Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Kania Ingin Motor


__ADS_3

Keesokan lusa..


Sayang nya, setelah membujuk Ayah sedemikian rupa, Kania belum mendapatkan ijin dari Ayah. Terlebih saat Ayah melihat sendiri bagaimana Kania mengendarai motor.


"Kamu masih endut-endutan bawa nya, Sayang. Belum mahir mainin gas nya. Sementara motor matic itu benar-benar mengandalkan feeling mainin gas. Salah sedikit, yang ada kamu dibawa ngebut sama motor. Ujung-ujungnya tahu kan..?" Ujar Nanda menilai penampilan Kania yang membawa motor.


"Tapi kalau sering bawa, nanti nya juga lancar, Yah.. gimana mau terbiasa bawa kalau enggak dibiasakan. Betul kan, Kak?" Tanya Kania pada Ranum yang menonton adik nya itu dari teras rumah.


"Ehh?? Mm.. " pada awalnya Ranum tak ingin ikut berkomentar. Namun setelah melihat muka Kania yang memelas sedemikian rupa, Ranum pun jadi tak tega juga jadi nya.


"Ada benar nya juga sih, Yah, kata Kania. Itu tuh kata pepatah kan ya? Ala bisa karena biasa."


"Tuh kan, Yah! Ali bisa karena biasa!" Beo Kania dengan ekspresi kemenangan di wajah nya.


Nanda memandang putri sulung nya yang mau-mau nya diajak berkonspirasi. Ranum yang dilihat lama oleh sang Ayah pun akhirnya menunduk malu dan jadi fokus menatap pisang goreng di tangan nya.


Perhatian Nanda lalu beralih kembali ke Kania.


"Ya. Boleh lah, boleh alasan mu itu. Kamu boleh membiasakan untuk bawa motor."


"Yeayy!! Ayah memang paling best deh!!" Teriak Kania yang langsung ingin menghambur memeluk sang Ayah.


Tapi Nanda langsung menahan kesenangan sang putri saat ia melanjutkan perkataannya lagi.


"Tapi cuma untuk berangkat dan pulang dari sekolah ke rumah aja. Kalau ke tempat yang jauh, Ayah masih khawatir, Nia.." ucap Nanda akhirnya.


"Hah?!! Yahh Ayaahh..." Kania langsung merengek sedih karena keinginannya untuk membawa motor ke rumah Nanda berarti tak mendapat acc (acc\= acceptation\= persetujuan) dari sang Ayah.


Dan Ranum yang menyaksikan kesedihan sang adik, langsung menghampiri Kania dan menepuk-nepuk pundak nya.


"Sabar ya, Dek. Tapi itu juga lumayan lho. Kita jadi gak harus jalan kaki lama-lama kan untuk pergi ke sekolah?" Ujar Ranum mengajak Kania tetap berpikiran positif.


Kania hanya bisa cemberut dengan penghiburan dari kalimat sang kakak. Dengan kesal, remaja tanggung itu langsung saja masuk ke dalam rumah untuk kemudian mengunci dirinya di dalam kamar.

__ADS_1


"Adik mu itu kenapa sih, Num?" Tanya Nanda keheranan. Karena tak biasanya Kania tak bisa diajak kompromi seperti tadi.


"Lagi M juga sih, Yah kayak nya. Soalnya tadi Anum lihat Nia bawa pembalut pas dia mau mandi."


"Ooh.. pantas saja. Ya sudah. Jadi ini motor, pagi ini Ayah tinggalin aja ya buat kalian berangkat ke sekolah?" Tanya Nanda.


"Terserah Ayah. Tapi lebih baik Ayah bawa aja deh. Soalnya Nia dan anum kan mau latihan SKJ juga sampai sore. Jangan khawatir soal Kania, Yah. Nanti juga Kania baikan lagi kok. Lima belas menit lagi kan kita mau berangkat juga ke sekolah," papar Ranum.


"Oke. Kalau gitu Ayah berangkat duluan ya, Num."


Ranum lalu saliman pada Nanda. Dan Nanda kembali masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada sang istri. Kebetulan hari ini ia harus berangkat pagi-pagi. Karena rencana nya ia akan membeli bahan kain untuk menjahit ke pasar induk di kota Z.


Maka jadilah akhirnya Hari itu Kania dan Ranum berangkat sekolah tanpa menaiki motor.


"Kirain tadi Ayah mau ninggalin motor nya buat kita pake berangkat, Kak. Tapi dibawa juga kan motor nya," Kania mendumel.


"Kasihan Ayah lah Nia.. kan Ayah lebih butuh motor nya dibandingkan kita. Apalagi tempat kerja Ayah kan lebih jauh. Masa iya kamu tega kalau Ayah jalan kaki sampai ke tempat kerja nya? 3 kilo meter lho itu.."


"Hh.. tapi katanya Nia disuruh biasain bawa motor. Gimana mau terbiasa kalau gak ada motor nya?"


"Seminggu sekali aja? Dihh.. itu sih keburu lupa tiap minggu nya!" Dumel Kania lagi.


"Kamu kan bisa sambil pinjam motor teman kamu itu, Nia. Pas dia nganterin kamu pulang, biar kamu yang bawa motor nya," usul Ranum lagi dengan sabar.


"Hh.. Kania kan pingin punya motor sendiri, Kak.." ungkap Kania sejujur nya.


"Ooh.. jadi sebenarnya kamu tuh pingin dibeliin motor gitu?" Tanya Ranum menyimpulkan.


"Ya iya, Kak. Teman-teman yang lain pada punya motor. Lha kita cuma bisa jalan kaki dari rumah. Kan malu tahu, Kak."


"Malu kenapa sih, Dek? Justru seharusnya lebih malu mereka yang punya motor, tapi gak inget sama kondisi orang tuanya di rumah. Bisa atau enggak untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari."


"Lho kok gitu sih, Kak? Masa iya punya motor, tapi masih susah cari makan?" Kania kebingungan dengan ucapan kakak nya itu.

__ADS_1


"Ya ada aja kan Dek. Yang nekat kredit motor, tapi gak lihat-lihat mampu enggak nya ngelunasin uang cicilannya sampai akhir. Lama lho Dek. Rata-rata tuh 3 tahunan lho kredit motor itu.."


"Kredit itu maksudnya bayar nyicil ya, Kak?" Tanya Kania memastikan.


"Iya. Itu lho kayak Bu Ambar. Ingat kan? Motor nya kan kena sita pihak kredit. Gara-gara telat, gak bayar cicilan motor selama 3 bulan. Kamu kenal kan sama anak nya itu, si Dodo."


"Oh! Iya, Nia inget. Waktu itu sampe ramai kan Kak pas motornya diambil orang."


"Itu diambil pihak yang ngasih pinjaman kredit nya Dek. Ya begitulah. Maka nya, kamu mau maksa Ayah dan Bunda untuk beli motor secara kredit juga? Gimana kalau nanti kejadiannya kayak motor yang dibawa si Dodo itu?"


"... Rugi juga ya, Kak. Udah bayar berbulan-bulan. Eh, motornya malah diambil juga ya.." ucap Kania akhirnya.


"Nah. Itu dia. Ujung-ujung nya kan kasihan juga Ayah dan Bunda yang capek-capek kerja buat kita, Dek."


"Hh.. tapi Nia pingin punya motor, Kak.." ungkap Kania lagi.


"Kamu minta nya jangan ke Ayah dan Bunda lah, Dek!" Tukas Ranum dengan lugas.


"Terus, minta ke siapa, dong? Kakak memang nya punya uang?" Tanya Kania kebingungan.


"Kan kita punya Allah, Dek. Dia Yang Maha Kaya. Tinggal minta aja ke Allah, lah. Iya kan?" Ucap Ranum sambil tersenyum lebar.


"Iihh.. Kakak gitu deh. Malah becanda. Hh.. pingin punya motor, Ya Allah.." ucap Kania dengan lesu.


Ranum mengusap pundak adik nya itu dengan sayang. Kemudian ia pun mengaminkan kalimat sang adik.


"Aamiin.. Ya Allah.." ucap Ranum.


Kedua mudi itu pun melanjutkan langkah mereka menuju sekolah.


Hari masih cukup pagi. Dengan mentari yang cukup terik menyinari.


Berlalu lalang orang-orang di jalanan. Entah berseragam atau pun yang tak mengenal kerapihan. Semua nya melangkah masing-masing dalam meniti jalan di hadapan. Demi melanjutkan perjuangan atas setiap kehidupan yang dijalankan.

__ADS_1


***


__ADS_2