
"Hmm? Maaf, Anda siapa ya?" Tanya Rahayu pada lelaki di depan nya.
Lelaki itu terlihat berpenampilan sederhana dengan kemeja putih polos yang ia kenakan. Beberapa helai rambut lelaki itu tampak sudah beruban. Dan yang paling menarik dari penampilan lelaki itu adalah ekspresi syok yang tertera di wajah nya yang terbilang tampan.
Rahayu juga mengingat-ingat. Sekiranya ia pernah berkenalan dengan lelaki itu entah di mana. Karena tadi lelaki itu baru saja memanggil nama nya.
Namun, Rahayu tak bisa mengingat sebuah nama apapun untuk lelaki di hadapan nya itu.
"Rahayu! Kamu benar Rahayu, bukan?!" Tanya lelaki itu kembali.
Lelaki itu adalah Nanda. Ia baru saja tiba di rumah nya usai diberitahu oleh Amin, tetangganya, perihal apa yang terjadi kepada Ranum.
Namun saat ia baru melangkah masuk ke dalam rumah, ia malah mendapati keberadaan Rahayu di ruang keluarga nya. Teman sekolah nya semasa dulu itu seperti nya baru saja selesai menelpon seseorang. Bisa dilihat dari ponsel yang masih berada di tangan nya saat ini.
"Ya.. saya Rahayu. Maaf, apa kita saling mengenal?" Tanya Rahayu dengan ekspresi bingung.
Nanda tercengang dengan jawaban Rahayu. Selama beberapa saat, ia tak mampu berkata apa-apa.
"Kamu.. gak ingat aku, Yu?!" Tanya Nanda tak percaya.
Rahayu mengamati nya lekat-lekat, sebelum akhirnya menggeleng dengan raut bingung sekaligus juga menyesal.
"Maaf, beberapa tahun yang lalu saya pernah kecelakaan. Dan saya harus kehilangan ingatan. Jika memang kita pernah saling mengenal, bisa kah Anda menceritakan tentang diri saya? Yang Anda ketahui saja.." ujar Rahayu dengan ekspresi meminta maaf.
Nanda berjalan mendekati kawan lama nya itu. Hingga akhirnya jarak di antara mereka hanya tersisa sekitar dua meter saja.
"Kamu sungguh hilang ingatan? Apa itu sebab nya kamu tak pernah datang lagi untuk mencari Ranum? Karena kamu bahkan juga ikut melupakan nya?" Tanya Nanda kembali dengan beruntun.
"Mencari Ranum? Apa maksud nya? Maaf. Saya benar-benar tak mengingat apa-apa.." jawab Rahayu semakin bingung.
Nanda menelisik kesungguhan di mata Rahayu. Dan apa yang dilihatnya sungguh membuat nya tercengang.
Seperti nya apa yang diucapkan oleh Rahayu itu sungguh benar. Kawan nya itu memang benar-benar hilang ingatan. Nanda merasa syok. Ia pun langsung terduduk di sofa yang ada di dekat nya.
Nanda mengusap wajah nya dua kali. Mencoba mengusir keterkejutan yang masih melingkupi benak nya saat ini.
Setelah merasa lebih tenang, Nanda lalu teringat dengan hal penting yang sempat ia lupakan. Dengan bergegas, Nanda kembali berdiri, lalu bertanya entah pada siapa.
"Ranum! Bagaimana dengan Ranum?!"
__ADS_1
Nanda langsung saja melayangkan pandangan nya ke sekitar. Mencari sosok sang putri yang tak juga kelihatan.
Dengan spontan, Rahayu menjawab rasa penasaran Nanda itu. Ia pun lalu berkata.
"Ranum ada di kamar nya. Dia sedang beristirahat," jawab Rahayu.
Nanda kembali memandang Rahayu untuk sesaat, sebelum akhirnya langsung menujukan langkah nya ke kamar Ranum juga Kania.
Sementara itu, Rahayu mulai menduga kalau lelaki di depan nya itu sepertinya adalah Ayah nya Ranum.
Padahal ia pernah melihat nya sekali, saat Ranum diantarkan oleh Ayah nya ke sekolah. Namun Rahayu tadi sempat terlupa dengan identitas lelaki di hadapan nya karena penasaran dengan kalimat lelaki itu sesaat tadi.
'Apa maksud nya dengan aku tak kembali mencari Ranum?' benak Rahayu bertanya-tanya.
Tanpa sadar, kaki Rahayu ikut mengikuti langkah Nanda di depan nya. Ke duanya pun memasuki kamar Ranum. Di mana ia masih ditemani oleh Ceu Lilis, tetangga lain nya Nanda.
"Terima kasih ya Ceu, udah jaga Ranum. Dari sini, biar saya yang jaga Ranum," ucap Nanda berterima kasih pada Ceu Lilis.
"Muhun.. iya sama-sama Pak Nanda. Ibu Nida nya mana? Belum sampai?" Tanya Ceu Lilis berbasa-basi.
"Belum, Ceu. Katanya masih kejebak macet," jawab Nanda dengan ramah.
"Iya, makasih ya Ceu.."
"Hayu Teteh, Eceu pamit pulang duluan," pamit Ceu Lilis pada Rahayu.
"I..iya, Ceu.." Rahayu mengangguk singkat.
Dan Ceu Lilis pun pulang ke rumah nya. Meninggalkan Nanda, Rahayu dan Ranum dalam satu ruangan itu.
"Ayah.." sapa Ranum dari atas pembaringan nya.
"Num.. benar yang dikatakan Amin, kalau kamu diserang orang gak dikenal tadi?" Tanya Nanda sambil mengambil tempat duduk di dekat putri nya itu terbaring.
"Benar, Yah.. sebenarnya orang itu udah ngikutin Anum selama beberapa hari ini. Dan baru tadi dia nyerang Ranum," papar Ranum menjelaskan.
"Kamu kenal orang itu, Num?" Tanya Nanda.
Ranum menggeleng. "Enggak, Yah.. Anum gak kenal orang itu."
__ADS_1
"Lalu apa mau orang itu?" Tanya Nanda entah pada siapa.
Selama beberapa saat, suasana di dalam kamar Ranum menjadi hening. Sampai kemudian Ranum tersadar dengan keberadaan Mama Ayu. Ia belum mengenalkan Mama nya Adnan itu kepada Ayah nya.
"Oh ya, Ayah.. ini Tante Ayu. Mama nya teman sekelas Anum. Tadi Tante Ayu lah yang udah nolongin Anum. Gak tahu deh kalau Tante Ayu gak datang.." ucap Ranum menggantung.
Pandangan Nanda kembali kepada Rahayu untuk sejenak. Sebelum akhirnya ia kembali melihat pada putri asuh nya itu.
Kemudian, secara tiba-tiba saja sebuah alarm berbunyi di benak Nanda. Terkait penyebab musibah yang menimpa Ranum siang tadi.
Nanda langsung menatap lurus pada Rahayu, lalu berkata.
"Rahayu, sepertinya aku tahu penyebab Ranum diserang oleh orang asing siang tadi," ujar Nanda.
Ranum menatap bingung pada Ayah nya.
"Ayah.. sudah kenal dengan Tante Ayu?" Tanya Ranum memotong obrolan kedua orang dewasa itu. "Maaf.." imbuh Ranum , saat dirasanya ucapan nya itu tak sopan.
Rahayu membalas tatapan Ranum kepada nya dengan pandangan yang sama bingung nya. Sementara Nanda menatap putri nya itu dengan pandangan hati-hati.
Terlebih dulu, Nanda mengusap pelan kepala sang putri yang sudah diasuhnya selama belasan tahun itu dengan lembut.
Baru kemudian Nanda lanjut bicara dengan suara lembut.
"Ranum, sebenarnya ada yang mau Ayah sampaikan ke kamu. Bunda pernah cerita bukan tentang asal-usul kamu yang sebenarnya?" Tanya Nanda hati-hati.
Entah kenapa, mendengar ucapan Ayah nya itu Ranum menjadi sedikit gugup. Meski begitu, ia tetap menganggukkan kepala nya jua.
"Iya, Yah.."
"Jadi, sebenarnya Mama kandung mu yang sebenarnya sudah kamu temui, Num," ujar Nanda.
"Sudah? Kapan Yah? Siapa?" Tanya Ranum dengan harap-harap cemas.
Pandangan Nanda lalu beralih kepada Rahayu yang menyimak pembicaraan keduanya dengan pandangan bertanya.
Sampai ketika Nanda menyampaikan fakta sebenarnya kemudian lah, Ranum dan Rahayu akhirnya saling bertatapan dengan pandangan tak percaya.
"Rahayu, Ranum adalah putri kandung mu yang dulu kamu titipkan kepada ku dan juga Nida. Kamu mungkin hilang ingatan, tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku ini, Yu. Ranum benar adalah putri kandung mu," ungkap Nanda pada akhirnya.
__ADS_1
***