
Semenjak insiden haid pertama itu, Ranum jadi lebih mudah untuk memberikan Adnan senyuman. Meskipun ia juga masih merasa malu untuk berbincang lama-lama, namun minimal Ranum kini tak se-'galak' dulu terhadap pemuda itu.
Di rumah, begitu mengetahui kalau sang putri sulung telah mengalami haid pertama nya, Bunda langsung memeluk Ranum cukup lama.
Setelah itu, Ranum diberikan wejangan terkait haid, dan hal lain yang terkait dengan nya. Wejangan yang juga pernah Bunda berikan kepada Kania, dua tahun silam.
"Ranum sayang.. dengan datang nya haid ini, menandakan kalau kamu sudah semakin pantas untuk disebut sebagai seorang wanita yang dewasa. Bersamaan dengan gelar itu juga ada hak dan kewajiban yang harus kamu ketahui. Anum tahu apakah itu?"
"Tentang hubungan dengan lawan jenis ya, Bund?" Terka Ranum.
"Ya. Itu salah satu nya," ujar Nida. Ia lalu melanjutkan kembali wejangannya, meski pun ia tahu kalau sang putri mungkin telah mengetahui apa yang sedang mereka perbincangkan saat ini.
Ranum suka membaca buku. Jadi mungkin putri nya itu sudah tahu beberapa hal terkait wanita dan kesiapan alat reproduksi nya dari buku-buku atau laman gugel yang ia baca.
Tapi Nida tetap ingin mengatakannya langsung kepada sang putri. Agar Ranum juga memiliki ingatan tentang nasihat dari Bunda nya terkait kedewasaan wanita dan konsekuensi yang harus ia hadapi nanti.
Nida pun bicara berdua dengan putri sulung nya itu di dalam kamar Ranum. Sementara Kania duduk menonton tivi bersama Nanda di ruang keluarga.
Dengan suara lembut, Nida pun lanjut bicara.
"Proses haid umumnya terjadi setiap bulannya, Nak. Dan itu menandakan kesiapan seorang wanita untuk bisa hamil dan mengandung seorang anak. Karenanya ketika seorang gadis sudah mengalami haid, maka itu jadi salah satu ciri yang menandakan juga bahwa ia telah akil balig," ucap Mama.
"Dalam agama kita, seorang wanita yang telah akil balig dikenakan hukum untuk menutupi aurat nya, Sayang. Ini jadi salah satu cara Allah untuk menjaga wanita dari bahaya nya fitnah dunia. Coba deh, Anum pikir-pikir."
"Mana yang lebih sering digodain anak-anak cowok. Anak perempuan yang pakai baju mini dan seksi atau anak perempuan yang pakai kerudung dan lagi rapih?" Tanya Nida.
"Yang pakai baju seksi, Bund," jawab Ranum.
"Benar sekali, Nak. Karenanya wanita lalu diangkat derajat nya oleh Allah melalui aturan berpakaian yang ada. Yang menutup aurat. Dan Anum tahu, aurat wanita itu apa aja, Nak?"
"Seluruh tubuh, kecuali muka dan tangan ya, Bund?"
"Kamu benar sekali itu, Nak. Dan rambut ini juga jadi salah satu aurat yang harus ditutupi.
"Maafkan Bunda yang telat mendidik kamu dan Kania untuk memakai kerudung. Karena Bunda pun baru-baru ini beristiqomah untuk memakai nya. Tapi boleh kan Nak kalau kita sama-sama belajar ya, Sayang? Bunda gak akan memaksa Anum terkait kewajiban berkerudung ini. Coba lah Anum perbanyak baca lagi atau lihat ceramah-ceramah nya para asatidz. Semisal Ustz. Ninih Muthmainnah. Itu salah satu yang recommended banget buat kamu, Nak," ujar Nida panjang lebar.
"Baik, Bund. Anum akan mempertimbangkan nasihat Bunda ini," sahut Ranum.
"Dan terkait dengan hubungan dengan lawan jenis, Bunda yakin, Anum sudah tahu jelas sampai mana batasan-batasan nya. Akan lebih baik bila kita menjaga jarak dari lelaki yang bukan mahrom nya kita ya, Nak. Karena sebaik apa kita menghargai diri sendiri, maka sebaik itu pula pasangan yang akan disiapkan oleh Allah nanti nya."
__ADS_1
"..terima kasih ya, Bunda.. Anum mengerti."
"Ya sudah. Sekarang, ada hal lain yang ingin Bunda bincangkan juga dengan mu, Nak," ujar Nida dengan ekspresi sedikit gugup.
"Hal apa, Bund?" Tanya Ranum penasaran.
Nida menatap putri sulung nya itu lekat-lekat. Ia mencoba meyakinkan diri atas kesiapan sang putri dari mendnegar fakta terkait identitas asli nya.
Dan, setelah meyakinkan diri nya sendiri kalau Ranum akan menerima berita ini dengan baik, barulah Nida menceritakan kepada Ranum perihal kejadian 15 tahun yang lalu.
Saat dimana ia dibawa pertama kalinya oleh ibu kandung nya (Rahayu) ke hadapan rumah orang tua Ranum saat ini (Nanda dan Nida).
Pada awalnya, Ranum terlihat tergoncang saat menyadari fakta bahwa ia bukanlah anak kandung Ayah dan Bunda nya. Namun setelah mendapat rangkulan erat dari Nida, serta kalimat meyakinkan dari Bunda nya, perlahan Ranum akhirnya menerima berita itu jua.
"Siapapun kamu, Nak, Ayah dan Bunda tetap jadi orang tuamu. Kami sangat menyayangimu, sama seperti kami menyayangi Kania, adik mu," ucap Nida.
"Sungguh, Bund?" Tanya Ranum dengan mata yang memerah.
"Iya, Nak. Bunda akan selalu menyayangi Anum sampai kapan pun juga. Meski nanti kamu memilih untuk mencari Mama kandung mu. Bunda akan selalu menyayangi Anum layaknya putri kandung Bunda sendiri."
"..."
Setelah lebih tenang, Nida pun kembali bicara.
"Kelak, jika kamu bertemu Mama mu kembali, kamu juga harus hormat dan patuh pada ucapannya ya, Nak. Bagaimana pun juga dulu Mama mu menitipkan kami dalam keadaan terdesak."
Nida menceritakan kepada Ranum, bagaimana Rahayu tiba-tiba saja datang dan meneitipkan ia yang masih balita kepada mereka (Nanda dan Nida). Meski Nida tak menjelaskan juga secara rinci tentang kesalahpahaman Rahayu yang menganggap kalau Nanda adalah ayah kandung nya Ranum. Padahal kan..
"Bunda, menurut Bunda, Mama sekarang ada di mana ya?" Ranum bertanya.
"Hh.. itulah, Nak. Bunda pun tak tahu. Padahal selama bertahun-tahun kami mencoba mencari Mama mu ke mana-mana. Sampai akhrinya kita berpindah ke kota ini. Namun kami belum jua menemukan keberadaannya hingga saat ini."
"Apa menurut Bunda, Mama.." Ranum terlihat ragu-ragu bertanya.
"Kenapa, Nak? Katakan saja apa pendapat mu."
"Apa menurut Bunda, Mama kandung Anum sudah mempunyai keluarga baru jadi ia melupakan Ranum?" Tanya Ranum dengan wajah sendu.
Nida langsung meraih kembali Ranum ke dalam pelukan nya. Dengan suara lembut namun tegas, ia pun menyanggah ucapan Ranum tadi.
__ADS_1
"Bunda akan meyakinkan kamu, Nak. Kalau Mama Rahayu itu sangat mencintai kamu."
"Mama Rahayu?"
"Ya. Nama Mama kandung mu itu adalah Rahayu. Bunda yakin, kalau ia akan menepati janji nya untuk menjemput mu, jika saja keadaannya sudah aman untuk mu, Nak."
"Maksud Bunda, dari orang jahat yang ingin menyakiti Anum?"
"Ya. Seperti itu kira-kira kata Mama Rahayu, Nak."
"Jadi, mungkin saat ini Mama mu itu masih merasa waktunya belum tepat untuk menjemput kamu. Untuk sementara waktu, tak apa-apa kan Anum bersabar dulu tinggal bersama Ayah dan Bunda?" Tanya Nida dengan gugup.
"Tentu, Bund. Anum justru berterima kasih karena Bunda dan Ayah telah menyayangi Anum sampai sebesar ini.. Padahal kan Anum itu bukan.."
"Syuut... Jangan lagi bicara tentang kamu bukan putri kandung nya Bunda ya, Sayang. Kamu tetap jadi anak nya Bunda. Sampai kapan pun juga!" Ikrar Nida.
"...apa Kania tahu soal kenyataan ini, Bund?" Tanya Ranum khawair.
"Tidak, Nak. Saran Bunda, pembicaraan terkait Mama kandung mu ini cukuplah menjadi rahasia di antara kita saja ya, Nak. Kania tak perlu mengetahui nya. Setidaknya tidak untuk saat ini," usul Nida akhirnya.
"Baik, Bunda.."
"Kalu gitu, sekarang Bunda keluar dulu ya. Kamu tetap happy ya, sayang. Jadilah putri Bunda dan Ayah yang tangguh, tabah dan happy sepanjang waktu. Kami sayang Anum!" Ucap Nida terakhir kali, sebelum akhirnya pergi keluar kamar.
Di dalam kamar, Ranum merenungkan pembicaraannya bersama Nida. Ia masih sulit mempercayai kenyataan kalau ia sebenarnya hanya anak angkat di keluarga ini. Tapi Bunda telah meyakinkannya. Kalau ia akan selalu diterima sebagai bagian dari keluarga ini sampai kapan pun juga.
Ranum pun memikirkan tentang keberadaan Mama kandung nya. Antara berharap dan tidak, Ranum ingin bertemu dengan sang Mama yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Seperti apakah rupa nya? Seperti apakah perangai nya? Apakah ada kesamaan di antara mereka berdua? Lalu, seperti apa juga Papa kandung nya?
Ranum menyesal karena tadi ia lupa untuk menanyakan tentang Papa kandungnya kepada Bunda. Mungkin karena ia masih terlalu syok saat mendengar berita ini pertama kali jadi membuatnya terlupa.
"Tok! Tok! Tok!
Suara pintu kamar terdengar diketuk dari luar.
"Masuk!" Ranum pun mempersilahkan siapapun yang ada di depan pintu kamar nya untuk masuk.
***
__ADS_1