Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Ranum diserang


__ADS_3

"Kita bertemu lagi, bocah. Sayang sekali, ku pikir aku tak perlu melenyapkan mu di dunia ini. Tapi sayang nya takdir membuat kita harus berselisih jalan. Jangan salahkan aku karena harus membu nuh mu ya, bocah. Salahkan saja nasib mu yang tak beruntung itu," ucap Jeff pada sosok Ranum yang terkapar pingsan di hadapan nya.


Jeff lalu mengeluarkan belati dari dalam saku celana nya. Ia sebenarnya membawa revolver juga di balik rompi yang ia kenakan. Namun entah kenapa ia selalu merasa nyaman untuk menuntaskan misi nya dengan menggunakan belati di tangan nya ini.


Belati yang ia beli di sebuah pasar gelap. Dan dikatakan sebagai senjata lama milik pembu nuh bayaran yang tersohor, El Rado.


Hanya sebuah belati kecil sepanjang 23 cm saja. Namun ia membeli nya seharga 30 juta an.


Jeff menatap wajah cantik si bayi yang kini telah tumbuh menjadi gadis yang jelita. Untuk sesaat, ia kembali dihinggapi oleh perasaan tak tega.


Meski begitu, Jeff tahu, ia harus menuntaskan misi nya yang telah tertunda selama belasan tahun lama nya ini. Melenyapkan Ranum sudah menjadi momok yang menghantui karir nya sebagai ajudan kepercayaan Tuan Aditya di mata rekan kolega nya yang lain.


Jeff lalu meneguhkan hati nya lagi. Dengan satu gerakan, lelaki itu membalikkan badan Ranum yang tadi nya berada dalam posisi tengkurap.


Setelah nya, Jeff pun kini bisa melihat paras Ranum seluruh nya. Wajah cantik gadis itu terlihat damai dalam kurungan mukenah berwarna biru langit.


Jeff mengeratkan genggaman pada belati di tangan nya. Ia lalu menatap pada satu titik di bagian di mana jantung sang gadis tersembunyi. Ia hanya perlu satu tusukan tepat ke bagian jantung sang gadis, dengan begitu misi 15 tahun nya akan berakhir sudah.


Namun..


Tok. Tok. Tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan rumah. Jeff langsung menengok ke arah pintu yang berjarak tak sampai 3 meter dari tempat nya berjongkok kini.


Jeff langsung saja berdiri dan bersembunyi ke dalam salah satu ruangan, yang ternyata adalah kamar tidur milik Ranum dan juga Kania.


Lelaki itu lalu mendengar suara seseorang dari balik pintu.


"Ranum! Ranum! Ini Tante Ayu, Nak.. Tante mau nganterin fried chicken buat kamu, Num. Tadi lupa, ketinggalan di mobil," ucap Mama Ayu.


Jeff langsung menjadi waspada.

__ADS_1


'Sia lan! Kenapa Nyonya bisa datang kembali?! Bisa gawat kalau Nyonya melihat ku! Tuan Aditya pasti akan marah besar kepada ku, nanti!' gusar Jeff di dalam hati nya.


Tok. Tok. Tok!


"Ranum? Eh? Kok gak ke kunc.. Ya Tuhan! Ranum! Apa yang terjadi?!"


Rahayu terkejut karena saat ia tak sengaja mengetuk pintu terlalu kencang, pintu kayu di hadapan nya itu malah terbuka. Kemudian, dengan sedikit dorongan lagi saja Rahayu melihat penampakan Ranum yang tergeletak di dekat pintu dalam busana mukenah berwarna biru.


Seketika itu pula Rahayu langsung mendekati tubuh Ranum dan memangku kepala gadis itu di atas paha nya. Lalu ia menepuk-nepuk pelan kedua pipi gadis itu untuk menyadarkan nya. Namun usaha nya itu bernilai percuma.


"Tolong!! Tolong!! Siapa pun tolong!" Rahayu menjerit sekencang-kencang nya.


Jeff yang mendengar teriakan Rahayu dari dalam kamar Ranum langsung merasa genting. Dengan pertimbangan cepat, Jeff pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sesegera mungkin.


Dengan sedikit perasaan sesal yang merambahi hati nya, Jeff pun langsung keluar melewati jendela kamar yang berukuran sempit dengan susah payah.


Namun ia malah terpergok oleh beberapa anak-anak yang sedang bermain bola di lahan kosong yang ada di samping kamar Ranum dan Kania.


Dengan hati yang berdebar kencang, Jeff pun berlari menjauhi rumah Ranum sejauh-jauh nya. Tempat tujuan nya kini adalah markas utama kelompok mafia Tengkorak. Dan ia harus melaporkan kegagalan nya kembali atas misi 15 tahun nya ini.


'Hah! Hah! Lagi-lagi kau beruntung, bocah cantik! Seperti nya takdir masih berpihak kepada mu!' gumam batin Jeff di sela pelarian nya.


Jeff lalu menaiki taksi, menjauhi target misi nya yang, lagi-lagi telah digagalkan oleh takdir.


***


Sementara itu di rumah Ranum..


Beberapa tetangga Ranum yang mendengar teriakan Mama Ayu langsung berdatangan satu per satu.


Mereka semua terkejut dengan keadaan yang mereka lihat terhadap putri sulung dari Pak Nanda dan Bu Nida itu.

__ADS_1


Serta-merta beberapa orang langsung mendekat dan mengecek kondisi Ranum. Beruntung nya ada salah satu dari mereka yang adalah seorang apoteker.


Jadi dalam hitungan detik, apoteker itu bisa memberitahu kan kepada semua orang lain yang ada di sana kalau ternyata Ranum baru saja dibuat tak sadarkan diri dengan menggunakan bius klorofoam.


Seketika itu pula semua orang menjadi terkejut. Terlebih sesaat kemudian terdengar teriakan "Maling! Maling" dari anak-anak di samping rumah itu. Jadi tahu lah mereka kalau mungkin Ranum hampir saja menjadi korban perampokan.


Beberapa tetangga Ranum merangsek keluar untuk melihat ke samping rumah dan melihat si 'Maling' yang dimaksud. Sayang nya si Maling (yang adalah Jeff) telah kabur menjauh dari tempat kejadian perkara.


"Udah kabur maling nya! si alan emang tuh maling! Padahal siang-siang tengange (siang bolong), tapi masih juga berani keluyuran maling!" gerutu salah satu warga.


"Terus gimana Neng Anum nya? perlu dibawa ke rumah sakit enggak, Fa?" tanya tetangga Ranum lainnya kepada Eva, sang apoteker.


"Gak perlu, Mang. Kayak nya sih Maling nya cuma sempat ngebius si Ranum dan belum ngapa-ngapain. Di oles-olesin minyak kayu putih aja biar cepat sadar," ujar Eva.


Serta-merta salah satu tetangga Ranum langsung berlari ke rumah nya untuk mengambil minyak kayu putih. Tak lama kemudian ia kembali dan memberikan minyak nya kepada Eva.


Eva lalu mengoles-oleskan minyak ke bawah hidung nya Ranum. Dan beberapa waktu kemudian, gadis itu pun tersadar dari pingsan nya.


Mama Ayu langsung lega melihat Ranum telah tersadar.


"Ranum.. Sayang.. ini Tante, Nak.. kamu gak apa-apa? kamu ngerasa sakit atau pusing kah?" tanya Mama Ayu terburu-buru.


Ranum menatap bingung pada kerumunan orang-orang di sekitar nya itu. Sampai kemudian ingatan nya kembali pada kejadian sebelum ia terjatuh pingsan.


Bola mata Ranum seketika itu jadi membesar. Rasa takut dan panik itu pun menyerangnya kembali.


"Penguntit itu! Tadi penguntit nya maksa masuk dan nyerang Ranum, Tante!" seru Ranum dengan ekspresi panik.


Kepanikan yang kemudian bertransformasi menjadi keterkejutan di setiap benak orang yang mengelilingi Ranum saat itu.


"Penguntit?!!"

__ADS_1


***


__ADS_2