Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Perkenalan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang, ketika bel pulang sekolah berbunyi. Pak Gono, guru sejarah Ranum pun menutup pertemuan kelas di hari itu setelah memberikan tugas PR untuk minggu depan.


Setelah Pak Gono keluar dari kelas, Ranum dan Tika beriringan jalan menuju gerbang. Di luar kelas, sudah ada banyak siswa lain yang berjalan berkelompok ataupun sendiri-sendiri untuk pulang.


Sesampainya di taman lapangan, Ranum dan Tika berpisah. Dengan Tika pulang terlebih dahulu. Sementara Ranum duduk di bangku taman yang terbuat dari bangunan batu setinggi paha, yang berada di pinggir lapangan. Ranum berjanji untuk pulang bersama Kania hari itu.


Selagi menunggu, Ranum mengamati para siswa yang beranjak pulang. Ia melihat mereka, tanpa benar-benar memperhatikan apa yang dilihatnya. Ia bahkan tak menyadari ketika Adnan tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya.


Ranum baru menyadari kehadiran Adnan, ketika perlahan ia menaikkan pandangan matanya hingga menangkap imaji senyuman dengan gigi gingsul milik Adnan. Selama dua-tiga kali Ranum mengedipkan matanya. Hingga akhirnya Ranum tersadar kalau ia telah tertangkap basah sedang melamun, tadi.


"Udah bangun, Non?"


Ranum mendengus sambil menengok ke kanan. Dalam hatinya, ia menggerutu. 'ini orang kenapa sih? Berasa kayak di stalking aja deh sama dia, huh.'


"Hello.. are you here, girl?" Adnan kembali menyapa Ranum.


"Apaan sih?" Omel Ranum.


"Ngapain di sini? Gak balik?" Adnan bertanya dengan suara pelan.


"Nanti juga pulang. Ada apa?" Jawab Ranum, ketus.


"Gak apa-apa.. mau mastiin aja. Takutnya kamu lupa untuk pulang."


"..."


Menyadari kelakarnya tak berhasil, Adnan lalu duduk di bangku batu yang letaknya cukup dekat dengan tempat Ranum duduk.


"Ngapain duduk di sini?" Ranum setengah bertanya, setengah menggerutu.


"Nungguin Agus."


Ranum menatap Adnan keheranan. 'emangnya gak ada tempat duduk lain, apa?' Ranum membatin.


"Biasa nunggu di sini kok. Agus lagi ke TU." Ucap Adnan tiba-tiba, seolah menjawab pertanyaan di benak Ranum.


"...."


"Bokap nya Agus kan staf TU di sini. Jadi dia tiap hari ngambil kunci rumah dulu di bokapnya." Tutur Adnan, lagi.


"...."


"Nyokap dia udah meninggal."


"...."


"Kecelakaan motor. Sepuluh tahun yang lalu."


"...."


"Barengan sama Mama saya juga."


"Huh?"


"Kecelakaannya barengan sama Mama saya juga."


"...."


"...."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Ranum merasakan hatinya sesak. Entah kenapa ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Adnan yang saat itu tengah menundukkan wajahnya. Entah melihat apa. Sesaat ragu, akhirnya Ranum menanyakan juga hal yang tiba-tiba ingin diketahuinya.


"Terus, Mama kamu gimana?"


Adnan tak langsung menjawab pertanyaan Ranum. Selama beberapa detik suasana hening di antara keduanya. Ini membuat Ranum merasa menyesal telah mengutarakan pertanyaan itu.


Ketika Ranum sudah akan meminta Adnan untuk tak usah menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja Adnan menoleh ke arahnya. Dan hati Ranum tiba-tiba saja serasa ditimpa beban yang tak kasat mata. Ia seolah tahu jawaban yang akan keluar dari mulut Adnan. Tapi lalu jawaban Adnan membuatnya terkejut.


"Ada.... Mamaku masih ada."


"Ada? Tapi..."


'...kenapa kamu sesedih itu?' lanjut Ranum bertanya dalam batinnya. Mulutnya serasa terkunci untuk bertanya lagi perihal Mama Adnan.


Dan waktu pun serasa berhenti di detik itu juga. Ada luka yang Ranum tangkap di mata lelaki itu. Ada sedih yang ia rasakan setelah melihat bahu teman sekelasnya itu tampak melunglai. Ada bisikan di


tempat terujung dalam hatinya agar ia menghibur teman baru di SMA nya itu. Tapi...


"Kakak?"


Panggilan Kania memutuskan koneksi hati yang tadi sempat terjalin di antara Ranum dan Adnan. Seketika saja keduanya menoleh ke Kania yang telah berdiri persis di hadapan Ranum.


"Nia?" Ranum menyahut pelan.


"Maaf, lama, Kak. Tadi Nia ke WC dulu." Jelas, Kania.


"Iya. Gak apa-apa."


"Ini.. siapa, Kak?" Tanya Kania sambil melirik Adnan.


"Mm.. temen kelas Kakak."


"...."


"...."


"Nan, ini adikku, Kania.. Nia, ini temen sekelas Kakak, Adnan."


"Hai, aku Kania. Panggil aja Nia. Aku kelas X.6."


"Adnan." Jawab Adnan seraya mengangguk singkat.


"...."


"...."


Merasa suasana agak canggung, Ranum pun bergegas menggamit lengan Kania dan pamit pada Adnan.


"Mm.. Nan, kita pulang dulu ya. Bye."


"Oke. Take care ya." Jawab Adnan pelan.


"Kita balik duluan ya, Adnan. See you"


****


"Kamu kenapa sih, Dek? Malu-maluin Kakak aja." Gerutu Ranum, ketika mereka sudah berada di luar jarak dengar Adnan.


"Malu gimana sih, Kak?" Kania heran.

__ADS_1


"Ya itu tadi. Kenapa coba ngelihatin Adnan gak kedip-kedip. Ketahuan banget kalo kamu suka sama dia." Ranum menjelaskan.


"Eh?? Masa? Tapi Adnan emang cakep sih, Kak. Beneran temen kelas Kak Anum doang?"


"Maksudnya?"


"Mungkin gebetan Kakak gitu?"


"Gebetan-gebetan apa sih, Dek?. Yang ada kamu tuh, bikin gabut. Kakak kan jadi gak enak sama Adnan."


"Gak ngerti deh. Gak enak gimana sih, Kak? Ah tapi udah deh ga usah dijelasin. Seringnya Nia emang gak ngerti ama jalan pikiran Kakak."


"...."


"Eh, tapi beneran nih, Kakak sama Adnan gak ada apa-apa?"


" Apa-apa apaan sih, Dek?" Sergah Ranum mengelak.


"Jadi gak apa-apa dong kalo Nia ngedeketin dia?" Ijin Kania.


Mendengar pintaan Kania itu, langkah Ranum terhenti tiba-tiba. Direngkuhnya lengan Kania dan ditatapnya dengan serius adik kesayangannya itu.


"Dek.. kamu kan udah janji sama Kakak, gak akan mikirin soal pacaran dulu. Fokus belajar dulu."


"Ih, Kakak. Cuma kenal deket doang gak apa-apa kan," Sergah Kania sambil kembali melanjutkan langkahnya. Ranum pun mengejar langkah Kania di depannya.


"Ya gak apa-apa sih kalo kenalan doang. Tapi--"


"Oke. Cukup. Cuma itu jawaban yang Nia butuhin." Ucap Kania tiba-tiba. Dan setelahnya ia berlari kecil-kecil.


"Kania! Tunggu Kakak!"


Dan Ranum pun ikut berlari mengejar adik kesayangannya itu.


Sekitar 20 meter dari keduanya, seorang pria berdiri diam melihat kedua saudari itu saling berkejaran. Pandangan matanya terfokus pada sosok Ranum.


Ada kerinduan yang tertahan di mata pria itu. Ada hasrat jiwa yang merongrongnya untuk menghadirkan dirinya di hadapan Ranum, saat itu juga.


Tapi hasrat itu tiba-tiba padam. Ketika ia mengingat kejadian di pinggir lapangan tadi.


Menyaksikan Ranum yang berbincang akrab dengan seorang lelaki lain. Hatinya seketika memanas.


Ingin rasanya ia mengajak duel anak lelaki yang tadi sempat mendapatkan tatapan sendu Ranum. Ingin rasanya ia mendaratkan tinju di wajah anak lelaki yang menurutnya masihlah bocah ingusan itu. Ingin rasanya ia meneriaki anak lelaki itu untuk menjauhi Ranum sejauh-jauhnya.


Karena Ranum adalah miliknya. Cintanya. Kekasih hatinya.


Deg.


Pria itu tercenung.


'Ranum miliknya? Sejak kapan? Ia bahkan tak pernah mengatakan apapun pada Ranum tentang perasaan tulusnya pada gadis itu. Perasaan yang sudah lama tumbuh di hatinya sedari mereka masih kecil dan tinggal bersama di kota X dulu. Jadi, apa hak nya mengakui Ranum sebagai miliknya? Ia bukan siapa-siapa bagi gadis berhati malaikat itu.'


Pria itu pun membuyarkan lamunannya. Ia lalu melangkah pergi dari tempatnya berdiri tadi. Pelan-pelan diseretnya kembali jiwanya bersamaan dengan langkah kakinya.


Ada hal yang harus dilakukannya terlebih dahulu sebelum ia siap untuk berhadapan dengan Ranum. Seiyanya, ia harus menjadi seorang yang pantas dan mampu untuk bisa memberikan kebahagiaan bagi kekasih hatinya itu.


"Tunggu Aku, Num!" Bisik pelan pria itu, terbawa angin.


***

__ADS_1


__ADS_2