalam ruangan tempat Ranum dan Adnan terkunci.


Dengan perasaan haru yang tak bisa dilukiskan, Ranum langsung melangkah menghampiri Kak Titan yang juga masuk ke dalam ruangan untuk menghampiri Ranum. Keduanya saling menghampiri.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Kak Titan, terlihat begitu khawatir.


"Anum baik-baik aja, Kak!" Jawab Ranum.


Pandangan Titan lalu beralih ke remaja lelaki yang berdiri tak jauh di belakang Ranum. Sebersit rasa tak nyaman hinggap di hati pemuda itu. Saat menyadari kalau Ranum disekap bersama remaja lelaki di depan nya itu berdua saja. Namun pikiran negatif itu buru-buru ditepis nya jauh.

__ADS_1


Yang utama bagi nya adalah Ranum baik-baik saja.


"Apa teman mu juga baik-baik saja?" Tanya Kak Titan terhadap kondisi Adnan.


Ranum menoleh ke belakang. Sehingga Adnan sendiri lah yang kemudian menjawab pertanyaan Titan tadi.


"Saya oke, Kak!" Sahut Adnan.


"Bagus lah. Kalau begitu, sebaik nya kita segera keluar dari tempat ini dulu. Khawatir jika ada teman penculik tadi datang lagi ke sini!" Ujar Titan terburu-buru.


Ranum dan Adnan mengangguk. Kedua nya lalu mengikuti langkah Titan menuju keluar.


Ternyata mereka disekap di sebuah rumah kosong yang berada di dekat pantai. Rumah ini terlihat terbengkalai dengan atap bangunan nya yang tampak keropos di sana sini.


Dalam diam, ketiga nya setengah berlari menjauhi rumah kosong itu. Dengan harapan agar mereka tak lagi bertemu dengan para penculik nya lagi.


Kak Titan menyuruh Ranum untuk menggeraikan rambut panjang nya agar wajah nya bisa tertutupi. Antisipasi jika ada penculik yang melihat mereka nanti.


Penampilan Ranum dan Adnan memang cukup mencolok mata. Karena keduanya masih mengenakan seragam sekolah mereka. Putih abu-abu.


Syukurlah, hingga ketiga nya sampai di sebuah pelabuhan yang cukup ramai, mereka tak lagi bertemu dengan para penculik mereka.


Kak Titan lalu mengajak mereka ke sebuah kedai kopi. Ternyata Kak Titan memarkirkan motor nya di sana.


Saat mereka mau naik motor, tak sengaja perut Ranum berkeruyuk. Tanda bahwa ia kelaparan.


Gadis itu memang belum makan sedari siang tadi. Terakhir kali makanan yang masuk ke mulut nya adalah ketoprak yang ia makan sepulang sekolah bersama Kania.


Ranum berpikir, untung lah Kania mengajak nya jajan dulu sebelum pulang ke rumah tadi siang. Jika tidak, tentu lah ia akan lebih merasa kelaparan daripada seperti yang ia rasakan saat ini.


Meski begitu, tetap saja Ranum harus menahan malu karena ketahuan lapar oleh dua lelaki yang dikenal nya itu.


Kedua nya bahkan dengan kompak nya bertanya, "kamu lapar, Num?"


Merasa malu untuk menjawab nya dengan kata-kata, akhirnya Ranum hanyammenganggukkan kepala nya saja.

__ADS_1


Pada akhirnya kemudian, Kak Titan mengajak dua anak remaja yang baru saja diculik itu makan di kedai tempat ia menitipkan motor nya. Saat makan itu lah Kak Titan bercerita tentang bagaimana ia bisa mengetahui peristiwa penculikan yang dialami oleh Ranum dan juga Adnan.


***


__ADS_2