Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Dinner Time


__ADS_3

Rahayu mengamati putra asuh nya itu lekat-lekat. Dan ia menyadari kalau putranya itu kini telah tumbuh semakin dewasa.


Meski pun Adnan adalah anak asuh, namun Rahayu sudah menganggap remaja lelaki itu layak nya putra kandung nya sendiri. Adnan adalah anak yang pendiam, penurut dan tak suka mengeluh.


Adnan juga jarang meminta apapun kepada nya, pun jua kepada Aditya. Entah lah, Rahayu menduga kalau putra nya itu mungkin masih teringat dengan asal-usul nya saat hidup di panti asuhan semasa ia kecil dulu.


"Nan.. " Rahayu memanggil nama sang putra dengan lembut.


"Ya, Ma?" Sahut Adnan dengan perhatian yang seluruh nya terfokus pada sang mama.


"Kalau misal nya.. misal nya nih ya. Mama ternyata punya anak kandung yang sempat Mama lupakan. Lalu dia nanti tinggal bareng sama kita gimana, Nak?" Tanya Rahayu dengan hati-hati.


Adnan tampak tepekur untuk sesaat. Sebelum akhirnya kembali bertanya.


"Laki-laki atau perempuan, Ma?" Tanya Adnan dengan nada tertarik.


"Mm.. perempuan?"


"Lebih tua atau lebih muda dari Adnan, Ma?" Tanya Adnan lagi.


"Eee... Kalau seumuran sama kamu, gimana Nak?" Tanya Rahayu lagi. Kali ini ia tak lagi bisa bersikap tenang. Khawatir pada pendapat sang putra asuh.


"Hmm.. Adnan pikir, itu oke oke aja kok. Kalau itu bisa buat Mama senang, Adnan fine-fine aja sama kedatangan saudara baru," ucap sang putra dengan pandangan netral.


Mendengar itu, Rahayu langsung menghela napas lega. Dipeluk nya Adnan sekilas. Dan Rahayu mengucapkan rasa terima kasih nya pada sang putra.


"Makasih ya, Nan.. tapi Mama juga belum tahu sih kepastian nya gimana. Nanti deh Mama cerita lagi ya ke kamu. Tapi makasih ya Nak. Pendapat kamu ini sungguh sangat berarti buat Mama!" Ujar Rahayu dengan pandangan berkaca-kaca.


"Sama-sama, Ma.. justru Adnan yang harus berterima kasih ke Mama.. dan juga Papa.. karena kalian sudah mau menerima Adnan di keluarga ini. Padahal tadi nya Adnan cuma anak panti aja."


"Husyyy.. jangan ngomong gitu, Sayang. Kamu itu anak Mama. Dari mana pun kamu bermula, kamu tetap anak kebanggaan nya Mama. Jadi jangan merasa rendah diri karena hal itu, ok!" Tegur Rahayu.


"Iya, Ma.. "


"Ya sudah. Sekarang, cerita ke Mama. Gimana sama sekolah mu, Nan? Apa ada kendala?"


Menit-menit berikutnya, pasangan ibu dan anak itu pun asik menjalin ikatan dalam perbincangan sore yang hangat itu.

__ADS_1


Dua hati saling membuka diri. Sehingga tiada lagi jarak pemisah untuk menceritakan keluh dan juga kesah.


Keterbukaan dan komunikasi adalah modal utama dalam setiap hubungan. Karena tanpa kedua hal itu, suatu hubungan tak akan bisa terjalin dengan baik dan juga langgeng.


***


Setelah maghrib, Aditya mengirimkan mobil untuk menjemput Rahayu. Keduanya berencana untuk dinner di sebuah restoran langganan mereka.


Meski begitu, benak Rahayu terasa penuh dalam menghadapi dinner kali ini. Karena tak seperti sebelum-sebelum nya, Rahayu kini menyimpan satu rahasia terkait masa lalu yang tak kunjung ia ingat hingga sekarang.


Rahayu merasa dilema. Antara harus terbuka dan menanyakan perihal keterlibatan sang suami atas penyerangan yang dialami oleh Ranum, atau tidak.


Rahayu takut, jika ia mendengar jawaban yang tak ia inginkan, ia tak tahu masa depan apa yang akan dihadapinya bersama Aditya nanti.


"Ayu.."


Rahayu tertegun. Ia tak sadar kalau sedari tadi mobil yang ia tumpangi telah berhenti. Dan di samping nya, pintu mobil telah terbuka. Menampakkan sosok Aditya yang terlihat tampan sekaligus letih dalam balutan kemeja kerja nya.


Rahayu mengerjapkan kedua mata nya.


Aditya mengulurkan tangan nya ke arah Rahayu.


Selama sepersekian detik, Rahayu terlihat segan menerima uluran tangan Aditya. Membuat manik mata lelaki itu sedikit menggelap kelam.


Tapi lalu Rahayu tersadar. Dan menggamit lengan Aditya dengan segera. Tak lupa pula, sebuah senyuman ia sungging kan untuk suami nya itu.


...


Setelah menempati kursi VIP mereka yang berada di lantai teratas restoran. Ditemani pemandangan indah lampu-lampu kota yang bisa dilihat dari ketinggian, Rahayu dan Aditya pun menikmati dinner time nya berdua.


Sedari dulu, dalam sebulan, keduanya sering menikmati dinner time berdua cukup sering. Biasa nya ini dilakukan atas permintaan Aditya. Karena biasanya lelaki itu pulang larut malam dan dinner seorang diri atau bersama klien nya. Sementara Rahayu makan malam bersama Adnan di rumah.


"Tadi macet?" Tanya Aditya, usai ia menyantap makan malam nya.


"Hmm? Enggak sih, Mas. Gak macet. Mas nunggu lama ya? Maaf. Tadi aku nyari pasangan anting yang dulu Mas kasih waktu Mas pulang dari Paris. Sebelah nya hilang," begitu pengakuan Rahayu.


"Hilang? Apa enggak terselip mungkin?" Aditya tampak perduli.

__ADS_1


"Mungkin. Tadi adek nyari nya terburu-buru. Jadi mungkin gak ketemu kali ya.. gak apa-apa. Nanti adek cari lagi," ucap Rahayu menenangkan.


"Yang kayak gimana sih? Biar nanti Mas belikan lagi saja ya?" Aditya menawarkan.


Mata Rahayu sedikit membulat. Dengan gerakan tangan, Rahayu menolak usulan sang suami itu.


"Gak usah lah, Mas. Masih banyak kok yang lain. Lagipula mungkin memang benar cuma terselip aja," tolak Rahayu.


"Tapi kamu lebih senang pakai yang itu kan? Motif bunga melati. Seperti nya Mas lebih sering melihat kamu memakai anting itu dibandingkan yang lainnya. Bisa dua atau tiga kali dalam seminggu," komentar Aditya.


"Iya sih. Tapi beneran, Mas. Gak usah. Daripada bahas itu, ada hal lain yang ingin Adek bahas sama Mas.." ucap Rahayu sambil memasang ekspresi serius di wajah nya.


Aditya menenggak sisa minuman nya hingga hampir tandas. Baru kemudian menyahut pernyataan sang istri dengan ekspresi yang serius pula.


"Mau bahas soal apa, Dek?" Tanya Aditya.


Untuk sesaat, Rahayu terlihat ragu-ragu. Namun setelah ia meneguhkan lagi tekad nya, ia pun akhirnya mengutarakan juga apa yang ingin ditanyakan nya kepada sang suami.


"Bisa tolong ceritain lagi, gimana kita bisa bertemu untuk pertama kali nya, Mas?" Tanya Rahayu bersungguh-sungguh.


Aditya sempat tercenung. Tak menyangka kalau pertanyaan itulah yang akan keluar dari mulut sang istri. Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan lain yang lebih kompleks. Seperti, "apa benar dirinyalah yang sudah mencoba mencelakai Ranum?" Atau, "apa ia sudah mengetahui kalau Ranum adalah putri kandung Rahayu yang telah lama dititipkan nya pada sang sahabat?"


Menghadapi pertanyaan terkait pertemuan mereka, Aditya malah terheran-heran.


"Bukan kah Mas sudah pernah menceritakan nya padamu, Dek?" Tanya Aditya mengingatkan.


"Iya. Udah. Tapi Adek pingin dengar sekali lagi dari Mas Adit. Rasa-rasanya seperti ada yang terlupa, tapi Adek gak tahu apa yang adek lupakan," jawab Rahayu dengan jujur.


"Hhh.. baiklah. Tapi ini kali terakhir Mas menceritakan nya ke kamu ya, Dek.. Jangan minta Mas untuk menceritakannya lagi dan lagi, nanti."


"Ok. Deal!" Jawab Rahayu dengan mantap.


Dan Aditya pun akhirnya menceritakan kisah pertemuan pertama mereka kembali, kepada Rahayu. Dan kedua manik milik Aditya pun seperti berkabut. Saat mulutnya menguraikan kisah lama pertemuan mereka yang amat berkesan bagi pria itu.


"Jadi, cerita nya, dulu itu.."


***

__ADS_1


__ADS_2