Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Penampilan Kelas Ranum


__ADS_3

Dan penampilan dari kelas X. 1 pun akhirnya dimulai sekitar jam 12 lewat. Saat itu hampir semua kawan sekelas Ranum yang tak ikut pentas, duduk di kursi yang berjejer rapih dalam ruang aula.


Pihak panitia pensi sengaja menyediakan 70 kursi dalam ruang aula. Dimana 20 kursi paling depan diperuntukkan bagi para guru dan tamu kehormatan yang ingin melihat penampilan para siswa.


Mira, Tanti dan Laluna mendapat tugas membantu di balik panggung pentas. Bersama dengan Yanto dan beberapa anak lelaki lainnya juga. Sementara sisa siswa kelas X. 1 yang lain duduk menempati bangku kosong di ruang aula. Sebagai bentuk dukungan bagi teman mereka yang hendak pentas.


"Duh, Num.. Tangan Tika dingin banget nih. Grogi.." ujar Tika dengan gugup.


Tika kini berpenampilan seperti anak kecil. Dengan rambut yang dikepang dua, dengan tambahan poni di bagian depan nya.


Di scene awal, Tika akan berperan sebagai anak perempuan kecil yang bersahabat baik dengan anak lelaki yang tinggal di dekat rumah nya.


Anak lelaki itu sendiri diperankan oleh Adnan, yang kini terlihat boyish dengan topi pet boboiboy, t shirt dan celana denim selutut. Penampilan Adnan dan Tika sekilas akan membuat siapapun yang melihat keduanya akan tersenyum-senyum.


Mungkin menertawakan penampilan keduanya yang tampak kekanakan.


Ranum meraih jemari Tika, yang setelah disentuhnya, memang terasa dingin.


"Coba tenangin pikiran kamu, Tik. Ikutin kata-kata aku. Tarik napas.. ya. Tahan.. hembuskan. Tarik napas.. ya. Tahan.. hembuskan. Ulangi berkali-kali sampai kamu merasa lebih baik," saran Ranum.


Tika pun mengikuti saran Ranum. Dan, setelah beberapa waktu, Tika merasa lebih baik.


"Hh.. makasih ya, Num.. doain Tika ya, biar semuanya lancar?" Mohon Tika.


"Iya. Nah. Udah waktu nya kamu naik ke panggung. Berdoa dulu, Tik!" Ranum mengingatkan.


Selama lima detik, Tika menangkupkan kedua tangan nya di depan dada. Kemudian ia memejamkan kedua mata nya sambil merapalkan doa.


Selesai berdoa, Tika memeluk Ranum dan Tanti sekali, baru menaiki panggung dengan langkah yang lebih pasti.


Ranum pun memutuskan untuk berdiri di sisi samping panggung. Agar ia bisa mengamati jalannya penampilan Tika dan yang lainnya di panggung pentas. Sekaligus juga membantu mengganti dekorasi setiap kali latar scene nya berubah.


Drama yang dimainkan oleh Tika dan yang lainnya berkisah seputar cinta dua orang sahabat yang sama-sama malu untuk mengungkapkan rasa suka nya pada satu sama lain.


Perasaan suka itu tumbuh seiring dengan kebersamaan di antara kedua anak itu. Mulai dari mereka masih anak-anak, remaja, hingga keduanya lulus sekolah.


Keduanya diam-diam merasa cemburu manakala salah satu dari mereka dekat dengan lawan jenis yang lain. Keduanya juga diam-diam saling mengirimkan surat cinta kepada satu sama lain. Namun tak menceritakan tentang surat itu pada masing-masing, karena khawatir itu akan membuat sahabat nya menjadi tak suka.


Padahal, keduanya sama-sama berharap untuk mengetahui reaksi sahabat nya itu terhadap surat cinta yang mereka kirimkan secara anonim.


Dua cinta yang terlahir bisu, namun pada akhirnya juga bisa menyatu.


Persatuan kedua nya terjadi secara tak sengaja. Ketika masing-masing pergi ke sebuah pantai.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, masing-masing mereka berteriak ke arah laut lepas, tentang rasa suka nya terhadap sang sahabat di detik yang persis bersamaan.


Begitu keduanya menyadari adanya seseorang yang meneriakkan nama masing-masing, keduanya pun langsung menoleh ke sumber suara.


Sang wanita melihat sosok sahabat nya berdiri cukup jauh di sisi pantai sebelah kanan. Begitu pun juga dengan si pria yang melihat sosok sahabat wanita nya itu berdiri jauh di sisi yang berseberangan dari nya.


Keduanya langsung bisa mengenali satu sama lain, meski saat itu jarak 30 meter memisahkan keduanya.


Setelah sama-sama terdiam selama beberapa detik, keduanya tahu-tahu berlari untuk saling menghampiri.


Hingga akhirnya keduanya pun secara bersamaan berkata, "kamu bilang, kamu suka aku?"


Keduanya sama-sama terkejut, dan kemudian tertawa. Setelah tawa mereka reda, lagi-lagi keduanya sama-sama berkata, "aku cinta kamu."


Dan.. sepasang kekasih itu pun berpelukan. Dengan disaksikan oleh background matahari yang terbenam di belakang keduanya.


Selesai.


Pada awal penampilan, jumlah siswa yang menonton pertunjukan kelas Ranum terbilang masih sedikit. Namun, seiring berjalannya penampilan, jumlah penonton semakin banyak dan terus membanyak. Hingga akhirnya ruangan aula pun penuh oleh penonton yang ingin melihat pertunjukan drama kelas X.1.


Kebanyakan dari mereka bahkan tak mendapatkan kursi untuk duduk. Jadi banyak yang berdiri di barisan belakang, sisi samping, bahkan juga melihat dari kaca samping di luar ruang aula.


Begitu drama selesai, semua penonton kompak bertepuk tangan. Hingga telinga Ranum pun cukup terasa pekak dengan gemuruh riuh para penonton yang memuji penampilan teman sekelas nya tadi.


Ranum dan Tanti saling berpelukan. Ikut merasa senang karena penampilan kelas mereka yang berhasil dengan sangat sukses.


Baru setelahnya, para pemain turun, dan Ranum cs pun bergegas merapihkan kembali bahan dekorasi mereka yang berada di atas panggung.


...


Di kantin, Ranum cs bersama teman sekelas nya yang lain merayakan keberhasilan pentas mereka tadi.


"Selamat buat kita semua! Kita semua sudah bekerja keras. Jadi, saya ucapkan terima kasih untuk teman-teman semuanya ya!" Ucap Adnan yang berdiri di atas kursi nya.


Adnan sedikit membungkukkan badan, sebagai bentuk ucapan terima kasih nya kepada semua teman-teman nya.


"Sama-sama Pak Ketu!!"


"Lo juga hebat Boss!"


"Lanjut terus Pak Ketuu!!" Seru kawan-kawan Adnan dari berbagai arah.


"Jadi, kita bisa dapat traktiran dong Bu Benda! Boleh ya Bu Benda?" Tanya Agus tiba-tiba kepada Ranum.

__ADS_1


Agus memang sering memanggil Ranum dengan panggilan Bu Benda. Singkatan dari ibu Bendahara.


"Er.. itu.." Ranum melirik Adnan.


"Boleh lah, Bu Benda!!"


"Kita party party lah sekarang!" Seru kawan-kawan Ranum lainnya.


Ranum lalu melihat Adnan mengangguk singkat kepadanya.


"Oke. Adnan bilang boleh. Jadi.." ucapan Ranum dilanjutkan oleh Adnan.


"Hari ini kita ditraktir sama uang Kas ya, gays! Tapi per anak cuma kebagian jatah goceng aja jajan nya! Anggap aja sebagai diskon ya.." ujar Adnan kemudian.


"Huuuu!! Masa goceng doang sih Pak Ketu!! Minimal ceban (sepuluh ribu) lah!" Seru salah satu kawan Ranum.


"Lo minta traktir ceban. Tapi giliran gue mintain uang kas, susah nya ampun-ampunan! " Sahut Yanto dari seberang Ranum.


Dan seketika itu pula, tawa pun pecah membahana. Semuanya saling meledek karena susahnya mereka dimintai uang kas namun begitu menagih jika hendak ditraktir.


Ranum menyaksikan kemeriahan perayaan teman-teman kelas nya itu dengan perasaan yang senang. Sebuah senyuman lebar terukir manis di wajah cantik pemudi itu.


"Suut..suut.. mau permen karet?" Ranum menoleh ke asal suara.


Ternyata Adnan telah duduk kembali di bangku yang ada di samping kiri nya. Keduanya kini duduk dalam posisi yang cukup berdekatan. Sedikit membuat Ranum merasa tak nyaman karena ia bisa melihat wajah Adnan secara closed up.


Deg. Deg.


Deg. Deg.


"Mau?" Tanya Adnan mengulangi.


Sebuah permen karet panjang disodorkan pemuda itu kepada Ranum.


Dan tanpa berpikir panjang, Ranum langsung menerima nya sambil berucap, "makasih ya Nan.."


Adnan membalas ucapan terima kasih nya Ranum dengan senyuman lebar.


"Sama-sama, bu Benda.." goda Adnan dengan pandangan jenaka.


Ranum yang tahu kalau Adnan sedang meledeknya, secara tak sadar malah menampilkan ekspresi mencebik. Meski itu hanya untuk sesaat saja. Karena detik kemudian, sebuah kekehan kecil keluar juga dari mulut kemerahan nya Ranum.


"Dasar Pak Ketu.." balas Ranum meledek Adnan.

__ADS_1


Kedua muda dan mudi itu tak sadar, kalau ada sepasang mata yang sedari tadi melihat interaksi keduanya dengan pandangan tak suka. Sayang nya, tak ada satu pun dari mereka yang menyadarinya.


***


__ADS_2