Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Peringatan


__ADS_3

"Mama nya Adnan kayak nya perhatian banget ya ke Kak Anum. Jangan-jangan Kakak sendiri udah jadian ya sama Adnan?! Bilang mah ke Nia jangan pacaran, tapi kakak sendiri malah.."


"Husy! Jangan ngawur! Siapa juga yang pacaran sama Adnan. Adnan itu cuma teman kakak aja, Dek. Lagian dibilangin kalau Kakak tuh gak ada minat untuk pacaran dulu. Kasihan kan sama Ayah dan Bunda.."


"Tapi kok Tante Ayu baik banget sih sama Kakak?" Ujar Kania masih merasa curiga.


"Ya mungkin memang orang nya asli nya baik kali, Ya. Jangan suka su'udzon ah!" Tegur Ranum mengingatkan.


"Bukan su'udzon, Kakak.. cuma heran aja."


"Gak ada yang aneh kok. Pas kebetulan aja kita ketemu beliau yang lewat kan? Kalau Kakak jadi beliau, kakak juga mau nolongin orang tanpa pamrih. Kan menolong orang yang kesusahan juga bisa dapat pahala, Dek.."


"Mulai deh ceramah kayak Bunda.." gumam Kania tak jelas.


Meski begitu, Ranum masih bisa mendengar gumaman sang adik. Ia pun mencubit pelan pipi Kania dan menyerahkan uang lembaran merah yang tadi diterima nya dari Mama Ayu.


"Ini uang nya kamu pegang aja deh. Bilang aja kamu pingin megang uang merah kan? Kalau kamu yang jadi kakak nya, dan Kak Anum jadi adek mu. Bisa jadi kamu lah yang akan dikasih uang ini sama Tante Ayu!" Ujar Ranum mengira-ngira.


"Gitu kah, Kak?"


"Ya iya lah! Di mana-mana jadi kakak tuh lebih dapat kepercayaan tuk megang uang dari pada jadi adik, Dek.." seloroh Ranum.


"Masa?"


"Lha bukti nya? Bunda juga ngasih kepercayaan ke kakak untuk nerima uang jajan per bulan. Sementara untuk kamu cuma per minggu. Iya kan?"


Diingatkan tentang pengaturan uang jajan yang berbeda antara dirinya dan Ranum itu langsung membuat Kania jadi kesal. Dalam diam Kania memajukan bibir nya, merengut.


"Udah ah. Jangan ngambek. Maksud Bunda ada baik nya juga sih, Dek. Kakak juga dulu nerima uang jajan nya seminggu sekali," ungkap Ranum.


"Iya kak? Waktu kapan?"


"Waktu kita masih SMP kelas 3. Awal-awal sih masih agak bingung ngatur nya. Tapi lama-lama terbiasa juga. Dan akhirnya mulai bisa belajar nabung deh!"


"Kok aku gak tahu sih, Kak? Waktu SMP, Nia dapat uang jajan nya per hari terus."


"Itu karena Bunda mungkin berpikir kalau kamu belum bisa ngatur keuangan, Dek. Sementara Bunda sekarang mulai ngasih kamu uang jajan nya mingguan kan? Arti nya Bunda lagi menguji kamu, kira-kira bisa gak ngatur keuangan nya.." imbuh Ranum.


Tiba-tiba saja Kania merasa menyesal karena telat menyadari fakta ini. Jika benar apa yang dikatakan oleh Kak Ranum, maka Kania merasa ia masih gagal dan tak bisa mengatur keuangan.


Karena lebih sering ia kehabisan uang jajan sekitar dua hari sebelum ia menerima uang jajan mingguan nya lagi.


Dengan malu-malu, Kania lalu meminta tips pada sang kakak agar bisa mengatur keuangan dengan baik. Dan Ranum pun membagi tips nya.

__ADS_1


"Kamu nerima uang dari Bunda berapa, Dek?"


"Pekgo (cepek jigo \= 150) kak."


"Nah, uang pekgo tu dibagi buat 7 hari. Jadi sekitar 20rb kan, lebih sepuluh ribu?"


Kania langsung mengangguk.


"Kamu atur, maksimal jajan sehari itu 15 ribu. Sementara yang 5 ribu nya kamu wajibkan untuk menabung. Sisa uang sepuluh ribu itu jangan diotak-atik. Biarin aja ada di dompet, Dek. Bunda kan pernah bilang, kalau punya uang tuh jangan dihabisin. Pamali. Biar uang di dompet terus ada gitu, Dek.."


"Hihihi.. kak Anum lucu. Gak nyangka kalau Kakak masih percaya mitos begitu!" Seloroh Kania.


"Biar pun mitos, tapi kalau itu ada baik nya ya gak apa-apa diikutin aja. Lagian kan kalau tiap minggu bisa nambahin isi dompet ceban (cepek gaban \= 10.000), dalam sebulan nanti nya kamu punya uang pegangan 40rb. Di kali setahun, jadi 480 ribu. Bisa beli apa kan pas lebaran nanti. Gak perlu minta uang ke Bunda dan Ayah lagi kan jadi nya," tutur Ranum panjang lebar.


"Diih.. si Neng pintar banget sih hitung-hitungan nya!" Puji Mang Usep yang ternyata telah selesai membetulkan motor Ranum dan Kania.


Ranum tersenyum malu-malu. Tak menyangka kalau perbincangan nya dengan Kania ternyata ikut didengar juga oleh Mang Usep.


"Eh, Mang Usep. Udah benar, Mang, motor nya?" Tanya Ranum mengalihkan topik.


"Udah nih, Neng. Cuma ganti busi doang. Sebentar jadi nya."


"Alhamdulillah.. jadi berapa, Mang?" Tanya Ranum.


"Nia, kasih uang nya!" Ranum berkata pada Kania.


"Pakai uang merah ini, Kak?"


"Ya iya, Dek. Memang nya mau pakai uang yang mana?"


"Tadi Kakak bilang ke Tante Ayu kalau ada uang. Jadi Nia pikir bayarnya pakai uang Kakak gitu.."


"Iishh.. kalau udah ada uang yang ini ya pakai yang ini lah. Sini uang nya!" Pinta Ranum sedikit tegas.


Kania kembali merengut kesal.


Dalam hati nya ia mendumel.


'Kalau soal uang aja, Kak Anum pelit!' dumel Kania dalam hati.


Kemudian Ranum menyerahkan uang kembalian servis ke tangan Kania lagi. Seluruh kembalian kini berada di tangan nya.


Kania menatap bingung pada Ranum. Sehingga Ranum pun akhirnya menjelaskan.

__ADS_1


"Kembalian nya semua buat kamu, deh, Dek. Tapi ingat sama tips Kakak yang tadi ya. Kamu harus mewajibkan untuk menabung ya, Ya.." imbuh Ranum mengingatkan.


"Siap Kak! Makasih ya, Kak!" Ujar Kania seraya memeluk singkat sang kakak.


"Mang Usep, makasih ya!" Ucap Ranum kemudian.


"Sama-sama Neng. Hati-hati ya di jalan!" Sahut Mang Usep.


Kania lalu kembali memegang kemudi motor. Dan sedetik kemudian, Kania dan Ranum pun kembali melanjutkan perjalanan nya menuju pulang.


Saat itu, sayup-sayup di kejauhan terdengar suara adzan yang berkumandang.


'Allahu Akbar! Allahu Akbar!'


***


Sementara itu di dalam mobil yang membawa Ayu dan Aditya saat ini..


"Kamu ngapain sih ngasih uang segala ke anak-anak tadi? Kamu terlalu baik sama mereka, Yang.." tegur Aditya dengan nada dingin.


"Kan kasihan Mas. Motor mereka kan mogok. Kalau kerusakannya besar kan perlu uang lebih untuk bayar ke bengkel nya. Anak-anak mana punya uang banyak, Mas," ujar Rahayu menjelaskan.


"Mereka juga kan punya orang tua. Buat apa kamu sibuk-sibuk mikirin mereka sih? Biar mereka nelepon ornag tuanya lah. Itu kan tanggung jawab orangtua nya. Bukan tanggung jawab kamu," ujar Aditya dengan nada dingin yang tak berubah.


Menyadari kalau situasi di dalam mobil mulai tak nyaman, Rahayu pun akhirnya memutuskan untuk mengalah.


"Iya. Iya. Aku salah. Aku tahu uang yang ku kasih itu dari Mas. Mas juga udah capek-capek kerja. Lain kali aku akan minta ijin dulu sama Mas deh ya."


Usai mengatakan hal itu, Rahayu langsung memalingkan wajah nya ke luar jendela. Dalam hati nya ia merasa kesal pada sang suami yang begitu sulit untuk berempati.


"Hh.. maksud aku tuh bukan begitu lho, Yang. Kamu ngertiin juga dong maksud aku. Kita gak bisa selalu baikin orang lain sebebas-bebas nya. Khawatir nanti malah kita dimanfaatin sama orang lain karena kebaikan kita. Kan gak semua orang tahu cara nya berterima kasih!"


"Mereka masih anak-anak, Mas! Mereka mana bisa punya maksud gak baik? Buat apa coba?" Ucap Rahayu mulai terpancing emosi nya.


Menyadari kalau ia mulai lepas kontrol, Rahayu lalu buru-buru memejamkan kedua matanya.


"Maaf, Mas. Aku lepas kontrol. Kita sudahi aja ya pembicaraan ini. Kepala ku pusing. Aku mau tidur dulu ya, Mas," ucap Rahayu.


Aditya tak menyahut kalimat sang istri. Dalam hati nya ia masih geram karena ia lagi-lagi harus bertemu dengan gadis bernama Ranum itu.


Dalam benak nya Aditya pun merencanakan untuk mengirimkan pesan peringatan pada gadis itu. Agar Ranum menjauhi Rahayu. Dan akan lebih baik juga bila gadis itu menjauhi Adnan sekalian.


***

__ADS_1


__ADS_2